Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
ExtraPart.12 - Tempat Berarti Bagi Kita


__ADS_3

“Ye ye ye, hore … dedek nya Akha sekarang udah lahir dua- duanya, jadi Akha gak sendirian lagi di rumah.” Cahaya bersorak gembira dengan mengangkat kedua tangannya yang dikepalkan.


Naz, Arfin dan kedua ibunya ikut tersenyum bahagia melihatnya.


Mereka pun menghubungi suami dan keluarga lainnya yang tinggal di Jakarta, untuk memberitahukan berita kelahiran si kembar.


Cahaya yang ingin terus melihat kedua adiknya, berdiri di atas kursi yang diletakan di dekat tempat tidur kedua bayi tersebut. Karena nena nya tidak kuat jika harus terus menggendongnya berlama- lama, sehingga beliau bersama Bu Rahmi hanya duduk di kursi yang berbeda menemani Cahaya yang tak mau beranjak sedikitpun.


Sementara Afin menghampiri sang istri yang tengah berbaring dengan posisi ranjang bagian atasnya dinaikan seperti sofa bad. Ia duduk di atas ranjang tepat samping istrinya. Naz pun bangun dan duduk, Arfin memeluknya dari samping. Ia mengusap kepala sang istri kemudian mengecupnya.


“Terimakasih, sayang … sudah memberi ku dua orang putra sekaligus. Kamu memang hebat, sayang.”


“Aku juga gak nyangka bisa melahirkan si kembar dengan persalinan normal dan proses yang secepat ini.”


“Udah ya, kita gak usah nambah anak lagi. Tiga saja sudah cukup, sudah sangat melengkapi keluarga kecil kita.”


“Iya … kan aku juga sudah dipasang IUD, biar gak lupa minum pil KB lagi. Tapi, ya kalau di kasih lagi sama Allah, masa kita mau nolak,” ucap Naz.


“Enggak !!” Arfin langsung melotot.


“Hehehe … iya iya deh, sudah tiga aja.”


“Aku sangat mencintaimu melebihi apa pun, sayang,” ucapnya kembali mencium pucuk kepala sang istri.


Naz terkekeh mendengar ucapan suaminya. “Hmmm, udah punya anak tiga juga, masih aja suka gombal.”


“Ini bukan gombal atau bualan semata, tapi ungkapan dari hati Aa yang terdalam. Bukannya dijawab, malah diejek.”


“Uluh uluh, kok jadi ngambek sih? Malu dong sama anak- anak kalo Pagunya suka pundungan seperti ini. Bisa- bisa aku akan merasa punya anak tiga tapi rasa empat.”


“Beda lah,” sangkal Arfin.


“Sama aja tahu, kalian itu suka pengen dimanja sama aku.”


“Tapi kan manjanya beda. Kalau Aa maunya dibelai dimanja,” ucapnya kekeuh menyangkal, kemudian raut wajahnya berubah menjadi lesu.


Naz mendengus kesal.


“Sayang ….” panggil Arfin.


“Hemmm ….” sahut Naz.


“Libur lagi dong empat puluh hari?” ucapnya berbisik di telinga sang istri.


“Yassalam … Jahitannya aja masih basah, udah bahas gituan, ih” keluhnya dengan suara pelan.


“Emang tadi dijahit gitu?” tanya Arfin kaget.


“Iya, dokter bilang cuman dua jahitan sih, tapi tetep aja sakit."


“Wah, bagus dong. Berarti nanti serasa perawan lagi,” ucapnya masih dalam mode bisik- bisik tetangga. “Aww… kamu kebiasaan ih.” Arfin meringis kesakitan karena Naz mencubit perutnya sambil melotot padanya.


“Kalo ngomongin gituan lagi, aku tambahin liburnya jadi dua bulan.”


“Iya iya deh, gak bahas itu lagi.” Arfin takut sekali kalau sudah diancam soal perjatahan. “Oh iya, bulan depan kamu wisuda, kan?”


