Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Malah Menjaga Jodoh Orang Lain


__ADS_3

Arfin POV


Masih Flashback yasalam 🙏


Setelah mendengar penjelasan Sherly, aku merasa sangat bersalah karena aku pernah memberinya pelajaran dengan menyuruhnya meminta maaf di depan umum dan mengakui kalau apa yang ia sebutkan bahwa Naz anak pungut itu hanya kebohongan dan karangan saja, dan bodohnya aku tidak berfikir kalau itu akan menimbulkan masalah baru yang membuatnya balas dendam karena dipermalukan.


Setelah memikirkan berbagai pertimbangan jika melaporkan Sherly pada polisi bukan hanya akan mempermalukan keluarganya, juga akan mencoreng nama baik sekolah, begitu juga keluarga besar Harfi, karena salah satu cucu nya menyakiti cucu yang lainnya, akhirnya aku memutuskan untuk tidak melaporkannya kepada polisi tapi dengan syarat dia dikeluarkan dari sekolah dan pindah sekolah ke luar kota. Awalnya keluarganya menolak, namun dari pada anaknya masuk penjara karena aku memiliki bukti kuat akhirnya mereka memilih memindahkan sekolahnya ke kota tempat kakek neneknya berada.


Sebenarnya aku ingin sekali memberi Serly pelajaran, namun sayang dia itu seorang perempuan, aku pun meminta dia minta maaf kepada Naz atas perbuatannya, dan mereka pun setuju. Sementara itu aku terus menghubungi Bunda memantau keadaan Naz, dan Bunda bilang Naz terkena hipotermia ringan dan masih dalam penanganan. Aku benar- benar merasa bersalah, dan seusai dari rumah Sherly aku pun bergegas ke rumah sakit, dan saat sampai di sana Naz sudah masuk ruang perawatan.


“Bunda, kok sendirian di sini, yang lain kemana?”, tanyaku menghampiri Bunda.


“Ayah mah lagi ke kantin ngopi bareng Nervan, sedangkan Dandy mengantar ketiga sahabat Naz pulang kasihan atuda sudah malam nanti teh mereka dicariin orang tuanya dikira hilang juga”. ucap Bunda yang tengah duduk di sofa, " Arfin,,terimakasih banyak ya udah nolongin anak Bunda, kata Ruby tangan kamu teh sampe luka ya saat mendobrak pintu”, ucap Bunda berterimakasih pada ku.


“Cuma memar ko Bunda, nanti juga hilang”, aku menjawab dengan santai.


“Itu memarnya panjang gitu Ar, Bunda minta suster ngobatin kamu ya”, Bunda yang khawatir menawarkan pengobatan untuk lukaku.


“Gak usah Bunda, nanti di rumah aku kompres pakai es batu, aku mau lihat Naz dulu ya”, aku melangkah mendekati Naz yang tengah tertidur dengan selang infus ditangannya, selang oksigen yang tertancap di lubang hidungnya, dan diselimuti beberapa lapis selimut, sungguh miris hatiku melihatnya seperti ini, ”Maafkan aku Naz,,, aku yang menyebabkan mu seperti ini, harusnya anak itu membalas dendam padaku bukan padamu,, maafkan aku yang terlambat menyelamatkan mu, maafkan aku tidak bisa menemani mu disini karena aku harus kembali ke Surabaya, semoga kamu lekas sembuh”, ucapku dalam hati sambil mengusap- usap kepalanya dan menahan air mataku agar tidak keluar, hingga beberapa saat aku terus memandanginya, lalu aku pun pamit untuk pulang, karena penerbangan ku jam 3 pagi nanti, aku masih punya waktu untuk pulang ke rumah dulu.


“Bunda, aku pamit pulang,, terus kabari aku ya Bund soal perkembangan Naz,, dan aku titip bingkisan ini untuk Naz,,”, Aku menyerahkan godie bag yang berisi boneka dan Almond Crispy yang Naz inginkan, lalu aku pun bergegas pulang.


Selama dua hari ini aku terus memantau perkembangan kesehatan Naz dari Surabaya melalui Bunda karena aku belum berani menghubungi Naz langsung, aku masih merasa sangat bersalah. Namun saat hari ketiga aku sudah sangat rindu ingin mendengar suaranya atau pun melakukan videocall dengannya, tapi dia tidak pernah mengangkatnya dan pesanku pun tak pernah ia jawab. Aku berfikir mungkin Sherly sudah menemuinya untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya pada Naz, jadi dia merasa aku yang menyebabkan Sherly balas dendam padanya, ”Apakah dia marah padaku, apakah dia benci padaku”, pertanyaan itu terlintas di pikiranku.


