Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Ternyata Menyatakan Cinta Serasa Dikirim Berperang Ke Suriah


__ADS_3

Semenjak mendengar perkataan sang Mami, Arfin mendadak menjadi gelisah tidak karuan, makanan enak yang ia makan pun serasa hambar karena kata- kata sang Mami terus terngiang- ngiang di telinganya, “Halah menyatakan cinta saja tidak berani….nanti keburu disamber orang”, dua kalimat itu seakan menjadi tamparan keras untuk Arfin. Seusai makan ia langsung masuk kembali ke kamarnya, dan akhirnya ia mulai memikirkan cara untuk menyatakan cintanya kepada Naz. Berhubung ini adalah pengalaman pertama baginya, jatuh cinta pada seorang gadis lalu berniat menyatakannya, tapi tidak tahu harus bagaimana. Arfin hendak bertanya kepada ketiga anggota empat sekawan yang sudah berpengalaman apalagi Nervan yang playboy itu, namun di urungkan lah niatnya karena pastinya itu akan membuat ketiga orang itu menertawakannya dan mengejeknya habis- habisan.


“Arghh,,, b*go banget sih gue,, urusan kayak gini aja otak gue mendadak tumpul gini,, “, ucap Arfin kesal terus mondar- mandir di dalam kamarnya sambil berfikir, dan sesekali mengacak- acak rambutnya seolah merasa frustasi.


“Ah,, iyaa,, kenapa aku tidak bertanya kepada ketiga sahabatnya Naz saja, mereka pasti tahu apa yang paling disukai dan diinginkan Naz“, ucapnya merasa punya ide bagus, dan ia pun segera membersihkan dirinya untuk bersiap menemui ketiga sahabat Naz. Setelah selesai mandi dan berpakaian Arfin mencabut ponselnya yang tadi di charger dan memasukannya ke dalam saku celana lalu keluar dari kamarnya, dan saat melewati ruang tengah ada sang Mami sedang menonton TV.


“Hmmm,,, anak Mami udah ganteng gini, mau kemana Al ?”, tanyanya.


“Mau keluar Mi, ada urusan sebentar”, Arifin menjawab.


“Oh,, mau menemui gadis ABG itu ya,,,cie,,,”, ucap Mami menggoda Arfin,” Gak minta doa restu dulu gitu sama Mami, biar pernyataan cintanya diterima Al?", lanjutnya.


“Apa sih Mami, kayak tulisan slogan di ****** truk saja doa restu”, ucap Arfi menghampiri dan duduk di sofa bersama Mami nya.


“Hei,, jangan gegabah kamu ya Al, surga mu itu masih di telapak kaki Mami belum pindah ke kaki Bi Darmi cuma gara- gara kaki Mami terkilir”, ucap Mami dengan candaannya.


“Hahaha,, sekalian aja pindah ke kaki tetangga sebelah Mi”, Arifin malah menimpali.


“Jawab aja kamu tuh ya,,, oh iya, masa mau nemuin gadis pujaan hati dengan tangan kosong, ? bawa bunga kek biar romantis dikit", Mami menyindir lalu memberi saran.


“Emang semua cewek suka dikasih bunga gitu Mi?”, Arifin bertanya dengan polosnya.


“Ya iya lah,, apalagi kalau dikasih bunga deposito yang ber M M,, wow membuat bola mata yang bulat berubah jadi simbol dollar”, Mami mata duitan juga ternyata.


“Yee,, itu sih namanya matre Mi”, Arifin malah mengejek.


“Bukan matre tapi realistis,, zaman sekarang segala sesuatu bergantung pada rupiah Al,,, mau kencing aja kalo gak punya duit dua ribu bisa gak jadi tuh masuk WC umum, takut keluar digebukin orang karena gak bayar”, Mami kalo ngomong suka bener ih.


“Udah ah Al berangkat dulu, ngomong sama Mami malah ngaco”, Arifin hendak menggeser duduk nya mendekati Mami untuk mengalaminya.


”Yasudah sana, semoga berhasil ya dan diterima cintanya”, ucap Mami.


“Apaan sih Mi, orang dianya juga lagi sakit masih dirawat di rumah sakit”.


“Oh,, jadi yang kemarin dijenguk itu bukan teman tapi gadis itu toh”, akhirnya ketahuan sama Mami.


“ Jadi mau nembak nya di rumah sakit nih ceritanya?”, lanjutnya semakin kepo.


“Mami sok tahu banget,, aneh–aneh aja lagi mana ada menyatakan cinta di rumah sakit, gak elit banget”, Arifin menyangkal.


