
Suasana kantin nampak ramai dipenuhi para murid yang hilir mudik silih berganti untuk membeli makanan alias jajan dan sebagian makan di tempat di meja dan bangku yang disediakan namun jumlahnya terbatas, sehingga murid yang tercepatlah yang bisa kebagian duduk di sana, kadang ada yang berjongkok atau pun berdiri memakan jajanannya sambil berkumpul dengan temannya. Adapun menu jajanan standar yang ada di kantin sekolah mulai dari baso, cilok, batagor, siomay, mie ayam, aneka jus dan minuman seduh, tak lupa segala macam gorengan seperti mendoan, pisang aroma, gehu, bala- bala, risoles, cireng dan lain sebagainya. Tak jarang ada murid yang nakal jika membeli gorengan suka Darmaji alias dahar lima ngaku hiji ( makan lima ngakunya satu). Jangan ditiru ya itu merugikan penjual loh.
Di satu meja ada yang menarik perhatian yaitu tempat dimana the bontot unyu berkumpul duduk di sana yang terlihat sedang menertaawakan dan menggoda Naz akibat voice note yang tak sengaja ia tekan dan hasil rekamannya terkirim pada pria yang tengah menjadi topik pembicaraan ke empat orang tersebut.
“Diam kalian,,, gak lihat apa orang- orang pada ngelihatin kita gara- gara kalian tertawa seperti itu?”, ucap Naz kesal.
“Biarin, , biar kita famous”, Ruby malah semakin tertawa.
“Kalian ko malah nertawain gue sih, bukannya berduka ,, sahabat macam apa kalian tertawa di atas penderitaan gue”, ucap Naz semakin kesal.
“Berduka apa nya,, ya kalo udah jadian mah namanya bukan berduka tapi bersuka cita riang gembira syalalala, Naz”, ucap Andes dengan nada manja nya.
“IIihh,,, kalian ya,, gak ada yang namanya jadian- jadian “, ucap Naz semakin kesal, lalu bangun dari duduknya, ”Gue ke kelas duluan ah,, sebal”, Naz pun bergegas pergi meninggalkan kantin dan kembali ke kelasnya, kemudian diikuti oleh ketiga sahabatnya.
Setelah jam istirahat berakhir, prosesi pembelajaran pun kembali dilanjutkan, sepanjang jam pelajaran Naz tidak bisa fokus karena kepikiran soal insiden voice note tadi, Naz terus menggerutuki dirinya sendiri sambil sesekali melamun, dan tak terasa bel pun berbunyi yang menandakan jam pelajaran berakhir, kemudian para murid dan guru- guru pun bergegas pulang.
Sepulang sekolah Naz menghubungi Bunda nya meminta izin untuk pergi ke panti asuhan kasih ibu, dan beliau pun mengizinkannya. Naz berkunjung ke panti hanya beberapa saat saja, setelah berbincang dengan Bude kemudian Naz pergi ke taman danau berjalan seorang diri ke sana. Setibanya di taman, Naz melihat seorang pria tengah duduk di kursi besi yang menghadap ke danau, lalu Naz pun menghampirinya dengan langkah perlahan.
“Bang Evan,,, ngapain di sini,,, emangnya gak kerja ?”, tanya Naz .
“Menenangkan diri”, Nervan menjawab dengan singkat tanpa melepaskan pandangan dari danau di hadapannya.
“Ada apa dengan Bang Evan,,, biasanya dia suka banyak cingcong, kenapa jadi pendiam begini?”, uman Naz dalam hati dan ia pun ikut duduk di sebelah Nervan dan memandang ke arah danau, ia pun ikut terhanyut dalam lamunan masih memikirkan voice note tadi, dan tiba- tiba terlintas di pikiran Naz, “Eh,, kenapa aku tidak tanya- tanya soal kebenaran Kak Anas adalah Bang Evan ya…?”, Naz kembali bergumam dalam hatinya.
“Bang Evan...”, panggilnya.
“Hmmmm”, Nervan hanya menyahut saja.
“Abang kenapa?”, Naz mulai bertanya karena merasa heran.
