
Sesuai yang telah disepakati, keesokan harinya kedua pasangan suami istri, Naz dan Arfin pergi ke dokter kandungan untuk berkonsultasi mengenai alat kontrasepsi yang akan digunakan oleh Naz, sekalian mereka pergi ke dokter anak untuk melakukan tindik telinga baby Cahaya.
Setelah mendengar penjelasan tentang satu persatu alat kontrasepsi beserta dampaknya dari sang Dokter, akhirnya Naz memilih minum pil KB, karena ia tak mau di suntik- suntik lagi. Dokter pun menyarankan beberapa merk pil KB yang tidak memberi efek menggemukan badan atau merusak kulit, dan itu lah yang dipilih Naz. Ia pun membeli pil KB yang disebutkan oleh dokter dari apotek luar rumah sakit, karena ia dan suami tak mau mengantri lama- lama di rumah sakit, mengingat mereka membawa serta baby Cahaya.
“Cahaya,, sayangnya Magu,,, makin cantik sekarang ya udah pakai anting,,, nih kita dikasih hadiah dari Pagu,,, kita couple-an ya,,”, Naz memakaikan gelang pada sang putri yang kembaran dengan gelang ia pakai.
“Itu mah Magu aja yang ngiri, sayang,,, masa Pagu mau beliin kamu gelang,, Magu juga pengen dibeliin,,,”, Arfin mengadu pada sang anak, padahal si bayi belum paham dengan apa yang ia katakan.
“Biarin wle,,, “, Naz malah mengejek suaminya.
“Iya,, iyaa deh,,, apa pun boleh untuk dua bidadari cantik ku ini,,,”, Arfin lalu mencium kedua bidadari nya itu secara bergantian.
“Minum gih pil KB nya,, biar nanti malam bisa bergulat lagi…”, titahnya pada sang istri, Naz malah terkekeh mendengarnya.
“Pantes aja aku dibeliin gelang,, ada maunya sih”, ucap Naz menyindir suaminya dan ia pun beranjak untuk mengambil air minum sebagai pendorong meminum pil KB yang baru dibelinya, dan tak tanggung- tanggung ia langsung beli 1 dus supaya tiap bulan tidak perlu pergi ke apotek.
Cahaya benar- benar membawa kebahagiaan yang luar biasa bagi pasangan Naz dan Arfin, semakin hari Cahaya semakin menggemaskan. Selama enam bulan Naz memberikan ASI ekslusif pada Cahaya, bahkan saking ASI- nya yang melimpah, ia sampai sering memompanya jika Cahaya sudah tidur dan menyimpannya dalam botol kaca yang kemudian disimpan di dalam cooler box ASI, sehingga nanti setelah Cahaya bangun ia akan memindahkannya pada botol dot dan memberikannya pada Cahaya.
Ada satu hal yang kini ia ketahui, selain setelah menangis, ternyata setelah ASI nya diperah oleh sang bayi ataupun dipompa, ia akan merasa sangat lapar dan ia pun selalu memakan makanan sehat serta vitamin yang tentunya membuat produksi ASI nya semakin melimpah. Ia tak perduli lagi dengan bentuk badannya jika akan kembali gemuk karena banyak makan, yang penting baginya adalah asupan nutrisi untuk sang putri terpenuhi dan membuatnya tumbuh dengan sehat.
Naz kembali masuk kuliah lagi setelah cuti satu semester, sebenarnya bisa saja ia cuti sampai satu tahun atau dua semester, namun ia ingin cepat menyelesaikan kuliahnya.
Saat Naz kuliah, Cahaya akan dititipkan pada Mbak Retno dan Mbak Jum yang sudah telaten mengurusnya karena sering membantu Naz, bahkan sekarang Cahaya sudah mulai makan, namun Naz tetap memberikannya ASI dan belum memberikannya susu formula. Mama dan Mertua nya pun selalu rutin datang sebulan sekali silih berganti, bahkan kakak- kakaknya yang belum bertemu Cahaya pun satu persatu datang berkunjung saat mereka memiliki waktu luang.
