Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Ternyata Dia Mencintai Wanita Lain


__ADS_3

Cuaca yang semenjak pagi begitu cerah lambat laun menjadikan langit nampak mendung di kerumuni oleh awan yang semu menghitam, siang menuju sore hawa dingin pun mulai terasa menyeruak seakan menggelitiki rambut halus pada pori- pori kulit. Sepasang insan beda generasi kini tengah terlibat pembicaraan serius sembari duduk di kursi rotan menghadap kolam, ditemani gemerincik air yang disertai riak tarian ikan saat berebut makanan yang ditabur sedikit- demi sedikit ke air kolam. Kini tibalah masa dimana Arfin sudah tidak bisa mengelak dan tidak bisa menutupinya lagi karena Bunda terus menodongnya yang membuatnya tidak bisa berkutik dan mulai mengakui segalanya. Tapi ini bukan hal yang berat bagi Arfin, karena Bunda sudah seperti ibunya sendiri dan begitu memahaminya. Semenjak bersahabat dengan Dandy, Arfin bisa mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang selama ini tak didapatkannya dari Maminya, Bunda selalu menganggap sahabat anak- anaknya seperti anaknya sendiri, bahkan tak jarang Arfin sering curhat dan meminta pendapat dari Bunda.


Arfin akhirnya berterus terang kepada Bunda mengenai perasaannya terhadap Naz, dan kini ia sudah mengantongi dukungan dari Bunda, tinggal menyiapkan keberanian sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan pada gadis pujaan hatinya itu.


“Arfin, kalau Bunda perhatikan mah sepertinya Naz mempunyai perasaan yang sama terhadapmu”, Bunda terdiam sejenak memandang ke Arfin yang duduk di sebelahnya dan tersenyum lalu menepuk pundak Arfin, “ Dia juga suka sama kamu, Ar”.


“Siapa yang suka sama Arfin ,Bund?”, terdengar suara seseorang dari belakang mereka yang datang menghampiri, membuat Arfin dan Bunda terkejut dan mengarahkan pandangan pada asal suara itu.


“Dewi,,,,??? Kok bisa ada di sini?” Arfin terkejut dengan kedatangan sekertaris nya itu.


“Eh,,, gening Dewi bisa ada di Bandung,,?”, Bunda pun ikut terkejut dengan kedatangan wanita cantik yang nampak elegan mengenakan dress tanpa lengan dengan panjang di atas lutut dan memakai high heels.


“Ceritanya panjang Bunda…” Dewi menghampiri dan menyalami, ”Oh iya, siapa nih yang suka sama Pak Bos ? Apakah orang yang sama yang selalu membuat Pak Bos seperti ABG yang sedang di mabuk cinta saat di kantor”. Dewi menertawakan bosnya yang nampak salting.


“Oh yaa,,,siapa itu teh? Bunda juga jadi penasaran”, wisss Bunda bisa acting juga rupanya.


“Dasar para wanita memang selalu kepo,,,” Arfin memutar jengah bola matanya, “Kok Bunda bisa kenal sama Dewi?”,Arfin merasa heran karena Dewi juga memanggil Bunda seperti sudah mengenal dekat.


“Ya kenal atuh,, kenal pisan malah,,,Dewi sama Mamanya teh pelanggan tetap di butik Bunda Ar..”, Bunda sedikit menjelaskan , “Kita masuk yuk, diluar sudah mulai dingin bisa masuk angin nanti”. Bunda mengajak Arfin serta Dewi masuk ke dalam rumah, lalu mereka menuju ke ruang tamu untuk melanjutkan perbincangan mereka di sana, ternyata di sana ada Mimih dan Naz yang baru saja duduk.


“Ehh,, sayang kamu udah enakan?” Bunda menghampiri Naz, ”Ayo atuh silahkan duduk,” Bunda mempersilahkan Dewi dan Arfin duduk di kursi tamu.


“Ari kitu Nanaz kunaon? Naha Mimih teu apal?” Mimih bertanya pada Bunda


“Memangnya Nanaz kenapa? Kenapa Mimih gak tahu?”.


“Tadi basa Mimih tos dijajap ka kamar ku Arfin, teu lami Naz ngalengerek Mih, eta telat emam tuda, tapi da alhamdulillah tos sakinten ayeuna mah saatos emam sareng emam obat”, Bunda melapor pada Mimih.


“Tadi waktu Mimih sudah diantar ke kamar sama Arfin, tak lama Naz pingsan Mih, karena telat makan, tapi alhamdulillah sekarang sudah baikan setelah makan dan minum obat”.