“Gak apa- apa”, Nervan menjawab singkat masih mode pandangan ke danau.
“Kok gak kayak biasanya?”, Naz kembali bertanya, “Emm,, kalo Abang ada masalah, Abang boleh kok cerita sama aku, mungkin aku bisa bantu”, lanjutnya basa- basi.
Nervan menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya dengan kasar, “Naz,, apa kamu pernah membenci seseorang?”, tanyanya.
“Kalo benci gak pernah, kalau kesal sering,, hehehe,, Bunda bilang jangan pernah menanam kebencian dan rasa dendam di hati kita, karena itu hanya akan membuat kita menjadi orang yang berprasangka tidak baik dan selalu diliputi kegelisahan tanpa ada rasa tenang di hati, memaafkan dan mengikhlaskan adalah jalan terbaik meski itu sulit Bang”, Naz menjawab panjang lebar.
“Meski itu adalah keluarga atau orang tua sendiri?”, Nervan kembali bertanya.
“Tentu Bang…. Membenci keluarga yang nanti efeknya bisa memutus tali silaturahmi, dalam agama juga dilarang kan. Sebaik- baiknya teman atau sahabat, tidak akan seperti keluarga yang memiliki ikatan darah dengan kita Bang, apalagi dengan orang tua, janganlah bermusuhan dengan mereka karena pengorbanan mereka sangat besar untuk kita anak- anaknya, jangan sampai jadi anak durhaka Bang. Jika orang tua ada salah sama kita, ya kita boleh kan mengingatkannya karena manusia itu tempatnya salah dan lupa, biasanya kemarahan orang tua tanda kasih sayang dari mereka namun cara penyampaiannya saja yang berbeda, jika kita sebagai anaknya berbuat salah juga pasti mereka memaafkan kita karena kasih sayang jauh lebih besar dari segalanya”, Naz menuturkan pendapatnya.
“Seandainya kita bisa memilih dilahirkan oleh siapa ya....”, ucap Nervan dengan tatapan kosong ke arah danau.
Naz langsung mengalihkan pandangan ke arah Nervan yang duduk di sebelahnya,” Maksud Bang Evan?”, tanya Naz merasa heran, namun yang ditanya malah diam tanpa kata, “Bang, aku pun dulu pernah berpikiran seperti itu, kenapa aku tidak dilahirkan dari rahim Bunda kenapa harus dari wanita lain, tapi itu semua sudah menjadi ketentuan Yang Maha Kuasa, lahir, rezeki, jodoh, mati sudah ditetapkan semenjak pertama kali roh ditiupkan saat kita masih di dalam kandungan, itulah yang dinamakan takdir Bang. Takdir setiap manusia itu berbeda- beda dan kita tidak bisa merubahnya, belajar menerima dengan ikhlas dan tetap selalu bersyukur akan lebih baik Bang dari pada meratapi dan menyalahkan takdir, nanti Abang menjadi orang yang merugi karena kufur nikmat, ujung- ujung nya stress,, masa ganteng- ganteng nantinya gila”, ucap Naz panjang lebar.
Nervan tersenyum simpul, “Ternyata kamu selain cantik dan cerdas, bisa ceramah dan berkata bijak juga ya Naz,, tapi jangan doa in Abang gila juga kali”, ucapnya.
“Berdasarkan pengalaman juga sih,,,, Dulu seseorang bilang padaku kalau aku ini beruntung karena punya orang tua double jadi kasih sayang yang aku dapatkan pun makin banyak,,,”, ucap Naz sambil melirik Nervan karena ingin melihat ekspresinya, tapi malah biasa saja. “Ya makanya jangan diratapi terus, dibawa happy aja biar gak jadi gila”, lanjut Naz.
“Kamu benar cantik, namun saat kena masalah jadi double pula,,, asal gilanya karena kamu aja Abang rela ,,,hahaha”, ucapnya tertawa.
“Hemm,,, sepertinya Bang Evan sudah lebih baik, karena sekarang sudah bicara nyeleneh lagi”.ucap Naz .
“Kamu memang gadis yang unik dan mengagumkan Naz”, Nervan memuji.
