Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Terungkapnya Alasan Arfin Meninggalkan Naz


__ADS_3

Naz POV


Cinta ,,, kata itu begitu simpel dan mudah untuk diucapkan, namun tahukah apa arti cinta itu?... banyak pengertian cinta menurut beberapa teori dari berbagai pendapat serta ditujukkan untuk beberapa hal, baik itu terhadap benda hidup atau benda mati, baik itu ditujukan kepada orang tua, saudara, teman, sahabat, lawan jenis, idola, makanan ataupun hewan dan benda lainnya. Dan yang kini tengah ku rasakan cinta terhadap lawan jenis, cinta terhadap pria tampan nan baik hati menurutku, entahlah menurut orang lain, karena aku memandangnya dengan rasa cinta.


Bagiku cinta adalah perasaan yang tulus dan datang dari hati yang terdalam, menerima segala kekurangan pasangan, serta selalu berusaha membuatnya merasa bahagia walau dengan sebuah hal kecil. Dalam hubungan percintaan terdapat istilah saling,,, selain saling cinta dan sayang, juga saling percaya, saling memahami, saling berbagi entah itu kesedihan ataupun kebahagiaan, serta saling terbuka satu sama lain.


Kini aku tengah berbahagia karena jalinan cintaku yang sempat terputus bersama pria yang sangat ku cintai telah kembali menyambung lagi. Aku telah memutuskan untuk menerima dia dengan semua kekurangannya, walau ia sempat tak ingin kami bersatu lagi karena tak ingin aku menderita bersamanya kelak. Namun rasa cinta kami yang begitu besar dan aku terus meyakinkannya mampu membuat pertahanannya runtuh, sehingga ia pun menyatakan kembali perasaannya padaku dan kembali lagi bersamaku.


Dia memintaku duduk di sampingnya di tempat tidur yang sempit ini dan terus memelukku seolah melepas kerinduan yang dirasakannya selama setahun belakangan ini, seakan tak ingin terpisah lagi dariku. Sudah tidak ada kecanggungan lagi diantara kami yang sudah mulai kembali bercanda gurau tertawa riang akibat ulah kejahilan ku seperti dulu. Luka dan rasa sakit karena perpisahan seolah terhapus dengan kebahagiaan yang kini tengah kami rasakan.


“Chaya Sayang,,, sekarang kau sudah bisa mulai menceritakannya ??? sebelum aku habis menerima KDRT dari mu”, ucapnya menagih sambil menyindir.


“Hahahaha,,, salah siapa kamu terus bicara ngelantur”, aku malah menertawakannya.


“Kamu kamu terus ih,, Aa,,,”, dia kembali protes.


“Maaf maaf,,, ya ampun hamba lupa yang mulia,,, hahaha,,, harap di maklum,, bibir ini belum terbiasa lagi dengan panggilan itu,, karena sudah terlalu lama tak pernah melontarkan panggilan itu”, ucapku.


“Baiklah,, untuk kali ini diampuni,, kalau lupa lagi aku akan memberikan hukuman untukmu, nona tengil”, yasalam hukuman lagi.


“uuuhhhh,,, tatut,,,, hahaha”, ucapku mengejek.


“Sudah sudah,, ayo cepat ceritakan,,,”, dia merengek tidak sabaran seperti seorang anak yang minta di dongengkan.


“Baiklah,,, sesuai janji Aa ya,,, jangan marah”, ucapku mengingatkan.


“Iya,,,”, jawabnya singkat.


Aku menghela nafas panjang untuk ancang- ancang menceritakan semuanya pada Kak Arfin. “Jadi waktu itu………………………………………………..


Flashback


yess,,, akhirnya aku kebagian flashback, coba kalau kebagian cashback belanja lebih senang lagi Thor...🤭


“Dimana ya power bank-nya “, ucapku yang tengah mencari barang pesanan Papa di dalam koperku, namun tak ku temukan, “Waduh,, ini kerudung dan kacamata milik Dinda bekas ke pemakaman kok ada di sini,,,? Jangan- jangan Bunda yang memasukannya ke dalam koperku dan mengira ini milikku”, ucapku heran dan mengira- ngira.


