
“Emh,,,,,, “, Naz yang tengah berpelukan dengan Arfin mendongakkan kepalanya lalu mendengus, “Aa bau acem ihh,, bajunya basah gini”. Keluhnya saat mencium bau tidak enak dari badan kekasihnya itu.
“Sudah nikmati saja,,, lagian kan tahu sendiri Aa habis olahraga, tentunya banyak mengeluarkan keringat”, ucap Arfin yang malah semakin mengeratkan pelukannya sambil terkekeh.
“Emhhh,,, lepasin ih,,,”, Naz berontak dengan menggeleng- gelengkan kepalanya di dada Arfin lalu dia mencubit perut Arfin, dan itu berhasil membuat Arfin melepaskan pelukannya.
“Awww,,,, “, Arfin meringis kesakitan sambil memegang perutnya, “Kamu mah galak ih suka nyubit Aa,,, kenceng banget lagi nyubitnya,,, KDRT ini namanya sayang,,, pelukan kok dibalas cubitan”, Arfin menggerutu.
“Salah siapa meluk aku kenceng- kenceng gitu sampai aku gak bisa bernafas karena yang masuk hawa bau,,, wle”, Naz malah mengejek Arfin dengan menjulurkan lidahnya. “Udah sana mandi ah,,, bau mu semakin tidak enak, bisa rusak nanti hidungku,,,”, Titah Naz sambil memencet hidungnya menggunakan dua jari tangannya.
“Hidung mu saja yang bermasalah,, bau apa orang wangi gini,,,, “, Arfin tidak terima diejek sampai ia mengangkat tangannya bergantian sambil mengendus ketiaknya lalu ekspresi wajahnya berubah seketika.
“Hahaha,,, Bau ya kan??? ,,, wle,,,, “, Naz mengejek dengan menjulurkan lidahnya, Arfin yang melihat itu hendak melangkah semakin mendekatkan tubuhnya pada Naz, namun Naz segera menghentikannya sambil menunjuk ke arahnya.
“Jangan mendekat,,, aku gak mau ya nanti jadi Beauty and The Bau Hangit”, ucap Naz.
Arfin yang menghentikan langkahnya mengerutkan dahinya, “Bau Hangit,, apa itu?”.
Naz berfikir sejenak ,”Ya,,,, semacam bau busuk gitu”, ucapnya ragu- ragu.
“Apa,,,?? Kau sungguh keterlaluan ya Nona, menyebutku bau busuk”, ucap Arfin dengan nada menggoda melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, dan Naz pun melangkah mundur.
“Hei,,, hei,,, kau mau apa hah? Menjauh dariku sana…”, ucapnya sambil melangkah mundur karena Arfin terus melangkah maju mendekatinya, dan begitulah seterusnya hingga tubuh Naz mentok menempel ke dinding tembok, kemudian Arfin menempelkan kedua telapak tangannya ke tembok untuk mengunci tubuh Naz yang berada di tengahnya.”Ka ka kau mau pa?”, tanya Naz gelagapan, karena kini Arfin begitu dekat dengan tubuhnya.
Arfin tersenyum licik lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Naz yang terlihat gugup dan membuka matanya lebar- lebar, namun saat Arfin semakin mendekat, Naz menutup matanya seolah merasa takut. Kemudian Arfin mendekatkan wajahnya ke samping wajah Naz dan berbisik di telinga Naz, “Siapa yang bau busuk itu hem?”, tanyanya dengan nada mesra lalu menggosok- gosokan hidungnya pada pipi Naz, yang membuatnya menggeliat geli dan Naz semakin memejamkan matanya entah karena takut atau menikmati,, haha.
Arfin kembali menarik kepalanya sehingga wajah mereka saling berhadapan begitu dekat, Arfin menetap lekat wajah gadis pujaan hati yang tengah memejamkan matanya itu, dan ia seakan tak kuat menahan tawa, Naz yang mendengar suara dengusan hidung Arfin langsung membuka matanya, “Ciluk Baaaa,,,,, Hahahahahaha,,, “, ucap Arfin tertawa dengan renyahnya lalu sedikit menjauhkan tubuhnya dari Naz dan terus tertawa.
Naz merasa heran bercampur kesal melihat Arfin yang menertawakannya lalu mendorong tubuh Arfin agar menjauh darinya.