__ADS_1
“Baru tahu ya,,, banyak yang bilang seperti itu termasuk……. “, Naz tidak melanjutkan kata- katanya.
“Termasuk Abang ya,,, terus kapan kamu mau menerima cinta dan jadi pacar Abang Naz?”, pertanyaan dejavu.
Naz menghela nafas panjang dan memberi tatapan jengah, “Aku kan udah pernah bilang Bang tempo hari,,,ihh lagi gegana aja Bang Evan masih aja bisa ngebahas itu “, Ucap Naz kesal.
“Hahaha,,, iya iya deh,, gegana apa itu?”.
“Gegana itu gelisah galau merana,, aku kira Abang tuh habis diputusin pacarnya sampe sesedih itu,, hahaha” , Naz mendapat celah menertawakan Nervan.
“Mana ada Abang diputusin”, Nervan menyangkal.
“Iya deh,, gak pernah diputusin tapi di tolak sering”, ucap Naz ngasal.
“Gak ada Naz,, cuman kamu yang nolak Abang,, berkali- kali lagi,, untung Abang gak gantung diri di pohon toge juga”.
“Lebih baik di pohon durian lebat Bang, biar pas menggantung sekalian kepalanya ketiban buah durian,, kalo gantung diri jangan tanggung- tanggung Bang “, Nasehat aneh.
“Ya ampun Naz, kamu tuh sering banget nyumpahin Abang,, jahara kamu ya?", ucap Nervan.
“Hahahaha,,, ngomongnya bahasa bencong alay,, geuleuh ih”, Naz bergidik geli.
“Geleh itu apa?”, tanya Nervan heran.
“Bukan geleh tapi geuleuh,,, itu bahasa Sunda artinya jijay”, Naz menerangkan.
“Bahasa Sunda itu susah ya ngomongnya, nyerah deh jangan ngomong sunda sama Abang Naz”.
“Iya iya deh,, gak nyangka ya seorang bang Evan yang nyeleneh bisa mellow juga kaya tadi”, Naz membahas kondisi Nervan tadi.
“Abang juga manusia, cantik….punya sisi mellow nya juga, tapi cuman kamu doang yang pernah lihat Abang kayak gini,, yang lain mah tahu nya Abang orangnya selalu happy”, ucapnya.
“Berarti itu ciri- ciri kita ini berjodoh”.
“Dih ngarep.com,,,”, ucap Naz jengah.
“Amiin”, Nervan malah mengamini.
“Apaan sih Bang ih… udah ah aku mau pulang, kelamaan ngobrol sama Abang bisa stress aku”.
“Yasudah ayok Abang antar,, “ , Nervan menawarkan diri.
“Gak usah Bang, aku sama Pak Udin,,,”, Naz, menolak.
“Gampang lah, Pak Udin suruh pulang aja”, Tetap maksa.
“Yahh,, terserah lah,, percuma ditolak juga pasti maksa”, Naz pun menyerah.
“Hahaha,, kau sudah sangat mengenal Abang rupanya ya”, ucap Nervan penuh percaya diri.
Mereka berdua pun akhirnya pulang bersama karena Naz malas untuk berdebat dengan Nervan, dan tujuan Naz, mengorek informasi Anas pun teralihkan dengan candaan mereka.
Semenjak hari itu Naz merasa mereka memiliki kesamaan dan ia pun menjadi sering berkomunikasi dengan Nervan, setiap berangkat sekolah selalu diantar, sedangkan Arfin semenjak menerima voice note dari Naz menjadi jarang menghubungi Naz, mungkin itulah salah satu penyebab Naz menjadi dekat dengan Nervan.
Naz POV
__ADS_1
Kak Arfin…. Nama itu kini seakan tengah bersemayam menjadi penghuni di hatiku, semakin hari kami semakin dekat meski intensitas bertemu sangatlah jarang apalagi semenjak ia bertugas di Surabaya dan perasaanku padanya serasa semakin mendalam, walaupun aku tidak tahu sebenarnya apa nama hubungan kami ini, entah TTM kah entah pacaran kah, entahlah yang pasti aku selalu nyaman dengannya. Bahkan saat aku dikurung di ruang musik tempo hari hanya namanya yang ku ingat dan yang terus ku ucapkan meski di alam bawah sadar ku. Entah ini yang dinamakan ikatan batin atau kah hanya kebetulan saja dia bisa menemukanku saat itu.
