
“Kak Arfin,,,,,, “, lirih Naz tersenyum haru dan ia terus memandangi pria yang sedang berbicara dengan Om dan Ayahnya itu. pria yang selama satu tahun ini jauh darinya, namun masih bersemayam di hatinya, pria yang beberapa hari ini selalu dicari tahu keberadaannya, pria yang mengajarkannya cara menguatkan diri, pria yang mengenalkannya indahnya arti sebuah cinta, dan baru ia sadari bahwa ia sangat merindukan itu meskipun statusnya kini adalah mantan kekasihnya.
“Akhirnya aku menemukan mu sang mantan pacar “, gumam Naz dalam hati sambil tersenyum matanya seolah terhipnotis enggan berpaling ke arah lain. Naz terus memandanginya secara diam- diam dan terhalang oleh para pelayat yang sedang duduk di sebelahnya, namun saat Arfin menoleh, Naz langsung membuang muka dan bersembunyi dibalik para pelayat lain agar Arfin tidak melihatnya.
Setelah beberapa saat Naz yang memakai jaket hoodie putih berbisik pada Adinda, saudara kembarnya almarhumah Ayunda untuk mengajaknya ke kamar adik sepupunya itu, kemudian mereka pergi ke kamar yang terletak di lantai dua melewati para pelayat dan Naz memakai hoodie berjalan dengan menunduk agar Arfin tidak melihat dirinya, walaupun Naz tidak melewati Arfin karena ia dekat dengan pintu masuk.
Sesampainya di kamar, Naz meminjam kerudung pashmina hitam dan kacamata hitam untuk pergi ke pemakaman.
“Dinda, punya masker gak?”, tanya Naz yang kini sedang duduk di atas tempat tidur.
“Ono Mbak, sadelo tak jupuke ndisik”, ucap Dinda dengan bahasa jawanya sambil sesenggukan karena habis menangis, kemudian ia mengambil masker dari laci meja riasnya, “Iki lho Mbak ono masker, meh milih masker sik rasa opo?”, ucapnya sambil menunjukan beberapa masker aneka rasa.
“Hadeuhh, ngomongnya pakai bahasa Indonesia aja atuh ,,, aku gak ngerti bahasa Jawa, kalo bahasa Sunda aku fasih,,, masa iya kita ngobrol kamu pakai bahasa jawa sedangkan aku pakai bahasa Sunda, kan gak lucu kayak ayam ngobrol sama kucing,,, meong meong,,, kukuruyuk keketok ketok,,, wwkwkkw”, ucap Naz sambil memperagakan dengan tangannya seolah ia sebagai kucing juga sebagai ayam.
“Yo wis,,, iki maskernya ada beberapa rasa, rasa bengkoang, rasa greentea, rasa mentimun, rasa delima, rasa madu, dan rasa stroberi,,, Mba Nanaz mau yang mana?”, tanya Dinda dengan logat medok jawa menunjukan masker tisu basah sekali pakai berbagai varian.
“Yasalam,,, maksud aku itu masker buat mulut,, bukan masker buat wajah”, Naz memperjelas barang yang ia cari.
“Oh ada ada,,, sebentar”, Dinda kembali mengambil dari lacinya, “Iki Mba Nanaz,, masker golden untuk bibir supaya lembab dan gak pecah- pecah”, Dinda menunjukan kembali masker kemasan instan khusus bibir pada Naz.
“Aduhh,,, Dinda,,, bukan masker gini juga,,masa iya aku ke pemakaman pakai begituan,,,malu atuhh disangka bibirnya doer”, Ternyata Dinda salah lagi.
“Lah ,, terus yang kayak gimana toh,,, mumet aku”, Dinda sudah merasa pusing karena salah terus.
“Itu lho masker yang menutup hidung sama mulut anti debu yang biasa dipakai orang- orang di rumah sakit”, Naz memperjelas lagi ciri- ciri masker yang ia maksud.
“Oh,,, itu toh,,, ndak ada Mbak,,, aku ndak punya.,, hehhee”, ucap Dinda yang baru paham.
“Haduhh,,, yasudah lah,, nanti ditutup pakai kerudung aja,,, sudah yuk ah kita keluar”, ucap Naz yang sudah selesai memakai kerudung pashmina hitam beserta kaca mata hitamnya. Mereka berdua pun keluar dan ternyata orang- orang sudah pada di luar hendak mengantar ke pemakaman. Naz dan Dinda pun ikut bergabung dengan rombongan yang akan mengantar ke pemakaman dengan berjalan kaki.
