
Jeburrrr,,,,,
Naz yang baru saja melepaskan pagutan bibirnya dari bibir sang suami, langsung mendorong suaminya hingga ia jatuh ke kolam renang.
“Dasar curang kamu ya,,, “, ucap Arfin.
“Hahaha,, siapa suruh itu tangan main raba- raba kemana aja,,, makanya punya tangan jangan kegatelan... wle”, Naz malah mengejek suaminya.
“Permisi,, ini layanan atas nama Bapak Al Arifin”, ucap seorang pegawai resort tersebut dengan membawa makanan dibantu rekannya beserta tempat makanan untuk di kolam renang.
“Saya belum pesan apa- apa, Mas”, Arfin merasa aneh.
“Ini dipesan khusus oleh Pak Manager, Pak,,,”, sang pelayan menjelaskan.
“Oh,, oke,, terimakasih,,,”, Arfin kini teringat pada layanan khusus yg akan diberikan karena insiden tadi.
Mereka pun menyajikan makanannya di atas baki kayu yang kemudian diletakan di kolam renang dan baki tersebut terapung di atas air kolam. Setelah itu mereka pun pamit undur diri.
Arfin mengambil teh hangat dan meminumnya, walaupun cuaca panas, namun ia merasa kedinginan setelah nyebut ke kolam.
“Enak ya,, aku yang dikejar orang gila,, Aa yang dapat makanannya”, ucap Naz yang kemudian duduk bersila menghadap ke kolam tempat suaminya berdiri sekarang lalu mengunakan kacamata yang diambil dari dalam tas nya.
“Ternyata pesona mu sangat luar biasa ya, sayang,, orang gila saja sampai ngejar- ngejar kamu,,, hahaha,,, “, Arfin memuji Naz sekaligus menjatuhkannya,
“Kita makan berdua lah sayang,, gak akan habis kalau Ada makan sendiri,”,ucapnya lagi.
“Muji sih muji ,, tapi ujungnya membanting harga diriku”, Naz berdecak kesal.
“Hahaha,,, yasudahlah lebih baik kita makan ini saja daripada mubadzir,,, kamu mau apa sayang?”, Arfin menawarkan makanan pada Naz.
“Mau minuman yang ada di botol itu?”, Naz menunjuk pada botol minuman yang tersaji diantara makanan tersebut.
“Gak boleh,,, ini tuh minuman beralkohol,, Aa aja gak akan meminumnya”, Arfin melarang keras.
“Hahaha,,, becanda keleus,, aku gak mungkin lah minum itu,, nanti bisa- bisa aku mabuk dan Aa akan berbuat macam- macam padaku,, ”, Naz seolah menganggap suaminya seorang pria kurang ajar yang berniat buruk padanya.
“Yaelah,,, bicara mu itu seperti kita baru ketemu selewat saja,,, aku ini kan suami mu,, jadi berbuat macam- macam itu sudah menjadi kewajiban ku,, gak mabuk juga kamu mah doyan ahh”, Arfin mulai memakan makanannya.
“Dihh,,, Aa tuh yang doyan,,”, Naz tak terima dan malah balik ngatain suaminya.
“Kalau kamu gak doyan,, mana mungkin mau melayani Aa,, itu artinya kamu lebih doyan,, hahaha”,Arfin tak mau kalah telak.
“Gak usah ngarang deh,,,”, Naz menyangkalnya.
“Ihh,,, gak mau ngaku yee,,, orang kalau bangun subuh kamu lihat si ujang berdiri, Aa suka diperkosa sama kamu,,, “, Arfin mengingatkan kelakuan istrinya yang ternyata memang doyan.
“Prettt,,, ahhh,,”, Naz yang di skak mat malah merasa kesal.
“Hahaha,,, “, Arfin tertawa dengan renyahnya,, “ehh,, sayang,,, apa manager yang tadi itu cenayang ya?”, yang habis dikejar orang gila Naz, tapi Arfin yang pikirannya jadi gak beres.
“Cenayang? maksudnya?”, tanya Naz bingung.
“Kok dia bisa tahu kalau Aa lapar,,,? Padahal cuman kita dan orang rumah yang tahu kalau tadi sebelum berangkat Aa sarapannya hanya makan sedikit,, “, Arfin malah memperkuat pikiran konyol nya.
“Bukan cenayang itu mah,, mungkin dia tahu Aa gak pesan makanan,, makanya ia ngirim kemari,,, “, Naz malah mengejek lalu menertawakan suaminya yang menganggap manager resort tersebut seorang cenayang.