“Ya siapa tahu kan,,, lagian ya kalo menyatakan cinta enggak usah elit- elit kali, yang penting momennya pas dan keduanya udah memiliki perasaan yang sama, yaitu sudah saling jatuh cinta,, lagi pula kamu kan besok balik lagi ke Surabaya Al,, mau kapan lagi coba nembak dia, entar kamu ke Surabaya dia di embat orang, baru tau rasa kamu Al,,,bisa- bisa nangis darah kamu nanti”, ucap Mami yang membuktikan dirinya anggota emak- emak kompor lovers ternyata.


“Udah ahh,, Al pamit dulu ya Mami,,, assalamu’alaikum”, ucapnya berpamitan lalu menyalami Mami nya.


“Wa’alaikum salam,,,, Mami doakan semoga sukses ya,, jangan sampai ditikung orang Al “, ucap Mami yang semakin mengompori Arfin, lalu ia pun bergegas pergi.


Sepanjang perjalanan Arfin terus memikirkan kata- kata Mami nya, ternyata kini rasa takut akan ketidak percayaan dirinya terkalahkan oleh rasa takut jika gadis pujaan hatinya di embat orang, dan saat mobilnya terhenti di lampu merah, tidak jauh dari sana terlihat ada toko bunga yang di luarnya banyak terdapat berbagai macam bunga dan setelah lampu berubah hijau ia melajukan mobilnya kembali dan saat sampa di depan toko bunga itu ia pun menepikan mobilnya dan kemudian ia masuk ke area toko bunga untuk membeli bunga sesuai saran Mami nya, namun yang akan ia beli bunga asli yang yang masih segar bukan bunga deposito ya. Dan ternyata rencana menemui ketiga sahabat Naz berubah haluan.


“Selamat siang Mas, ada yang bisa kami bantu?”, sapa seseorang yang menjada toko tersebut.


“Emm,, saya mau beli bunga untuk seseorang, kira- kira bunga apa ya Mbak?”.


“Maaf, boleh kah saya tahu untuk siapa dan dalam rangka apakah anda memberikan bunganya,,?”, tanya penjaga toko itu.


“Loh, itu kan urusan saya kenapa saya harus lapor sama Mbak ya?”, Arifin menjawab agak ketus.


“Mohon maaf Mas, maksud saya mungkin bunganya ditujukan untuk ibu anda, kakak, adik , teman atau kekasih anda begitu, sedangkan maksud saya dalam rangka apa itu kan biasanya ada yang pesan untuk pemberian ucapan selamat atau bela sungkawa jika dalam bentuk karangan bunga , Mas ?”. Penjaga toko itu menjelaskan.


“Oh, begitu ya Mba,, saya mau memberikan untuk seorang gadis yang spesial, bagusnya bunga apa Mba?”.


“Oh iya kalau begitu Mas bisa pilih bunga mawar merah atau yang pink, Mas nya mau pilih bunga hidup atau bunga palsu?”, ucapnya memberi pilihan.


“Biasanya kalo perempuan ituh suka nya diberi bunga yang mana Mba?”.


“Mas baru pertama kali ya memberikan bunga untuk seorang wanita?”, penjaga toko menebak- nebak.


“Sial,, jadi ketahuan gini, kan malu gue,, b*go banget sih kenapa gue gak googling sih aja tadi”, gumam Arfin dalam hati .


“Kalau mawar merah dianggap sebagai bunga paling romantis yang memiliki arti cinta, kecantikan, kemesraan dan memiliki kesempurnaan, dan tentunya ini bisa mewakilkan perasaan Mas pada wanita yang spesial itu sebagai tanda bahwa Mas mencintainya, sepertinya mawar merah ini cocok untuk Mas jika ingin menyatakan cinta”, ucapnya tersenyum.


“Gila nih tukang bunga, kok kayak cenayang sih bisa tahu gue mau ngungkapin cinta “, Arfin kembali bergumam dalam hati karena merasa heran seakan si tukang bunga bisa membaca pikirannya.


“Jadi gimana Mas,,, mau bunga yang mana??”, tanyanya menunggu kepastian.


“Ya sudah mawar merah yang segar ya,,, tolong buatkan buket yang paling bagus ya Mbak, kalau hasilnya memuaskan nanti saya kasih bonus tapi yang cepet ya bikinnya”, ucapnya.