Kemudian aku mencari ke lemari dan laci yang ada di dalam kamar ini, termasuk di meja dan sofa, namun tetap aku tak menemukannya.


“Yasalam,,, bukannya semalam Raline meminjam power bank ku”, ucapku yang baru teringat, dan aku pun mencari di ranjang bekas tidur Raline yang berantakan, karena selimut badcover bekas tidurnya malah dibiarkan menggunduk, lalu ku cari di dalam selimut itu, “Nah,, ini dia,,, “, ucapku saat menemukannya lengkap dengan kabel data yang masih terhubung ke lubang colokannya, ku tekan tombol disampingnya untuk memastikan baterainya masih ada, dan beruntung ternyata masih ada tiga titik yang menyala.


Aku pun membereskan tempat tidur Raline, kemudian aku beranjak untuk keluar kamar, namun saat ku buka pintu, betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang sedang berdiri di depan pintu kamar ku.


“Naz,,, bisakah kita bicara? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan sama kamu”, ucap orang itu dengan tatapan serius.


Melihat orang sedang berdiri di hadapanku membuat ku teringat padanya yang telah begitu menyakitiku, “Maaf,,, sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi”, ucapku lalu menunduk.


“Tapi ini sangat serius,, mengenai hal yang sebenarnya yang harus kamu ketahui, saya janji setelah ini tidak akan ada pembicaraan tentang hal ini lagi”, ucapannya membuat ku menegakan pandanganku kepadanya, seolah aku merasa tergiur dengan apa yang akan ia katakan, karena hal itu lah yang selama ini aku pertanyakan dan tak kunjung mendapat jawaban.


Aku menghela nafas sejenak, “Baiklah,, silahkan masuk”, ucapku mempersilahkan dan kami pun masuk, “silahkan duduk, Tante”, ucapku yang kemudian mengambil minuman kaleng dan air mineral, lalu aku taruh di atas meja, “Mohon maaf hanya ada ini,,hehehe”, ucapku tersenyum, lalu aku pun duduk di sofa yang sama dengan beliau.


“Sebelumnya saya minta maaf sudah mengganggu liburan kamu”.ucapnya mengawali perbincangan.


“Jangan terlalu formal seperti itu, Tante”, jawabku tersenyum.

__ADS_1


Beliau pun tersenyum ,”Sudah lama ya kita tidak bertemu, dan sekarang kamu memanggilku dengan sebutan Tante lagi,,”, ucapan beliau terhenti sejenak dan terlihat menghela nafas panjang, “Bi Darmih bilang kamu sempat datang ke rumah untuk menanyakan Arfin,,, dan kamu mengira kalau Arfin sedang sakit keras, sampai kamu menangis minta diberitahukan keberadaan Arfin, apa itu benar? Apa kamu masih memperdulikannya?”.


Deg.... aku hanya diam dan menundukkan kepalaku karena bingung harus berkata apa, sehingga memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Tante Hinda.


“Tante minta maaf atas apa yang sudah dilakukan Arfin sama kamu,,, Tante sudah berusaha memintanya untuk tidak meninggalkanmu agar terus bersama mu,, karena Tante yakin kamu pasti bisa menjadi penyemangat nya dan mendorongnya untuk sembuh,,, karena selama ini ia tidak mau berobat atau pun teraphy, dan ia lebih memilih menerima kenyataan pahit dalam dirinya itu, dan menjauhkan dirinya dari mu”.


Aku sudah tidak tahan mendengarnya dan rasa penasaranku sudah benar- benar memuncak, “Kak Arfin sakit apa, Tante ?”, akhirnya pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibirku.


