
Naz yang sebelumnya nampak tertidur lelap, tiba- tiba terusik saat merasakan ada yang menyentuh perutnya yang sudah mulai menonjol layaknya wanita hamil pada umumnya. Ia menggerakkan kepalanya dan membuka matanya perlahan. Betapa terkejutnya ia melihat sosok lelaki yang amat dirindukannya, kini tengah berada dihadapannya yang nampak tersenyum bahagia melihat dirinya. Ia pun sama halnya merasa bahagia, namun ia takut jika itu hanyalah mimpi belaka.
"Aa...... ", lirihnya dengan ekspresi terkejut dan masih tidak percaya.
"Iya ,, sayang....", Arfin yang sedari terus melempar senyuman pada Naz pun menyahuti sapaan istrinya.
Keduanya saling memandang, senyum bahagia pun terukir dari bibir manis keduanya seolah saling melepas rindu setelah lama tak bertemu.
Arfin yang sejak tadi berkaca-kaca pun tak dapat menahan air matanya yang jatuh begitu saja membasahi pipi nya, hingga menetes pada tangan Naz. Seakan itu menyadarkan Naz bahwa ini benar-benar nyata dan bukan mimpi di siang bolong.
Tiba- tiba ada yang masuk ke kamar yang pintunya terbuka itu,
" Naz ini rujak jeruk Bali nya sudah ja______ ", Orang yang membawa mangkuk berisi rujak ditangannya itu nampak terkejut melihat Arfin di kamar Naz, sehingga tak melanjutkan perkataannya, dan Arfin pun tak kalah terkejutnya melihat orang yang berdiri tak jauh dari tempatnya berlutut.
"Arfin.....", ucapnya masih dengan ekspresi terkejut.
"Mama.... ", Arfin pun sama halnya.
"Hkk... hkkkk.... uokk", Naz tiba-tiba merasakan mual, ia membekap mulutnya lalu bangkit dari tempat tidur dan segera beranjak ke kamar mandi.
Saat Arfin hendak mengikuti Naz, langkahnya terhenti mendengar teriakan mertuanya,
"Arfin... tunggu..... !!! ", Bu Rahmi segera menghampiri Arfin, "Pergilah,,, menjauh dari Naz !!", Beliau memberi perintah pada Arfin dengan nada tegas, seolah mengusir Arfin dan melarangnya mendekati Naz lagi.
Deg...
Mendengar hal itu, rasa bahagia yang dirasakannya seketika sirna, seolah ia baru tersadar jika Naz belum bisa memaafkan kesalahannya. Itulah sebabnya Naz belum juga kembali, karena belum memaafkannya, pikirnya.
"Hoek...Hoek..Hoek...", Terdengar suara Naz yang tengah muntah-muntah di dalam kamar mandi.
"Ar... cepat kamu keluar dari kamar ini !!", Bu Rahmi mengulang perkataannya, beliau menyimpan mangkuk diatas meja, kemudian segera menghampiri Naz ke kamar mandi dan meninggalkan Arfin yang masih diam mematung.
"Sepertinya Mama sudah mengetahui apa yang telah ku lakukan pada Naz, sampai beliau menyuruhku menjauh dari Naz,,, ", gumamnya dalam hati.
"Sebenci itukah kamu padaku, Naz??,,, sampai kau mengadukan perbuatan ku pada orang tua mu dan memilih tinggal bersama Mama dibanding kembali padaku.. Apa kamu tak akan memaafkan kesalahanku padamu?,, Apa orang tua mu akan benar-benar memisahkan kita? Apa aku akan sanggup dengan ini semua,,,?? Apa aku sanggup berpisah dari mu dan anak kita.... "Lirihnya dalam hati yang diiringi kucuran air mata.
"Hoek... hoekk ".
Arfin tersadar dari lamunannya saat kembali mendengar suara Naz yang muntah- muntah. Sesungguhnya ia ingin menghampiri istrinya itu, namun apa daya, sang mertua sudah menyuruhnya pergi sejak tadi. Ia pun beranjak pergi meninggalkan kamar tesebut dengan melangkah gontai dan ekspresi wajah yang menyedihkan.