__ADS_1


Setelah buket bunga pesanannya selesai, Arfin kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Naz dirawat, perasaannya kini tengah bercampur aduk antara senang karena tidak sabar ingin bertemu sang pujaan hati, deg- degan karena ia merasa ini hal gila yang akan ia lakukan efek dari pemanasan kompor yang digaspol kan oleh sang Mami terus- menerus. Semakin mendekati rumah sakit kini ketegangan mulai merasuki diri Arfin, bahkan saat ia mengambil struck parkir dari mesin otomatis di pintu masuk ke area rumah sakit sempat melamun hingga mendapatkan teriakan klakson dari mobil yang sudah antri di belakangnya.


“Astagfirulah,,, “, ucapnya menyadarkan diri dari lamunan lalu kembali menjalankan mobilnya menuju parkiran. Sesampainya di parkiran Arfin tidak langsung keluar, ia terus menarik nafas panjang untuk menetralkan kegugupan dan ketegangan nya. “Ya ampun, mau mengutarakan perasaan saja seakan mau ikut perang ke Suriah begini, tenangkan dirimu Arfin tenang,,”, ucap Arfin berdialog sendiri dan masih terus menghela nafas panjang seperti sedang melakukan yoga pra-embak jederr.


Setelah beberapa saat terus di dalam mobil, akhirnya Arfin keluar dengan membawa buket bunga mawar merah yang ukurannya agak besar itu, karena ia sudah merasa sedikit tenang menurutnya, Arfin pun mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah sakit. Setiap langkah seakan terasa berat karena terus diiringi perasaan gugup yang semakin luar biasa, keringat pun mulai mengucur dari dahinya yang terus ia hapus dengan sapu tangannya, ”Sial,, bukankah tadi aku sudah merasa tenang, kenapa sekarang gugup nya semakin menjadi, semoga tidak ada siapa pun di kamar Naz nanti”, ucapnya dalam hati.


Tibalah Arfin di depan pintu kamar tempat Naz di rawat, ia sempat terdiam dulu untuk menetralkan dulu ketegangan dan kegugupannya, seolah akan memasuki ruang sidang skripsi yang di dalamnya terdapat penguji yang super killer,, lalu terlintas di ingatannya kalimat terakhir sang Mami, “ Jangan sampai di tikung orang”. Kemudian ia pun membuka pintunya dan masuk dengan melangkah perlahan hingga ia berdiri di samping tempat tidur yang ternyata sang gadis sedang berbaring miring menghadap ke jendela, dan beruntung nya lagi di sana tidak ada siapa pun.


“Naz,,,,”, ucapnya pelan lalu menghela nafas panjang, “Naz, ada yang ingin aku bicarakan”, lanjutnya, namun si gadis tak kunjung membalikan badannya.


"Hmm,,,ini lebih baik, jadi aku tidak terlalu tegang karena harus bertatapan dengannya”. Gumam Arfin dalam hati.


“Naz,,, sebenarnya,,,,”, ucapannya terhenti sejenak untuk menetralkan kembali ketegangannya, “Naz,, sebenarnya selama ini aku menaruh perasaan yang lebih pada mu, lebih tepatnya perasaan anu,, eh bukan maksudnya perasaan,, emmm,,, perasaan suka sama kamu, Naz,,”, ucapnya sambil memejamkan mata seperti ayam yang berkokok karena sudah hafal teksnya di luar kepala.


“Awalnya aku merasa kagum sama kamu Naz, tapi lambat laun kita semakin dekat dan aku merasa ada gelenyar aneh yang ku rasakan dalam hatiku dan itu tak pernah kurasakan sebelumnya,,,”, ucapnya lagi, namun si gadis masih belum merespon entah karena ia senang tau kah kaget.


“Dan ternyata itu,, itu perasaan cinta Naz,, ya,, cinta,,, akuu,, aku cinta sama kamu Naz, aku sayang sama kamu Naz”, ucapnya lalu membuang nafas seakan telah melepas beban berat yang sedari tadi dirasakannya.


“Sudah sejak lama aku menaruh hati padamu Naz, tapi tak punya keberanian untuk mengungkapkannya karena aku sadar diri dengan kekuranganku,, tapi ,,, sekarang aku sudah tidak sanggup lagi memendam perasaan ini dan memberanikan diri menyatakannya padamu Naz,, aku cinta sama kamu Naz,, aku sayang sama kamu Naz,,, maukah kamu menerima cinta pria pincang ini Naz?”, akhirnya pertanyaan itu terucap.


Ceklek …terdengar suara pintu terbuka “ Ahh,,, sial,, kenapa harus ada yang masuk sih,, belum juga Naz memberikan jawaban”, gumamnya kesal dalam hati, terdengar ada langkah kaki yang mendekat ke arahnya, saat Arfin berbalik untuk melihat siapa yang datang.. bughh… satu pukulan mendarat di wajah Arfin.


