
Suasana taman tepi danau yang nampak sepi tanpa adanya orang yang hilir mudik ataupun hanya lewat saja seperti biasanya, terlihat dua insan yang berdiri saling berhadapan dengan jarak kira- kira tiga kilo meter ehh tiga meter maaf kejauhan, di bawah pohon rindang seakan menjadi payung yang meneduhkan mereka dari panasnya matahari di siang bolong.Tatapan bahagia, terkejut, bingung, terkesima bercampur aduk menjadi satu serasa nano-nano milky, ternyata pria sahabat pena nya di dunia maya yang selama ini dinantikan sang gadis kini telah hadir di hadapannya.
“Kak Anas,,,,,”, lirih Naz dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang dilihat dan di dengarnya.
“Iya,, akulah Anas,,, aku lah Sang ANAS,, Cahayaku,,,”, ucap pria itu dengan lemah lembut, lalu ia melangkah dengan perlahan dan meninggalkan mainannya di atas bangku “Aku lah Anas yang tujuh tahun lalu bertemu dengan mu di tempat ini, akulah Anas yang memberikan salah satu be smile ku untuk menghibur mu dikala sedih, akulah Anas yang selalu mendengar cerita kesedihanmu dan keluh kesahmu saat kau mengupload foto be smile di beranda mu, dan Akulah Anas yang sudah memberimu janji untuk bertemu di tempat ini enam bulan yang lalu, namun tak mampu untuk menepatinya,,, maafkan aku Eleanoor,, maafkan aku cahayaku,, aku tidak tahu kalau kau selalu menantikan kehadiranku di tempat ini”, ucapnya menundukkan kepalanya yang saat ini ia berada tepat di hadapan Naz.
Naz masih tidak percaya bahwa orang yang selama ini ia nantikan benar- benar ada di hadapannya, air matanya terus mengalir membasahi pipinya, “Jadi,, selama ini,, orang yang ku nantikan ternyata begitu dekat dengan ku, hiks hiks hiks …”, ucap Naz yang masih terkejut, ”Lalu kenapa Kakak tidak pernah datang?”.
“Saat aku pulang, Mami sakit keras dan harus segera dioperasi, saat itu aku terus menemaninya karena aku takut jika harus kehilangannya, karena selama tujuh tahun aku selalu jauh darinya, dan aku tidak bisa menghubungimu bahkan tidak bisa menemukan akun mu,, aku kembali ke tempat ini dua minggu kemudian dari waktu yang ku janjikan, aku datang setiap pulang kerja tapi tidak pernah menemukan mu, aku tidak tahu jika gadis itu adalah kamu Naz, ternyata Eleanoor itu adalah kamu, gadis yang sangat aku cintai”, ucapnya lalu menggenggam lembut kedua tangan Naz.
“Naz,, perasaanku masih sama terhadapmu, aku mencintaimu lebih dari apa pun, aku sudah berusaha melupakanmu menghilangkan mu dari pikiran dan hatiku, tapi aku tidak bisa, perasaanku malah semakin besar, semakin sulit untuk dihapuskan”, ucapnya dengan menatap kedua manik indah Naz yang masih berlinang air mata.
Naz menggelengkan kepalanya, “Aku gak bisa Kak,, aku gak bisa,, hiks hiks hiks”, ucapnya dengan air mata yang masih mengalir tanpa henti.
“Naz,, aku tahu alasanmu menolak ku,, Ruby dan Kiara sudah menceritakannya padaku,,, tolong berhentilah memikirkan orang lain, pikirkan kebahagian mu juga, aku tidak perduli dengan identitas mu atau apalah itu, bagiku kau adalah gadis yang sangat istimewa yang mampu menduduki tahta tertinggi di istana hatiku, kau adalah matahari yang yang cahayanya selalu menyinari hidupku, kau adalah rembulan yang cahayanya selalu menerangi malam ku, kau adalah bintang yang cahayanya selalu berkelap- kelip menghiasi sepinya malam ku, kau adalah keceriaan yang menghapus kesedihanku, kau adalah semangat yang mengobati kerapuhan ku,kau adalah segalanya bagiku, Naz ”, ucapnya yang masih menggenggam lembut tangan Naz, lalu ia berlutut di hadapan Naz.