Lutfi dan Mbak Jumin yang melihat Arfin dalam keadaan seperti itu, merasa aneh dan heran, karena sebelumnya ia nampak senang dan bersemangat saat masuk kedalam rumah untuk menemui istrinya. Namun kini terlihat murung dan lesu serta matanya terlihat sembab.
"Ar... Lo kenapa?? Apa Naz masih gak mau ketemu sama lo?", Lutfi memberanikan diri bertanya dan Arfin pun menghentikan langkahnya di ruang tengah tersebut.
"Ayok kita pulang,,, ", ucapnya dengan tatapan kosong.
"Bukannya baru ketemu sama bini Lo,,, yakin mau pulang??? gak kangen- kangenan dulu gitu ?", Lutfi malah semakin kepo.
"Dia tidak mau bertemu dengan ku lagi,,,", Arfin kembali melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah itu, Lutfi yang sebenarnya masih bingung lalu mengikutinya.
"Den Arfin tunggu,,,", teriak Mbak Jumin yang kemudian mengejar Arfin untuk menghentikannya. Namun Arfin tak bergeming dan masih terus berjalan.
"Den jangan pergi dulu,, Non Nanaz bukan tidak mau bertemu,, tapi itu bawaan bayinya !!", Mbak Jumin berteriak dari depan pintu pada Arfin yang hendak sampai pada pintu gerbang, ia pun langsung menghentikan langkahnya. Mbak Jumin pun berjalan untuk menghampirinya.
"Bawaan bayi??", gumamnya merasa aneh .
"Mungkin bini Lo gak suka nyium bau badan Lo,,kan orang hamil suka aneh-aneh,,, kakak gue juga dulu suka ngidam hal aneh", ucap Lutfi.
Arfin mengendus- endus pada tubuhnya, "Wangi kok...gue gak bau badan ", Arfin menyangkal tuduhan Lutfi.
"Bukan gitu Den,,, Non Nanaz gak bisa melihat wajah Den Arfin, karena itu membuatnya mual muntah"
" Hahahaha... Bini Lo aja sampe muak lihat wajah Lo, Ar...hahaha ", Lutfi malah tertawa geli mendengar perkataan Mbak Jumin.
“Jadi Non Nanaz itu, pas lihat wajah Den Arfin langsung mual muntah,, bahkan dengan melihat fotonya saja mual muntah,,, makanya Non Nanaz belum bisa pulang ke rumah, Den”, Mbak Jum menjelaskan.
“Hahaha,,, mampoos lo bos,, selama hamil bini lo gak mau lihat muka lo,,, yang sabar ya Ar,, sampai bini lo lahiran kayaknya kalian bakalan pisah rumah gini,,”, Lutfi malah menakut- nakuti.
“Diam lo,,, !!”, Arfin merasa kesal pada Lutfi, lalu beralih pada Mbak Jumin, “Ngidam macam apa itu, Mbak?”.
“Si Mbak juga ndak tahu, Den,, orang hamil emang ngidamnya suka aneh- aneh toh,,, eng,, Sebenarnya dua minggu setelah kejadian itu, Non Nanaz pulang ke rumah saat Den Arfin sudah berangkat kerja, katanya sengaja mau bikin kejutan pas nanti Den Arfin pulang,, tapi saat masuk kamar dan melihat foto Den Arfin,, Non Nanaz merasakan mual muntah,, Awalnya ndak tahu kalau itu karena melihat foto, dan setiap melihatnya Non Nanaz kembali mual muntah,, makanya balik lagi ke sini, Den,,, bahkan tiap hari di tes dengan melihat foto Den Arfin yang ada di hape,, sampai tadi pagi, tetap masih mual muntah”, Mbak Jum menjelaskan panjang lebar.
“Jadi,, Naz belum pulang bukan karena belum memaafkan ku??”, Arfin menyimpulkan
“Ngih Den,,, tapi karena bawaan hamil,,”.
“Terus sejak kapan Mama ada di sini?”, Arfin mempertanyakan keberadaan mertuanya di sana.