“Tante tahu, putusnya hubungan kalian pasti menyisakan luka yang dalam dan menyakitkan, pastinya itu sangat berat untuk kalian berdua. Arfin melakukan itu karena dia sangat mencintai mu dan tidak ingin membuatmu menderita jika dia menikah dengan mu”, Tante Hinda berhenti sejenak solah sedang menahan diri untuk tidak menangis di hadapanku, namun beliau belum menjawab pertanyaan ku.


“Dia sangat menyesalinya,,, dia sangat menyesal karena sudah tak sanggup memendam cintanya padamu hingga membawamu dalam hubungan yang tak tentu arah,,, dan sesaat setelah kamu mendengar pembicaraan kami soal pertunangan hingga ia menolak untuk menikah,, ia juga merasa terguncang karena sudah menyakiti perasaan mu, ia terus menangis hingga melukai dirinya sendiri dengan memukul cermin menggunakan tangannya hingga tangannya terluka dan berlumuran darah,, hiks hiks,,, rasanya saat itu Tante ingin berlari mengejar mu dan menjelaskan semuanya,,, hiks hiks,,, tapi baru saja Nervan mengatakan ingin menemui mu dan menjelaskannya, Arfi mengancam semua pecahan cermin itu akan menancap di tubuhnya jika ada yang ada yang berani menemui mu, Naz,,,,hiks hiks hiks”, ucapan Tante Hinda terhenti karena tak sanggup menahan tangisannya.


Aku pun sangat terkejut mendengarnya, lalu aku membekap mulut ku dengan telapak tanganku, hatiku merasa teriris dan tak sanggup membayangkan bagaimana ia melukai dirinya sendiri karena rasa bersalahnya telah menyakitiku. Air mataku pun berjatuhan membasahi pipi ku, hingga aku lupa menanyakan kembali pertanyaan ku sebelumnya.


“Dia terus menangis hingga ia tak sadarkan diri, dan kami pun membawanya ke rumah sakit,,, ternyata ia terkena DBD dan harus dirawat, bahkan ia sempat kritis dan masuk ruang ICU karena trombosit dan Hb nya turun drastis juga ia susah makan serta kurang istirahat akibat terus meratapi kesalahannya padamu,,, hiks hiks,,, dia mau makan kalau kami mengancam akan menemui mu,,, hiks hiks,,, Saat itu Bunda mu terus mencoba menghubungi Tante, akhirnya Tante bilang kalau Arfin sedang dirawat tapi jangan bilang sama kamu, dan Bunda mu datang menjenguk beberapa kali,, apalagi saat Arfin di ruang ICU, Bunda mu terus menemani Tante,,, tapi Tante sudah berbohong padanya kalau alasan Arfin menolak untuk menikah karena sebelumnya ia pernah dijodoh- jodohkan dengan seorang gadis dan saat Arfin sudah mencintainya juga sudah siap untuk menikah, gadis itu pergi begitu saja karena tak mau menikahi pria cacat sehingga Arfin trauma akan pernikahan,,,hiks hiks,,,”.


“Bahkan saat itu anak Tante, Atikah melahirkan pun Tante tidak sempat menemaninya, karena Arfin lebih membutuhkan Tante di sisinya,,,, hiks hiks,,, dan saat ia datang ke pemakaman almarhum Bude Hafsah, itu adalah hari ia diperbolehkan pulang, dia bersih keras ingin melayat walau Tante sudah melarangnya dan mengatakan kamu pasti ada di sana,,, namun ia malah membulatkan tekatnya untuk bertemu dan berbicara denganmu,, dengan menyuruh Tante mengatakan padamu kalau dia ada di danau…. Hiks hiks hiks,,,,, dan saat kamu ke danau, Tante mengikuti mu secara diam- diam dan mendengar pembicaraan kalian”.


Aku hanya diam dengan terus menghapus air mata yang berjatuhan mendengar semua penjelasan Tante Hinda, beliau pun sesekali terhenti karena terus menangis.