“Iya.” Naz mengangguk, kemudian pandangannya tertuju pada Cahaya yang terus menonton kedua adiknya yang tengah tidur. “Aa, lihat deh … Cahaya terlihat sangat bahagia, karena adik yang selama ini dinantikannya kini sudah hadir di depan matanya.”


“Iya, semoga dia bisa menjadi kakak yang baik, dan anak- anak kita selalu rukun serta saling menyayangi juga saling menjaga satu sama lain … Dan semoga kita juga bisa menjadi orang tua yang baik bagi mereka, serta mendidik mereka menjadi anak- anak hebat,”


“Amiin ….” Naz menyandarkan kepalanya dipelukan sang suami yang duduk di sampingnya itu dengan tersenyum bahagia melihat ketiga anaknya.


**


Keesokan harinya, Naz bersama bayi kembarnya sudah diperbolehkan pulang. Dan saat tiba di rumah, mereka disambut oleh orang tua Arfin dan Naz yang sudah tiba dari Jakarta. Disana juga sudah ada pengasuh bayi dari yayasan yang sebelumnya dipesan oleh Dilara.


Ucapan selamat beserta kado dari keluarga, teman kuliah Naz, orang tua teman sekolahnya Cahaya, rekan kerja Arfin, dan para tetangga pun berdatangan silih berganti. Cahaya pun terus mengekor pada kedua neneknya yang membawa sang adik, karena takut adiknya dibawa pulang ke Jakarta oleh kedua neneknya itu.


Mereka membawa si kembar masuk ke kamar yang sudah disediakan. Sama halnya dengan Cahaya saat masih bayi, jika siang hari si kembar akan dikamar itu, sedangkan malamnya dibawa tidur di kamar orang tuanya.


Cahaya yang tak mau jauh dari kedua adiknya pun meminta tidur di kamar orang tuanya. Padahal sejak Naz hamil, ia sudah terbiasa tidur di kamarnya sendiri. Akhirnya di kamar Naz digelar satu kasur lagi tanpa ranjang, karena tak muat jika kasurnya dipakai untuk tidur berlima.


Cahaya pun kekeuh ingin tidur bersama kedua adiknya, sedangkan orang tuanya tidur di kasur yang berbeda. Awalnya Naz mengizinkan, dan saat Cahaya sudah tidur lelap akan dipindahkan ke kasur bawah, sehingga Naz tidur di ranjang bersama kedua bayinya, sedangkan Cahaya tidur bersama Pagu nya di kasur bawah.


**


Esoknya, Cahaya tidak mau pergi ke sekolah karena ingin tetap bersama kedua adiknya, sono keneh kalau kata orang Sunda mah. Arfin dan Naz pun tak bisa membujuknya, akhirnya mereka mengizinkan Cahaya bolos tapi hanya satu hari saja. Hari berikutnya Naz memberi ultimatum pada Cahaya jika tak bersekolah, maka Cahaya dilarang tidur di kamarnya bersama kedua adiknya, sehingga ia tak mau bolos lagi.


Naz baru saja selesai menyusui si Abang yang kemudian di baringkan di kasur bayi bersama kembarannya yang sudah lebih dulu tidur. Ia kemudian keluar dari kamar bayi, karena disana ada pengasuh yang menjaga bayi kembarnya yang tengah tidur itu.


Naz menghampiri Cahaya yang sedang menggambar besama Arfin.


“Akha lagi gambar apa?” tanya Naz.


“Akha lagi gambar gedung tinggiiiiii yang suka digambar Pagu,” jawab Cahaya.


“Wah, hebat sekali anak Magu ini udah pinter gambar ya,” Naz memberi pujian.


“Iya dong, kan Akha mau jadi kayak Pagu jadi aspitek."


“Arsitek, Akha,” Arfin meralat.


“Iya, itu.” Cahaya mengangguk kemudian ia menghentikan acara menggambarnya dan berbicara pada Arfin. “Pagu, Akha pengen rumah tangga,” ucapnya penuh harap.