“Seminggu yang lalu Bu Rahmi datang ke rumah,, si Mbak bingung mau bilang apa,, terus Non Nanaz menyuruh si Mbak mengajak beliau ke rumah ini, makanya beliau terus menemani Non Nanaz di sini karena khawatir,, eng,,, tapi beliau ndak tahu kok Den soal masalah itu,, beliau tahu nya Non Nanaz tinggal disini karena gak bisa melihat wajah Den Arfin,,,”.
Arfin tidak tahu harus berkata apa lagi, di satu sisi ia senang ternyata Naz sudah memaafkannya, tapi di sisi lain ia pun merasa sedih, karena jika ia menampakan dirinya di hadapan sang istri, hanya akan membuat istrinya tersiksa. Ia tahu betul bagaimana rasanya mual muntah karena ngidam itu benar- benar menyiksanya, kepala terasa berputar- putar dan tubuh pun menjadi lemas.
“Jadi,,, selama Naz hamil,,, aku benar- benar tidak bisa menemuinya?”, lirihnya sedih membayangkan ia tak bisa bertemu dengan istrinya hingga Naz melahirkan, yang tentunya masih beberapa bulan lagi. Kemarin saja satu setengah ulan sudah membuatnya hampir gila, apalagi ini menunggu sampai enam bulanan lagi.
“Mungkin selama Non Nanaz masih mual muntah saja Den,, biasanya itu hanya dalam trimester pertama,, tapi ndak tahu juga sih sampai kapan,, soalnya kan tiap orang ngidamnya beda- beda Den”.
“Sabar,,, Ar… nambah lagi puasa lo sampai Naz melahirkan,,,”, Lutfi menepuk pundak Arfin, entah itu untuk menyemangati atau hanya untuk mengejek, “Eh,, Ar,, dia kan mual muntah kalau lihat wajah lo,, berarti lo masih bisa nemuin bini lo, tapi jangan menampakkan wajah lo”, ucapnya memberi jalan keluar.
“Maksudnya? Gimana caranya? Gue membelakangi dia gitu?”, tanya Arfin heran.
“Bukan,,, maksud gue,, lo pakai topeng atau muka lo dirias kayak badut gitu, atau pakai kostum badut Ancol", Lutfi menyarankan.
“Jangan gila lo,, enak aja wajah ganteng gue di make-up warna- warni kayak rainbow cake,, ogah ahh”, Arfin langsung menolak.
“Ya kalau gak mau kayak badut,, lo bisa pakai topeng gitu”.
“Topeng apaan?".tanya Arfin
“Topeng monyet… hahaha”. Lutfi menjawab ngasal.
__ADS_1
“Sialan lo ,,, itu mah lo aja pengen ngerjain gue”.
“Hahaha,, Gue bercanda Ar,,, lagian lo kayak gak pernah nikmatin masa kanak- kanak aja,, kan banyak tuh di pasaran berbagai macam topeng pahlawan kesiangan kayak di film- film gitu,, topeng spiderman kek, ironman, captain amerika, ultraman, betman, sama para penjahatnya pun banyak kali,, atau kalau enggak topeng wayang,,”.
“Ogah ah,,,kayak anak kecil banget,,,”.
“Ya terserah lo,,, itu pun kalau lo pengen ketemu sama bini lo tanpa membuatnya mual muntah melihat wajah lo yang menyebalkan itu”.
“Yowis,,, kalau Den Arfin gak mau pakai topeng atau jadi badut,, Den Arfin pakai masker aja sama kaca mata, jadi kan wajahnya gak kelihatan”. mbak Jum pun ikut memberi saran.
“Nah,,, itu juga bisa Ar,,, lo pakai masker bengkoang biar wajah lo putih- putih kayak hantu gitu,,, atau kayak tuyul cemong,,, hahaha”, Lutfi salah mengira.
“Wealah,,,, bukan masker itu toh Den,, tapi masker yang menutup hidung sama mulut itu loh”, Mbak Jum menjelaskan yang ia maksud.