“Naz,, di tempat ini, di tempat pertama kali bertemu, di tempat yang selalu memberi ketenangan bagiku, di tempat kau selalu menantikan ku, aku ingin menjadikannya saksi ungkapan perasaan lelaki yang banyak kekurangan ini padamu”, ucapnya lalu menghela nafas panjang sejenak lalu menatap pada kedua manik indah Naz, “Naz, aku mencintaimu melebihi apa yang bisa ku ucapkan, aku mencintaimu melebihi tindakan yang bisa ku lakukan, aku sungguh mencintaimu melebihi apapun itu, mencintai segala yang ada pada dirimu, kebaikanmu, kesederhanaan mu dan kelembutan hatimu, aku mencintaimu dari lubuk hatiku yang terdalam, aku mencintaimu sebagai Rheanazwa, aku mencintaimu sebagai Eleanoor, aku mencintaimu cahayaku,,,, maukah kau menerima cintaku “, Arfin kembali mengungkapkan perasaanya pada Naz dan menunggu jawaban darinya.
Naz yang masih terus dibanjiri air mata terdiam sejenak menatap dalam pada mata Arfin, lalu ia pun menganggukkan kepalanya berkali- kali, “Iya,,, iya,,, iya,,,hiks hiks hiks,, aku mau, aku juga sangat menyayangimu sepenuh hatiku, aku juga sangat mencintaimu sepenuh jiwaku, aku selalu merindukanmu saat kau jauh dariku, bayanganmu selalu memenuhi pikiranku, aku juga mencintaimu lebih dari apapun Kak Arfin”, ucapnya tersenyum bahagia disela tangisannya.
Arfin pun sama halnya dengan Naz, ia tersenyum bahagia mendengar jawaban dan ungkapan perasaan dari gadis pujaan hatinya itu, “Terimakasih Naz,, terimakasih cahayaku..”. ucapnya lalu mencium punggung kedua telapak tangan Naz secara bergantian dan ia pun berdiri melepaskan genggaman tangan Naz, mereka saling melempar senyum kebahagiannya bak dua insan yang tengah dimabuk cinta, kemudian Naz pun langsung memeluk pria yang sangat dicintainya itu dan Arfin pun membalas pelukannya,,, ciee berpelukaaaaannn uwuuuww.
Arfin membisikan sesuatu pada telinga Naz yang masih anteng dalam pelukannya, “I love you so much”, ucapannya membuat Naz melepaskan pelukannya secara perlahan.
“I love you much more”, Naz menjawab tertunduk malu di sela sesenggukan nya.
Arfin mengangkat wajah Naz yang tertunduk, lalu ia menghapus air mata yang membasahi pipi Naz dengan menyisirkan kedua jari jempolnya, “Aku tidak akan mengizinkan air mata kesedihan keluar dari manik indah mu ini,,, dan hanya boleh ada air mata kebahagiaan saja”, ucapnya lalu Naz meringis seolah merasakan sakit saat tangan Arfin tanpa sengaja menyentuh tulang pipinya, “Apa ini masih sakit??,, maafkan aku karena membela ku, kamu ditampar oleh ibu dan anak itu,, aku akan memuat perhitungan dengan mereka yang berani melukaimu seperti ini”, ucapnya berkaca- kaca.
“Jangan,,, biarkan saja mereka,,,, bukankah Kakak yang mengajariku jika ada yang berbuat jahat balaslah dengan kebaikan dan senyumin saja atau anggap mereka itu seperti kentut”, ucap Naz
“Hahaha,,, Naz kau merusak momen romantis kita saja”, ucapnya menertawakan perkataan terakhir Naz.
“Aaahhh,,, kok malah ngetawain aku sih,, emang gitu kok,, Kakak ngomong gitu kok dulu”, ucap Naz merajuk dan melangkah menjauhi Arfin.
“Uluh- uluh,,, sini sayang”, ucap Arfin menarik tangan Naz pelan Arfin lalu ia kembali memeluk gadis pujaan hatinya itu dan ia menghela nafas lega, “Terimakasih,,, terimakasih untuk segalanya,, aku merasa lega, akhirnya kita bisa bersatu setelah mengalami beberapa hambatan”, ucapnya mengusap- usap pucuk kepala Naz.
“Kak Arfin,,,” ucap Naz yang masih berada dipelukan Arfin.