Pagi sebelum berangkat kuliah, ia akan memompa ASI-nya untuk stok hingga makan siang tiba, karena siang ia akan pulang untuk makan di rumah serta memberi ASI pada Cahaya, jika masih ada kelas, ia akan kembali ke kampus yang jarak tempuh dari rumah hanya hanya sekitar sepuluh menitan saja dengan menggunakan mobil. Jadwal kuliah Naz hanya 4 hari saja, dalam sehari ada dua sampai tiga mata kuliah, jadi ia tidak perlu terlalu lama meninggalkan Cahaya. Ia pun sudah pernah dua kali dibawa ke Jakarta untuk bertemu semua keluarganya yang tinggal di sana sejak ia berusia 4 bulan.
**
Hari berganti hari, Naz dan Arfin semakin menikmati perannya sebagai orang tua yang juga memiliki kesibukan di luar rumah, namun mereka tetap memusatkan perhatiannya pada putri kecil mereka, Cahaya yang selalu menjadi prioritas utama. Kini ia sudah bisa merangkak bahkan sudah mulai berdiri dan ia juga sudah mulai bicara sedikit- sedikit walau pun tidak jelas setiap kata yang diucapkannya. Meski sudah diajarkan memanggil Magu dan Pagu,, sang anak tetap memanggil mereka dengan Papapa Mamama, mungkin karena itu lebih mudah diucapkan sang bayi.
Cahaya kini semakin lincah dan membuat Naz juga ART yang mengasuhnya kewalahan, apalagi saat mengejar Cahaya yang merangkak dengan cepat kesana- kemari. Ia pun mulai memperlihatkan ketengilan yang diturunkan oleh Magu- nya. Kadang ia mengganggu Magu-nya yang sedang mengerjakan tugas kuliah, kadang mengganggu Pagu- nya yang sedang tidur, kadang ia mengacak- acak pakaiannya yang sudah dibereskan sang ART. Saat mandi ia akan menyiramkan air pada siapapun yang memandikannya, entah itu orang tua atau ART nya, bahkan saat ia usai mandi dan akan dipakaikan pakaian, ia yang baru memakai popok mengacak- acak popoknya yang sudah diatata rapi dari dalam laci bawah lemari pakaiannya.
Setiap hari Naz dibuat kesal sekaligus gemas oleh tingkah putri kecilnya itu, sampai Naz kadang pura- pura memarahinya dengan melotot sambil menggoyangkan jari telunjuk di depan wajah Cahaya, dan itu mampu membuat si kecil sedih yang kemudian pundung. Tentunya itu sering membuat Naz dan Arfin tertawa gemas melihat tingkah lucunya Cahaya.
Naz yang tak ingin kalah jahil, kadang mengerjai putrinya yang tak bisa diam itu dengan pura- pura menangis dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, hal itu membuat Cahaya bersedih dan ikut menangis, tapi ia benar- benar menangis. Setelah itu Naz akan membuka telapak tangannya dan langsung tertawa, tapi sayangnya Cahaya justru menangis lebih kencang, entah karena kesal sudah dikerjain oleh Magu- nya, entah karena benar- benar sedih.
Bahkan ada hal yang lebih parah, saat Cahaya diajak ke dapur dan digendong oleh Magu- nya untuk mengambil bahan- bahan dari dalam kulkas yang akan digunakan untuk membuat makanan Cahaya, anak itu minta turun dan malah mengacak- acak isi kulkas hingga masuk ke dalam kulkas. Naz pun mengabadikannya dan mengirimkan foto Cahaya pada Pagu- nya yang sedang berada di kantor.
Naz
“Kelakuan anakmu,,,”
Pagu Cahaya
“Astagfirullah,,, itu kenapa Cahaya dimasukin kulkas gitu?”
Naz
“Doi masuk sendiri, yassalam,,, “
“Mungkin merasa dirinya itu pinguin ”
Pagu Cahaya
“Keluarin sayang,,, nanti dia kedinginan ih”
Naz
“Udah kok,,, tadi juga abis difoto langsung dilkeluarin”
Pagu Cahaya
“Jangan ajak dia ke dapur,, bahaya,,, gimana kalau dia nanti naik ke kompor?”