Hingga hari keempat Naz dirawat pun ia masih tidak mau menerima panggilan telepon dariku, akhirnya aku menelpon Bunda dan meminta tolong ingin berbicara dengan Naz, namun Naz tidak ingin berbicara denganku, “ Nanti saja Bunda, bilang aja akunya lagi ngobrol sama Kiara, Andes, dan Ruby, gak bisa diganggu”, terdengar suara itu saat Bunda mengatakan aku menelponnya, akhirnya kami mengakhiri percakapan di telepon itu. Lalu Bunda mengirim pesan padaku.


Bunda Anita


“Arfin, Naz itu tidak mau bicara dengan kamu teh karena kamu tidak pernah datang menjenguknya”


“Cie ada yang rindu”.

__ADS_1


Setelah membaca pesan yang membuat ku seakan berbunga- bunga dan senyam- senyum sendiri itu aku langsung meminta Pak Purnomo memesankan aku tiket pesawat ke Jakarta secepatnya, dan beruntung aku mendapat jadwal jam satu siang. Aku pun berangkat satu jam kemudian dan aku melaksanakan shalat jumat di masjid bandara. Setelah menempuh penerbangan selama satu setengah jam aku tiba di Jakarta, aku pesan taksi untuk mengantar ku ke rumah sakit tempat Naz dirawat, namun saat aku melewati sekolah Naz, aku teringat perkataan Bunda kalau Naz suka membeli dimsum Haji Ipeh tiap pulang sekolah yang berada di dekat sekolah, aku pun meminta taksi berhenti sejenak di depan kedai dimsum itu.


Tak ku sangka ternyata Haji Ipeh masih mengenaliku, karena dulu setiap pulang sekolah pasti aku jajan ke sini, kami pun mengobrol sebentar sembari menunggu dimsum yang sedang dibungkus, dan beliau pun memberiku sepiring dimsum free. Setelah pesanan ku siap, aku pun membayar dan berpamitan pulang pada Haji Ipeh.


Sesampainya di depan pintu kamar rawat inap Naz aku mengetuk pintu lalu masuk, saat Bunda melihatku, aku memberi nya kode untuk tidak bersuara, ku hampiri Naz yang tengah berbaring miring menatap ke arah jendela, dan terlintas begitu saja di pikiran ku untuk menjahilinya, “Permisi,, Neng ini makananya", ucapku sambil menyimpan godie bag berisi kotak dimsum di atas meja khusus untuk makanan pasien. Naz langsung berbalik dan mengarahkan pandangannya padaku, “Kak Arfin”, ucapnya dengan ekspresi terkejut, aku melemparkan senyuman termanis ku padanya dan ia pun tersenyum padaku, namun kulihat matanya sedikit sembab seperti habis menangis, tiba- tiba ia memiringkan lagi badannya ke arah jendela dan memalingkan diri dari pandanganku seolah sedang merajuk.


Aku bermain mata dengan Bunda seolah mempertanyakan sikap Naz, dan akhirnya kami berbicara saling melempar candaan sampai aku pura- pura akan pulang padahal aku pamit mau ke mushola karena belum shalat ashar. Sepulangnya dari mushola kudengar Naz dan Bunda membicarakan ku sampai Naz bilang mau minta maaf padaku dan aku pun masuk secara tiba- tiba.


Akhirnya aku bisa berbicara dengannya dan Bunda pun seolah memberi ruang kepada kami karena beliau pamit untuk menjemput suaminya.


Kami berdua bercanda ria sampai aku memintanya memanggilku Aa,, aku menyuapinya dimsum hingga habis, dan akhirnya dia minta diantar ke toilet, namun saat di dalam toilet dia kembali memanggilku Kak Arfin dan meminta tolong mengambilkan tisu, tapi aku pura- pura tidak mendengarnya padahal aku sudah mengambilkan tisu hanya saja aku mengerjainya. Dan akhirnya dia kembali berteriak meminta tisunya,”Panggil aku Aa, baru ku ambilkan tisu”, ucapku . dan ternyata dia kembali mengerjai ku dengan pura- pura pusing dan akan pingsan sampai membuatku panik dan mendobrak pintu kamar mandi, sedangkan dia malah keluar dengan wajah watados dan bilang itu bohong, aku yang sangat mengkhawatirkan nya menjadi kesal karena dipermainkan olehnya, dan kemudian ada panggilan telepon dan aku langsung keluar dari kamar.