“Ulah sok telat emam atuh Neng engke- engke deui mah nya, ges mah begang engke beuki cungkring ngoleang, atuh moal aya nu bogoheun ka incu Mimih anu pohara geulisna ieu teh”, Mimih menasehati Naz sambil mengusap- usap pucuk kepala Naz.


“Jangan suka telat makan Neng nanti mah ya, udah kurus nanti makin cungkring, nanti gak ada yang naksir sama cucu Mimih yang sangat cantik ini”.


“Iya Mimih ku sayang”, Naz meng iya kan nasehat sang Mimih sambil tersenyum lebar.


“Oh iya sampai lupa, ini kita teh kedatangan tamu Mih”, Bunda baru teringat dengan Dewi.


“Saha ieu meni geulis pisan, tapi hanjakalna gening ngangge acuk teh jiga kurang bahan kitu, nya hente tiris Neng?”, ternyata Bunda suka ceplas- ceplos itu turunan dari ibunya ya.


“Siapa ini cantik sekali, tapi sayangnya kok memakai baju yang kurang bahan gitu, emang gak kedinginan Neng?".


Dewi dan Arfin hanya senyam-senyum saja karena tidak mengerti apa yang dikatakan Mimih, sedangkan Naz dan Bunda nampak menahan tawa mendengarnya.

__ADS_1


“Perkenalkan nama saya Dewi Nek”. Dewi menghampiri Mimih dan menyalaminya.


“Oh enya Dewi, panggil saja Mimih jangan Nenek”, menolak tuir.


“Nah Dewi,, kalo yang ini mah anak gadis Bunda”, Bunda memperkenalkan Naz pada Dewi.


“Hai, aku Dewi,, wahh Bunda putrinya cantik sekali”, Dewi menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Naz.


“Rheanazwa, panggil saja Naz”, Naz pun menyalami Dewi sambil tersenyum ramah.


“Mimih,, ini Bu Minah nya udah aku jemput”, tiba- tiba Dandi muncul dari pintu masuk bersama seorang wanita paruh baya.


“Mimih ke belakang dulu yah, mau dipijit”, Mimih pun bangkit dari duduknya kemudian pamit dan pergi ke kamarnya bersama Bu Minah si tukang pijit.


“Pantesan aja lo tadi ngilang, gue kan celingukan ditinggal di rumah ini sendirian, karena pengen ke toilet gue ngasal aja jalan ke belakang, pas lihat pintu terbuka gue berjalan kesana lalu melihat ada orang di halaman samping, niatnya mau nanya arah toilet, eh ternyata kayak kenal sama suara mereka, jadi gue samperin deh dan ternyata itu Arfin sama Bunda”, Dewi bicara panjang lebar.


“Hahaha,, sory Dew, tadi Mimih minta tolong jemput Bu Minah ke rumahnya, katanya badannya serasa pegal- pegal pingin dipijat”, Dandy kemudian ikut bergabung duduk di kursi tamu.


“Oh iya, Dewi kamu teh belum cerita kenapa bisa ada disini?”, Bunda menagih penjelasan dari Dewi.


“Ah iya aku belum cerita ya,,hehe,,,,itu Mamaku mau menghadiri acara reuni bersama teman- teman SMP nya besok, , karena sedang libur kerja dan kebetulan aku tidak ada acara, Mama memintaku menemaninya ke Bandung, dasar aja manja dari Jakarta ke Bandung aja pengen naik pesawat dan kami berniat menginap di rumah tanteku. Saat di bandara aku ketemu Dandy dan dia mengenaliku sebagai sekertaris nya Arfin, kami saling menyapa dan ngobrol sebentar sampai tukeran nomor HP, lalu Dandy menanyakan tempat tujuan kami dan ternyata searah, akhirnya aku sama Mama ikut numpang deh sama Dandy”, Dewi menjelaskan panjang lebar.


“Oh jadi ini sekertaris nya Kak Arfin yang dibilang semalam sama Kak Dandy itu, pantesan aja Kak Arfin betah di kantor, orangnya cantik dan sexy”, Naz berdialog dalam hatinya, yang tadinya tersenyum ramah kini menampakkan wajah cemberut.


“Jangankan lo Dan, bos gue ini aja gak kenal, mana cuek banget lagi kalo ngomong gak pernah lihat orang, masih kayak dulu cuek sama cewek,, pas tahu gue manggil nama panggilannya saat di SMP dulu baru dia kenal sama gue”, Dewi tertawa mengingat awal bertemu dengan bos barunya dulu.


