
Saat sampai di rumah, kedatangan Naz dan Arfin disambut baik oleh Bunda, Arfin meminta maaf karena terlambat mengantarkan Naz pulang, selain karena jalanan macet juga ia mengajak Naz ke pasar malam yang tak sengaja mereka lewati saat dijalan pulang. Arfin langsung berpamitan pulang dan Naz pun langsung bergegas ke kamarnya setelah memberikan buah tangan berupa martabak kesukaan sang Bunda sehingga situasi menjadi aman dan terkendali.
Tanpa Naz sadari, Bunda memperhatikan wajah Naz yang masih terlihat sembab dan matanya yang sedikit bengkak seperti sudah menangis, namun sang Bunda memberi ruang pada Naz untuk beristirahat sejenak. Setelah melakukan ritual magrib sampai selesai shalat isya tanpa Naz, kemudian Naz beserta keluarganya makan malam bersama dilanjut obrolan- obrolan kecil keluarga, akhirnya semua anggota keluarga kembali ke kamar masing- masing.
Setelah menahan penasarannya sejak sore tadi, akhirnya Bunda menemui Naz ke kamarnya, mengetuk pintu dan meminta izin masuk.
“Sayang, kamu belum tidur?” Tanya bunda menghampiri Naz yang tengah duduk di tempat tidurnya.
“Belum bunda ratu, ada apakah gerangan?”
“Sayang, kamu sudah janji tidak akan menyembunyikan apapun lagi dari Bunda kan?”, Bunda langsung membuka topik pembicaraan.
“Iy iya bunda” Jawab Naz terbata- bata.
“Sayang, tadi Bunda lihat saat kamu baru pulang wajahmu sembab seperti habis menangis, apa kamu punya masalah?” Bunda bertanya dengan hati- hati.
Naz kaget mendengar pertanyaan sang Bunda dan bingung harus berbicara apa, lalu terbesit dalam pikirannya mengenai teras belajar “Emm,,,itu Bunda, tadi siang setelah selesai mengajar di teras belajar ada Pak RT dan beberapa orang datang ke sana, ternyata tanah lapangan beserta tanah teras belajar sudah dibeli oleh seseorang, aku sedih banget Bunda teras belajar nantinya akan dihancurkan terus aku juga sedih mikirin nasib anak- anak “.
“Ya, ampun sayang, pantes aja atuh kamu teh sedih, Bunda tahu perjuangan kalian untuk teras belajar dan anak- anak itu,,, Bunda bisa bantu naon atuh ?”,Akhirnya rasa penasaran Bunda terjawab.
“Gak perlu Bunda, masalahnya udah selesai kok?” Naz bicara dengan senyum merekah.
“Dihh,, kumaha ari kamu, tadi sedih ayeuna sura seuri jiga sero?” Bunda merasa heran.
“Iya, tadinya Naz sedih sampai nangis bombay, terus Naz minta bantuan Kak Arfin kan dia lagi ada proyek tuh yang gak jauh dari teras belajar, ternyata yang beli tanah itu Kak Arfin dan akan di bangun sekolah yang lebih layak katanya, jadi aku seneng banget, malahan ya Bunda kak Arfin nawarin aku gambar desain sekolahnya loh”, Naz menjelaskan dengan perasaan senang dan antusias.
“Hmmm,, syukurlah,,, anak itu mah memang dari dulu jiwa sosialnya sangat tinggi”, Bunda memuji Arfin.
“Oh ya,, masa sih bunda?” Tanya Naz.
“Iya, dulu mah Arfin tuh anak bandel, sukanya balapan gabung sama geng- geng motor gitu, gaulnya juga sama preman,sampai- sampai pernah dimasukin ke pesantren, tapi cuma kuat delapan bulan kalo gak salah, kabur dia” Bunda menertawakan kenakalan Arfin.
“Terus , jiwa sosialnya sebelah mana Bunda?” Tanya Naz heran.
“Dia itu suka nolongin orang makanya temennya banyak, dia disegani sama preman juga gara- gara ketua premannya pernah dia tolongin. Tadinya kan si preman tuh suka gangguin Arfin karena dia mah anaknya songong, eh pas lagi nyerang si ketua preman dapat kabar kalau ibunya masuk rumah sakit dan harus segera dioperasi, dan Arfin malah nolongin dia dengan menjual motor balapnya, jadi si preman itu malah temenan sama Arfin, sedangkan Arfin dihukum sama orang tuanya, sampai- sampai dia teh ke sekolah jalan kaki gak dikasih uang jajan atau kendaraan”, Bunda menceritakan kenakalan Arfin.