“Setelah kepergian mu dari danau,,, dia sangat terpukul, dia menangis sejadi- jadinya dan terus mengatakan kalau kamu sangat membencinya dan tak ingin melihatnya lagi…. Hiks hiks ,,, sejak saat itu dia terus mengurung dirinya di dalam kamar menangisi penyesalan dan kebodohannya karena telah menyakiti mu sambil memandangi foto- foto mu, dan terkadang dia tersenyum sendiri seperti orang gila saat memutar video yang didapatkannya dari ponselmu,,,, hiks hiks hiks,,,, tidak ada yang bisa membujuknya atau menasehatinya, sampai kami mendatangkan psikiater dan dia dinyatakan mengalami Depresi Mayor… hiks hiks hiks,,, huhuhuhu…”.


“Tante,,”, lirihku mendekat padanya lalu menyentuh kedua punggung tangannya lalu mengusap- usapnya seolah aku menguatkan beliau, padahal diriku sendiri merasa sangat sedih mendengar itu semua.


“Sebagai seorang Ibu, saat melihat anaknya merasa sakit, maka yang dirasakan Tante berkali kali lipat sakitnya,, dan itu adalah cobaan terberat bagi Tante, setelah dulu menghadapi Arfin yang terpuruk karena kecelakaan tragis itu. Dan setelah kalian putus ia malah lebih parah dan sampai depresi, kemudian Arfin menjalani terapi psikis selama dua bulan dengan disertai obat yang diresepkan psikiaternya,, dan setelah sembuh, ia berniat kembali ke Amerika karena ia ingin benar- benar menjauh dari mu,, namun Tante sekeluarga melarangnya sampai terjadi perdebatan diantara kami,,, dan akhirnya Mas Latief menyarankan agar Arfin mengurusi perusahaan kami yang di luar kota, dan disinilah pilihannya, di Surabaya,, dengan syarat tidak boleh ada yang tahu tentang keberadaannya di sini,, dan kami pun menyetujuinya”, ucap Tante Hinda yang sudah mulai berhenti menangis, ia memegang tanganku dan menatap lekat wajahku.


“Naz ,,, Tante tahu itu juga pasti sangat berat untuk mu,,, Tante benar- benar minta maaf atas apa yang terjadi, Tante tak pernah menghubungi mu lagi karena terikat janji dengan Arfin,, padahal Tante ingin sekali bertemu dengan mu,,, Dan dia juga masih sangat mencintaimu sampai saat ini pun, bahkan ia sampai membangun rumah dengan konsep yang kamu inginkan,,, minimalis tapi cukup besar persis dengan yang kamu deskripsikan di dalam gambar mu dulu, ia sampai memajang foto- foto mu dikamar nya,, seolah kamu adalah nyonya di rumah itu”, ucap Tante Hinda tersenyum.


“Dia berbohong,,,, dia sengaja supaya kamu semakin membencinya dan tidak mengharapkannya lagi,,, dia juga mengganti semua foto- foto itu saat mengetahui kalau kamu ada di Surabaya untuk melayat anaknya Tante mu yang meninggal,, dan Mbak Jum bilang, ia menggantinya saat kamu pingsan setelah terjatuh ke kolam renang,,, Dan satu lagi,, Dilara itu adik sepupunya Arfin dan adik kandungnya Dewi,,, mana mungkin mereka menjalin hubungan”, Tante Hinda terus membeberkan semuanya.


“Apa?? Dilara adik sepupunya Kak Arfin…??”, aku sangat terkejut mendengar pernyataan Tante Hinda mengenai status Dilara dalam keluarganya.


“Iya,,, dan dia juga sudah punya pacar “, ucap Tante Hinda yang mengingatkan ku pada lelaki yang bersama Dilara datang ke rumah Om Aji tadi pagi, yang dikatakan Dinda itu pacarnya Dilara.