“Hemm,,, kenapa?”, tanyanya.
“Apa ini artinya kita sudah jadian ya?”, Naz bertanya dengan polosnya.
“Hahahahha,,,”, Arfin malah tertawa dengan renyahnya.
“Iih,,, “, Ucap Naz kesal dan memukul dada Arfin.
__ADS_1
“Aduh ,,ampun,,, hahaha”, ucapnya kembali tertawa, “Naz, kau membuatku seolah menjadi faedofil yang baru saja menyatakan cinta pada anak SD,, hahhaa”.
Naz langsung melepaskan pelukannya dan kembali merajuk, “Iihh,, yasudah kutarik lagi kata- kata ku kalau aku gak menerima cin,,,,”, belum selesai Naz berbicara, Arfin langsung menempelkan jari telunjuknya ke bibir manis Naz sebagai tanda menyuruhnya diam.
“Ssstttt,, kata- kata yang sudah keluar sebelumnya tidak bisa ditarik lagi,, bukankah gadis yang baik itu yang bisa dipegang kata- katanya dan bisa mempertanggung jawabkan kata- katanya”, ucap Arfin tersenyum jahil, sedangkan Naz menampakan wajah cemberutnya. “Iya iya,,, kita ini baru saja jadian Nona Rheanazwa Eleanoor Harfi kekasih pujaan hatiku yang cantik dan baik hati rajin menabung tidak pernah sombong serta jahilnya minta ampun”, ucapnya terkekeh gemas melihat Naz yang tadinya cemberut kini nampak ingin tersenyum tapi malu- malu kucing dan menundukkan kepalanya.
“Gombal,,,”,ucapnya.
“Geuleuh ya kalo di gombalin”, Arfin malah menggoda Naz dan mereka pun tertawa renyah, “Udah yu kita duduk di sana,, kasihan be smile sendirian tuh jadi terlantar di sana ”, ucap Arfin mengajak Naz berjalan ke arah bangku dan mereka pun duduk di sana. “Ini milikmu,, tadi jatuh saat Ruby mengambil ponsel dari tas kamu,”, Arfin menyodorkan be smile yang diambilnya dari atas bangku.
“Kenapa Kak Arfin baru menyadari kalau aku ini Eleanoor, bukannya dulu pernah mengambilkan raport ku di sekolah, emang gak dibaca namanya?”, tanyanya penasaran.
“Hehe,, iya ,, aku memang bodoh tidak bisa menyadari itu, sebenarnya saat di bandara awal kita bertemu aku melihat tatapan matamu yang mengingatkan ku pada seseorang yaitu tatapan mata anak SD yang menangis disini 7 taun yang lalu, kemudian saat kamu mengatakan kalimat bijak yang menenangkan ku saat aku merasa malu dengan keadaanku di mall dulu seolah kamu mengembalikan kata- kata yang pernah ku ucapkan pada Eleanoor saat ia merasa terpuruk karena malu dengan identitasnya. Aku terlalu fokus dengan perasaanku padamu sehingga aku melupakan bahwa kisah hidup mu sama dengan kisah Eleanoor, bahkan saat aku mengambil raport mu aku pun hanya fokus padamu yang nampak begitu senang padahal sebelumnya kamu nampak sedih karena ketidak hadiran Ayah Bunda mu di sana, aku pun tak melihat nama yang tercantum di sampul raport mu”, Arfin pun menjelaskan.
“Ternyata takdir ini begitu lucu, aku pun merasakan hal yang sama saat aku menangis di sekolah Kakak menghampiriku dengan mengatakan hal yang sama dengan kalimat yang pertama kali pernah Kakak lontarkan padaku,, Dek kamu kenapa kok menangis sendirian di sini,,, dan aku pun langsung memelukmu yang begitu memberiku rasa nyaman, entah mengapa sejak saat itu setiap bersamamu aku selalu merasa nyaman seolah sudah kenal lama padahal kita baru bertemu beberapa kali”, Naz pun baru menyadari.
“Dan aku sangat berterima kasih kepada Bude, Dandy, Kiara dan Ruby,, kalau bukan karena mereka aku tak kan pernah mengetahui secepat ini”, ucap Arfin.
“Maksudnya?”, Naz bertanya heran.