“Kurang ajar lo breng*ek”, orang yang memukul Arfin itu memaki dan kembali melayangkan pukulan kepada Arfin namun berhasil di hindari dan Arfin malah memukul balik orang itu. Bugh…


“Lo yang br*ngsek datang tiba- tiba mukul gue”, ucap Arfin kesal, dan terjadilah perkelahian di dalam ruangan tersebut hingga datang perawat dan petugas keamanan memisahkan mereka yang wajahnya sudah pada babak belur, tapi orang itu yang paling parah, sedangkan gadis yang diributkan masih asik tidur bagaikan puteri tidur yang menunggu ciuman sang pangeran untuk membangunkannya, benar- benar kebo ngerakeun hadeuh.


Akhirnya kedua pria yang telah berkelahi tersebut dibawa ke ruang kemanan untuk di interogasi, dan setelah saling menyalahkan mereka pun menerima pengobatan atas luka yang mereka alami, kemudian keduanya berdamai dan saling meminta maaf. Arfin pun kembali pulang ke rumahnya dengan raut wajah kecewa dan tentunya dengan hiasan plester dan memar di wajahnya, dan untung nya ia masih bisa mengendarai mobilnya sendiri.


Sesampainya di rumah Arfin memencet bel di samping pintu dan tak lama dibukakan lah pintu oleh Bi Darmi, saat masuk Arfin langsung di sambut oleh sang Mami yang sudah tidak sabar ingin mendengar cerita acara penembakan pernyataan cinta Arfin terhadap gadis pujaannya, “Astagfirullah Al, wajahmu kenapa itu bisa babak belur begitu?”, sang Mami pun malah dikejutkan dengan kondisi Arfin yang menampakan memar di pipi kanannya, ada luka di tepian bibirnya, pangkal hidung yang ditempelkan plester, baju yang terdapat noda darah serta membawa buket bunga mawar yang sudah rusak di tangannya, lalu Mami mengajaknya duduk di ruang tamu,


“Al ayo duduk dulu,,,kenapa itu wajahmu ? ko seperti maling habis dihakimi masa,,,?? “,, Mami kembali bertanya lalu melihat ke arah Bi Darmi yang habis membukakan pintu, “Bi tolong bawakan es batu sama sapu tangan ya untuk mengompres memar di wajah Arfin, jangan lupa ambilkan minum juga ya”, ucapnya dan Bi Darmi pun segera melaksanakan tugas.


“Al,, kenapa ini?? Jangan bilang kalau kamu dihajar oleh orang yang udah nikung kamu ya? Jadi kamu udah terlambat dan gadis yang kamu sukai itu keburu di embat orang?? ,,, tuh kan apa kata Mami juga Al, kamu sih kelamaan mikir”, ucap Mami yang terus nyerocos.


“Bukan Mi,, ya ampun nanyanya satu- satu dong, kepala ku pusing rasanya mendengarnya”, Arfin menjawab dengan nada kesal, kemudian Bi Darmi pun datang membawa nampan berisikan segelas air minum dan baskom kecil berisi es batu beserta sapu tangan dan meletakkannya di atas meja. “Bi, tolong bawa bunga ini ke belakang ya”, ucap Arfin sambil menyodorkan buket bunga yang sudah rusak kepada Bi Darmi.


“Oh iya Den,, Bibi simpan di pot saja ya yang masih bagusnya, nanti Bibi sortir dulu”, ucap Bi Darmi menerima bunga tersebut.


“Gak usah Bi, buang saja ke tong sampah”, ucapnya dengan nada ketus tapi raut muka yang sendu.


“Aw,, pelan- pelan Mi,, sini ah sama Al aja ngompres nya”, Ucap Arfin yang meringis kesakitan lalau mengambil alih kompresan nya dan mengompres sendiri.


Setelah beberapa saat sang Mami terdiam menatap sendu putera bungsunya itu, “Malang benar nasib mu Al,,, baru pertama kali jatuh cinta sudah begini,, padahal Mami sudah sangat senang kamu mendekati seorang gadis dan sangat bersemangat mendorongmu supaya kamu segera menyatakan cintamu padanya, karena selama ini kamu selalu menutup diri dari gadis mana pun termasuk beberapa gadis anak dari teman- teman Mami yang sudah dikenalkan padamu, semoga ini tidak menjadikan mu trauma, Nak”, ucap Mami dalam hatinya.