“Sudah cepat sana mandi,,, !“, ucapnya ketus, namun Arfin kembali mendekat dan menarik tangan Naz sehingga tubuh mereka saling menempel dengan tangan Arfin yang dilingkarkan pada pinggang Naz untuk menguncinya, sehingga posisi mereka terlihat menyamping dari arah pintu, “Dari tadi nyuruh mandi terus, emangnya mau mandiin Aa ya, hem? ”, Tanyanya jahil sambil menatap Naz.
Naz langsung membuang muka, ”Cih,, gareleuh teuing”.
“Kok geleuh sih,, badan Aa itu mulus tanpa ada jamur, panu, kadas, kurap , kutu air, korengan atau budukan,, jadi kalau mau mandiin Aa gak akan geleuh”.
“Dih malah diiklanin lagi badannya,,,, Apa Aa sudah tidak waras ya,, kalau aku memandikan Aa, bisa- bisa mataku ternoda”, Naz bicara sambil berontak agar bisa lepas dari pelukan Arfin.
“Apa tidak kebalik ya,,, bukannya Aa yang ternoda karena dipegang- pegang sama kamu saat dimandiin”, ucapnya semakin ngaco.
“Siapa juga yang mau mandiin iiiiihhhh,,,, “, Naz mencubit pinggang Arfin dengan sangat kencang karena merasa gregetan dan kesal tingkat provinsi.
“Aww,,,,, sakiit banget,,,“, Arfin meringis lalu melepaskan Naz dari pelukannya dan Naz pun langsung menjauh, “Kamu mah kejam ih sayang ”, ucapnya sambil mengusap- usap pinggang bekas cubitan Naz.
“Syukurin,,, makanya jangan suka ngomong mesum,, wle”, Naz malah tersenyum puas.
“Aduh,,, sakit,,,,”, Arfin meringis lalu menarik bajunya ke atas dan melihat bekas cubitan Naz, “aduh sayang,, ini sampe merah gini, berdarah lagi,, kamu pakai kuku ya nyubitnya”, ucap Arfin pura- pura.
“Hah,, berdarah?”, Naz terkejut lalu melihat kukunya yang ternyata memang agak panjang.
“Iya nih,, sini coba kamu lihat”, Arfin memancing Naz untuk kembali mendekatinya dan ia pun terpancing melangkah mendekatkan dirinya pada Arfin, kemudian ia membungkuk melihat pinggang Arfin dan memperhatikan dengan seksama sambil mengusapkan jemarinya pada kulit pinggang Arfin.
“Mana ,,,? Enggak ah gak berdarah”, Naz terus memperhatikan pinggang Arfin yan hany terlihat merah, sedangkan Arfin menundukkan kepalanya sambil mengatakan itu itu.
“Maaf Den AL,,, ini handuknya”, ucap Bi Darmi dari gawang pintu yang ternyata sedari tadi pintunya terbuka. Arfin yang sedang menunduk pun menoleh kearah Bi Darmi dan Naz yang sedang membungkuk melihat- lihat pinggang Arfin pun sama halnya menoleh kan kepalanya ke arah Bi Darmi.
Bi Darmi yang nampak kaget melihat posisi mereka yang seolah- olah Naz sedang melihat sesuatu yang terlarang dengan posisinya yang membungkuk tepat di bagian tengah tubuh Arfin, dan ia pun membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya sehingga handuk yang dipegangnya terjatuh.
__ADS_1
Naz dan Arfin yang merasa heran lalu Naz pun memandang lurus ke depan sedangkan Arfin menunduk melihat Naz,, “Aaaakkk”, Naz langsung berdiri tegak dan tanpa sengaja kepalanya menyundul dagu Arfin… gedukkk….. dan pastinya itu sakit dan linu.
“Aduhhh,,,,”, Arfin meringis sambil memegang dagunya, “Ya ampun sayang,,,tadi pinggang sekarang dagu”, ucap Arfin sambil terus meringis.
“Maaf maaf,,, aku gak sengaja”, ucapnya menyesal lalu ia menoleh ke Bi Darmi, “Bibi jangan salah paham ya, tadi Kak Arfin bilang pinggangnya berdarah, makanya tadi aku memeriksanya”, ucap Naz takut Bi Darmi menyangka yang tidak- tidak.