Begitu banyak kebaikan dan pengorbanan yang selalu ia berikan padaku, membuat ku semakin meleleh dan aku pun tidak peduli jika aku sudah masuk ke dalam kategori bucin, karena memang aku mencintainya, selalu merindukannya bahkan aku selalu marah serta kesal jika dia didekati wanita manapun, apalagi wanita kecentilan macam Nadine teman sekolahnya dulu dan Bu Riyanti guru di sekolahku yang menyukai Kak Arfin-ku. Pokoknya dia hanya milikku dan hanya untukku, mungkin terdengar aneh tapi ya itulah yang kurasakan.
Aku ingat saat aku dirawat akibat insiden itu, Kak Arfin tidak datang menjengukku bahkan tidak menghubungiku sama sekali padahal dialah satu- satunya yang paling ku nanti kedatangannya, sehingga saat dia menghubungiku aku pura- pura marah agar dia mau datang, dan pancinganku pun berhasil, dia datang mengobati rasa rinduku yang begitu besar. Kami menghabiskan waktu berdua, berbicara secara tatap muka sambil dia menyuapi ku, dan entah apa yang merasukinya tiba- tiba ia minta dipanggil Aa. Aku yang awalnya merasa geli memangilnya Aa, lambat laun itu sudah menjadi panggilan kesayangan ku pada dirinya sampai sekarang.
Semenjak aku tanpa sengaja mengirim voice note yang mengatakan bahwa aku menyayanginya dan akan menunggunya, sudah beberapa hari ini ia tak ada menghubungiku, tentunya itu membuat ku bertanya- tanya, apakah dia tidak memiliki perasaan sama dengan ku ?, ataukah dia menolak perasaanku padanya, apakah dia sedang menghindari ku untuk menjauhi ku ?, apakah aku terlalu percaya diri ?, berbagai spekulasi negatif seakan memenuhi isi kepalaku dan membuatku merasa ada yang hilang karena biasanya setiap malam kami selalu rutin berkomunikasi. “Aa,,, aku rinduu padamu,,, aku rindu,,, benar katamu, kalau rindu itu berat”, Aku hanya bisa mencurahkan rasa rinduku pada kedua boneka tedy bear pemberiannya.
Di satu sisi aku sangat merindukan Kak Arfin yang membuat ku gegana setiap malam, namun dengan hadirnya Bang Evan yang sekarang selalu berkomunikasi denganku, sedikitnya bisa mengalihkan rasa sedihku. Setelah ku ketahui ternyata Bang Evan seakan memiliki kesamaan denganku, yakni kami selalu memendam kesedihan dan menyembunyikannya di dalam keceriaan yang selalu ditunjukan pada semua orang, keyakinan ku bahwa ia adalah Kak Anas sudah semakin terbukti, hanya saja aku tak tahu perasaan macam apa yang kurasakan pada Kak Anas ini. Setiap hari dia selalu mengantarku ke sekolah, bahkan kami pernah beberapa kali pergi makan di luar bersama.
Dua minggu telah berlalu, Kak Arfin benar- benar hilang tanpa kabar bak ditelan bumi, tak pernah menghubungiku dan aku pun terlalu gengsi untuk menghubunginya lebih dulu padahal hati sudah sangat merindu. Hari ini seperti biasa aku berangkat ke sekolah diantar oleh Bang Evan tentunya dengan bercanda ria selama perjalanan karena kata- kata nyeleneh nya.
Saat jam istirahat tiba ada Pak Diman datang ke kelasku mengatakan bahwa ada seseorang menungguku di dalam gedung aula untuk masalah penting, karena aku merasa trauma jika pergi sendiri, aku mengajak ketiga sahabatku untuk mendampingiku.
“By, Des, Ra,kata Pak Diman ada yang nungguin gue di gedung Aula…”, ucap ku memberitahu.