“Lo senang banget ya kayaknya melihat penderitaan gue”, Arfin menatap kesal pda Lutfi.
“Hhaahhaa,,, kapan lagi bisa menertawakan bos garang ini,,, “, Lutfi malah semakin senang.
“Diam lo,,, sudah sana,, belikan gue masker sama kacamata”, Arfin kemudian mengambil dompet dari saku celananya, “Nih uang nya,,, cepetan,,, gak pakai lama”, Arfin menyodorkan empat lembar uang seratus ribuan.
“Eitdah,,, gue lagi yang kena,,, minta Mbak Jum aja yang beli Napa?", Lutfi merasa keberatan.
“Lihat jam tangan lo,, ini masih jam kerja,,, udah sana kerjakan tugas dari gue”, Arfin mengingatkan.
“Haduh,,, sial binggo,,, beli masker aja ya,, di mobil gue ada kacamata sama topi kalau lo mau pakai sekalian,, ini sisa uangnya buat bensin…”, Lutfi pun akhirnya bersedia.
“Terserah,,, sudah sana cepat”, ucap Arfin kesal.
“Iya iya bawel lo,,, “, Lutfi pun segera pergi untuk melaksanakan titah bos nya yang suka seenaknya.
Kini Arfin tinggal berdua bersama Mbak Jum di depan pintu gerbang,
“Mbak Jumin,,, sebenarnya apa yang terjadi malam itu setelah aku pergi?”, Tanya Arfin yang penasaran tentang kepergian Naz di malam setelah ia melampiaskan kemarahannya ada Naz.
“Eng,,, sebaiknya nanti Den Arfin tanyakan langsung saja pada Non Nanaz, biar jelas,, si Mbak takutnya salah bicara”, Mbak Jum menolak menjelaskan.
Arfin menghela nafas berat, keingintahuannya terpaksa harus dipendam dulu, karena tidak mungkin saat ia bertemu dengan Naz langsung menanyakan hal itu, ia takut jika Naz mengingat hal itu, akan melukai perasaannya lagi.
Tak lama Lutfi pun datang, ia membeli 1 pak masker medis dan 2 buah masker kain berwarna hitam, juga kaca mata serta topi yang diambil dari dalam mobilnya. Ia menyerahkannya pada Arfin, dan ia pun langsung memakainya.
“Nah,, kan kalau begitu Naz tidak akan melihat wajah lo yang menyebalkan itu”, Lutfi tak henti- hentinya mengejek Arfin.
“Diam lo,, awas aja kalau dengan cara ini tidak berhasil,, gue bakalan potong gaji lo selama bini gue gak mau ketemu sama gue”, Arfin yang sudah merasa sangat kesal akhirnya mengeluarkan ancaman.
“Lahhh,,, kok jadi gue yang kena imbasnya,,, ? kan ide nya dari Mbak Jum loh,, bukan dari gue,,,”, Lutfi protes.
“Terserah….”, Arfin kemudian beranjak pergi untuk kembali masuk ke dalam rumah milik orang tuanya itu.
Ia melangkah dengan penuh harap agar Naz bisa menerima kehadirannya dengan tampilan seperti itu tanpa merasa mual muntah, dan saat ia sampai di ruang tengah, Bu Rahmi baru saja keluar dari kamar Naz.
“Ini Arfin, Ma,,,”, ucapnya lalu membuka masker.
“Ya ampun Arfin,, kamu ngapain pakai masker sama kacamata begitu,, kayak tukang pijat aja”, Bu Rahmi yang sempat terkejut kini nampak menahan tawa melihat penampilan menantunya itu.
“Hehehe, kalau tukang pijat kan pakai kacamata hitam. Ma,,,,, mudah- mudahan dengan seperti ini Naz tidak akan mual lagi saat dekat dengan ku, karena ia tidak perlu melihat wajahku”,.
Bu Rahmi pun terkekeh mendengarnya, “Kenapa baru sekarang?? Bukannya dari kemaren- kemaren kek,,, jadinya kan kalian gak perlu pisah rumah kayak gini, kesannya kalian tuh seperti pasangan yang lagi bertengkar terus mau bercerai tahu gak..”, Bu Rahmi ternyata belum mengetahui permasalahan yang sebenarnya terjadi.