Sesampainya di pemakaman, Naz bergabung bersama para pelayat dan tidak mendekati barisan keluarga, karena ternyata ia ingin memandangi Arfin secara sembunyi- sembunyi bahkan ia sempai mengambil foto Arfin secara diam- diam pula, entah apa yang dipikirkannya padahal Tante Ina beserta kedua anaknya tak henti menangis sambil meyebut- nyebut nama Ayunda.
“Kamu masih setampan dulu,,, tapi sekarang kok terlihat lebih kurus,,,”, gumam Naz dalam hati sambil terus memandangi Arfin yang ada di barisan depan para pria yang sedang berdoa setelah jenazah selesai dikuburkan..
"Wajahnya terlihat pucat, matanya juga celong,,, apa dia benar- benar sedang sakit??,,, sepertinya aku harus mencari tahu sendiri”, ucapnya dalam hati.
Prosesi pemakaman pun telah selesai dan diakhiri doa bersama, sedangkan keluarga dan orang terdekat membacakan surah Yaasin bersama- sama, termasuk Naz dan Arfin walaupun Arfin tak menyadarinya. Saat semuanya hendak pulang, tanpa sengaja ponsel Naz jatuh dari saku celana jeans nya saat ia bangkit dari duduknya, kemudian Naz beranjak pergi.
“Mbak,,, mbak tunggu…”, ucap seseorang memanggil sambil berjalan, Naz yang mengenali suara itu terus saja berjalan dan tidak menghiraukannya, “Mbak jaket putih kerudung hitam,,,”, panggilnya lagi.
Naz yang merasa memakai pakaian tersebut berhenti ,”Yasalam,,, kenapa dia memanggilku,, jangan- jangan aku udah ketahuan lagi,,, aduh gimana ini,,,??”,gumamnya dalam hati.
“Maaf Mbak,, ini ponselnya terjatuh tadi”, ucap Arfin sambil menyodorkan ponsel tersebut.
Naz membalikan badannya sambil menunduk dan menutup sebagian wajahnya dengan kerudung, lalu mengambil ponsel tersebut dari tangan Arfin, lalu menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apa- apa, kemudian Naz kembali berjalan bahkan ia mempercepat langkahnya.
“Orang yang aneh,,,,, “, Arfin bergumam sambil memperhatikan Naz dari belakang, “Sepertinya aku kenal dengan orang itu,,,, ahh sudahlah,, mungkin hanya perasaanku saja”, ucapnya lagi, lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan pemakaman setelah berpamitan pada Pak Aji yang masih ingin berdiam di meratapi pusaran makam putrinya.
Naz bersama rombongan pelayat yang pulang dari pemakaman telah tiba di rumah duka, ia pun membuka kerudung dan kaca mata hitamnya, lalu menghampiri Tantenya yang sudah mulai berhenti menangis dan terus ditemani oleh Bunda.
“Tante,, yang sabar ya,,,, “, ucap Naz sambil memegang kedua tangan tantenya itu.
“Nanaz,,,? kamu kok ada disini?”, tanya nya sambil sesenggukan dengan raut wajah terkejut.
“Iya Tante,,, tadi pagi kan aku kesini sama Ayah dan Bunda”, jawab Naz yang merasa heran melihat ekspresi tantenya itu.
“Iya, Na,,, dia teh kekeh pengen ikut, kebetulan udah masuk libur sekolah juga, jadinya teh enggak ganggu jadwal sekolahnya,, kalo Mimih nanti kesini bareng Kang Andi dan Teh Lisna, penerbangan sore katanya”, Bunda ikut bicara
“Tante, Bunda,,, Naz ke kamar Dinda dulu ya,, mau ganti baju ,, gerah pakai jaket gini,,, “, ucapnya berpamitan, kemudian pergi ke kamar bersama Dinda dengan membawa koper kecilnya yang sebelumnya disimpan di ruang tengah oleh Ayahnya saat baru tiba tadi pagi, karena tadi banyak orang dan belum sempat berbenah barang bawaannya.
Naz langsung mandi lalu berganti pakaian dengan kaos rumahan, kemudian ia rebahan di tempat tidur dan masih ditemani oleh Dinda, “Dinda,,, tadi yang ngobrol sama Om Aji dan Ayah itu siapa?”, tanya Naz pura- pura.
