
Naz, Bunda dan Mama nya merasa khawatir pada Bu Hinda yang masih terdengar muntah- muntah. Bunda beranjak pergi ke dapur membuatkan minuman air gula merah hangat untuk besannya. Sedangkan Bu Rahmi pergi ke kamarnya untuk membawa minyak angin, karena beliau masih tidak percaya jika Bu Hinda itu mewakilkan Naz ngidam, menurutnya beliau hanya masuk angin saja.
Naz yang ditinggal sendiri di ruang makan pun bangkit dari duduknya berniat menghampiri Bu Hinda yang sedang berada di kamar mandi.
Naz berjalan perlahan menuju kamar mandi yang terletak diantara ruang makan dan ruang tengah, sambil memijat kepalanya yang terasa sedikit pusing. Saat sampai di depan pintu kamar mandi, ia tak mendengar suara apa pun. Dan ternyata Mami mertua nya sudah keluar dari kamar mandi dan terlihat hendak duduk di sofa ruang tengah ditemani Arfin. Naz pun beranjak ke ruang tengah untuk menghampiri mereka. Bersamaan dengan Bunda yang membawa segelas minuman buatannya.
“Nda,, ini diminum dulu”, Bunda menyodorkan air minum yang ia bawa tadi dan beliau pun menerimanya.
“Terimakasih, Mbak”, Bu Hinda kemudian minum dengan perlahan.
Naz menghampiri Bu Hinda dan hendak duduk di sebelahnya, “Jangan dekat- dekat Naz”, Bu Hinda langsung melarang Naz mendekatinya sehingga membuatnya semakin heran dan bingung.
“Ma… Mami kenapa gak mau dekat- dekat sama aku? Apa Mami marah sama aku?", Naz malah merasa sedih dan mengurungkan niatnya untuk duduk.
“Engak Naz,, Mami gak marah sama kamu kok,, tapi kamu bau durian”, ucap beliau yang kembali merasa mual.
“Hah?? Bau durian?? Tapi aku belum makan durian Mami”, ucapnya merasa aneh.
“Astagfirullah,,, maaf Dek,, Bunda teh lupa,, kalau tadi pas kita pulang teh Bunda sama Mbak Rahmi gak langsung ke sini, tapi ke rumah Ina dan membelah duriannya di sana, karena kalau di sini takutnya bikin Hinda muntah- muntah lagi karena baunya,,, Terus Bunda teh cuman bawa sepasi aja duriannya dan saat kamu tidur tadi teh kita olesin saja ke bibir kamu, karena takut kamu akan makan duriannya, makanya bibir kamu pasti bau durian,, hehehe”, Bunda menjelaskan lalu nyengir karena ternyata besannya itu muntah- muntah gara- gara dirinya, bukan karena ngidam.
“Ihhh,,, Bunda jahil banget sih,,,”, Naz menggerutu kemudian ia yang belum sempat cuci muka lalu kembali ke kamarnya untuk cuci muka, dan tentunya mencuci bibirnya hingga ia menggosok gigi agar mertuanya tidak mual lagi saat dekat dengannya karena bau durian di bibirnya sudah menghilang, sekalian ia shalat juga.
Naz kembali ke ruang makan lalu melanjutkan makan siang yang sempat tertunda bersama suami dan ketiga ibunya yang sudah menunggu, dan tentunya Mami mertuanya pun ada di sana yang nampak sudah membaik setelah minum air gula dan mengoleskan minyak angin pada perutnya.
Seusai makan semua orang kembali ke kamar masing- masing untuk beristirahat, terutama trio kwek- kwek yang baru datang langsung ikut ke rumah sakit, pastinya sangat lelah.
Naz mengganti pakaiannya menggunakan daster rumahan, ia naik ke atas ranjang lalu duduk selonjoran sambil bersandar pada sandaran tempat tidur dengan bantal yang diletakan di belakangnya agar terasa empuk. Ia menyalakan televisi, Arfin pun menghampirinya dan tiduran dengan menjadikan paha istrinya sebagai bantalan, bukannya menghadap ke TV, ia malah menghadap ke istrinya. Ia mengusap lalu menciumi perut istrinya yang masih rata itu.