“Apa?” Naz dan Arfin bertanya serentak, kemudian keduanya saling memandang karena terkejut.


“Akha pengen rumah tangga.” Cahaya kembali mengulang perkataannya.


“Akha, sayang … darimana kamu dapat perkataan seperti itu? siapa yang ngajarin Akha bicara seperti itu?” tanya Naz merasa aneh dan heran.


“Gak diajarin, Akha tahu sendiri kok,” ucapnya jujur.


“Akha sayang …. Kalau pengen rumah tangga, nanti kalau sudah besar. Sekarang kan Akha masih kecil."


“Tapi Aqila pengen rumah tangga dikabulkan sama ayah- bundanya kok."


“Hah?” Naz kembali beradu padang dengan sang suami karena kembali terkejut.


“Masa sih Akha? Itu gak mungkin deh … Ingat ya Magu sama Pagu sudah sering mengajarkan Akha tidak boleh berbohong loh”


“Akha gak bohong, Pagu. Aqila sekarang sudah punya rumah tangga, Akha juga mau rumah tangga juga,”


“Gak mungkin, sayang.”

__ADS_1


“Ih, Pagu jahat … masa bikin gedung tiggi- tinggi bisa, tapi bikin rumah tangga gak bisa. Akha kan pengen rumah tangga kayak rumah oma, rumah nenek, rumah nena yang ada tangga nya. Rumah ini kan gak ada tangganya.”


Arfin dan Naz kembali saring beradu pandang. Keduanya pun tertawa karena sejak tadi obrolan mereka ternyata gak nyambung.


“Hahaha, ya ampun Akha … jadi maksudnya Akha pengen rumah dua lantai gitu ?”


“Hah, dua lantai?” tanya Chaya bingung, ia lalu melihat ke samping karpetnya. “Satu, dua … ih kecil banget dong kalo rumahnya cuma dua lantai,” ucapnya lagi saat menghitung jumlah lantai dua kotak, yang dipikirnya dua lantai itu benar- benar dua kotak lantai keramik.


“Hahaha, bukan Akha ....” Arfin menertawakan kepolosan putrinya. “ Maksudnya dua lantai itu, di atas ada bangunan lagi, kata lainnya itu rumah dua tingkat. Jadi nanti kalau mau naik ke atas pakai tangga”


“Oh, iya itu yang Akha mau."


“Iya boleh, tapi bikinnya gak di sini ya,” ucap Arfin.


“Kenapa enggak disini?” tanya Cahaya.


“Loh, kan Magu sudah pernah bilang kalau kita akan pindah ke Jakarta, biar dekat dengan rumah oma, nena, sama nenek. Jadi nanti Akha bisa main sama kakak Nala, Haikal, dan sepupu yang lainnya."


“Tapi kan sekarang Akha sudah punya adik sama abang, jadi gak kesepian. Akha mau disini aja”


“Tapi kan Pagu kerjanya pindah ke Jakarta. Memangnya Akha gitu mau jauh sama Pagu? Nanti gak ada yang mengajari gambar lagi dong,”


“Gak mau … mau sama Pagu"


“Kalau gitu, Akha sama Magu dan adik kembar harus ikut pindah sama Pagu,” ucap Naz.


“Akha kan sekolah, Magu."


“Nanti pindah sekolah juga ke Jakarta.”


“Aqila sama Samprot boleh ikut pindah juga?” tanya Cahaya.


“Enggak, sayang … Mereka akan tetap disini tinggal sama orang tuanya.”


“Iya, sayang ….”


“Akha nanti temannya sama siapa?”


“Nanti kan Akha bisa main sama kakak Nala dan dedek bayinya, terus ada Haikal juga, dan di sekolah baru pasti Akha dapat banyak teman baru juga,” ucap Naz memberi pemahaman. “Kalau Akha kangen sama Aqila dan Syamsir, nanti bisa telpon mereka, ya” ucapnya lagi.