“Siapa… ?” mereka bertanya serentak.
“Gak tahu sih, orang Pak Diman cuman bilang ada yang nungguin gue di aula untuk masalah penting,, dan gue gak mau datang sendirian,, makanya ngajakin kalian”, ucapku.
“Yasudah ayok kita lihat bareng- bareng siapa orang itu,, awas aja kalo ada yang mau ngerjain lo,, gue pites orangnya”, ucap Kiara.
Kami berempat bergegas pergi menuju aula dan sesampainya di sana kami pun masuk, namun di dalam ruangan itu nampak sepi tidak ada orang.
“Naz, ko sepi gini”, tanya Kiara.
“Iya ihh,, kayaknya emang niat ngerjain lo deh”, Ruby menebak- nebak..
“Eh tunggu,, apa ini”, Andes bertanya karena menemukan sesuatu di lantai dan mengambilnya.
“Ini bunga mawar merah Des,, eh tuh lihat di depan juga ada lagi”, ucap ku dan menunjuk ke arah depan.
“Iya,, mungkin orang itu pengen ngasih petunjuk arah,, dikira lo itu Dora kali ya karena sama- sama di poni ”, Ruby kembali menebak.
Dan benar saja kami menemukan bunga mawar itu di lantai yang berjarak sekitar satu meter dari satu bunga ke bunga yang lainnya, akhirnya kami pun berjalan sesuai dengan petunjuk arah bunga tersebut hingga sampailah di depan panggung tembok yang ditutup tirai. Saat kami berada di depan panggung, tirai itu dibuka, dan betapa terkejutnya aku di atas panggung sana dihiasi dengan beberapa buket bunga mawar merah dan pink yang di letakan di tiap kursi yang dijejerkan memanjang serta balon- balon cinta yang mengapung dengan tali yang diberi pemberat di bawahnya, di dinding panggung terdapat balon huruf yang bertuliskan “I LOVE U RHEANAZWA”, di lantai panggung nya dipenuhi kumparan bunga dan diletakan lilin- lilin di bentuk lambang cinta.
“Naz, lo mau di tembak ini”, ucap Ruby terkesima.
“Wuanjir,,, romantis banget,,,,”, Kiara berkomentar.
“Gila,,,, siapa yang mau nembak lo ini Naz,, apakah ini acara TV katakan cinta ?”, Andes pun heboh.
Tiba- tiba ada seseorang yang datang menghampiri, “Selamat datang,, maaf siapa diantara kalian yang bernama Nona Rheanazwa?”, seorang wanita cantik bertanya pada kami berempat.
“Saya Rheanazwa”, jawabku.
“Silahkan Nona untuk menaiki panggung dan berdiri di dalam lingkaran lilin bentuk hati itu”, ucapnya mempersilahkan ku, dan aku pun mengikuti arahannya masih dengan mode terkejut dan bingung. Setelah aku berdiri di dalam lingkaran lilin bentuk cinta ini, lalu datang seseorang dari ujung panggung melangkah perlahan dan menghampiriku mendekat masuk ke dalam lingkaran lilin cinta, lalu dia berlutut di hadapanku.
“Rheanazwa,,, gadis pujaan hatiku, sudah sejak lama aku menaruh hati padamu, sejak aku bertemu dengan mu aku tidak pernah berhenti memikirkan mu, bertemu dengan mu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan, tapi jatuh cinta denganmu benar- benar diluar dayaku, aku cinta sama kamu Rheanazwa,,,, maukah kamu menerima cintaku dan menjadi kekasihku?”, Pria itu menyatakan cintanya padaku, tapi aku hanya diam mematung karena merasa sangat terkejut menatap pria yang sedang berlutut di hadapanku itu, ku lirikan mata ke arah tempat berdiri ketiga sahabatku, mereka pun nampak terkejut dengan mulut ternganga.
--------- TBC --------
***********************
Kira-kira kira siapa hayooo yang sedang berlutut dihadapan Naz..... ???
__ADS_1
Happy Reading.... 😉
Jangan lupa tinggalkan jejakmu... 😉🥰