“Kemarin saat kamu tertidur di panti, Bude bercerita padaku bahwa kamu selalu datang kemari untuk menenangkan diri dan menunggu kedatangan seseorang yang sudah memberi janji padamu yaitu sahabat di dunia maya mu yang beberapa bulan lalu datang dari luar negeri. Dan tadi saat aku pergi meninggalkan rumah mu, Kiara beserta Ruby mengikuti ku lalu memintaku berhenti dan turun dari mobil, mereka menceritakan alasan kamu menolak ku karena kamu tidak mau membuatku malu dengan identitas mu, saat mendengar itu aku merasa sangat bersalah sudah menuduh mu yang tidak- tidak, dan mereka mengajakku menemui mu,”, ucapan Arfin terhenti sejenak karena mengingat kesalahannya pada Naz.
“ Namun saat kami sampai dan masuk ke rumah kami melihat Dandy sedang melihat- lihat beberapa album foto masa kecilnya untuk kebutuhan prawed katanya, kulihat di atas meja ada fotokopi kartu keluarga, dan aku iseng membacanya, disaat melihat nama lengkap mu mengingatkan ku pada Eleanoor, lalu Ruby memperlihatkan foto masa kecilmu, aku sangat terkejut dan tidak percaya melihatnya, ditambah dengan adanya be smile yang tak sengaja jatuh saat Ruby mengambil ponsel dari dalam tas mu, semakin meyakinkanku bahwa kamu adalah Eleanoor,, cahayaku,, tanpa pikir panjang aku langsung ke sini, karena aku tahu jika kau sedang sedih pasti akan datang kesini,, maafkan aku Naz,, maafkan aku sudah menuduh mu yang tidak- tidak, saat itu aku sangat cemburu aku takut kamu dipermainkan olehnya, karena cintaku begitu dalam padamu”. ucapnya lalu menundukkan wajahnya.
Naz memegang tangan Arfin yang duduk di sebelahnya,“Kak,,, terimakasih sudah memberiku cinta yang begitu besar, terimakasih sudah banyak berkorban untukku, aku juga minta maaf sudah melukaimu dengan mengatakan aku tidak punya perasaan apa- apa dan hanya menganggapmu sebagai kakak ku,,,” ucapnya yang kembali meneteskan air mata.
“Sapu tangan ini,,, ini sapu tanganmu juga Kak,,,?”, tanyanya lagi.
“Iya,,, aku selalu membawa sapu tangan di saku celanaku, dan itu menjadi kebiasaan ku sejak kecil”, Arfin menjawab degan melempar senyuman.
“Kenapa,, kok aneh cowok suka bawa sapu tangan, apa waktu kecil Kak Arfin sering ingusan ya”, Naz bertanya dengan polosnya.
“Astaga,,, kamu baru saja menjadi pacarku beberapa menit yang lalu sudah berani memfitnahku, hemm “, ucapnya mencolek hidungnya Naz lalu tersenyum padanya, ”Sejak kecil aku selalu aktif bermain sampai berkeringat banyak, dan pernah suatu hari keringatnya masuk ke mataku sampai mataku sakit, akhirnya Mami memberiku saputangan, karena sering hilang atau diambil anak lainnya akhirnya Mami memesan banyak sapu tangan dengan bordiran huruf A disalah satu sudutnya, supaya gak tertukar sama punya anak lain,,, bukan karena aku sering ingusan ih,, aku tidak sejorok itu sayang”, ucapnya menjelaskan sejarah si sapu tangan berlabel A.
“Apa,,, tadi bilang apa?”, Naz berusaha menggoda Arfin.
“Bilang apa apanya?”,Arfin malah balik bertanya karena heran.
“Tadi kalimat terakhir bilang apa?”, Naz bertanya kembali.
“Bilang jorok maksudnya?”, ucap Arfin mengingat kata terakhirnya tadi.
“Bukan,,, tadi yang terakhir”, ucap Naz memberi clue.
“Sering ingusan?”, Arfin menjawab dengan bingung.
__ADS_1
“Iiih,,, bukan,, tadi yang terakhir”, ucap Naz yang sudah merasa gregetan.
Arfin mengingat- ingat perkataannya lalu tersenyum jahil, “Yang terakhir mana,, aku gak ngerti,, emang yang terakhir aku bilang apa?”, Arfin malah balik menggoda.