“Aa udah ihh geli,,,, “, Naz menggeliat merasa geli dengan apa yang dilakukan sang suami, Arfin pun menghentikannya dan mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang dengan wajah yang saling berpandangan dengan sang istri yang menundukkan kepalanya.
“Kamu udah gak marah lagi, sayang?”, tanya nya menatap mata sang istri.
“Siapa yang marah yee”, Naz menyangkal.
“Aa pikir kamu masih marah, makanya tadi Aa minta tolong Mama untuk membangunkan mu, karena mereka bilang kalau wanita hamil itu suka aneh, kadang marah- marah gak jelas, kadang seperti anak kecil, suka sensitif, dan lain sebagainya”.
“Enggak kok,,, mana bisa aku marah lama- lama sama Aa”, Naz mengusap- usap kepala suaminya dengan lembut sambil menatap lekat wajah pria yang sangat dicintainya itu,
”Aa kok tambah ganteng aja sih?”, Naz kemudian tersenyum malu karena tidak biasanya dia memuji seperti itu.
“Baru sadar kamu,, kalau suami mu ini gantengnya gak ketulungan”, Arfin malah jadi narsis.
“Apa iya ya,,, kok aku pengen terus ngeliatin wajah Aa ya,,,?”, Naz tak hentinya mengulas senyum.
“Gombal kamu,,,”, Arfin terkekeh mendengar perkataan istrinya, ia menghela nafas panjang, “Sayang,, tahu gak,, ? Aa tuh masih serasa mimpi kalau kamu benar- benar hamil”.
“Apalagi aku, tiba- tiba disini ada makhluk kecil yang kehadirannya sampai membuat kita sangat bahagia,, juga sebagai penyelamat dari amukan trio emak rempong,,,, dan ternyata gini ya rasanya hamil,, ”, Naz mengusap perutnya yang masih rata itu.
“Aa tuh sempat takut, jika impoten yang pernah Aa alami bisa menyebabkan Aa mandul,,, walau pun bulan lalu sudah sembuh, tetap aja masih was- was,, makanya pas tahu kamu hamil Aa merasa sangat lega dan bahagia tiada tara”, Arfin mengutarakan perasaan yang mengganjal selama ini.
“Kalau usia kandungan ku empat minggu dua hari, berarti saat kita melakukan pertama kali langsung jadi ya,, hebat juga si ujang bisa langsung tokcer ya”, Naz memuji keperkasaan si ujang kesayangannya hingga bisa membuatnya sampai hamil dalam sekali tembakan.
“Iya,, ya,,, kok kok kamu masih ingat”, Tanya Arfin heran.
“Aku bulletin di aplikasi kalender pada ponselku pas malam dimana Aa mengambil keperawanan ku,, dan aku gak akan lupa,, itu rasanya sakit banget,,, ”.
“Masa sih??”, Arfin merasa tak percaya.
“Iya,,, sampe sekarang aja masih kebayang tau sakitnya”, Naz bergidik ngeri mengingat detik- terik keperawanannya ditembus si ujang.
“Oh iya,,kemarin- kemarin aku salah mengira loh,, aku pikir sekarang tuh masih bulan Juli, makanya aku gak ngerasa telat,, eh ternyata saat lihat di ponsel sekarang tuh udah bulan agustus, dan ternyata aku udah telat tiga minggu”, ucapnya terkekeh mengingat keteledorannya.
“Berarti saat kamu ke Jakarta itu udah hamil ya , sayang… pantesan aja si imut tuh akhir- akhir ini lebih nikmat dari biasanya,,, dan waktu Aa makan durian yang dibawa Dandy juga berarti karena kamu ngidam ya,,, padahal sejak kecil Aa tuh gak suka durian, malahan gak tahan sama baunya sama kayak Mami,, makanya waktu kamu abis jemput Aa ke bandara, Aa melarang mu untuk beli durian”.
“Pantesan, tadi Aa malah pakai masker gitu,,, kenapa gak terus terang aja sama aku kalau Aa gak suka durian?”, ternyata masih ada hal yang belum Naz ketahui tentang suaminya.