“Maaf Ma,,,, “, Lirihnya.
“Sudah sana,,, semoga berhasil ya,, tapi kalau Naz mual lagi,, kamu langsung keluar ya, Ar,, kasihan mual muntahnya suka lama,, Mama ke dapur dulu ya… ”, Beliau berpesan lalu pamit pergi.
“Iya Ma,,, makasih ya, Ma “, ucapnya yang dibalas senyuman oleh mertuanya yang kemudian beranjak pergi, sedangkan Arfin menggunakan maskernya lagi, lalu kembali masuk ke dalam kamar Naz.
Ia melangkah perlahan menghampiri Naz yang tengah rebahan dengan posisi tidur menyamping, sehingga Arfin hanya bisa melihat Naz bagian belakangnya saja.
Arfin duduk di pinggiran tempat tidur, lalu tangannya menyentuh lengan Naz, yang membuatnya membalikan tubuhnya.
Naz terkejut melihat ada seorang pria memakai masker dan kacamata serta mengenakan topi di kepalanya, ia kemudian bangun dan kini dalam posisi duduk, “Siapa kamu….?”, tanyanya panik karena ada orang asing masuk ke kamarnya.
“Sayang,,, ini Aku suami mu”, ucapnya.
“Aa,,,??”,
“Iya, sayang…”, Arfin mengangguk.
“Kenapa Aa berpenampilan seperti itu?”, Naz menggeserkan duduknya sehingga ia duduk bersebelahan dengan suaminya di pinggiran tempat tidur dengan posisi kaki diturunkan dan menapak ke lantai.
“Supaya kamu gak bisa melihat wajahku,,, kamu gak mual lagi kan sayang”, tanya nya dan Naz hanya menggelengkan kepala. Arfin pun bisa bernafas lega, akhirnya ia bisa berdekatan dengan wanita yang sangat dirindukannya itu. Arfin lalu bangun dan berlutut tepat di hadapan Naz, ia menggenggam kedua tangan Naz.
“Sayang,,, Aa minta maaf karena sudah menyaikitmu,, bahkan sudah terlalu sering menyakiti mu,, Aa minta maaf,, karena setelah menikahimu bukannya membuat mu bahagia, malah lebih sering membuat mu bersedih,, Aa minta maaf karena tidak bisa memenuhi setiap janji Aa untuk tidak menyakiti mu,, kamu pasti sangat membenciku,, hingga membuat mu sampai pergi meninggalkan ku,”, Arfin mengutarakan permintaan maaf nya dengan penuh penyesalan.
“Aa,,,,”,lirih Naz.
“Aa memang bodoh dan tidak tahu diri, sudah berani menyakiti wanita sebaik dirimu, yang bisa menerima segala kekuranganku,, Aa sangat malu dan merasa tidak pantas menerima semua kebaikan hati mu yang selalu memaafkan setiap kesalahan yang Aa perbuat padamu,, kamu boleh menghukum Aa dengan cara apa pun,, Aa akan terima, bahkan jika kamu sudah tidak mau hidup dengan Aa pun,, Aa akan terima, jika itu bisa membuat mu bahagia,,”, Arfin memasrahkan keputusannya pada Naz.
“Kenapa Aa bicara seperti itu?? apa Aa sudah tidak mencintaiku lagi? Apa Aa tidak peduli pada ku dan anak kita?”, Naz merasa sedih mendengar ucapan suaminya.
“Aa sangat mencintai mu melebihi apa pun di dunia ini,, tapi Aa takut jika suatu saat menyakitimu lagi,, Aa takut jika kamu terus bersama Aa, kamu tidak akan bahagia,, ”, Ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku akan bahagia selama aku bisa terus bersama mu,,, Tak pernah sedikitpun terlintas di pikiranku untuk berpisah dari mu, apalagi sekarang aku sedang mengandung anakmu,,, anaking, anak kita ,buah cinta kita”, Tanpa terasa Naz meneteskan air matanya, lalu ia menarik tangan kanan Arfin yang masih menggenggamnya, kemudian diletakan pada perutnya yang sudah nampak mulai membuncit, Arfin pun paham, dan ia mengelus-elus perut istrinya itu hingga ia pun tak kuasa menahan air mata yang mengalir begitu saja.