“Ayo kita keluar A,,, Aa kan harus jumatan, mandi dulu gih,,, aku ke kembali ke ruang tengah ya,,,,”, Naz langsung ngacir berlari keluar dari ruang olahraga terebut meninggalkan Arfin yang masih meringis, kemudian ia berjalan seperti biasa menuju ruang tengah.
“Yassalam,,,, bener- bener dia itu suka banget cari perkara,, sepertinya lain kali aku jangan berada dalam satu ruangan hanya berdua saja dengannya,, setan- setan benar- benar seperti kunang- kunang mengitari kepala kami,,, kacau- kacau", Naz menggerutu kesal, sesampainya di ruang tengah, Naz kembali duduk di sofa yang sebelumnya ia duduki dan langsung meminum orange jus yang ada di meja, sedangkan Arfin yang ternyata sudah keluar dari ruang olahraga itu, nampak sedang berjalan sepertinya menuju ke kamarnya untuk segera mandi dan bersiap- siap pergi jumatan.
“Naz,,, maaf ya Mami perginya lama, tadi habis mandi sekalian nyiapin pakaian Papi untuk pergi jumatan”, ucapnya yang baru kembali, “Kalau kamu lelah, kamu istirahat aja ya di kamar tamu”, Mami menawarkan kemudian beliau duduk di sofa dekat dengan Naz.
“Enggak perlu Mami,, aku di sini saja ,,, hehehe”, Naz menolak dengan halus.
“Naz apa kamu sakit, kok terlihat pucat gitu?”, Tanya Mami yang memperhatikan Naz dari dekat.
“Enggak kok Mi,,, aku cuman lagi datang bulan saja”, jawab Naz dengan melempar senyuman.
“Apa kamu sedang ada masalah? Apa Arfin berbuat macam- macam sama kamu atau menyakitimu?”, Mami kembali bertanya karena melihat raut wajah Naz yang nampak memikirkan sesuatu, takutnya itu disebabkan oleh putranya.
“Enggak Mami,,, Kak Arfin selalu memperlakukan ku dengan baik, walaupun aku sering iseng tapi dia selalu sabar menghadapi ku dan juga tidak pernah menyakitiku, malahan kalau ada orang yang menyakitiku atau berbuat jahat padaku, dia yang akan bertindak membelaku,, hehe “, Jawabnya memuji sang kekasih.
“Syukurlah kalau begitu”, ucap Mami bernafas lega, “Lalu kenapa kamu seperti sedang memikirkan sesuatu?”, tanyanya kembali karena masih penasaran. ”Naz,, kalau kamu sedang ada masalah, kamu bisa cerita sama Mami”, ucap Mami sambil memegang tangan Naz yang sedang menundukkan pandangannya seolah nampak berpikir.
Naz menghela nafas sejenak,“Emmm,,, sejak bangun tidur perasaanku gak enak Mi,, gak tahu kenapa,, tadi juga saat masak aku tiba- tiba tergores pisau, padahal sudah sangat hati- hati,, ahh,, mungkin ini karena aku lagi datang bulan aja jadi emosinya labil,, hehehe”.
“Mami,,, kita berangkat dulu,,, “, ucap Papi yang sudah rapi memakai baju koko dan sarung sebagai bawahannya, juga mengenakan kopiah di kepalanya, dan tak lupa sajadah yang dilipat memanjang disematkan di salah satu pundak, begitu juga dengan Arfin yang terlihat sangat tampan dengan stelan yang sama namun berbeda warna dan motif saja dengan Papi nya.
“Ya Allah,,,, ganteng banget calon imamku,, kok jadi pengen cepet- cepet dihalalin dan segera jadi istrinya,,, unchhhh”, Naz berdialog dalam hatinya dengan ekspresi terkagum- kagum menampakan senyum yang merekah sambil memandangi sang kekasih yang berdiri berdampingan dengan Papi nya.
“Naz,,, biasa aja kali,, memandangi Papi dengan begitu kagumnya,,, walaupun Papi tahu tak ada yang bisa menandingi ketampanan dan karisma Papi ini”, Pak Latief malah menggoda Naz.
“Papi pede banget sih,, Naz tuh ngeliatin Al yang tampilannya keren dan ganteng begini,,, ngapain juga ngeliatin Papi yang udah keriput”, Arfin sama bapake aja cemburu ih.