Ternyata Bunda yang meneleponku mengabari akan datang setelah agak malam dan Pak Syarif akan kesini bersama Tante Rahmi dan Raline. Kemudian aku menghubungi pengacara keluarga ku untuk dibuatkan surat perjanjian yang isinya si penandatangan tidak akan mengganggu dan melukai Naz dalam hal apapun, jika itu terjadi maka dia bersedia dilaporkan kepada polisi karena kejahatannya yang hampir menghilangkan nyawa Naz. Saat selesai menelpon aku masuk dan dikejutkan melihat Naz yang tergeletak di lantai, aku langsung menghampiri dan membaringkannya ke tempat tidur, dan untungnya ada suster yang akan melakukan pemeriksan rutin saat aku teriak meminta tolong. Dan sejak saat itu aku tidak beranjak dari kamar karena takut terjadi sesuatu lagi dengan Naz.


Saat Naz sadar aku menghampirinya yang hendak turun dari tempat tidurnya, lalu aku memanggil suter untuk membatunya ke kamar mandi, karena Naz sempat merasa pusing aku pun menggendongnya hingga sampai kamar mandi, lalu aku membawakan kursi roda untuknya kembali ke tempat tidur seusai wudhu untuk melaksanakan shalat. Seusai itu aku ngobrol dengannya lalu menanyakan siapa pelaku yang mengurung Naz di ruang musik itu, karena Bunda mengatakan Naz bilang pada semua orang kalau dia terkunci karena pintunya rusak, diapun mengatakan hal yang sama padaku, tapi aku terus menodongnya agar dia mengatakan yang sebenarnya.


Akhirnya dia menceritakan kronologi kejadiannya, dan saat mendengarnya dadaku serasa sesak mendengar penderitaannya saat itu, darah ku seakan mendidih ingin segera menghajar pelaku yang sudah ku ketahui itu, aku pun bangkit dan hendak pergi untuk menemui kedua pelaku itu, tapi Naz menghentikan ku dengan mengancam dia tidak mau menemui dan mengenalku lagi, aku pun mengurungkan niatku lalu aku masuk ke kamar mandi untuk berwudhu dan terus membasuh muka ku agar amarahku mendingin.


Aku mengejar anak itu dan aku mengatur ponselku dalam mode perekam suara yang disimpan di saku celanaku, tepat di dekat tangga aku menariknya ke kolong tangga tersebut dan mencengkram rahangnya memperingatkannya untuk tidak menyakiti Naz lagi, tapi dia tidak mengakui dan aku terus memancingnya sampai ia mengakui segalanya, beres sudah tugasku karena memiliki bukti pengakuannya.


Flashback off akhirnya


Pagi ini seusai shalat subuh aku kembali tidur karena tubuhku serasa remuk redam setelah beberapa hari ini melewati hari yang melelahkan dengan kesibukan ku di Surabaya yang terus lembur. Dan saat aku bangun ternyata sudah jam sepuluh siang, dan perutku sudah berdemo karena merasa lapar, aku pun ke kamar mandi untuk mencuci muka lalu bergegas ke dapur untuk mencari makanan.


“Lapar ya,, kamu tuh tidur kok kayak orang pingsan, mentang- mentang weekend”, ucap Mami yang sedang memotong buah mangga dan aku pun memakannya.


“Iya,, capek banget Mi ngurusin masalah di kantor Surabaya, sampai lembur terus tiap hari”, Ucapku mengeluh sambil terus memakan potongan mangga dari piring di depan Mami dan aku duduk di kursi bersebelahan dengan beliau


“Jangan terlalu diforsir lah,, kamu juga harus menjaga kesehatan,, baru seminggu di Surabaya kok kamu jadi kurus begitu Ar,,, makanya cepet nikah biar ada yang ngurusin kamu”. Mami sudah mulai menyinggung soal menikah seolah aku ini bujangan tua yang tak kunjung laku.


“Katanya udah kurus,, kalau ada yang ngurusin makin kerempeng dong Mi”, aku coba ngeles.

__ADS_1


“Kamu itu,, maksud Mami bukan ngurusin ngempesin sampai kurus,, tapi mengurus segala sesuatu keperluan mu, melayani mu, memberi kasih sayang padamu, memperhatikan kesehatan dan makananmu, ya pokonya yang menjadi tugas istri gitu lah”, Mami malah semakin memperjelas kalau aku membutuhkan seorang istri.