“Hehehe... AA lupa... tapi kamu udah gak mau makan durian lagi kan?”, Arfin merasa was- was.
“Enggak,,, kan tadi udah makan, banyak malah “, ucapnya yang membuat Arfin heran.
“Hah ?? kapan kamu makan nya sayang? Kan sejak di perjalanan sehabis beli buah kamu tidur pulas banget”.
“Di dalam mimpi,,, aku pikir tadi beneran soalnya bibir ku terasa lengket dan manis,, ternyata itu ulahnya Bunda yang mengolesi bibir ku dengan durian,,,”, Naz terkekeh.
“Jadi aman ya,, ngidam mu sudah terpenuhi,, aa gak mau kalau nanti anak kita ileran”, Arfin ternyata masih ingat dengan perkataan Bunda tempo hari.
“Amit- amit jabang bayi”, Naz mengusap perutnya dengan mengatakan hal yang sering orang hamil katakan jika mendengar kata- kata yang kurang baik agar tidak menimpa bayi nya kelak.
__ADS_1
Arfin malah menertawakan kelakuan istrinya itu, “Kamu ngapain sih komat kamit gitu?”.
“Aa, kalau Aa nemu hal aneh atau bicara yang aneh, mulai sekarang Aa harus bilang amit- amit jabang bayi,, supaya hal aneh itu tidak menimpa anak kita nanti,, kayak tadi kan Aa bilang anak kita ileran, makanya aku ngomong gitu”, Naz memberi pemahaman pada sang suami.
“Itu mitos sayang,,,”, Arfin masih tak percaya.
“Tinggal bilang naudzubillahimindzalik aja, sayang", tambahnya lagi.
“Iya,, iya sama saja,, yang penting menjauhkan hal buruk dari anak kita”,.
“Tadi dokter bilang kita gak boleh berhubungan sampai dua bulan ke depan, tapi kok kemarin kita melakukannya aman- aman saja ya?”, Arfin teingat dengan dirinya yang selalu menerkam Naz habis-habisan.
“Mungkin karena kita belum tau kalau aku hamil,, dan sekarang udah tau jadi si ujang harus puasa dulu”, Naz bicara seenaknya.
“Tapi kalau icip- icip dikit boleh ya”, Arfin kembali tawar menawar.
“Ihh dasar,, jangan ahh,,aku gak mau anak kita kenapa- napa”, Naz kini memiliki alasan yang bisa membuat suaminya tidak memaksa melayaninya.
“Yee,,, dia seneng kali kalau ditengokin sama Papa nya”, Arfin masih berjuang demi jatahnya.
“Hahaha,,, geleuh ih,, dasar modus”, Naz malah tertawa.
“Emangnya kamu bisa tahan apa kalau si imut gak ketemu si ujang sampai dua bulan gitu?, minggu lalu aja kamu sampai memperkosa Aa saat baru sampai di Jakarta, padahal kita baru berpisah dua malam saja”, Arfin mengingatkan Naz akan keperkasaan istrinya.
“Hahahah,,, Aa masih inget aja ih,,, sekarang mah gak mau ahh,, lebih sayang sama dede utun dari pada sama si ujang”, Naz melirikkan matanya ke arah perut.
“Siapa itu dede utun?”, Arfin menatap tajam.
“Yang di dalam sini”, Naz mengusap perutnya.
“Kamu tuh kalau ngasih nama suka aneh- aneh ih,,, masa calon anak kita dipanggil dede utun, gak mau ahh,, nanti mirip si Atun di film si doel anak sekolahan,, masa iya Aa yang kerja keras, anak Aa mirip orang lain”, Arfin langsung protes.
“Hahahha,,,, terus panggil apa dong,, iprut, emprut, jeprut”, ucap Naz jahil.
“Sekalian aja kutu kupret “, Arfin merasa kesal.
“Hahaha,,, Aa lebih parah ih”, Naz malah menertawakan.
“Lagian kamu tuh malah makin aneh ngasih nama”, gerurmtu Arfin.
“Dia kan masih kecil masih segede iprut”, Naz menjelaskan.