“Jadi semua itu hanya sandiwara? Tapi kenapa Tante,, kenapa? Jika Kak Arfin masih mencintaiku, Kenapa ia ingin menjauhi dariku? Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Dia sebenarnya kenapa Tante? Dia sakit apa? Hiks hiks”, Aku semakin takut jika Kak Arfin menderita penyakit yang parah.


Tante Hinda terdiam dan menundukkan kepalanya sambil memejamkan mata seolah ada rasa berat di hatinya untuk menjawab pertanyaanku, kemudian beliau mengangkat kembali kepalanya, menghela nafas sejenak, “Setelah kecelakaan tragis yang hampir merenggut nyawanya delapan tahun yang lalu hingga membuatnya lumpuh, ia merasakan ada hal yang aneh pada dirinya, dan ia menyadarinya setelah bisa berjalan lagi, dan saat dilakukan pemeriksaan ternyata ia mengalami Disfungsi Ereksi, bahasa lainya impoten,,,”, ucap Tante Hinda yang kembali terisak.


“Apa? Disfungsi ereksi? Impoten?”, tanya ku terkejut.


Tante Hinda mengangguk sambil menghapus air matanya, “Iya,,, Arfin mengalami disfungsi ereksi atau impoten,,, dia sudah berobat selama empat bulan dan melakukan terapi beberapa kali, namun tidak membuahkan hasil, dan dokter pun mengatakan dia tidak bisa sembuh,, akhirnya dia menyerah dan mulai menerima nasib buruk yang menimpanya,,sebagai laki- laki itu adalah hal yang paling mengerikan juga membuatnya seolah tidak berguna,, dan karena itulah ia tak pernah berani mendekati wanita manapun, dia bilang dia tidak akan pernah menikah dengan siapapun,,, makanya saat Tante tahu dia menyukai seorang gadis, Tante terus mendorongnya untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu,,, gadis yang mampu merubah dirinya menjadi menjadi periang, gadis yang mampu meluluhkan sifat kerasnya, gadis yang selalu membuatnya bahagia,, gadis itu adalah kamu Naz,,,”.


“Disfungsi Ereksi,,,, Impoten,,, penyakit macam apa itu ? rasanya baru pertama kali ini aku mendengarnya,, apakah itu penyakit parah dan mematikan,, atau apakah??”, gumam ku dalam hati dan kepalaku dipenuhi tanda tanya serta ketakutan jika penyakit itu bisa menyebabkan Kak Arfin meninggal,


"Apa mungkin karena itu ia meninggalkan ku karena takut aku sedih jika dia meninggal”, aku kembali berucap dalam hati dengan air mata yang terus mengalir karena takut, takut kehilangan dia selamanya sedangkan aku tidak berada di sisinya untuk menemani hari- hari terakhirnya.


“Kamu pasti sangat terkejut,,, tidak ada yang tahu soal masalah ini selain Tante dan Nervan,,, bahkan Papinya sendiri pun tidak mengetahuinya,,, kami sudah sarankan untuk terapi pengobatan alternatif,, tapi dia terus menolak,,, Tante sangat senang saat Bunda mu menyarankan agar kalian bertunangan dan Tante sempat berpikir untuk memberi tahu mu tentang hal ini agar kamu bisa membujuknya untuk berobat lagi, sehingga dia tidak takut untuk menikah dan berumah tangga, namun sayang hubungan kalian keburu berakhir,, hiks hiks”.


“Tante,,, apa Disfungsi ereksi itu penyakit yang sangat parah ya? apa Kak Arfin bisa meninggal karena itu? hiks hiks”, tanyaku dengan berlinang air mata, namun Tante Hinda terlihat bingung dan heran melihatku.


“Naz,,, emmm,,, itu bukan penyakit yang mematikan,, justru itu penyakit yang memalukan, bisa juga disebut aib bagi seorang pria”.