Tangan Naz menyentuh kedua pipi Arfin dan menatap matanya hingga keduanya saling bertatapan, “Maafkan aku yang sudah meninggalkan mu,, selama hampir dua bulan tak bertemu dengan mu, membuat ku sangat tersiksa,,, Aku sama sekali tidak membenci mu,, aku hanya tidak ingin melukai perasaan mu, karena saat aku melihat wajah mu aku malah merasa mual, dan sekarang saja untuk bertemu dengan ku Aa sampai berpenampilan seperti ini,, pastinya itu tidak nyaman kan?,,,, Buka saja, Aa pasti kepanasan,,”, ucapnya terisak.
Arfin menggelengkan kepalanya, “Biarkan saja seperti ini,, Kalau dibuka nanti kamu mual muntah lagi, sayang,”, Arfin menolak membuka asesorisnya.
Tangan Naz beralih pada kedua pundak suaminya, "Aa bangun,, jangan berlutut seperti ini,,, Aku tidak suka”, Rengek nya yang masih menangis.
__ADS_1
“Tapi Aa suka,, karena bisa melihat jelas wajah cantik mu”, ucapnya lalu menghapus jejak air mata Naz dengan jemarinya ," Jangan menangis lagi sayang".
“Tapi aku sangat merindukan Aa,,, aku ingin memeluk Aa selama yang ku mau, kalau Aa berlutut kan susah meluknya”, Naz kembali merengek seperti anak kecil.
Arfin pun akhirnya bangkit,begitu pula dengan Naz, kini keduanya berdiri saling berhadapan, Naz langsung memeluk suami yang sangat dirindukannya tanpa rasa malu. Arfin pun membalas pelukannya.
“Maafkan aku,,,”, lirih Naz.
“Aa yang minta maaf sama kamu, sayang”, Arfin mengusap lembut kepala sang istri.
“Aku sangat mencintai mu,, aku sangat merindukanmu,,”, ucap Naz.
“Aa juga sangat sangat mencintai mu,,, dan merindukan mu".
“Jangan pernah katakan perpisahan lagi ,,, aku tidak mau kehilangan mu”, pintanya sambil terisak.
“Kamu juga jangan pernah meninggalkan Aa lagi,, Aa tidak bisa jauh dari mu,,itu adalah siksaan terberat dalam hidupku”, Arfin pun sesungguhnya tak ingin jauh dari istrinya itu.
“Maaf….. “,Naz kembali minta maaf.
“Maaf juga untuk mu”, Arfin perlahan melepaskan pelukannya, keduanya saling memandang, ingin rasanya Arfin mencium istrinya, namun ia tak mau ambil resiko jika melepas maskernya Naz akan kembali mual muntah.
Ia kembali berlutut dan melepaskan topinya, lalu tangannya mengelus- elus perut Naz.
"Anaking, sayang.... Pagu minta maaf karena sudah membentak kalian berdua, sudah menyakiti kalian berdua ", ucapnya yang kembali meneteskan air mata, ia membuka maskernya lalu mencium perut istrinya berkali- kali. Kemudian ia memasang maskernya kembali.
Naz tersenyum haru dan bahagia melihatnya, "Anaking sangat merindukan Pagu-nya”.
“Aa juga sangat merindukannya, sayang".
“Usianya sudah 15 minggu,, ", Naz memberitahukan.
" Bukannya sebelum ospek baru 8 Minggu?", Arfin merasa Naz salah perhitungan.
"Iya,,, kan ospek seminggu dan aku disini sudah enam Minggu", ucap nya menjelaskan lalu tersenyum, namun seketika senyumnya hilang karena ada rasa aneh yang dirasakannya. " Aduh.....", keluh Naz lalu memegang perutnya.