“Dia kan sudah mulai berdiri dan tangannya nahan kemana saja pula”
Naz
“Yassalam,, gak mungkin dong,, kan meja kompor tinggi, mana bisa dia naik".
Pagu Cahaya
__ADS_1
“Main di kamar nya saja lebih aman”
Naz
“Kasihan kalau di kamar terus nanti dia karatan”
Pagu Cahaya
“Tapi awasi terus ya,,, jangan sampai jatuh”
Naz
“Iya,, aku ini kan Magu- nya,,, mana mungkin membiarkannya terluka”
“Udah dulu ya,, mau bikin makan siang buat Cahaya”
Pagu Cahaya
“Iya,,, Aa juga mau lanjut kerja”.
**
Tak terasa kini Cahaya sudah berusia 1 tahun dan sudah belajar berjalan selangkah demi selangkah tapi harus tetap dipegangi, jika tidak baru dua atau tiga langkah, Cahaya akan terjatuh dan lebih memilih kembali merangkak. Arfin dan Naz semakin protektif pada Cahaya yang semakin aktif, entah itu soal menjaganya, soal asupan makanannya, soal kebersihan rumah, tata letak barang pecah belah yg harus jauh dari jangkauan Cahaya, dan banyak lagi hal lainnya.
Naz yang awalnya gadis tomboy, namun setelah menikah ia mulai berdandan feminim walaupun sesekali masih sering memakai kaos kedodoran yang menurutnya lebih nyaman daripada pakaian ketat, kini setelah memiliki anak perempuan menjadi lebih feminim. Ia selalu mendandani Cahaya dengan pakaian dan aksesoris lucu- lucu yang girly banget, bahkan tak jarang ia akan memesan pakaian yang kembaran dengan sang putri, sampai baju tidur pun kembaran.
Arfin selalu menolak jika diajak memakai baju kembaran dengan kedua bidadari nya itu, karena tak mungkin ia ikut memakai baju kembaran seperti wanita, memakai piyama macan tutul saat Naz ngidam saja sudah membuatnya sangat malu dan kapok, kecuali jika baju kaos yang dipilih, ia baru bersedia.
Arfin dan Naz mengadakan pesta ulang tahun sederhana untuk putri mereka, Cahaya yang bertubuh gembil di kediamannya, yang dihadiri anak tetangga beragam usia, keluarga Tante Ina, beberapa teman kantor dan juga keluarga yang datang dari Jakarta. Selain orang tua Arfin dan Naz, juga keluarga Nervan dan Raline pun datang bersama Elsa juga, tak lupa ketiga sahabat Naz pun ikut hadir pada pesta yang diselenggarakan di halaman samping dekat kolam renang itu. Naz pun memperkenalkan Kristina teman kuliahnya pada ketiga sahabatnya.
Para tamu undangan beserta krucil mengucapkan selamat serta memberikan bingkisan kado pada Cahaya setelah acara tiup lilin dan potong kue yang diiringi nyanyian selamat ulang tahun dari semua yang hadir dengan alunan musik keyboard dari Johan, anaknya Tante Ina. Acara dilanjutkan dengan pertunjukan badut serta beberapa permainan yang dipimpin ketiga sahabat Naz untuk memeriahkan acara sederhana tersebut, tentunya itu membuat anak-anak merasa senang dan terhibur, karena bisa bermain, bernyanyi dan mendapatkan bingkisan souvernir ultah juga hadiah.
Cahaya pun terlihat sangat senang karena banyak orang dan banyak balon serta kue- kue di pesta tersebut. Namun, setelah beberapa saat ia menangis. Mungkin ia merasa bosan hanya digendong silih berganti dan tidak diperkenankan turun, karena ia masih merangkak dan baru bisa berjalan dua sampai empat langkah saja lalu jatuh lagi. Arfin dan Naz tidak membiarkannya turun dari gendongan, sesekali hanya membiarkannya duduk di kursi khusus bayi, karena tak bisa membayangkan betapa bahayanya jika Cahaya yang sangat lincah dibiarkan merangkak di atas tanah rerumputan halaman samping, dimana pesta itu diselenggarakan.