“Hahaha,,,”, Naz malah tertawa dengan renyahnya.
“Gimana kalau sweatheart, sweety, honey, beib”, Arfin menyarankan.
“Gak mau ah,, meni bahasa inggris,, pokoknya anak aku mah nantinya harus bisa bahasa Sunda,,", Naz pun menolak usulan suaminya.
"Emm.... gimana kalau dipanggil gemay?".
“Apaan lagi itu, ih?”, Arfin terus protes.
“Gemay itu artinya gemas,,”, ucapnya menjelaskan.
“Gak mau, apaan gemay,, kayak orang alay”, Arfin kembali menolak.
“Aha,,, udah nama ini aja,, anaking”, ucapnya mendapat ide.
“Anaking?”, tanya Arfin heran.
“Ho oh,, kalo mau panjang anaking jimat awaking”.
“Apaan tuh artinya ?”, Tanyanya penasaran.
“Kan sering tuh denger dalam acara siraman atau sungkeman nikahan orang sunda ‘anaking jimat awaking’ , mungkin artinya tuh anak merupakan sumber kekuatan kita ,sumber kebahagian kita sebagai orang tuanya”.
“Kirain anaking tuh artinya anak raja,, hahaha”, Arfin menertawakan pemikirannya sendiri.
“Yaelah,, masa iya bahasa Indonesia sama bahasa inggris digabung gitu,, hahaha,,jadi fix ya panggil anaking,,, soalnya kan kita juga gak tau baby kita ini boy or girl,,, “.
“Oke,,, “, Arfin menerima gagasan istrinya.
“Tapi jangan sampe lupa,,, Aa tuh dulu disuruh manggil aku pakai penggilan kesayangan malah cuman kuat dua hari aja, sebel”, Naz mencebikkan bibirnya.
“Hahaha,,, abisnya masa Aa manggil kamu chaya, dikira Aa ini orang alay,, yaudah manggil sayang aja biar gampang”, Arfin beralasan lalu mencolek dagu Naz.
“Sayang,,,”, panggilnya.
__ADS_1
“Hemmm”,
“Anak kita nanti laki- laki atau perempuan ya?”, Arfin penasaran.
“Mau laki- laki atau perempuan yang penting sehat, tanpa kekurangan suatu apa pun”, Naz seperti sudah berpengalaman saja.
“Kamu benar sayang, yang penting kamu dan calon bayi kita sehat”, Arfin kembali memiringkan posisi tidurnya lalu mengusap perut Naz lagi, “Sehat terus ya anaking,, terimakasih sudah hadir dan memberi kebahagian untuk kami, Papa sama Mama akan selalu menjaga kamu ”, Ia kembali mencium perut istrinya. Sementara Naz tak hentinya mengulas senyum melihat suaminya yang sangat bahagia dengan kehamilannya.
“Aa,,, kan anak kita udah punya panggilan,,, tinggal kitanya,, aku gak mau dipanggil Mama Papa,, itu umum sekali”,pinta Naz .
“Terus mau dipanggil apa? Ayah-Bunda? Papi-Mami? Bapak-Ibu? Abi- Ummi?”, Arfin memberi pilihan.
“Emm,,,, apa ya?”, Naz malah bingung sendiri.
“Jangan manggil yang aneh- aneh lagi,,,”, Arfin menegaskan.
“Enggak lah sayang”, Naz meyakinkan suami nya.
“Pasti lagi nyari panggilan bahasa sunda lagi ya?”, tanyanya penuh curiga.
“Hahaha,,, enggak ih,,, masa iya nanti kita dipanggilnya Bapak- Emak, atau Abah- Ambu, kan gak lucu”, ucap Naz.
“Emmm,,, Mummy sama Puppy, gimana ?”
, Naz memberi saran.
“Apa? Aa dipanggil Puppy??,,, enggak mau ah,,, apaan ntar dikira Pupp,,, jijay deh,,, ganti yang lain ah,, gimana kalau Momy-Daddy?”.