"Kenapa sayang ???", tanya Arfin kaget melihat ekspresi Naz.
" Perutku", Ucapnya.
" Kenapa sayang? apa perut mu sakit?", Arfin terkejut mendengar Naz mengaduh, ia pun merasa panik. Arfin langsung berdiri lalu beranjak pergi keluar kamar. Ia melepas maskernya,
" Ma... Mama !!!", Arfin berteriak memanggil mertuanya dari depan pintu kamar, tak lama beliau pun datang, bersamaan dengan itu Lutfi dan Mbak Jum pun ikut menghampiri Arfin karena mendengar teriakannya.
" Ada apa Ar, kamu kok teriak- teriak gitu", Bu Rahmi yang menghampiri Arfin pun ikut panik .
"Naz, Ma....", Arfin gelagapan.
"Naz kenapa?", Tanya beliau makin panik.
"Perut Naz sakit katanya ", Arfin menyimpulkan dari ekspresi Naz yang mengaduh sambil memegang perutnya.
"Apa??", Bu Rahmi terkejut dan langsung masuk ke kamar diikuti oleh Arfin, sedangkan Mbak Jum dan Lutfi hanya sampai pintu masuk saja.
Bu Rahmi segera menghampiri Naz yang sedang berdiri sambil memegang perutnya.
"Sayang,,,perut mu kenapa?? sebelah mana yang sakit, Nak??", tanya beliau yang nampak panik.
"Perutku seperti ada popcorn yang meletup- letup di dalamnya, Ma ", ucap Naz mengumpamakan yang ia rasakan.
Bu Rahmi yang sebelumnya panik, kemudian bernafas lega, " Sayang,, itu tandanya bayi mu nendang", Beliau memberi penjelasan.
" Nendang??? ", Arfin dan Naz bertanya bersamaan.
" Iya nendang,,, apa kamu baru kali ini merasakannya?", tanya beliau pada Naz.
" Iya, Ma....", Naz mengangguk.
" Berarti itu tadi tendangan pertama dari bayi mu, sayang ", Beliau kembali menjelaskan berdasarkan pengalaman.
Naz dan Arfin saling memandang sambil tersenyum bahagia, ia mengusap perutnya dengan lembut. Arfin pun mendekat pada istrinya, dan ia ikut mengusap perut istrinya.
" Anaking sudah mulai nendang, A,,,", ucapnya yang tak hentinya mengulas senyum bahagia.
"Iya sayang,,,,", Arfin pun sama halnya, saking senangnya ia lupa tidak mengenakan maskernya kembali.
"Hkk... hkkk... uwok", Naz membekap mulutnya karena merasa mual, ia pun segera ke kamar mandi.
"Arfin....itu masker mu kok dilepas,,,?? tuh kan jadinya Naz mual muntah lagi", Bu Rahmi menggerutu kesal pada menantunya itu.
"Ya ampun,,, sampai kapan dia akan mual muntah karena melihat wajahku ??", keluhnya dengan raut wajah sedih bercampur kecewa, kemudian ia kembali memasang maskernya.
Pandangannya beralih ke bawah lalu mengelus kejantanannya, " Yang sabar ya Ujang,,, Puasa mu diperpanjang,, Tapi nanti pas bisa ketemu si imut, kamu jangan pundung lagi kayak dulu ya..", ucapnya yang mengkhawatirkan si ujang.
"Waduhh.... alamat jadi ini mah dipotong gaji,,, nasipp ", Lutfi menepok jidat meratapi nasibnya yang teringat ancaman Arfin sebelum masuk untuk menemui Naz tadi.
"Yang sabar, Den.... orang sabar disayang Gusti Alloh,,,, tuh Den Arfin juga sedang menyabarkan Juniornya sampai diusap- usap gitu.. ndak takut bangun apa ya", Mbak Jumin ternyata memperhatikan Arfin yang sedang ngabebenyokeun si Ujang nya.
------------ TBC -------------
************************
Happy Reading....🤩
Jangan luva tinggslkan jejakmu...😉
__ADS_1
Tilimikicih... aylapyu oll....😘😘