Cahaya nampak berpikir, di satu sisi ia senang bisa dekat dengan keluarganya yang selama ini selalu jauh menurutnya. Tapi ia juga sedih jika harus berpisah dengan kedua sahabatnya. Ia menunduk sambil memainkan pensil ditangannya dengan raut wajah sedih.


Naz mengisap lembut kepala putrinya. “Akha, sayang … walaupun Akha jauh dengan teman- teman Akha yang ada disini, kalian akan tetap berteman kok. Bisa telponan sama video call seperti yang sering Akha lakukan sama kakak Nala dan keluarga lainnya yang tinggal di Jakarta. Jadi walaupun jauh, akan tetap terasa dekat. Nanti kan kita bisa datang ke sini untuk liburan setelah kenaikan kelas, jadi bisa bertemu lagi,” ucap Naz memberi pemahaman pada putrinya.


“Contohnya, Magu sama onty Kiara, onty Ruby dan om Andes juga berteman sejak masih kecil. Sampai sekarang juga masih berteman, walaupun kami tinggal berjauhan. Jadi Akha sama teman- teman Akha yang ada disini juga bisa seperti itu, bisa berteman sampai besar- besar nanti. Makanya Akha gak usah bersedih ya, Akha kan anak pinter, hebat dan gak cengeng … Em, seperti siapa ya cengeng tuh?”


“Aska …”


“Ah, iya Aska … emangnya Akha mau dibilang cengeng?”


“Gak mau … Akha kan kuat, gak suka cengeng,” ucapnya tak mau dikatain. Naz dan Arfin tersenyum gemas melihat raut wajah Cahaya.


“Samprot itu siapa sih? Kok Pagu gak tahu ya,” tanya Arfin.


“Syamsir,” jawab Cahaya singkat.


“Hah? Kok dipanggil Samprot?”


“Dia juga suka manggil Akha, Cahayot”


**


Hari- hari Naz kini terasa semakin berwarna dengan kehadiran ketiga buah hatinya. Tak hanya itu, suaminya pun terkadang bersikap seperti anak kecil yang ingin dimanja dan diperhatikan seolah cemburu pada ketiga anaknya yang selalu mendapat perhatian extra dari istrinya.


Sehingga bagi Naz, punya anak tiga tapi serasa punya empat anak. Namun hal itu tak dijadikan beban olehnya, malah membuatnya merasa sangat bahagia, karena ia merasa begitu berarti bagi anak dan suami yang sangat dicintainya.


**


Satu bulan telah berlalu, Naz pun mengikuti acara wisuda sebagai penanda kelulusannya yang telah selesai menempuh pendidikan selama empat setengah tahun di universitas tempatnya mengenyang pendidikan.




Gelar Sarjana Manajemen Bisnis kini tengah disandangnya, dengan IPK 3,81. Namun ia tak ada niatan untuk bekerja, karena niatnya kuliah untuk mencari ilmu. Dan ia hanya ingin fokus pada tugasnya sebagai seorang istri bagi suaminya dan ibu bagi ketiga anaknya.




Orang tua beserta mertuanya pun turut hadir, sedangkan kakaknya yang hadir hanya Hardi dan Dandy bersama istrinya.



“Happy graduation, sayangku … semoga ilmu yang didapat memberi manfaat dalam kehidupan mu sayang,” ucap Arfin yang memberi buket bunga, kemudian ia memeluk sang istri dan mencium keningnya.


“Terimakasih … terimakasih banyak, karena Aa selalu mendukungku hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan pendidikannya. Aku juga minta maaf karena sudah banyak merepotkan mu, sering mengabaikan mu dan juga Cahaya. Tapi Aa gak pernah mengeluh sama sekali, malah terus memberiku semangat.”


“Apa pun untuk mu, sayang.”


“Makasih ….”


Satu persatu mengucapkan selamat pada Naz atas kelulusan dan prestasinya. Dan sepulang dari Aula kampus, mereka pun mengadakan syukuran kecil yang telah disiapkan oleh suami dan para ART nya tanpa sepengetahuan Naz, di rumah mereka.