"Eh tapi.. masa iya layanan free nya gini doang setelah kamu dikejar-kejar orang gila... gak fair dong", Arfin baru menyadari.
"Kan kata manager nya kita tinggal menghubunginya kalau sudah memikirkan hal apa yang diinginkan", Naz mengingatkan suaminya.
"Ehhh iya ya... lupa ", Arfin pun memakan makanan yang sudah disajikan pelayan tadi di atas air kolam.
Sementara Naz berdiri melihat- lihat pemandangan ke arah laut. Ia menikmati hembusan angin yang melintas seolah memberi hawa segar di hari yang sudah mulai panas itu, ia mengambil ponsel nya untuk berselfi.
Arfin hanya makan beberapa makanan saja dan tak sampai menghabiskannya. Karena merasa cuaca sudah panas, ia pun kembali naik dan menghentikan acara berenangnya yang lebih tepat seperti habis nyebur saja dan bermain air di kolam renang. Ia mengajak sang istri untuk kembali ke kamar mereka.
Setelah Arfin mandi dan berpakaian, keduanya pergi ke tempat putrinya berada bersama kedua ibunya. Cahaya yang sedang bermain bersama kedua neneknya dan Mbak Retno, langsung merangkak ke arah orang tuanya yang baru datang, ia segera minta digendong oleh Arfin yang sejak semalam belum menggendongnya lagi. Tentu saja Arfin pun langsung menggendongnya dan menciumi putrinya hingga ia merasa kegelian dan tertawa riang.
“Mama, Mami sama Mbak Retno istirahat saja, pasti kalian lelah setelah menempuh perjalanan dan mengasuh Cahaya yang aktif ini,,, biar Cahaya kami bawa dulu,,”, ucap Arfin.
“Yasudah sana,, kalian habiskan saja waktu bersama Cahaya seharian ini,, nanti malam kan dia akan tidur bersama kami lagi,,, dia juga pasti kangen sama kalian…. “, Bu Rahmi sangat pengertian.
“Iya,, biar honeymoon kalian bisa berjalan lancar nanti malam, jadi biasa nambah cucu lagi,, dan kami para baby sitter mau bersantai dulu sejenak,,,”, ucapan Bu Hinda dengan santainya.
Naz pun tersenyum menanggapi ucapan mertuanya itu, sedangkan Arfin hanya mendengus saja, karena seperti yang pernah dikatakannya dulu saat Naz baru melahirkan Cahaya, ia sudah bertekad tidak mau punya anak lagi karena tak mau melihat istrinya kesakitan lagi. Namun pada kenyataannya ia selalu gesit menggauli istrinya, dan terkadang itu membuat Naz suka mengejek suaminya dengan mengatakan ‘bikinnya rajin tapi punya anaknya gak mau, heran’.
Arfin dan Naz kemudian beranjak pergi membawa Cahaya. Mereka mengajak putrinya jalan- jalan sekitaran resort yang ada tempat bermain anak sambil melihat pemandangan laut, dan Cahaya nampaknya merasa senang sekali.
__ADS_1
Karena cuaca yang semakin panas, membuat mereka tak mau berlama- lama di pantai dan lebih memilik kembali ke kamar, mending ngadem bae.
Cahaya seharian ini terus bersama kedua orang tuanya, dan setelah makan malam bersama di resort, ia kembali dibawa ke kamar kedua neneknya.
Naz langsung menyusui Cahaya yang sudah terlihat mengantuk, sedangkan Arfin kembali ke kamarnya setelah mencium putrinya.
Cahaya pun kini sudah tertidur pulas di pangkuan Magu-nya. Naz menidurkannya di atas tempat tidur, lalu memompa ASI nya yang kemudian dimasukan ke dalam botol yang disimpan dalam cooler box ASI untuk persediaan jika tengah malam Cahaya terbangun dan ingin mimi.
Naz dengan berat hati meninggalkan putrinya dan menitipkannya pada Mama dan Mami nya untuk memenuhi keinginan suaminya yang ingin honeymoon itu. Ia pun kembali ke kamarnya setelah berpamitan dan menciumi putrinya yang sudah tidur lelap.
Saat Naz baru keluar, ternyata suaminya sudah menunggunya di depan pintu,
“Cahaya sudah tidur?”, tanya Arfin, Naz pun hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum terpaksa.