“Yang mana Mbak?”, tanya Dinda bingung.
“Itu cowok tinggi, ganteng, putih yang datang sebelum kita ke kamar tadi,,, yang jalannya seperti itu”, Naz menyebutkan ciri- ciri Arfin.
“Oalah,,,,, itu toh Mbak,,, itu Bosnya Ayah di kantor, dan dia juga tinggal di sekitar sini”, jawab Dinda.
“Hah,,, tinggal disini? Dimana?”, tanya Naz terkejut.
“Itu nanti ke depan belok kanan, lurus sekitar 300 meter ada rumah baru,,, nah itu rumahnya”, Dinda menyebutkan jalan menuju rumah Arfin.
__ADS_1
“Rumah baru?? Berarti baru pindah apa baru bikin?”, tanya Naz lagi.
“Baru dibangun beberapa bulan lalu Mbak,,, kalo ndak salah emmm,,, baru enam bulanan lah pindahannya,,, tahun lalu beli tanah disitu langsung dibangun rumah,,, katanya Om Arfin itu kan selain yang punya perusahaan arsitek juga kata Ayah”.
“Oh… gitu toh… Dia tinggal sendiri,,,?”, Naz terus menginterogasi.
“Ndak lah,, ada dua asisten rumah tangga tinggal di sana soalnya rumahnya lumayan besar, walaupun cuman satu lantai ,, ada kolam renangnya juga,,, kita juga sering diajakin Ayah main ke sana bahkan berenang ,, Aliya suka sekali berenang di sana,, ada mainan anak kecilnya juga,,, Om Arfin selain ganteng orangnya baik, suka ngasih uang jajan juga,,,hehehe,,, padahal kata Ayah kalau di kantor galak,,,hihihihi“, ucap Dinda lalu cekikikan.
“Bukan galak,, tegas kali… emang jadi pemimpin itu harus tegas,, biar karyawannya pada serius kerjanya,, hahaa,,, kayak aku tahu aja ya euphoria kehidupan kantor,,, hihihi”, Naz ikutan cekikikan.
“Emm,,, tadi aku perhatiin kok wajahnya agak pucat ya,,,matanya celong gitu,,, emang dia lagi sakit ya?”, Naz terus bertanya bagai seorang wartawati pemburu berita.
“Iya ,, beberapa hari lalu Om Arfin sakit, terus dirawat di rumah sakit dan baru kemarin pulang,, makanya barusan abis dari pemakaman langsung pulang ndak kesini lagi”. Ucapnya menjelaskan, “Ehh,, kok dari tadi Mbak Nanaz nanyain Om Arfin terus yo,,, naksir yo,,,”, tanya Dinda curiga.
“Hehehe,,, ya nanya aja, emang gak boleh ya”, ucapnya celingukan.
“Hmmm ,,kamu belum tahu aja Dinda, kalau Kak Arfin itu mantan pacarku,,”, gumam Naz dalam hati.
“Hahaha,, ngaku aja deh,,, Om Arfin itu udah orangnya ganteng, baik, shaleh, pekerja keras, ya walaupun jalannya seperti itu,,, disini juga banyak yang naksir,, kata Ayah juga di kantornya ada beberapa karyawan cantik yang mendekatinya,, tapi Om Arfin suka bersikap dingin sama perempuan dan mengacuhkan mereka,,, aku juga kalo udah dewasa suka deh sama dia, tapi ,,,,”, ucapan Dinda langsung dipotong oleh Naz yang merasa kepanasan.
“Heh,,, kamu tuh masih kecil, baru juga kelas 2 SMP, gak usah mikirin cinta- cintaan,,, mikirin pelajaran sekolah aja””, ucap Naz nyolot padahal dia juga masih sekolah udah pacaran.
“Yee,,, wong aku belum selesai ngomong,,,, tapi sayangnya dia sudah punya pacar”, Dinda melanjutkan kalimatnya yang sempat terpotong tadi.
“Apa..?, dia udah punya pacar??”, Naz kembali terkejut dan kini keterkejutannya seolah menyentil ulu hatinya yang mendadak terasa sakit.
“Iya,,, kata Mbak Juminten, Om Arfin tuh udah punya pacar, ayu tenan orangnya”, ucap Dinda.