Karena Cahaya tak kunjung berhenti menangis walau sudah digendong dan dibujuk beberapa orang bahkan dihibur oleh badut, akhirnya Naz membawanya masuk ke dalam rumah menjauhi kerumunan pesta, ia kemudian duduk di sofa ruang tengah untuk menyusui Cahaya yang sudah nangis kejer. Sang anak pun langsung melahap ASI Magu-nya, walaupun sambil sesenggukan.
Naz melepaskan bandana yang dipakai oleh Cahaya, lalu mengusap- usap kepala putri gembilnya yang sedang asyik meminum ASI- nya dengan lahap.
“Sayang,,, Cahaya udah berhenti nangis?”, Arfin menghampiri Naz, lalu duduk di sampingnya.
“Iya,, bete kayaknya dia gak bisa merangkak kesana kemari,,”, Naz terkekeh menyadari gaya ngambeknya sanga anak, Arfin pun sama halnya, ia tersenyum gemas lalu mencium pucuk kepala putrinya yang masih menempel pada Magu- nya.
Arfin yang duduk di sebelah Naz terus mengulas senyum sambil memperhatikan putrinya yang sedang menyusu pada Magu- nya. Naz yang melihat hal itu langsung memberi komentar pada suaminya.
“Biasa apa? Orang ini juga biasa aja”, Arfin menyangkal.
“Kelihatan banget tau mupeng- nya,,”, Naz terus mengejek suaminya dan menertawakannya.
“Mupeng apaan?”, tanya Arfin yang merasa heran mendengar bahasa aneh yang diucapkan istrinya.
“Muka pengen,,, hahahaha”, Naz tak bisa menahan tawanya.
“Gimana gak pengen,,, orang udah hampir dua tahun libur nge-dot”, Arfin pun mengakuinya mengutarakan keluhannya.
“Sabar sayangku,,, kalo pengen- pengen banget mah,, ngedot aja pakai botol susu Cahaya,, atau dot empengnya Cahaya,, hahhaa”, Naz malah memberi saran aneh bin ajaib.
“Beda dong Yank rasanya,, nanti dikira orang Aa ini gak waras minum dari botol susu bayi,, “, Arfin terus meladeni gurauan istrinya.
“Dikira gak waras tuh kalau Aa minun dari botol dot bayi sambil keliling komplek dan gak pakai baju,,, Hahahaahaha”, Naz pikirannya semakin keman- mana, sepertinya karena sering melihat orang gila di pinggir jalan yang berkeliaran tanpa pakaian dengan rambut gimbal dan wajah berantakan juga cemong.
“Itu apalagi,,, orang gila namanya,, emangnya kamu mau punya suami gila?”, Arfin menjadi kesal dibuatnya.
“Ya kalau gila cinta sama aku sih gak apa- apa…”, ea,, rayuan gombalita pun dikeluarkan karena melihat suminya yang nampak sudah kesal.
“Prett,,, ahh“, Arfin tak mempan diberi rayuan receh seperti itu.
“Hahahaa,,,, Aa sekarang mah gak suka ya kalau digombalin”, Naz terus menggoda suaminya yang masih kesal.
“Udah punya anak juga,, masih aja gombal- gombalan”.
“Ya gak apa- apa dong,, kan lucu,, gombal itu gak menganal usia,,,kakek- kakek ompong tetangga sebrang sana aja masih bisa gombalin istrinya, meskipun udah keriput masih dibilang cantik dan dipanggil sayang,,,”, Naz ternyata suka memperhatikan tetangganya diam- diam.
“Kamu kepo juga ya ternyata sama tetangga”, Arfin kini mengejek Naz.
“Ya gak sengaja aja pernah lihat dan dengar saat lewat disana”, Naz beralasan, lalu keduanya terdiam sejenak dengan pikiran masing-masing.
“Aa….”, panggil Naz.
“Hemmmmm”, sahut Arfin.
“Emmmm,,, apa kalau kita sudah tua nanti dan wajahku sudah keriput hingga tidak cantik lagi,, apa Aa masih akan tetap mencintaiku?”, tanya Naz dengan menatap kedua manik suaminya.