“Terus- terus”, Naz menjadi penasaran.
“Kalo balapan itu kan suka ada hadiahnya ya, Arfin mah suka menang terus dan hadiahnya suka dia kasih sama orang yang membutuhkan. Jadi kumaha nya, dia mah anak bandel tapi jiwa sosialnya tinggi, di sekolah nya juga pinter sampe bisa dapet beasiswa ke luar negri, ibadahnya juga rajin, jago ilmu bela diri, malahan dia juga suka jadi pelindung buat kakaknya yang dulu mah anak mami banget jiga si Andes tuh, tapi sekarang mah kakaknya juga cowok banget.” Hadeuh aa Arfin menantu idaman Bunda kayaknya nih.
“Terus- terus”
“Ih kamu mah terus- terus wae jiga tukang parkir”, Bunda malah ngomel.
“Abisnya ceritanya seru sih, ditambah sama ekspresi Bunda,seperti fans berat Kak Arfin “.
“Ih dasar kamu mah ka kolot teh nya,,,, kan Arfin sama Dandy bersahabat dari SD dan dulu sering banget dia main disini, kamu mah masih balita dulu, sampai SMA pun sering main sini bahkan suka curhat sama Bunda udah kaya sama emaknya aja,,tapi semenjak itu….”. Ucapan Bunda tidak diteruskan.
“Semenjak apa Bunda”, Naz semakin penasaran.
“Semenjak kecelakaan itu, Arfin jadi orang yang dingin, pendiam dan menutup diri, kadang dia teh jiga terlihat minder gitu sama orang disekelilingnya, apalagi saat pergi dan tinggal di Amerika seperti ditelan bumi tak pernah ada kabar berita lagi. Tapi syukurlah sekarang dia sudah bisa kembali berbaur lagi dengan sahabat- sahabatnya”.
“Jdi kaki kak Arfin seperti sekarang ini karena kecelakaan, emm...kecelakaan apa bunda?”
“Eh, udah malam nih, kamu tidur gih bunda juga udah ngantuk, nanti Ayah kamu nyariin Bunda ke pos kamling lagi, dikira hilang”, Bunda mencium kening Naz dan bergegas keluar kamar Naz.
“Kok bunda kayak nyembunyiin sesuatu” Naz kepikiran karena Bundanya malah mengalihkan pembicaraan.”Yasudahlah, aku mau tidur saja”.
Keesokan harinya seperti biasa Naz dan ketiga sahabatnya pergi ke teras belajar, setelah selesai mengajar dan anak- anak bubar Naz menceritakan kejadian kemarin soal pembelian tanah dan akan dibangun sekolah di sana. Mereka pun sangat antusias dan membantu Naz membuat desain sekolah yang kan dibangun nanti, tentunya dengan berbagai macam keributan karena beda- beda pendapat, dan ujung- ujungnya Naz sendirilah yang mengerjakannya.
Selama dua hari ini setiap pulang dari teras belajar Naz bersama ketiga sahabatnya menjenguk Eris ke rumah sakit, dan ternyata keadaanya sudah membaik dan hari ini sudah diperbolehkan pulang. Naz membayar biaya perawatan Eris dengan menggunakan kartu Debit ATM yang selama ini ia selalu simpan dan tak pernah ia gunakan namun dana di dalamnya selalu datang mengalir.
Tak terasa pembangunan sekolahnya telah selesai dalam waktu satu bulan, dua kelas di sisi kiri, di tengah ada 4 kelas, dan 2 ruangan di sisi kanan dan semua menghadap ke lapang yang disisakan untuk kegiatan anak sekolah. Semua peralatan dan perlengkapan ruangan sekolah pun telah rampung dan siap dipergunakan, begitu pula dengan tenaga pengajarnya.Ternyata pembangunan sekolah itu terendus oleh Nyonya Hindayanti selaku ibu dari Arfin, dan beliau pun memaksa turut andil dalam penyediaan sarana perlengkapan sekolah dan dalam melegalisasi kan sekolah tersebut dengan bantuan Yayasan yang dimilikinya.
__ADS_1
Selama sebulan itu pula setiap malam Naz dan Arfin selalu berkomunikasi lewat telepon atau Chating ataupun Video Call dengan alasan membicarakan pembangunan sekolah dan merekapun semakin dekat. Bisa ae aa Arfin modus pendekatannya.
Naz dan ketiga sahabatnya kini bisa konsentrasi penuh pada sekolahnya, apalagi sekarang tengah melaksanakan ujian akhir semester selama seminggu, sehingga kegiatan mereka hanya fokus belajar.