“Hah,,, Nama pacarnya Ayu tenan? Berarti orang sini dong?”, tanya Naz pura-pura tenang padahal hatinya panasss.
“Hahaha,,, bukan Mbak,, itu bahasa jawa yang artinya cantik sekali,,, ndak tahu orang mana- mana nya”, ucap Dinda menjelaskan.
“Kan aku bilang jangan ngomong pakai bahasa jawa,, aku gak ngerti….”, Naz kembali menegaskan.
“hahahahaha,,, iya iya,, aku lupa”, ucap Dinda tertawa.
“Emangnya kamu belum pernah ketemu?”, tanya Naz lagi.
“Jadi dia sudah punya pacar baru,,, berarti dia sudah melupakanku dan mendapatkan pengganti ku,, katanya gak mau nikah sama siapapun tapi ko malah pacaran lagi,,, apa itu sudah menjadi hobinya mempermainkan perasaan perempuan,,,?? Iihhhhh….Dasar menyebalkan,,,!!!”, Naz menggerutu dalam hati sambil meremas- remas bantal.
Raut wajah Dinda tiba- tiba berubah menjadi sendu “Aku jadi keinget Mbak Ayu,,, dia suka sekali dengan fotografi,, sampai tabungannya sejak SD ia belikan lensa kamera yang sudah lama didambakannya,, tapi sayang baru juga kemarin beli, dia gak bisa menggunakannya,,,, huhuhuhuhuhuhu”, Dinda menangis lagi karena teringat saudara kembarnya.
Naz langsung mendekat dan memeluk Dinda,,” Sudah Din,,, kamu yang sabar,,, lebih baik kita kirim doa untuk almarhumah Ayunda,,, ayok kita shalat dzuhur dulu, biar hatimu juga lebih tenang, dan sekarang ini sudah jam 1 lebih,, yukk nanti keburu ashar hehehe….”, ucap Naz yang mencoba menenangkan adik sepupunya itu, kemudian mereka pun shalat bergantian karena di kamar Dinda hanya ada sepasang mukena saja.
Seusai shalat mereka pun keluar kamar untuk makan, karena sudah merasa lapar, dan setelah itu mereka kembali ke kamar karena di luar masih banyak tamu yang berdatangan silih berganti.
Setelah shalat ashar, Dinda diminta kakak tertuanya, Johan untuk menjemput Aliya di rumah Arfin karena saat ke pemakaman tadi Aliya dibawa oleh Mbak Juminten, asisten rumah tangga nya Arfin masih belum kembali. Dinda pun bersedia melaksanakan titah sang kakak dan mengajak Naz, tentu saja gayung langsung bersambut, walau awalnya Naz menolak karena belum ingin menampakan dirinya di hadapan Arfin. Apalagi setelah Dinda mengatakan bahwa Arfin sudah punya pacar. Namun sepertinya rasa penasaran Naz menjadi bertambah, selain penasaran dengan penyakit yang diderita Arfin ia juga penasaran dengan pacar baru Arfin.
Mereka pergi dengan berjalan kaki, rasa tegang dan deg deg-an mulai dirasakan Naz, langkahnya terasa semakin berat saat ia semakin dekat dengan rumah yang ditujukan Dinda. Keringat mulai bercucuran, entah karena hawa di sana yang memang panas atau karena rasa nervous yang berlebihan, pasti pas sampai ia kan mencari toilet.
Sampailah mereka di depan pintu pagar besi yang tingginya sekitar 2,5 meter, Dinda yang sudah biasa ke sana langung membuka pagar dan masuk ke halaman rumah Arfin. Naz melihat depan rumahnya seolah ia mengenali bentukannya itu.
Saat di depan pintu, Dinda langsung memencet bel,,, ting nong,,, ting nong,,,,, tak lama ada yang membukakan pintu.
“Eh, Dinda,,, arep metuk Aliya yo?”, ucapn Mbak Juminten yang sudah mengetahui tujuan kedatangan Dinda,
“Wahh,, mbake ayu ngene tho jebule”, ucapnya saat melihat Naz.
“Eh , Dinda,, mau jmput Aliya ya?”,,,,,,“Wah Mbak ini cantik sekali ternyata”.
“Iyo mesti ayu lah, iki sedulurku seko Jakarta,, Aliya neng ndi yo, Mbak Jum?”, ucap Dinda bangga lalu menanyakan keberadaan adik bungsunya.