“Dasar kau ini,, memangnya kegantengan mu itu turun dari siapa? Ya dari Papi mu ini lah,, masa iya turun dari genteng rumah”, Papi tak mau kalah ganteng.
“Ehh,, sudah- sudah sana berangkat,, malah berdebat gak jelas,,, udah lah pokoknya dua- dua nya ganteng”, Mami melerai perebutan predikat ganteng antara anak dan ayah itu, dan mereka pun berangkat pergi ke Masjid yang ada di kompleks perumahan tersebut dengan menggunakan motor.
“Naz ayok kita pergi ke suatu tempat”, Mami berdiri dan mengajak Naz ikut seta dengannya, dan mereka pun berjalan menuju sebuah ruangan. Saat dibuka pintunya ternyata itu adalah sebuah kamar milik seseorang.
Kamar yang bernuansa minimalis dan lumayan besar itu terlihat bersih dan rapi, dari tata letak barang pun semakin menampakan bahwa pemiliknya sangat apik. Naz pun terus melangkah masuk ke dalamnya,”Mami,, ini kamar siapa?”, tanya Naz sambil mengedarkan pandangannya.
“Kamar siapa lagi,,, ya kamar pacar mu lah”,jawab Mami sambil membuka laci bufet TV samping lemari pakaian yang menghadap ke tempat tidur, untuk mengambil sesuatu.
“Hah,,, rapi banget “, Naz merasa heran.
“Ayok kita duduk di karpet itu”, Mami mengajak Naz duduk lesehan di karpet lalu membuka barang bawaannya tadi. “Nih lihat disini ada foto- foto Arfin sejak baru lahir sampai sekarang”, Mami memperlihatkan album dan membukanya lembar demi lembar di perlihatkan pada Naz, “Disini kebanyakan foto Arfin dan kedua kaka perempuannya, karena saat kecil Nervan tidak suka difoto katanya takut soalnya blitznya itu seperti kilatan petir, jadi dia takut kesamber petir,,, hahahhaa”, Mami menceritakan kekonyolan Nervan.
“Masa sih Mi,,, pantesan aja Nala juga takut sama petir, ternyata nurun dari Bang Evan,,,”, tanya Naz.
“Naz,,, terimakasih ya sudah membawa kebahagiaan untuk Arfin”, ucap Mami memegang tangan Naz.
__ADS_1
“Sejak usia 10 tahun Mami sudah menjadi yatim piatu karena kedua orang tua beserta kedua kakak Mami meninggal karena kecelakaan, jadi Mami dirawat oleh Om Brata, kakaknya almarhum Ayah sekaligus Papa nya Mbak Anjani ibu kandungnya Nervan. Mami sangat dekat dengan Mbak Anjani, bahkan setelah menikah dengan Mas Latief pun, Mbak Anjani mengajak serta Mami tinggal di rumah mereka. Sampai suatu saat, Mbak Anjani meninggal setelah melahirkan Nervan yang belum masuk waktunya, dan ternyata sejak awal kandungannya itu bermasalah, namun beliau tetap melanjutkan kehamilannya walau sudah diperingatkan oleh dokter bahwa itu bisa membahayakan nyawanya, karena Mas Latief sangat menginginkan anak laki- laki. Mbak Anjani berwasiat kalau Mas Latief diminta menikahi Mami, dan kami pun menikah walaupun tanpa adanya cinta diantara kami dan saat itu Mami baru Lulus SMA ”, ucapnya menceritakan masa lalu beliau.
“Karena Nervan lahir prematur dengan berat hanya 2,2 kg membuatnya rentan sakit, dan dokter bilang dia sangat membutuhkan ASI. Setelah berfikir panjang demi kebaikan Nervan kami memutuskan untuk memiliki anak, dan tak lama Mami pun mengandung Arfin, saat kehamilan memasuki 5 bulan, ASI Mami sudah mulai keluar dan Mami pun menyusui Nervan dengan terus dipantau dokter karena takut membahayakan bayi dalam kandungan Mami, namun Alhamdulillah sampai lahir pun bayi Mami itu sehat dan sangat kuat. Sejak kecil Mami selalu mengatakan padanya bahwa dia adalah pelindung untuk Abangnya, dan ia pun sangat mematuhi itu. Arfin mengikuti cabang bela diri dan sering olahraga sehingga fisiknya lebih kuat dibanding Nervan yang sangat Mami manjakan, bahkan dulu Arfin kurang kasih sayang dari Mami dan dia lebih dekat dengan Bunda mu, Naz. Dia sangat bandel, sampai kami kewalahan dan akhirnya memasukannya ke pesantren bersama dengan anak Mas Syarief, Hardi yang sama bandelnya. Dan ternyata hanya bertahan beberapa bulan karena mereka berdua kabur dari pesantren”, ucap Mami terkekeh sedangkan Naz si pendengar setia hanya senyam- senyum mendengarnya.