Makan- makan serta BBQ-an di halaman samping bersama keluarga saja sudah sangat membuat Naz bahagia. Karena ia memang lebih suka hal sederhana, dan moment kumpul bersama keluarga membuatnya begitu bahagia.


---- Lima bulan kemudian ----


Cahaya telah menyelesaikan sekolah playgroup nya dan ia akan melanjutkan TK nya di Jakarta. Acara kenaikan kelas yang dilaksanakan lebih awal entah karena apa alasannya, menjadi momen perpisahan bagi Cahaya dan teman- temannya. Para guru dan teman- temannya memberi barang kenang- kenangan untuk Cahaya dan berfoto bersama untuk terakhir kalinya.


Cahaya yang biasanya tidak cengeng, terus menangis karena sedih akan berpisah dengan teman- teman yang selama satu tahun ini belajar dan bermain bersamanya. Apalagi dengan Aqila dan Syamsir yang merupakan sahabatnya. Ketiganya berpelukan sambil menangis, seolah akan melepas Cahaya ke medan perang.


Arfin menyewa sebuah jet pribadi untuk penerbangan mereka, sedangkan barang- barang diangkut oleh truk container. Dan setelah berpamitan pada keluarga om Aji serta Pak RT dan para tetangga, mereka pun berangkat ke bandara diantar dengan dua mobil yang dikendarai oleh Pak Udin dan Pak Uje. Nantinya kedua sopir tersebut akan membawa dua mobil tersebut ke Jakarta.


ART yang ikut pun hanya Mbak Retno bersama pengasuh si kembar, karena Mbak Jumin yang sudah tua lebih memilih tinggal di Surabaya yang merupakan tanah kelahirannya, untuk merawat rumah majikannya dengan bantuan putrinya.


Kini Naz bersama keluarganya telah tiba di Jakarta dan dijemput oleh Bu Hinda yang meminta mereka untuk menginap di kediaman beliau, sebelum mereka pindahan ke rumah baru yang Naz sendiri belum tahu rumahnya dimana dan seperti apa..


Tentunya di rumah Bu Hinda itu, mereka disambut oleh keluarga Nervan dan keluarga Atikah bersama anak- anak mereka. Tak lupa keempat orang tua Naz pun datang ke rumah Bu Hinda bersama Raline dan anaknya.


Cahaya yang awalnya malu- malu dan tak mau lepas dari Arfin, akhirnya cepat berbaur dengan para kakak sepupunya yang kebanyakan laki- laki. Padahal jika sedang melakukan video call mereka sudah sangat akrab, bahkan mereka pun memanggil Cahaya dengan sebutan Akha.


“Akha, ayo kita main di kamar ku,” ajak Syanala..

__ADS_1


“Sebentar ya kak Nala,” ucapnya kemudian ia menghampiri Naz untuk meminta izin padanya. Setelah Magu-nya memperbolehkannya, ia pun ikut bersama Syanala ke kamar yang biasa dipakai Syanala saat menginap di rumah nena nya itu.


Cahaya yang sudah beberapa kali masuk kamar itu setiap menginap di rumah nena nya, merasa tidak asing dengan kamar yang dipenuhi dengan gambar spiderman serta boneka dan aksesories spiderman itu. Mereka pun bermain boneka sambil menonton film Barbie dan spiderman.


Sementara Keanu dan Kenan yang kini sudah berusia enam bulan, begitu lucu serta menggemaskan. Dan itu membuat mereka menjadi primadona yang diperebutkan untuk di gendong secara bergilir oleh nenek serta om dan tantenya.


Rumah Bu Hinda yang biasanya sepi, kini menjadi hangat dan ramai dengan kehadiran anak, menantu serta para cucu- cucunya yang kebanyakan laki- laki. Hanya Syanala dan Cahaya lah yang menjadi duo ratu dari kesepuluh cucu yang dimiliki Bu Hinda dan Pak Latief.