“Hah,,, Apa?? Aib? Memalukan ?”, aku sangat terkejut mendengarnya, “Apakah itu semacam HIV/AIDS,,,?”, tanya ku yang sempat berpikir sejauh itu, dan Tante Hinda semakin terlihat bingung.

__ADS_1


“Bukan Naz,,, itu,, itu,, menyerang organ vital lelaki, karena ada syaraf yang rusak sehingga organ vitalnya itu sulit untuk bangun,, emm seperti itulah kira- kira”.


“Organ vital? Maksudnya alat kel*min gitu?”, ucapku dengan ragu dan seolah sudah mendapat sedikit titik terang, tapi kok terdengar jorok ya rasanya menyebutkan hal itu.


“Iya,, Naz,,,”.


“Emmm,,, memangnya kenapa kalau gak bisa bangun? Apa itu masalah besar ya Tante?”, tanyaku yang semakin bingung dan Tante Hinda pun nampak lebih bingung.


“Oh,, Ya ampun,, Tante lupa kalau kamu masih anak sekolah,, jadi belum terlalu paham soal hal itu,, emm gimana ya menjelaskannya,,, emmm,,, kamu tahu kan kalau sudah menikah itu ada yang namanya nafkah lahir dan nafkah batin,,, kalau nafkah lahir berupa materi yang diberikan suami,, sedangkan nafkah batin itu,,, emmm,,, itu urusan ranjang,, jadi kalau itunya gak bisa bangun bisa kacau urusan ranjangnya dan sebagai seorang suami ia gagal memberi nafkah batin kepada istrinya, itu berarti ia tidak akan bisa membahagiakan istrinya dan hanya akan membuat istrinya tersiksa kelak”.


“Urusan ranjang?? Memangnya ada apa dengan ranjang sehingga membuat seorang istri bisa tersiksa?”, tanya ku semakin bingung.


“Oh,, ya ampun,, kamu benar- benar masih polos ya Naz,,, emm,,, itu hubungan suami istri yang tidur berdua tapi gak pakai baju”.


Aku membulatkan kedua bola mataku seolah otakku baru konek, lalu membekap mulutku yang ternganga, “Maksudnya hubungan s*x ?”, tanyaku ragu- ragu.


“Nah itu tahu,,, jadi kalau itunya gak bisa bangun gak bisa berhubungan gituan”, ucap Tante Hinda.


Aku hanya diam dan mengerutkan dahiku merasa bingung dan tak mengerti karena otakku belum sampai ke sana, pikiranku masih abu- abu jika membahas soal gituan, benar- benar tidak ada bayangan sama sekali, aku mangut- mangut saja sambil nyengir pura- pura mengerti, pikirku nanti sajalah aku tanya- tanya ke mbah gugel. “Apa itu tidak bisa disembuhkan?”, tanyaku penasaran.


“Dokter bilang itu bisa disembuhkan tergantung seberapa tingkat keparahan dan syaraf yang rusaknya,,, saat itu dokter menyarankan berobat jalan dan melakukan terapi medis,, tapi setelah empat bulan tidak kunjung sembuh,, akhirnya dokter angkat tangan dan Arfin pun menyerah,,, tapi dia belum pernah melakukan pengobatan alternatif karena takut hasilnya gagal lagi dan tak ada yang berhasil membujuknya,,,”.


“Jadi karena masalah itu Kak Arfin tidak mau menikah, bahkan dengan ku,, karena tidak ingin membuatku tersiksa saat di ranjang,,, ”, ucapku menyimpulkan dari penjelasan Tante Hinda mengenai penyakit Kak Arfin, walau menurutku perkataan ku itu terasa aneh.


“Ya bukan cuma di ranjang,, maksudnya,,, aduh gimana ya ngomongnya,, intinya hal itu bisa menjadi pemicu pertengkaran dalam rumah tangga, dan Arfin tidak mau kalau kamu nantinya tidak bahagia jika menikah dengannya, karena setiap orang pasti memimpikan pernikahan yang bahagia, awet dan langgeng sampai maut memisahkan”.