“Dan kamu tahu,,, Mami sadar kalau Mami sudah melakukan kesalahan, karena sejak kecil Arfin selalu menjaga dan melindungi abangnya. Sampai suatu hari saat pelulusan SMA, Abangnya ditantang balapan mobil oleh temannya yang sama- sama menyukai Salma yang berusaha merebut darinya. Arfin sudah melarangnya karena ia tahu Abangnya tidak pernah ikut balapan dan ia berniat menggantikannya, tapi karena keras kepala Abangnya kekeh. Ternyata mobil yang dikendarai Nervan sudah disabotase sehingga rem nya blong dan masuk ke jalan umum. Arfin mengejarnya dan ia menabrakan mobinya sendiri di depan mobil Nervan untuk menghentikannya, namun nahas mobil yang dikendarai Arfin menabrak mobil lain di depannya sehingga mobilnya terhimpit, dan ia mengalami luka parah”, Mami tak sanggup menahan tangisnya saat mengingat kejadian itu.
“Mami,,, udah jangan dilanjutkan jika itu membuat Mami sedih”, Naz menegang tangan Mami menatapnya sendu.
Mami menghela nafas sejenak menenangkan diri untuk melanjutkan ceritanya, “Kami dihubungi oleh Dandy dan segera ke rumah sakit, dan saat Arfin sedang menerima penanganan medis, detak jantungnya terhenti dan setelah beberapa kali dirangsang alat pacu jantung tidak berhasil dan dinyatakan meninggal. Saat itu duniaku serasa runtuh, hati begitu hancur, dan Mami menangis sejadi- jadinya karena putraku kandungku satu- satunya meninggal. Mami seperti orang gila memaki dokter menyuruhnya untuk menghidupkannya lagi, Mami terus memohon agar dirangsang lagi dengan alat pacu jantung itu, dan sebuah keajaiban datang setelah beberapa kali jantungnya berdetak kembali. Sejak saat itu Mami berjanji akan menebus kesalahan Mami dan akan lebih memperhatikan serta lebih menyayangi Arfin daripada sebelumnya”.
“Saat mulai sadar yang ditanyakan Arfin malah kondisi Abangnya, padahal dia terluka sangat parah sampai mengalami kelumpuhan, dan karena itu ia menutup akses komunikasi dengan orang luar, bahkan dengan kedua sahabatnya pun saat dia di Amerika. Di sana ia mendapatkan perawatan yang bagus sehingga bisa sembuh walaupun kakinya harus cacat seumur hidupnya yang membuatnya tidak percaya diri mendekati wanita manapun. Tapi yang membuat Mami heran dia berani untuk mendekatimu.
Terimakasih Naz,, kau sudah mengembalikan putraku seperti dulu bahkan sekarang lebih periang dari sebelumnya, dan bersedia menerima kekurangannya. Dulu Mami pernah menentang hubungan Nervan dan Salma, karena merasa dia penyebab kecelakaan itu. Lain halnya dengan kakeknya, yang menentang karena perbedaan status sosial yang sangat dijunjungnya. Makanya saat Arfin menjalin hubungan dengan mu, ia menyembunyikannya karena takut Mami menentangnya, karena Mami mengetahui insiden pemukulan Nervan saat Arfin melihat Nervan ada di rumah mu karena ternyata dia juga menyukaimu,”.
“Haduhhh,,, kenapa musti ketahuan segala ini, kan aku jadi malu”, umpat Naz dalam hati.