“Iya pasti cantiklah, ini sepupuku dari Jakarta, Aliya dimana ya Mbak Jum?”.
“Mau bar tangi turu njaluk dolan neng cedak kolam renang , saiki gek dipapungi karo Retno,,, ehh, ayo ndang mlebu”, jawab Mbak Juminten.
“Tadi setelah bangun tidur minta mai di dekat kolam renang, sekarang lagi dimandiin sama Retno.. Eh mari masuk”.
“Nggeh,,matur nuwun Mbak Jum”, ucap Dinda.
“Iya,, terimakasih Mbak Jum”.
__ADS_1
“Yassalam,,, urang asa jadi jalma gebloh ngadangukeun obrolan maranehna da,,, ngan kur bisa olohok we bari ngacay, hokcay”, gerutu Naz yang sejak tadi tidak mengerti apa yang kedua orang itu bicarakan.
“Yassalsm,,, gue kayak orang bego ya denger percakapan mereka, cuman bisa melongo sambil ngiler doang,,, hokcay” .
“Mbak ngomong apa itu?,,, Ayok mbak,,, kita masuk,,,”, Tanya Dinda bingung, lalu mengajaknya masuk bersama.
“Kamu juga ngomong bahasa Jawa yang gak aku ngerti,,, yaudah aku juga ngomong bahasa Sunda,,,”, ucapnya dengan nada sedikit kesal.
“Hahaha Mbak Jum bicaranya bahasa Indonesia saja, sedulurku iki ora mudeng,,,” ucapnya terkekeh sambil melangkah masuk ke dalam,” oh ya Mbak Jum,,, Om Arfin kemana toh, ndak kelihatan?”, tanya Dinda.
“Den Arfin tadi siang ke Bank ngurusin ATM nya yang ketelan, sampai sekarang juga belum kembali,,, mungkin sebentar lagi pulang… silahkan duduk,, Mbak Jum ke dapur dulu, itu lagi goreng ikan, nanti sekalian ambil minum”. Mbak Juminten pun bicara bahasa Indonesia walaupun dengan nada medok.
Naz dan Dinda pun duduk di kursi dimana ruang tamunya memiliki ukurannya lebih besar dari ruang tamu rumah Bunda. Naz mengedarkan pandangan memperhatikan detail ruangan tersebut. “Dinda,,, ruang tamunya lumayan besar ya,,, sampai ada dua set kursi tamu gini,,,”, ucap Naz.
“Iyo Mbak,,, ruang tengahnya juga cukup besar, katanya buat kumpul keluarga,, di sini juga ada lima kamar,,, bahkan itu kolam renang juga sebagian dalam dan sebagian dangkal untuk anak kecil, dilengkapi perosotan dan ada mainan anak kecil juga”, Dinda menjelaskan tentang beberapa hal rumah tersebut.
Naz terdiam sejenak seolah memikirkan sesuatu, tiba- tiba terdengar teriakan.
”Aliya,,, aliyaa,,,,”, teriak seorang wanita. Kemudian Mbak Juminten berlari ke ruang tamu.
“Dinda,,, kae Aliya malah mlayu neng njobo, ndang ditutke ojo cedak- cedak pinggiran kolam renang mbokan kecebur… Mbak Jum agek masak ndisik ndaan gosong”, teriak Mbak Jumi pada Dinda, lalu beliau kembali ke dapur dan Dinda pun bangkit dari duduknya.
“Dinda,,, itu Aliya malah lari ke halaman samping, ayo kejar takutnya ke dekat kolam renang takut kejebur,,, Mbak Jum lagi masak takut gosong".
“Ada apa?”, tanya Naz bingung.
“Mbak,, itu Aliya lari- larian ke halaman samping, takutnya kecebur kolam,, ayok kita kita tangkap anak bandel yang gak bisa diam itu”, ajaknya, lalu mereka berdua pun beranjak pergi ke halaman samping. Karena mereka berjalan setengah berlari, saat dekat kolam renang Naz tidak sengaja tersendung sampai jatuh.