“itu tadi bilang sayang,,, ehhh”, Naz keceplosan.
“Hahahahaha,,, iya aku juga sayang kamu”, ucap Arfin tertawa penuh kemenangan.
“Iiihhh,,, nyebelin tahu gak”, ucap Naz lalu cemberut.
“Kamu gemesiin tau gak,,, hahahhaa”., Arfin malah terus menggodanya,”Oh iya, dulu aku merasa heran saat kamu mengompres kan es batu ke bekas tonjokan Arsen di wajahku, bagaimana bisa salah satu sapu tanganku ada sama kamu?”, tanyanya lagi.
“Oh itu,,, aku menemukannya tergeletak di bawah bangku ini,,,dan emm dulu aku juga pernah melihatnya di jok mobil Bang Evan”, ucapnya dengan hati- hati.
“Oh,, jadi kamu pernah jalan sama dia?”, tanya Arfin yang tiba- tiba berubah menjadi kesal.
“Eh,,, bukan gitu,,, emmm itu loh saat aku dan geng ku makan- makan setelah pembagian raport,, karena Pak Udin belum jemput jadi Bang Evan yang kebetulan bertemu di sekolah menawarkan diri mengantar kami, terus dia maksa nganterin aku pulang, pas aku mau turun aku nemuin sapu tangan itu,,,, emm ko bisa ada di sana ? ”, Naz kembali bicara dengan hati- hati, kaena masih trauma takutnya dia akan menghajar Nervan lagi seperti tadi.
“Oh,,, gitu,, hari itu aku minta dia mengantarku ke kantor mengambil mobilku,, sepertinya itu terjatuh saat aku hendak memasukannya kembali ke saku celana ku”, ucap Arfin menjelaskan.
“Oh,,,pantesan…. Terus kenapa waktu aku pulang menjenguk Kak Arfin dari rumah sakit, be smile ada di tas di dalam mobil Bang Evan”, Naz mempertanyakan soal be smile.
“Karena saat aku pulang dari Bandung dia yang mengantarkan ku ke rumah sakit, dan tas ku tertinggal di jok mobilnya,,,”, ucapnya kembali menjelaskan, “ Tunggu…Kamu sebenarnya berapa kali sih pernah diantar pulang sama dia?,,, dia ngomong apa aja sama kamu,, ? jangan percaya sama semua bualan dan omong kosongnya, itu cuma taktik buat menaklukan gadis- gadis yang didekati nya ",Arfin nyerocos dengan nada kesal.
“Yasalam,,, aku musti jawab apa ini,, kalau dia tahu aku sering diantar ke sekolah oleh Bang Evan bisa bahaya ini,, baru aja jadian bisa langsung cerai ini mah, belum lagi kalau dia tahu selama ini aku mengira Bang Evan itu Kak Anas,, talak tiga ini mah talak tiga yasalam,,,,,”, Naz menggerutu dalam hatinya.
“Hei,, kok gak dijawab sih? Malah melamun”, ucapan Arfin langsung membuyarkan lamunan Naz.
“Apa,,, gimana??”…. krukkk krukkk,,, tiba- tiba terdengar suara yang ternyata bersumber dari perut Naz,”Hhehehe”, Naz malah cengengesan.
“Kamu lapar ?”, tanya Arfin dengan suara lembut.
“Iya,,,,hehehe,, kan kalau udah nangis tenagaku habis terkuras”, Naz menjawab sambil cengengesan.
“Hmmmm,,, dasar kamu ya,,, ayok kita pergi”, ucapnya lalu berdiri dan meminta Naz menggandeng tangannya, kemudian mereka pun berjalan bergandengan sambil tersenyum sesekali saling melirik satu sama lain dan Naz pun bergelayut manja pada lengan Arfin layaknya dua sejoli yang tengah dimabuk cinta, jalanan pun serasa milik berdua, yang lain ghoib. Gak tau aja mereka kalau nyi kun-kun, dedemit, gunderewo, janggawarong, pada ngintip dan iri melihat kemesraan mereka.
---------- TBC ------------
************************
Akhirnya sampe juga ke part ini,,, sudah cukup penyiksaan Naz nya,,, sekarang serasa bucat bisul.... hihihi
Happy Reading😉😘😘😘
__ADS_1