“Kalau gitu,, kita keluar yuk”, ajaknya pada sang istri.
“Ngapain keluar? Ini kan sudah malam,, lagian angin malam gak baik buat kesehatan”, Naz menolak ajakannya.
“Emmm,, untuk melihat keindahan laut di malam hari… ayolah.. momen langka nih", Arfin terus membujuk Naz.
“Hahaha,, gelap kali A,, mana bisa kita melihat pemandangannya”, Naz malah menertawakan suaminya.
“Sudah ayok ikut saja, kita pacaran dulu,,,”, Arfin langsung menggandeng tangan Naz dan mengajaknya pergi.
Setelah keduanya keluar dari gerbang resort, Arfin berdiri di belakang Naz lalu menutup kedua mata Naz dengan kedua telapak tangannya.
“Ih,, Aa ngapain sih pakai nutup mataku segala,,, mau ngerjain aku ya?”, Naz merasa risih.
“Tenang saja,, Aa ini bukan kamu yang tukang jahil ya, udah yuk, jalan aja... ”, ucapnya dan Naz pun manut saja, karena ia percaya jika suaminya tidak akan mencelakainya.
Naz terus berjalan dengan pelan, begitu juga Arfin yang memapahnya berjalan dari belakangnya. Mereka bagaikan kura- kura yang saling menempel lalu berjalan seperti siput. Semakin berjalan, Naz semakin jelas mendengar deru ombak lautan yang menyisirkan air laut ke tepian pantai.
"Jangan- jangan Aa mau membuang ku ke laut ya?", Naz curiga dan mulai merasa takut.
"Untuk apa Aa membuang mu ke laut?", Tanya Arfin lalu terkekeh.
"Ya mungkin untuk kawin lagi",ucap Naz ngasal.
"Haha.... kalau mau kawin lagi ya tinggal ke KUA bukan ke pantai sayang... eng... tapi kalau itu memang benar,, terus kamu mau apa hem?", Arfin malah menakuti Naz.
"Jika itu memang terjadi, maka aku bersumpah akan balas dendam pada mu dan istri muda mu dengan bantuan nyi roro kidul,,, aku pastikan kalian tak akan pernah hidup tenang...", Ucapnya geram.
"iihhhh... jangan ngomongin dia,, merinding tau... ", Naz mengusap lengannya.
“Berhenti sayang,,, “, Arfin perlahan melepaskan telapak tangannya dari wajah Naz, ia pun segera membuka matanya. Betapa terkejutnya ia melihat di sekelilingnya banyak lampu yang di letakan di atas pasir. Naz membekap mulutnya yang ternganga, karena terkejut sekaligus senang.
“Aa ,,, ini??”, tanyanya kagum.
“Anggap saja kita sedang ng'date… ”, Arfin kayak anak muda saja.
“Ayok ,, kita duduk di sana”, Arfin menunjuk meja yang sudah disediakan disana, Naz pun ikut dengan sang suami dan mereka duduk di kursi yang di tengahnya da meja yang sudah tersedia makanan dan minuman.
“Kapan Aa menyiapkan ini?”, tanya Naz penasaran.
“Rahasia dong,,, apa kamu menyukainya?”.
“He eum,,, aku suka banget,,,”, Naz mengangguk sambil tersenyum bahagia.
“Maaf ya sayang,,, tadinya Aa sudah merencanakan untuk dinner di sini berdua,, karena tadi Cahaya nempel terus dan gak mau jauh dari kamu, akhirnya batal,, Tapi Aa pengen tetap ngajak kamu ke sini, jadinya makanannya di ganti sama disert aja,, ”.
“Gak apa- apa,,, aku suka kok A… makasih ya, Aa udah nyiapin ini semua…. aku makan ya cake sama salad nya,, hehehe”, Naz pun memakan disert yang ada di sana, kebetulan ia sudah merasa lapar lagi setelah disedot oleh putrinya.
“Kamu masih lapar sayang? Kita pesan makanan lagi aja ya”, Arfin yang melihat Naz makan menawarkan untuk memesan makanan lagi.
"Gak usah A,, aku makan ini aja,, kalau kebanyakan makan berat nanti aku gendut lagi,,”. Keduanya pun memakan disertnya bersama.
Arfin sudah mengira jika hal sederhana seperti itu saja bisa menyenangkan hati istrinya,, karena ia tahu betul istrinya itu tidak suka hal- hal yang berbau mewah atau pun pesta- pesta.