“Terus apa tujuannya datang kesini ?”, Arfin bicara dengan nada ketus.


“Yaelah Bos, galak banget sih jadi orang,,, tenang saja Tuan gue kesini bukan mau ngurusin kerjaan,,gue juga butuh libur kalii,,,gue bete aja tadi diem bae di rumah sama emak- emak yang lagi pada ngobrol ngaler ngidul, jadi gue nelpon Dandy deh minta dijemput buat kesini katanya disini ada Pak Bos juga, lumayan bisa gangguin Pak Bos”. Dewi tertawa melihat ekspresi Arfin yang terlihat gelagapan.


“Pantesan aja dia kesini nyamperin Kak Arfin karena kerjanya libur jadi gak bisa ketemu di kantor, dasar,,”, Naz hanya bisa menggerutu dalam hati.


“Oh jadi gitu toh ceritanya, yasudah silahkan dilanjut ya, bunda ambilin minum dulu sama cemilan untuk kalian”, Bunda bangkit dari duduknya dan hendak berjalan meninggalkan ruang tamu.


“Bunda aku bantu ya, sekalian numpang ke toilet”, Dewi pun berdiri dan mengikuti Bunda menuju ke dapur.


Selama beberapa saat tidak ada pembicaraan dan ruang tamu nampak hening, Dandy terlihat sibuk bermain ponsel, Naz nampak sedang memainkan jari-jarinya sambil cemberut dan Arfin terus memperhatikannya sejak ia duduk di sana.


“Udah enakan Naz”, Arfin akhirnya bisa berbicara pada Naz.


“Kelihatannya”, Naz menjawab dengan jutek dan itu membuat Arfin merasa heran.


“Jutek amat sih Dek, gak boleh gitu ah”, Dandy memprotes Naz.

__ADS_1


“Enggak, biasa aja kok”, masih dalam mode jutek.


“Masih ngambek ya, karena gak jadi ke Trans Studio hari ini,,, kan udah di reschedule besok ke sana nya tuan putri”, Arfin mencoba menurunkan kadar kejutekan Naz.


“Wah, kalian mau ada acara jalan toh besok, ikutan donk “, Dewi sudah kembali membawa nampan berisi minum dan kue brownies, kemudian menaruhnya di atas meja dan ia kembali duduk.


“Mau ngapain ke Trans Studio ? Sejak kapan lo suka ke tempat begitu Ar?”, Dandy merasa heran .


“Tadi kan Naz susah disuruh makan sama Bunda, eh dibujuk mau diajak naik roller coaster ke Trans Studio baru dia mau makan, tapi malah pingsan, ternyata setelah pingsan dan makan dia nagih pengen ke sana”, Arfin mencoba menjelaskan.


“Yasudah kita rame- rame aja ke sana, lumayan seru- seruan naik roller coaster sama vertigo tuh di sana,” Dewi memberi usulan.


“Aku permisi dulu ya, kepala ku masih agak pusing”, Naz berdiri lalu bergegas pergi ke kamarnya. Arfin yang semenjak tadi memperhatikan Naz merasa aneh dengan perubahan sikapnya,tadi masih baik- baik saja masih tersenyum ramah, tiba- tiba berubah menjadi jutek, tapi ia teringat kalo Naz sedang datang bulan , dan berfikiran mungkin itu pengaruh dari PMS. Arfin, Dandy dan Dewi pun melanjutkan obrolan mereka mengenang masa- masa SMP mereka.


Naz masuk ke kamar dan mengunci pintunya, lalu ia naik ke tempat tidur berbaring tengkurap membenamkan wajahnya pada bantal ,“Hiks hiks hiks,,,Kak Arfin jahat”.


Naz POV


Ternyata dugaan ku selama ini salah, aku pikir Kak Arfin menyukai ku sesuai dengan ciri- ciri yang diberitahukan Ruby mengenai sikap seorang pria yang menyukai seorang wanita. Dia selalu perhatian padaku, selalu ada di saat aku sedih, selalu membuat ku bisa tertawa bahagia, dan membuatku mulai membuka hatiku dan membiarkannya mendekatiku hingga aku mengenal apa yang dinamakan jatuh cinta.


Aku sudah beberapa kali dengan tidak tahu malunya menangis di hadapannya yang merupakan hal yang selalu aku hindari dari orang lain, bahkan aku pernah menangis di pelukannya. Aku tak pernah dekat dengan lelaki manapun selain dengan ayah, kakak- kakakku dan Andes sahabatku, namun padanya aku mampu membuka diri, berbagi kesedihanku dengannya, bersamanya aku merasa nyaman, bahkan mendengar suaranya di telepon saja membuat ku bahagia.