Keramaian pun berlangsung hingga malam. Setelah orang tua Naz dan Raline pamit pulang, Naz bersama pengasuh masuk ke kamar untuk menidurkan si kembar.


Tak lama Arfin pun masuk ke kamar dan menghampiri istrinya yang tengah duduk di sofa kamar tidur sambil memompa ASI. “Sayang, si kembar udah tidur?”


“Udah … kayaknya mereka lelah setelah jadi piala bergilir, hehehe … oh iya Cahaya udah tidur?”


“Sudah, dia nempel terus sama Nala.”


“Pastinya, saat di Surabaya aja apa- apa kaka Nala.”


“Iya … untungnya Cahaya tidak terkontaminasi jadi maniak spiderman.”


“Hahaha, enggak lah, dia mah sukanya tedy bear sama Barbie kaya aku dulu waktu masih kecil”


“Ah, kamu juga udah besar masih suka sama tedy bear. Apalagi yang Aa kasih tuh, sampai sekarang aja masih ada. Dulu aja diambil sama Aliya aja sampai nangis..”


“Iya dong, itu kan boneka pertama yang Aa kasih buat aku.”


“Dan kamu sangat bahagia saat Aa berhasil memenangkan boneka itu dari games,” ucapnya terkekeh, lalu ia menatap manik indah sang istri dengan mengulas senyum di bibir manisnya. “ Dari situ Aa tahu, jika hal kecil dan sederhana saja mampu membuat mu bahagia.”


“Hehehe.” Naz hanya tersenyum, ia lalu menghentikan kegiatannya, kemudian menutup botol ASI yang sudah terisi dan menyimpannya kedalam cooler.


“Ganti baju gih,” titah Arfin.


“Hah? Buat apa? Orang aku baru aja mandi setengah jam yang lalu. Bajunya juga gak bau kok.” Naz mengendus- endus bajunya sendiri.


“Mumpung anak- anak udah tidur, kita keluar yuk. Udah lama gak jalan berdua, ini kan baru jam 8 malam”


“Mau kemana emang?”


“Kemana saja, yang penting kita bisa ngedate.”


“Yaelah, kayak anak abege saja, hahaha,”


“Ayo dong sayang … “


“Terus nanti kalau si kembar bangun gimana?”


“Itu kan udah ada stock susu, ada pengasuh, ART juga ada beberapa orang. Bisa kan titipin ke Mami,”


“Yasudah, aku ganti baju dulu.” Naz bangkit kemudian berjalan ke tempat ia meletakan koper pakaiannya. Ia memilih baju, celana panjang serta jaket, kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


Setelah berapa saat Naz pun keluar, ia mengambil tas lalu mencium kedua putranya yang sudah tidur lelap.


“Titip si kembar ya Mbak. Nanti mbak Retno nemenin jaga di sini, dan kalau ada apa- apa hubungin aku aja ya,” ucapnya kemudian pamit pergi.


Arfin dan Naz pun menitipkan anak- anak pada Maminya, kemudian mereka pun pergi dengan menggunakan mobil antic milik Pak Latief.


“Kita mau kemana sih?”


“Terserah, kamu pengennya kemana?”


“Aku lapar… kita ke kafe yuk. Ruby pernah bilang di daerah sekitar sini ada kafe kekinian, tapi temanya jadul. Bentar aku cari dulu di mbah gugel alamat lengkapnya,” ucap Naz kemudian membuka ponselnya.


Setelah mendapatkan alamatnya mereka pun menggunakan gugel maps untuk menuju ke tempat tersebut.



Sesampainya di sana, mereka pun memesan makanan dan makan di kafe yang berlantai dua tersebut. Mereka memilih di lantai paling atas, dan disana terdapat pula tema outdor. Namun mereka memilih makan di dalam.




Setelah selesai makan, mereka keluar untuk menikmati pemandangan kota di malam hari sambil duduk diatas meja kayu saling berhadapan. Disana hanya nampak sepi pengunjung yang lebih memilih di dalam ruangan, karena udara malam ini yang terasa dingin.