“Mi,, ko diam saja,,, malah melamun lagi”, Arfin menyadarkan Mami nya yg melamun.


“Iya kenapa?”, ucapnya tersentak.


“Tadi Al tanya, Papi sama Abang kemana ko dari Al bangun gak melihat mereka?”, Arfin mengulang pertanyaan.


“Waku kamu baru bangun mereka pergi katanya mau menjemput investor dari Jepang ke bandara,,, nanti katanya kita diajak makan malam bersama mereka Al”, Mami menjelaskan.


“Oh gitu,, Al gak itut ya Mi”, ucapnya.


“Loh kenapa Al?”, Mami bertanya keheranan.


“Mami gak lihat muka ku seperti ini, malu lah kalau ketemu mereka”, ucap Arfin menunjukkan jari ke wajahnya.


“Hmmmm yasudah nanti Mami bilang ke Papi mu,, lalu sebenarnya kamu ini kenapa Al..? dari tadi Mami tanyain gak kunjung mendapat jawaban”. kembali ke pertanyaan awal.


Arfin menghela nafas panjang, “Jadi tadi itu Al mencoba mengikuti saran Mami untuk segera mengutarakan perasaan Al pada gadis yang Al sukai, saat sampai di ruang rawat inapnya Al langsung menghampirinya yang sedang berbaring menyamping ke jendela dan membelakangi ku, lalu Al menyatakan seluruh isi hati Al padanya”, Arfin mulai menjelaskan.


“Terus dia jawab apa?”, Mami bertanya dengan antusias.


“Belum sempat ia menjawabnya, tiba- tiba ada orang yang membuka pintu dan berjalan menghampiriku, saat Al membalikan badan dan menengok ke arahnya terlihat ekspresi wajahnya sangat marah, tiba- tiba orang itu langsung memukul ku tanpa permisi”.


“Ya iyalah Al, kamu berharap dia bakal bilang dulu gitu,,, Maaf permisi saya mau mukul mas…mana ada yang mukul pakai sopan santun,,,,terus kamu tahu siapa orang itu?”.


“Orang itu ternyata…….”


-------- To Be Continue ---------


-


-

__ADS_1


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Tapi bo'ong..... 😂😂😂✌


-


-


-


-


-


-


-


-


-


“Orang itu ternyata suaminya”, ucap Arfin.


“Apa,,, kamu bilang gadis itu masih SMA, ko sudah punya suami, gimana sih kamu Al, bikin malu ngejar- ngejar istri orang”. Mami sangat terkejut mendengarnya.


“Gadis yang Al sukai memang belum punya suami kok, Mi”, Arfin menyangkal tuduhan sang Mami.


“Terus tadi kamu bilang yang menghajar mu itu suaminya”, ucap Mami yang merasa heran.


“Iya,, orang itu suami wanita yang ada di ruang rawat inap itu,, karena ternyata gadis yang Al sukai sudah pulang, dan kamar tersebut sudah diisi oleh pasien baru”, Arfin kembali menjelaskan.


“Hahhaha,,, astagfirullah Al Arifin,, memangnya kamu tidak bisa mengenali gadismu itu sampai- sampai menyatakan cinta pada istri orang”, Mami yang sudah faham langsung menertawai keteledoran anaknya.


“Al juga gak tahu Mi, soalnya saat Al datang menjenguk kemarin ia sedang berbaring menyamping ke arah jendela sama seperti tadi, kupikir dia sengaja ingin mengerjai ku, tapi saat itu yang terpikir hanyalah biarkan saja dia tidak melihat ke arahku saat menyatakan cinta padanya,,Mami gak tahu sih rasanya gimana,, deg- degan, grogi, tegang, keringat terus bercucuran, jantung serasa mau copot, gemetaran ah pokonya nano-nano”, Arfin menjelaskan apa yang ia rasakan saat itu.


“Iya dan karena kecerobohan mu itu kamu jadi menyatakan cinta sama istri orang, ya pantas saja suaminya memukul mu,, masih untung tidak membunuhmu juga Al,,, ya ampun, ternyata kamu salah sasaran Al”, ucap Mami kemudian semakin menertawakan kebodohan anaknya itu.


------------------ TBC ---------------


*****************************


Arfin menyatakan cinta semudah itu..... tidaaak marisol.... harus ada tantangannya atuh biar seruu...


Nantikan episode selanjutnya....


Happy Reading 😉🥰


jangan lupa tinggalkan jejakmu 😉

__ADS_1


like, coment, rate bintang 5 dan vote 😉🥰😘


__ADS_2