“Jadi itu alasannya dia meninggalkanku dan tidak mau menikah denganku,,, karena takut membuatku tidak bahagia bersamanya,,, sebegitu besarnya cintanya padaku hingga ia menyiksa dirinya sendiri seperti ini,, apa dia tahu ,, dia bukan hanya menyiksa dirinya tapi juga menyiksa diriku,,, dan aku baru tahu penderitaannya lebih besar dibandingkan pasca putusnya hubungan kami, aku menyesal telah melontarkan kata- kata yang begitu menyakitinya,, pantas saja dulu dia tidak bicara apa pun selain kata maaf,, ternyata dia menahan rasa sakit di hatinya mendengar semua ucapan ku,,, maafkan aku,,, maafkan aku Kak Arfin”, gumam ku dalam hati dan rasanya aku ingin menemuinya saat ini untuk meminta maaf padanya.


“Naz,,,, apakah setelah mengetahui hal ini kamu akan tetap membencinya?”, tiba- tiba Tante Hinda menanyakan hal itu padaku.


“Tante,,, aku tidak pernah membencinya,,, saat itu aku hanya kesal karena dia tak kunjung memberiku alasan atas sikapnya selain hanya kata maaf yang terus dilontarkannya, dan juga hanya pasrah dengan semua perkataan ku,,, aku tidak bisa membencinya seperti yang ku katakan saat itu padanya, aku terus teringat padanya dan sampai saat ini pun aku belum bisa melupakannya, Tante”. ucap ku berterus terang.


“Jadi kamu juga masih mencintainya?? Apa kamu akan tetap mencintainya walau dia memiliki kekurangan dengan penyakit dideritanya?”, beliau bertanya seperti sedang mengujiku.


“Sejak awal aku menjalin hubungan dengannya, sejak itu pula aku menerimanya dengan segala kekurangannya, aku mencintainya bukan karena harta atau jabatan atau nama besar keluarganya, tetapi aku mencintainya walaupun dia memiliki kekurangan. Aku melihatnya sebagai pria sederhana yang selalu tampil dan bersikap apa adanya, yang tak pernah memamerkan apa yang ia miliki ataupun harta orang tuanya, bahkan ia tak pernah mengatakan kalau dia adalah anaknya Om Latief sahabatnya Papa yang bahkan aku tidak tahu orangnya yang mana. Bagiku dia lelaki biasa dengan sikapnya yang luar biasa dan begitu sabar mengahadapi sikap tengil ku juga selalu ada dikala aku membutuhkan tempat berkeluh kesah, dialah satu-satunya lelaki yang mampu meluluhkan hatiku dengan cinta dan ketulusannya,, sehingga sangat sulit bagiku untuk melupakannya,, semakin aku coba melupakannya,, semakin besar rasa cintaku padanya”, ucapku mengutarakan apa yang selama ini aku rasakan terhadap Kak Arfin.


Tante Hinda tersenyum mendengar perkataan ku dan nampak bernafas lega, “Naz,,, apa kamu berharap untuk kembali lagi bersamanya?”.


Aku terkejut mendengar pertanyaan itu, dan aku merasa malu untuk menjawabnya, karena sesungguhnya itu adalah keinginan terbesarku saat ini, namun ada rasa takut dalam diriku, takut akan penolakannya lagi, “Tapi Tante,,, Kak Arfin nya sendiri bagaimana?”, aku balik bertanya.


Tante Hinda pun tiba- tiba terdiam seolah tak mampu menjawab pertanyaanku.


-------------- TBC -------------


********************


Happy Reading….😉


Jangan luva tinggalkan jejakmu ,,, like, komen, rate bintang 5,,, vote,hadiah seikhlasnya....😉😍


Terimakasih selalu sabar dengan othor yang suka main gantungan ini...🤭😘


Alapyu oll.,..😍😘

__ADS_1


__ADS_2