Gedebuk,,,”Aduh,,, kaki ku sakit,,,”, Naz meringis kesakitan sedangkan Dinda mengejar- ngejar Aliya yang terus berlarian, “Kayaknya kaki ku keseleo ini”, ucap Naz kemudian ia berusaha berdiri dengan susah payah, karena kaki kanannya terasa sakit dan kedua telapak tangannya kotor terkena tanah. Ia melangkah sedikit demi sedikit dengan menyeret kakinya yang sakit mendekat ke kolam untuk mencuci tangannya yang kotor. Ia pun berjongkok dipinggir kolam, lalu ia mengambil air dengan kedua telapak tangannya untuk cuci tangan.
Darr .,,,, Aliya mengagetkan Naz dengan menyentuh punggung Naz dan membuatnya terkejut hingga kehilangan seimbangannya,
jeburrr,,,,, Naz jatuh ke kolam renang,,, bleubeuk,,bleubeuk,,,
“Mbak Nanaz,,, “, Dinda menangkap Aliya,, lalu berteriak melihat Naz yang tercebur ke kolam renang yang dalam dan tenggelam ,”Tolong,,,, tolong,,, Mbak Jum… Mbak Retno”, Dinda berteriak, tak lama kemudian Mbak Jum dan Mbak Retno bermunculan.
Jeburrr,,,,, seseorang masuk ke dalam kolam renang untuk menolong Naz,,, lalu ia berenang membawa Naz ke darat dengan menaikannya ke pinggir kolam dengan dibantu Mbak Jum juga Mbak Retno, kemudian Naz dibaringkan karena sudah tak sadarkan diri. Orang itu segera naik, lalu duduk di sebelah Naz .
“Naz,,, Naz,,, bangun Naz,,,”, ucapnya panik sambil menepok- nepok pii Naz, kemudian melakukan pertolongon petama RJP dengan menekan dada Naz. Setelah beberapa kali melakukan itu Naz tak kunjung sadar, akhirnya karena sangat panik dan khawatir ia meberikan bantuan nafas. Ia mengangkat dagu Naz, mendorong dahinya, lalu mulut Naz dibuka dan hidung Naz dipencet dengan kedua jari orang itu, kemudian ia menempelkan mulutnya pada mulut Naz yang sudah dibukanya untuk memberi nafas buatan. Mbak Jum dan Mbak Retno yang berdiri diantara Dinda dan Aliya , menutup mata kedua anak itu agar tidak melihat adegan onoh.
Uhuk,,, uhuk,,,, akhirya Naz sadar dan ia memuntahkan air yang sempat tertelan olehnya saat tenggelam tadi,,, orang itu pun bisa bernafas lega, lalu tersenyum melihat Naz sadar.
Naz menatap orang yang telah menolong dan menyelamatkan nyawanya itu, “Kak Arfin,,,, “, ucapnya dengan nada lemas, lalu ia menyentuh bibirnya dan langsung melotot seolah kesadarannya telah kembali100% bahkan sesadar- sadarnya, “Apa,,,? barusan dia menciumku,,,? berani sekali dia menciumku setelah aku jadi mantan kekasihnya,,,, bibirku udah gak virgin lagi…”, gumamnya dalam hati,
“Bundaaaaa…..!!! “, Naz berteriak lalu kembali kehilangan kesadarannya dan tergeletak pingsan.
Dinda dan Arfin terlihat panik saat Naz kembali pingsan, karena takut terjadi apa- apa dengannya.
Lain halnya dengan dua asisten rumah tangganya Arfin, melangkah saling mendekat satu sama lain dan malah saling berbisik- bisik tetangga.
“Mbake,,, Ketoke pengin diambung maneh”, ucap Mbak Retno berbisik.
“Mbake,, kayaknya pengen dicium lagi”.
“Iyo,, ketoke kesenengen diambung kui,, hihihi”, Mbak Juminten pun membalas bisikan Mbak Retno, lalu keduanya tertawa cekikikan.
“Iya,, kayaknya ketagihan dicium itu, hhihi”.
--------------- TBC -----------------
*****************************
Hayoh,,,, kenapa Naz kamu pingsan lagi,,, kan kan kan,,, jadi digibahin duo ART nya Afin,,,
Happy Reading…😉😘
Jangan luva tinggalkan jejakmu, ,, Like, Komen, Vote, dan Rate bintang 5….👌😉
Terimakasih banyak semuanyah,, love U all,,,,😘😘😘
Terimakasih juga untuk bantuan translator Bahasa Jawa nya,, Ibun Nommy dan Kak Refrina.😘😘😘
__ADS_1