“Ahh,, gak mau,, itu kan Pak RT namanya Dedi, nanti kalau aku manggil Aa, Daddy sayang di depan orang- orang dikiranya aku kegenitan sama Pak RT,, dih”, Naz kini yang menolak.
“Kok kamu tau Pak RT sini namanya Dedi? Kapan kalian kenalannya?”, tanya Arfin curiga.
“Yaelah,, kan waktu menghadiri pengajian empat bulanan Bu Taslimah ada Pak RT yang membuka acara pengajiannya",
“Oh, gitu,,, gimana ini jadinya mau panggil apa?”, Arfin kembali ke pembahasan, “Ehh,, anak kita kan dipanggilnya anaking, berarti kita jadi Papaking sama Mamaking”.
“Hahahahaha,,,, itu lebih aneh tau,,,,”, Naz tetawa renyah.
“Terus apa dong sayang??”,Arfin merasa buntu.
“Emmmm,,,, “, Naz berpikir sejenak hingga munculah ide konyol di pikiranya, “Gimana kalau kita dipanggil Magu sama Pagu,,,?”. Naz memberi saran lagi.
“Apaan tuh? Kok makin kesini kamu makin aneh ih,,, ?”,Arfin terus protes.
“Ya,, nanti kan anak kita manggil gitu, terus kalau ditanya sama temennya kok manggil Magu sama Pagu,, dan anak kita bakalan jawab itu singkatan dari Mami gue sama Papi gue,,, hahahah”, Naz menertawakan perkataannya sendiri.
“Astagfirullahalazim,,, tobat,,, tobat ,,, ini punya bini anehnya gak ketulungan”, Arfin menepok jidatnya lalu mendengus kesal, ia bangkit lalu duduk,
“Dan Aa akan manggil kamu Bigu sedangkan kamu manggil Aa Sugu…”, Arfin malah sengaja menimpali candaan istrinya.
“Aku tahu aku tahu,,, Bini gue dan Suami gue,, hahahaha”, Naz tertawa renyah.
“Udah,,, udah ah,, Aa mau mandi dulu, gak akan bener ini obrolannya makin ngaco,,,”, Arfin kemudian bangkit hendak turun untuk ke kamar mandi, namun tangannya ditarik oleh Naz hingga ia kembali berbaring. Ia pun naik ke atas tubuh suaminya.
"Mau kemana, hem ?? ", Naz memberi tatapan macan kelaparan.
"Sayang,, Aa mau mandi,,, kamu turun ya sayang ",bujuknya.
"Gak mau,,,,, aku gak mau turun sebelum Aa setuju dengan panggilan Magu sama Pagu ", Naz memberi syarat.
"Enggak ahh...masih mending Papaking dan Mamaking,,, ", Arfin menolak dan ingin gagasannya yang dipakai.
"Aaaahhh... pokoknya Magu - Pagu...", Naz merengek.
"Enggak,, Papaking - Mamaking", Arfin pun tetap kekeuh.
Naz tiba- tiba terpikir ide gila agar suaminya mau nurut. Naz yang masih duduk di atas suaminya lalu membuka baju daster nya, kemudian bra nya juga ikut dilepas yang membuat mata Arfin membulat sempurna.
"Sayang,, kamu ngapain buka baju sama bra segala? ....aduh itu dot twins melambay- lambay lagi,,, cepat pakai lagi baju mu sayang,, Aa bisa khilaf nanti.... ", ucapnya sambil menahan gairah melihat dua gunung kembar yang seolah minta disentuh olehnya.
"Gak mau,, Aa harus setujui dulu,", Naz yang hanya mengenakan CD malah sengaja mengelus si Ujang yang masih tersembunyi dalam celana. Sontak itu membuat Arfin semakin bergairah, ia ingin sekali menerkam istrinya saat itu juga, namun ia ingat dengan kata- kata dokter yang menyarankan agar tidak berhubungan dengan istrinya sementara waktu demi keselamatan calon anak mereka.
Namun naluri kelelakian nya terus meronta- ronta,,, kini ia dihadapkan pada dua pilihan, antara menyetujui keinginan Naz atau memenuhi hasrat si Ujang.
----------- TBC ------------
**********************
__ADS_1
Happy Reading....