__ADS_1
Arfin tersenyum, tangannya mengusap lembut kepala sang istri, “Tentu saja sayang,, sampai kapanpun cintaku padamu tak akan pernah berubah walau seiring bertambahnya usia, dan kita sama- sama menua,,”.
Naz pun tersenyum sumringah mendengar pengakuan suaminya,“Tuh kan,, Aa yang jadi gombal,,,”,ucapnya kemudian terkekeh.
“Dasar kamu ya,, mancing- mancing rupanya”, Arfin baru menyadari keisengan istrinya, ia kembali memperhatikan Cahaya yang masih asyik minum ASI dan tak menghiraukan keberadaannya sama sekali,
”Itu Cahaya haus banget kayaknya ya,, ampe buru- buru gitu nyedotnya,, “.
“Iya,,, nyedotnya buru- buru ditambah sesenggukan,, gak kerepotan apa ya dia”, Naz tertawa gemas melihat putrinya yang nampak kewalahan nyedot sambil sesenggukan.
“Sayang,,, apa kamu capek ngusrusin Cahaya sendirian?? Kita pakai baby sitter aja ya, sekarang kan dia sudah aktif banget,, belum lagi nanti kalau udah bisa jalan,, dia bisa lari- larian kesana kemari,,”, Arfin kembali menawarkan untuk menggunakan jasa pengasuh.
“Aku gak capek kok,,, malah senang banget bisa melihat tumbuh kembang Cahaya setiap harinya, ya walaupun aku sering meninggalkannya beberapa saat untuk kuliah,, lagian kan aku selalu dibantu sama Mbak Jumin dan Mbak Retno,, sama Aa juga sering dibantu,, jadi gak perlu baby sitter lah… “, Naz masih menolak untuk menggunakan jasa pengasuh bayi.
“Justru karena kamu ngurus anak sambil kuliah, pastinya kamu capek kan sayang,, ngurus Cahaya yang semakin aktif, belum lagi kalau kamu ada tugas kuliah suka direcokin sama Cahaya,, Aa perhatikan badan kamu sampai kurus gitu, Nanti dikira kamu gak bahagia hidup sama Aa,, ”, Arfin sangat perhatian pada istrinya.
“Sebelum menikah badan ku juga seperti ini kan,, langsing ya bukan kurus loh, garis bawahi itu,”,dari dulu Naz tidak pernah terima jika dibilang kurus oleh siapa pun, ia lebih senang disebut langsing.
“Saat hamil aja aku gendut, tapi kan setelah melahirkan berangsur langsing kembali,, Aa tenang aja,, aku kan makannya banyak,, cuman ya kan disedot sama Cahaya,, yang penting kan aku sama Cahaya sehat dan gak kekurangan gizi,, lagian aku gak kurus- kurus amat,, malahan lebih berat dua kilo dari sebelummenikah”, Naz mengusap punggung tangan suaminya yang diletkan di atas pahanya dengan mata mereka yang saling bertatapan.
“Aa gak usah terpengaruh sama omongan orang yang bilang kalau wanita setelah menikah badannya kurus itu tandanya gak bahagia, sedangkan yang gemuk bahagia,, Kebahagiaan itu kan gak bisa diukur dari postur tubuh seseorang,, dan setiap orang bisa merasakan kebahagian dengan alasan yang berbeda- beda,, adakalanya hal kecil saja bisa membuat seseorang merasa sangat bahagia,, Pokoknya mau aku kurus, langsing atau gemuk,, yang pasti aku selalu merasa bahagia memiliki Aa dan Cahaya dalam hidupku,, Percayalah,, selama aku bisa selalu bersama kalian dengan limpahan cinta dan kasih sayang, itu merupakan kebahagian terbesar yang pernah kurasakan seumur hidupku,,”.ucapnya dengan penuh ketulusan.
Arfin mengecup kening istri yang begitu dicintainya, “Terimkasih sayang,,, Aa juga sangat bahagia memiliki kalian, dua bidadari cantikku“, Arfin kembali mengecup kening Naz lalu mengusap- usap kepalanya dan kembali memperhatikan Cahaya yang sedang menyusu.