“Awalnya Arfin cerita sedang mendekati seorang gadis, setelah salah nembak itu, beberapa hari kemudian Mami melihat Arfin malam- malam datang dengan wajah kusut dan sangat kacau, ternyata setelah diselidiki dia habis jadi korban tolak cinta. Dua minggu kemudian Mami main ke apartemen Nervan dan sangat terkejut melihat dia babak belur, dan tak lama Arfin datang meminta maaf. Saat itu Mami marah karena mengetahui alasan mereka berkelahi gara- gara perempuan. Makanya Arfin gak bilang kalau dia sudah punya pacar, malahan Mami tahunya dari Jeng Rahmi karena dia menghubungi meminta Arfin mencabut laporannya dan mengatakan Arfin berhubungan dengan kamu. Arfin terus menghindari Mami, dikiranya Mami akan menentang seperti pada Salma dulu yang membuat Nervan dan Salma sampai menikah diam- diam, bahkan Nervan tidak mau tinggal disini lagi. Padahal Mami mendukung hubungan mu dengan Arfin, yang penting anak- anak Mami bisa bahagia dengan pilihan mereka”, ucap Mami mengakhiri ceritanya.
“Mami menceritakan semua ini agar kamu tahu langsung dari sumbernya, bukan kata orang yang mengira- ngira,, bisa saja ditambahkan atau dihilangkan sebagian cerita sesungguhnya,,, sekarang tergantung padamu bagaimana kamu menilai kami,,, yang pasti kami sudah menyukaimu dan merestui hubungan kalian,, bahkan Mami berharap kalian bisa sampai menikah kelak walaupun……. “, Mami belum selesai berbicara tiba- tiba ada yang membuka pintu.
ceklek ....
“Loh,, kalian sedang apa disini?”, tanya Arfin heran.
“Mami mengajak Naz melihat foto masa kecilmu Al,,, hehe,,, ayok ah keluar kita makan siang bersama”, ucap Mami lalu mengajak Naz pergi, “Ayo AL,,, kita makan masakan pacarmu ini”,tambahnya.
“Ih,, apaan orang itu masakan Mami,,, aku cuma bantu dikit”, ucap Naz menyangkal.
“Kalian duluan saja, Al mau ganti pakaian dulu”, ucap Arfin lalu membuka lemari dan mengambil pakaian santai.
Sementara Naz dan Mami pergi ke ruang makan, mereka menyiapkan makanan di atas meja makan yang sebelumnya sudah dimasak oleh mereka. Tak lama Arfin dan Pak Latief pun tiba dan langsung bergabung di meja makan. Mereka pun makan bersama tanpa bicara sampai selesai. Dan saat makan buah, barulah ada celotehan di sana.
“Permisi,, Maaf Non sejak tadi hape nya terus berdering”, Bi Darmi menyodorkan tas kepada Naz.
“Oh,, iya terimakasih Bi”, Naz menerima tas nya lalu membuka dan mengambil ponsel dari dalamnya, “Aku permisi angkat telepon dulu”, Naz bangkit lalu berjalan agak menjauh dari meja makan.
Di saat yang bersaman Nervan pun datang bersama Maira dan Nala, dan mereka menghampiri ke ruang makan yang tentunya disambut dengan gembira oleh kedua orang tuanya yang sejak pagi sudah menunggu kedatangan mereka.
“Hallo ,,, wa’aalakumsalam,,,”, Naz mengangkat telepon dan menjawab salam, lalu orang diseberang menjelaskan maksud menghubunginya.
“Apa,,,, kritis,,, ??? “, Naz sangat terkejut, tubuhnya serasa bergetar, dadanya terasa berat dan sesak, kakinya pun terasa lemas dan tak sanggup menyokong beban tubuhnya lagi, kini ia mengetahui penyebab perasaannya tidak enak sejak pagi, tiba- tiba ia kehilangan keseimbangannya karena semua terasa gelap.
Brukk,,,,, akhirnya tubuhnya terkulai lemas jatuh ke lantai.
“Naz….. !!!”, semua orang berteriak dan langsung menghampiri Naz yang sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
------------- TBC -------------
****************************
Ada kabar apakah yang Naz terima sehingga membuatnya pingsan??
Saksikan episode selanjutnya,,, wakwaw ……
Happy Reading
Jangan lupa tinggalkan jejak mu, Komen, Like, Vote, Rate bintang 5…
__ADS_1
Terimakasih semuanya…….