“Kan Al sudah bilang, Mami,,, dia masih sekolah,, masa iya kaya cerita di novel- novel menikahi anak sekolahan, nanti Al bisa kena pasal eksploitasi anak karena menikahi gadis dibawah umur, Al ini masih punya moral,, Mami”. Aku pun mengingatkan perkataan ku yang semalam.


“Halah,,, menyatakan cinta saja gak berani, gimana mau ngelamar anak orang kamu Al”, Mami mengejekku.


“Bukan gak berani Mami,, tapi lagi menunggu waktu yang tepat”, jawabku memberi alasan.


“Terus kapan,, nunggu dia di samber orang??,, kamu yang deketin berbulan- bulan, eh yang dapetin malah orang lain, kan bikin nyesek tuh Al,,jadi judulnya kamu tuh menjaga jodoh orang lain kalau begitu”, ucap Mami yang kemudian meninggalkan ku di meja makan seorang diri, lalu aku pun makan makanan yang sudah disiapkan di meja makan, seusai itu aku kembali ke kamarku.


Ucapan Mami seakan memberi tamparan keras bagiku, betapa pengecutnya aku hanya berani mendekati dan mencintai Naz tanpa berniat menyatakan perasaanku pada Naz. Apa bedanya aku dengan seorang penggemar yang mengagumi idolanya yang bukan untuk dimiliki, sedangkan setiap orang yang saling mencintai pasti menginginkan kepastian hubungan mereka.


Sekarang aku mengerti kenapa saat aku menanyakan apakah Naz merindukan ku dia tidak mau mengakuinya tapi dengan sikapnya menunjukan bahwa dia memang merindukanku, bahkan saat dengan terang- terangan ia memperlihatkan rasa kesal saat aku dengan wanita lain, tapi dia tidak mau mengakuinya kalau dia cemburu, itu karena dia merasa tidak berhak untuk merindukanku, tidak berhak mencemburui ku, karena diantara kami belum ada kejelasan mengenai hubungan kami.


Kenapa aku begitu bodoh,, bagaimana kalau yang dikatakan oleh Mami benar, jika aku tak kunjung menyatakan perasaanku, maka bisa saja ada pria lain yang gentle mau mengutarakan perasaan padanya lalu Naz pun menerimanya, ketimbang menunggu ketidak pastian dari ku yang pengecut ini.


“ Baiklah aku akan memikirkan cara mengutarakan perasaanku padanya, tapi ini pengalaman pertama bagiku, bagaimana caranya ya,, apa aku tanya sama Abang atau sahabat- sahabat ku yang sudah berpengalaman, argh,, itu terlalu memalukan,, mereka akan menertawakan dan mengejek ku habis- habisan”, pikiran ku menjadi tidak karuan, memang benar kata Agnes Mo kalau cinta itu tak ada logika,, mau IQ setinggi apapun kalau masalah cinta bisa berubah jadi IQ jongkok, huft.


Ku coba mencari tahu di mbah google tentang cara menyatakan cinta yang romantis,, “ Anjiirr kok gue jadi mendadak b*go gini ya, kayak beginian aja minta bantuan mbah google, mana pada lebay semua lagi cara- caranya, Naz kan bukan tipikal cewek penyuka hal- hal lebay, di gombalin dikit aja suka bilang geleuh lah, geli lah, arghh....ko pusing ya ternyata,, mending disuruh ngitung bulu domba deh gue”. ucap ku menggerutu pada diri sendiri, dan baru saja sekali pencarian ponselku mati karena kehabisan baterai, lalu ku charger.


Otakku rasanya serasa buntu memikirkan hal seperti ini, “Ah iya,,, kenapa aku tidak meminta bantuan ketiga sahabat Naz saja ya,, mereka pasti sangat tahu apa yang disukai dan yang paling diinginkan oleh Naz”, Akhirnya otaku sudah jalan kembali. “ Perjuangan Aa baru dimulai, Naz.. bersiaplah Aa akan memberimu kejutan yang berkesan dan akan membuatmu enggan untuk melupakannya, karena Aa gak mau kalau nanti jadinya malah menjaga jodoh orang lain seperti yang dibilang Mami“, gumam ku dengan penuh percaya diri.


--------------- TBC -------------


************************


Mohon maaf flashback nya kepanjangan kayak kereta beruntun.... 🙏


Happy Reading.... đŸ˜‰đŸ„°


Jangan lupa tinggalkan jejakmu.... 😉😍

__ADS_1


__ADS_2