“Oh iya,,, sekarang kan Cahaya sudah berusia satu tahun,,, berarti sudah bisa dikasih susu formula ya, sayang”. Arfin memberi saran.
“Nanti saja lah kalau sudah dilepas ASI…”, Naz kembali menolak usulan suaminya.
“Loh,, kan udah setahun,, berarti udah bisa dilepas ASI kan?”, ternyata ada udang dibalik tempura.
“Eh,, siapa bilang,, kan ngasih ASI nya satu setengah sampai dua tahun yang bagus tuh, lagian ASI aku nya juga masih melimpah,,”, Naz sudah tahu arah pembicaraan suaminya.
“Kok lama banget sih,, setahun aja cukup , yank…”, Arfin pun akhirnya protes.
“Kata siapa ih,, Aa suka bikin aturan sendiri deh,, Awww,,, jangan gigit sayang,, sakit “, Naz memencet hidung Cahaya dan melepaskan put**ing nya dari mulut Cahaya, karena ia merasa kesakitan digigit oleh putrinya.
“Mimi mimi….. “, Cahaya sepetinya belum kenyang kemudian merengek minta mimi lagi.
“Iya boleh mimi,, tapi gak boleh gigit ya,,,sakit sayangku”,Bukannya memberikan ASI-nya lagi, Naz malah memasangkan kancing bra khusus menyususinya dan menutup kembali resleting gaunnya.
“Mimi mimi…. Mamama…. ”, Cahaya terus merengek.
“Kasih aja sayang,,, kasihan dia masih haus kayaknya”, Arfin merasa kasihan melihat putrinya yang masih ingin minum ASI.
“Dia itu udah kenyang,, cuman pengen mainin aja, makanya sampai digigit,,”,Naz sudah hafal kelakuan jahil putrinya.
“Mamama,, mimi mimi…”, Cahaya merengek lagi sambil mengusap gunung kembar milik Magu- nya.
“Udah ahh,, Cahaya main sama Pagu dulu ya”, Naz bukannya menyusui Cahaya, malah memberikannya pada suaminya, dan kini sang anak berada dalam pangkuan Pagu- nya.
“Aa,, titip Cahaya dulu sebentar ya,, aku kebelet mau ke kamar mandi”, ucapnya lalu bangkit.
“Iya,, kalau gitu Aa bawa Cahaya ke pestanya lagi ya”, Arfin pun bangkit setelah Naz beranjak pergi.
“Ayo kita main di sana lagi, sayangku”, ucapnya pada Cahaya yang berada di pangkuannya.
“Aa,,,”, Cahaya memanggil Arfin dengan panggilan yang selalu diucapkan Naz.
“Eh,,, bukan Aa , sayang,,, tapi Pa-gu”, Arfin mengajarkan cara memanggilnya.
“Apu….”, Cahaya berusaha meniru ucapan Pagu- nya.
“Bukan Apu,,,tapi Pa-gu,,,”, Arfin kembali mendikte kan nama panggilannya.
“Pu-pu…”, Cahaya kembali meniru dengan bahasa bayi.
“Masih susah ya? panggil Papa aja ya,, Pa-pa”.
“Papapa,,,,”, sepertinya Cahaya memang lebih mudah memanggil Papapa.
“Anak pintar,,,, tapi itu kebanyakan, sayangku,, coba sekali lagi,, Pa-pa“, Arfin terus mengajari Cahaya agar memanggilnya dengan sebutan yang benar.
“Pa-pa-pa-pa-pa… ”,Cahaya malah seolah mengerjai Arfin,dan membuat Pagu- nya itu merasa gemas kemudian menciumi wajah sang putri sampai membuatnya menggeliat geli. Ia pun membawa Cahaya kembali ke keramaian pesta ulang tahunnya dan bergabung lagi dengan yang lainnya.
------------ Extra Part 02---------
*****************************
Happy Reading,,,,, 😉😍
Jangan luva tinggalkan jejakmu...😉🤩
__ADS_1
Tilimikicih ...aylapyu oll 😘😘😘