Setiap malam sehabis aku belajar kami selalu berkomunikasi, entah itu hanya chating, teleponan bahkan sampai video call, yang awalnya membahas tentang pembangunan sekolah teras belajar, bercanda gurau, dan semakin kesini kami membahas hal- hal yang sebenarnya tidak penting hanya supaya kami bisa berkomunikasi saja yang menjadikan kami lebih dekat.


Awalnya aku pun tidak mengerti dengan apa yang ku rasakan ini, setiap hari ingat padanya, setiap malam menunggu kabar darinya, padahal kami jarang bertemu. Tapi saat Ruby mengatakan padaku kalau aku mempunyai perasaan pada Kak Arfin, aku tetap menyangkalnya, sampai pada suatu hari saat pembagian raport dan Kak Arfin membawakan raport ku, Guru wali kelasku terlihat menyukainya dan aku merasa kesal sampai aku uring- uringan gak jelas, dan saat itulah aku menyadarinya, seperti yang dikatakan Ruby aku cemburu, iya aku cemburu dan ternyata itu membuktikan perasaanku pada Kak Arfin.


Pernah saat itu kami tidak bertemu sama sekali hampir satu bulan lamanya karena aku sibuk persiapan UAS dan dia pun sibuk dengan pekerjaannya, aku merasa gelisah tak karuan dan ternyata seperti inilah rasanya merindukan seseorang yang kita cintai, dengan memeluk boneka pemberiannya hasil dari capit boneka tempo hari bisa sedikit melepas rinduku padanya. Terkadang aku bicara pada boneka tedy bear ku bahkan aku sering mencubit- cubit atau mengunyeng- unyeng tedy bear ku jika aku kesal pada Kak Arfin yang tak kunjung menghubungiku, dan sekarang tedy bearku sudah tidak ada lagi hiks,,,ternyata benar cinta bisa merusak logika dan membuat orang jadi bodoh, padahal kan kalau soal pelajaran di sekolah aku cerdas. Agul saeutik bolehnya.


Kemarin aku salah mengirim pesan cinta yang seharusnya balasan pesan untuk Bunda malah terkirim kepada Kak Arfin, aku merasa sangat malu, benar- benar malu meskipun itulah perasaanku padanya, tapi masa iya aku menyatakannya lebih dulu, gengsi dong. Aku sampai berniat untuk menghindar tak mau bertemu dengannya, tapi apesnya semalam Kak Arfin malah datang ke rumah bersama Kak Dandy dalam keadaan basah kuyup, rasanya aku ingin bersembunyi, tapi aku enggan melangkah karena aku masih merindukannya. Saat itu mati lampu sedangkan di luar hujan deras di sertai petir dan geledek, aku sangat terkejut dan melihat pintu terbuka, aku reflex memeluk kak Arfin yang berdiri di hadapanku, aku menangis ketakutan, trauma masa kecilku kembali hadir dalam ingatanku, gledek dan kilatan petir itu datang lagi membuatku takut benar- benar takut dan semakin mengeratkan pelukan pada Kak Arfin, tak lama ayah datang dan mengambil alih diriku dan perlahan terus menenangkan ku.


Setelah aku mulai tenang Ayah dan Kak Dandy malah menggodaku, dan aku tau itu untuk mengalihkan rasa ketakutan ku, ya dan mereka berhasil, berhasil membuatku ketakutan kembali, takut ketahuan kalau aku selama ini dekat dengan Kak Arfin, sepertinya dia pun belum siap jika kedekatan kami diketahui oleh Ayah dan Kak Dandy. Saat Kak Dandy mengatakan kalau Kak Arfin lebih betah di kantor kana terpikat oleh sekertaris nya yang cantik dan seksi, aku merasa kesal, marah, dan kecewa dan yang pastinya aku cemburu. Dan yang lebih parah sekertaris nya itu bahkan menyusul Kak Arfin ke sini, ke rumah Mimihku.


“hiks hiks hiks,,, Kak Arfin jahat….aku salah,,, betapa bodohnya aku ,,,ternyata aku salah mengartikan perhatian dan kebaikannya selama ini, ternyata dia mencintai wanita lain,,bukan aku,,,bukan aku…hiks hiks,,”.


Tok tok tok


" Naz......


------------------- TBC ---------------


*************************


Happy Reading..... 😉🥰

__ADS_1


__ADS_2