“Sudah lama rasanya tidak melihat pemandangan kota kelahiran ku ini. Dan aku tidak menyangka, kita akan tinggal di ibukota lagi,” ucap Naz dengan mengedarkan pandangannya.


“Sudah betah di Surabaya ya?” Arfin malah menanyakan hal yang sudah ia ketahui.


“He em, disana banyak sekali kenangan dari sebelum menikah sampai kita punya tiga anak.” Naz menghela nafas panjang.


“Iya, ya … rasanya baru kemarin Aa bertemu dengan mu,” ucapnya kemudian ia berdiri dan mendekat pada istrinya yang masih duduk di atas meja. Digenggamnya tangan sang istri, kemudian diciuminya punggung tangan istrinya secara bergantian.


“Terimakasih sayangku, sudah bersedia menjadi pendamping hidupku dan menjadi ibu dari anak- anakku. Bersama mu Aa selalu merasakan kebahagiaan yang tak terhingga,” ucapnya dengan menatap kedua manik indah sang istri.


Tubuhnya semakin mendekat, diangkatnya dagu sang istri. Jemarinya mulai menyentuh bibir ranum Naz, dan wajahnya semakin mendekat. Kecupan ringan dari bibirnya membawa mereka pada ciuman mesra layaknya pasangan yang tengah dimabuk asmara, tanpa memperdulikan jika mereka berada di temat umum.


Setelah tangan Arfin mulai meraba bagian sensitive, dengan segera Naz melepaskan pagutan bibir mereka.


“Kok udahan sih?” bisik Arfin protes.


“Malu ah, ini kan di tempat umum. Tangan Aa udah gerayangan kemana- mana lagi,” ucap Naz mengeluh.


“Yasudah kita pulang aja yuk, bahaya kalau si ujang bangun kan gak bisa melampiaskan disini,” ucapnya masih dalam mode berbisik, kemudian meniup telinga Naz yang membuatnya menggeliat karena merasa geli.


“Udah yuk ah pulang,” ajak Naz yang kemudian bangkit dari duduknya.


“Kamu sudah gak sabar ya, sayang. Gimana kalau kita cari hotel saja, di rumah Mami kan banyak orang.”


“Aa jangan gila deh … nanti dikira kita ini pasangan mesum.”


“Biarkan saja, suami istri mesum itu wajib hukumnya,” Arfin berdalih.


Keduanya pun memutuskan meninggalkan kafe tersebut untuk segera pulang. Dan benar saja, Arfin yang tengah melajukan mobilnya berbelok arah ke sebuah hotel bintang lima untuk melanjutkan hasratnya yang sudah mulai menggelora. Naz hanya bisa pasrah saja menuruti keinginan suaminya, karena sesungguhnya ia pun menginginkan hal yang sama.


Keduanya kini tengah terkapar lemas setelah melakukan pergulatan panas tanpa harus diam- diam atau takut membangunkan anak- anak mereka seperti biasanya.


Setelah Arfin menerima telpon, ia mengajak istrinya pulang. Namun sang istri sudah tidur pulas tanpa sehelai benang pun yang membalut tubuhnya. Ia pun memakaikan pakaian sang istri, kemudian menggendongnya dan membawa istrinya pulang.


Selama perjalan Naz tidur pulas dan saat sampai, tidurnya merasa terusik. Perlahan ia membuka matanya dengan pandangan lurus ke depan. Perasaan bingung dan aneh menghampiri dirinya, seolah ia tengah bermimpi. Saat kesadarannya mulai terkumpul, ia mengucek- ngucek matanya takutnya ia sedang berhalusinasi.


“Happy Anniversary, sayangku …” bisik Arfin di telinga Naz. ia pun mengarahkan pandangannya pada sang usami yang duduk di jok kemudi.


“Aa … dimana ini?” tanya Naz bingung.

__ADS_1


“Tempat yang sangat berarti untuk kita,” jawab Arfin yang membuat Naz semakin bingung.


__ADS_2