Setelah selesai, Arfin menepuk tangannya sebanyak dua kali, kemudian datang lah tiga orang dengan membawa alat musik. Arfin lalu berdiri kemudian berlutut di depan Naz yang masih duduk.
“Maukah kau berdansa dengan ku, Nona cantik,,,”, pintanya dengan mengulurkan tangannya.
“Tapi aku gak bisa dansa A…”, ucap Naz yang merasa kikuk.
“Tinggal menggerakkan kaki saja secara bersamaan,,, tidak perlu dansa seperti di film- film,, marii ”, Arfin kembali mengajak.
“Baiklah,,, jangan salahkan aku jika menginjak kaki mu, Tuan”, Naz menerima uluran tangan Arfin dan berdiri lalu melangkah dan memposisikan diri berhadapan dengan sang suami.
“Dan jika itu terjadi,, maka aku akan memakan mu, Nona….”, Arfin malah mengultimatum.
“Uhhhh,, tatut,,,”, ucap Naz dengan nada manja hingga membuat keduanya terkekeh.
__ADS_1
Ketiga orang itu pun mulai memainkan alat musik yang dibawanya, lagu romantis yang slow menjadi pengiring kedua pasangan yang berdansa tersebut. Arfin mengarahkan Naz untuk menempelkan kedua telapak tangan pada dada bidangnya, sedangkan ia melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Naz, lalu keduanya menggerakkan kaki perlahan secara bersamaan, ke kiri dan ke kanan sesuai aba- aba.
Awalnya Naz merasa kagok dan sesekali menginjak kaki suaminya, karena baru pertamakalinya ia berdansa. Lalu langkah kakinya kadang lebih cepat kadang lebih lambat dari langkah suaminya. Namun lama kelamaan ia mulai bisa mengikuti dan bergerak bersamaan dengan sang suami sesuai iringan musik.
Kini mereka sudah merasa enjoy menggerakkan tubuh dengan alunan musik dengan kedua mata mereka saling bertatapan dan keduanya pun saling melempar senyum bahagia. Seolah disana hanya ada mereka berdua, dunia milik berdua dan yang lain goib.
Tak terasa langkah keduanya menjauhkan mereka dari tempat duduk sebelumnya, kedua tangan Naz pun sudah beralih melingkar di leher sang suami. Mereka pun terhanyut dalam suasana romantis, bagaikan pasangan yang tengah dimabuk asmara yang membawa perasaan mereka untuk mendorong bibir keduanya saling bertemu.
Awalnya hanya kecupan sekilas yang berkali- kali, lama- kelamaan membawa keduanya berciuman cukup lama dengan memejamkan mata tanpa memperdulikan mereka kini tengah berada dimana dan ada siapa saja disana yang memperhatikan mereka.
Hembusan angin dan suara deru ombak menyadarkan keduanya hingga membuat mereka saling melepaskan pagutan bibir dengan deru nafas terengah- engah seolah saling berburu oksigen, Naz kemudian memeluk suaminya
“Sayang,,, kita ke kamar yuk…”, bisik Arfin yang masih berpelukan dengan istrinya.
“He eum,,,,”, Naz pun mengangguk sebagai tanda ia setuju, karena ia pun merasakan hal yang sama dengan suaminya yang sudah dipenuhi hasrat yang menggebu.
Arfin menggendong istrinya ala bridal style dan membawanya meninggalkan tepi pantai yang masih diiringi alunan musik itu. Ia berjalan memasuki resort untuk kembali ke kamarnya.
Setibanya di depan pintu kamar, Arfin menurunkan istrinya dan membuka pintu dengan kartu akses yang diambil dari saku celananya. Setelah keduanya masuk ia lalu menutup kembali pintu kamarnya dan mengendong Naz lagi untuk membawanya masuk ke dalam kamar tanpa menyalakan stop kontak lampunya.
Naz kembali dikejutkan saat melihat kamarnya yang nampak gelap hanya diterangi dengan cahaya lilin- lilin dan bunga yang bertebaran dilantai juga di atas ranjang dengan berbentuk cinta.
“Ya ampun Aa,,, kenapa kamarnya jadi seperti ini?”. tanya Naz yang kembali diberi kejutan.
“Kan biar serasa honeymoon pengantin baru,, kamu suka, sayang? “, Arfin tersenyum
“Unchh sayang,, Aa romantis banget sihh”, ucapnya senang sambil bergelayut manja lalu menciumi leher suaminya yang membuat Arfin menggeliat dan membuat hasratnya semakin bergemuruh.
Arfin membaringkan Naz perlahan di atas tempat tidur, ia pun melanjutkan kembali ciuman mereka yang sempat terhenti saat di pantai tadi sebagai pemanasan untuk melancarkan acara honeymoon nya. Naz pun sangat menikmati setiap sentuhan suaminya, suara desahan pun mulai keluar, hingga membuat Arfin sudah tak sabar lagi untuk memasuki acara inti.
Dengan perlahan ia melucuti pakaian sang istri, hingga tersisa bra saja yang menempel pada tubuhnya, karena ia tak mau jika sampai khilaf menyentuh apalagi melahap sesuatu yang masih menjadi jatah putrinya itu.
Setelah Arfin melepas semua pakaiannya dan sudah memposisikan tubuh keduanya yang siap tempur, Naz yang sejak tadi menggeliat seperti ular yang terlena dengan suara seruling sang pawang saking menikmati setiap sentuhan suaminya, tiba- tiba teringat sesuatu.
“Tunggu,,,”, ucap Naz.
“Ada apa? “, Arfin merasa heran.
“Jangan dulu A,,”, Naz menahan suaminya.
“Kenapa?? Apa kamu tidak menginginkannya, sayang?”, Arfin terlihat sedikit kecewa.
“Aku mau,, tapi_____ ”, Naz tak melanjutkan ucapannya.
“Tapi apa? Sekarang bukan tanggalnya kamu mens kan?”, Arfin melihat ke arah si imut yang seolah sudah melambai- lambai ingin disinggahi si ujang.
“Bukan itu,,, eng gimana kalau aku sampai hamil,,,?”, Naz ingat betul jika suaminya tak ingin memiliki anak lagi.
“Gak akan sayang,,, Aa sudah membawa pil KB yang kamu tinggalkan di laci tadi pagi,,,”, Arfin sudah tahu pembicaraan Naz mengarah kemana.
“Hehehehe…”, Naz hanya nyengir, karena ketahuan kalau dia berniat menggagalkan rencana honeymoon suaminya.
“Ternyata kamu memang berniat mengerjai ku,, hemmm,, Aa pastikan kali ini tidak akan memberi mu ampun yaa,,,”. Afin sudah tak bisa menahan hasratnya yang sudah di ubun- ubun.
Arfin pun segera melancarkan aksinya dan terjadilah pergulatan panas diantara mereka dengan suasana kamar ala pengantin baru, ditambah dengan aroma mewangi dari tubuh Naz yang berbaring di atas kumparan lembaran bunga mawar merah yang tadinya berbentuk cinta. Namun, beruntung lilin- lilin yang diletakan di lantai tidak padam, sehingga mereka berdua tidak berubah wujud… ngokk..
Tok tok tok .... terdengar suara ketukan pintu di tengah acara yang sedang berlangsung.
"Aa.... itu ada yang mengetuk pintu...", ucap Naz yang mendengar suara ketukan pintu berkali- kali.
Arfin menghentikan kegiatannya, "Sudah,, biarkan saja,, ganggu orang lagi enak-enak ajja... ", ucapnya yang tak memperdulikan.
Suara ketukan pintu itu kembali terdengar bahkan hingga menggedor, namun tak terdengar suara orang dan tentunya itu membuat konsentrasi keduanya terganggu.
"Aa... itu makin kenceng yang ngetuk pintunya... tapi kok gak ada suara orang ya?...", Naz mulai takut.
"Ya ampun... siapa sih tuh ganggu banget...!!", Arfin kesal dibuatnya.
"Jangan- jangan itu____ , ihh Aa sih tadi ngomongin Suzana segala... kan jadi serem...", Naz mulai merasa takut.
"Kamu duluan sayang yang ngomongin Nyi roro kidul....", Arfin tak mau disalahkan.
"Aaaahhh.... gimana dong ini... masa iya kita didatengin hantu legendaris,,, kan gak lucu", Naz semakin merasa takut.
"Mana ada hantu disini sayang,,, jangan ngaco deh...", Arfin menyangkal dugaan Naz.
"Apa jangan-jangan orang gila yang tadi ngejar-ngejar aku...", Naz terus berasumsi, dan membuat keduanya saling beradu pandang seolah Arfin pun memikirkan hal yang sama.
--------- ExtraPart05--------
*************************
__ADS_1
Happy Reading....