Tiga minggu setelah UAS kelas 1 dan 2, kemudian diadakan acara perpisahan dan pelepasan kelas tiga dan disertai kenaikan kelas 1 dan 2 , juga pengumuman juara- juara kelas yang di akhiri dengan pembagian Raport semua murid.
Acara perpisahan dan kenaikan kelas ini tidak hanya dihadiri oleh murid dan orang tua murid saja, juga dihadiri beberapa tamu undangan kehormatan seperti dewan sekolah serta pemilik yayasan sekolah tersebut. Acara formalnya pun berjalan dengan lancar dan sampai pada waktunya pengumuman murid berprestasi.
Sembilan orang murid berprestasi yang merupakan juara umum 1,2, dan 3 dari tiga tingkatan kelas pun dipanggil naik ke atas panggung. Dan suatu kebanggan untuk Naz menjadi salah satu yang dipanggil naik ke atas panggung sebagai juara umum dari kelas 1, senyum bahagia terpancar dari bibir manisnya, setelah semua murid berprestasi menerima hadiah dan piala penghargaan langsung dari pemilik yayasan kemudian turun kembali dari atas panggung.
Acara sesi pertama telah berakhir dan semua murid beserta orang tuanya dipersilahkan memasuki kelas masing- masing untuk pembagian Raport. Naz yang sejak turun disambut bahagia oleh ketiga sahabatnya awalnya tersenyum bahagia, namun tiba- tiba menjadi sedih karena orang tuanya atau salah satu dari mereka tidak bisa hadir, Ayahnya ada operasi mendadak dan Bunda pergi ke Bandung sejak semalam karena neneknya Naz sakit.
Naz dan ketiga sahabatnya berpisah setelah mendengar pengumuman untuk masuk ke kelas masing- masing. Naz berjalan dengan gontai menuju kelasnya sambil memegang hadiah dan piala penghargaan yang ia dapat tadi. Naz pun duduk di bangku nya sendiri sedangkan murid yang lain diwakilkan oleh orang tua wali mereka, sedangkan murid yang lain menunggu di luar.
Bu Yanti selaku wali kelas memberikan sapaan dan sambutan kepada orang tua murid sebelum pembagian Raport, tiba – tiba ada yang mengetuk pintu.
“Permisi, benar kah ini kelas 1A kelas tempatnya murid yang nama Rheanazwa?” Seseorang yang mengetuk pintu tadi bertanya dengan sopan nya dan Naz yang tadinya duduk tertunduk langsung melihat ke arah pintu yang terbuka.
“Kak Arfin…”, gumam Naz pelan dan merasa terkejut melihat keberadaan pria itu di kelasnya.
“Apakah anda perwakilan dari orang tua Rheanazwa?” Bu Yanti bertanya pada Arfin.
“Benar Bu, kebetulan Bunda sedang berhalangan tidak bisa datang “, Arfin menjelaskan.
“Oh iya, silahkan masuk”, Bu Yanti mempersilahkan Arfin masuk.
Naz pun bangkit dari duduknya dan memberikan tempat duduknya pada Arfin dan berdiri di sampingnya tentunya masih dalam mode terkejutnya sedangkan Arfin malah senyam- senyum pada Naz.
Acara penyerahan raport pun dimulai dengan memanggil tiga orang yang menjadi tiga besar juara kelas beserta orang tua wali nya ke depan kelas dan disertai pemberian hadiah penghargaan dari wali kelasnya. Dan dilanjutkan penyerahan satu persatu yang di serahkan pada orang tua walinya saja sampai selesai, kemudian ditutup dengan memberikan pesan- pesan dari wali kelas agar murid- murid lebih giat belajarnya dengan pengawasan dan dukungan dari orang tua dan sebagainya.
Para orang tua murid pun keluar dari kelasnya, ada yang membanggakan dan memuji anaknya bahkan ada pula yang mengomeli anaknya karena nilai di raportnya jelek. Naz dan Arfin pun keluar kelas berjalan bersama.
“Kok Kak Arfin bisa kesini ?” Pertanyaan yang sejak tadi ia pendam akhirnya dilontarkan juga.
“Makasih Kak” Naz tersenyum dengan lebarnya sedangkan tangan kiri Arfin mengusap- usap kepala Naz yang berdiri saling berhadapan dengannya dan juga membalas senyumannya.
“Cieeeeeee”, Tiba – tiba Andes, Ruby dan Kiara muncul mengejutkan Naz dan Arfin, mereka pun langsung melepaskan tangan mereka yang tadinya menempel erat.
“Apaan sih kalian, ngagetin aja” Naz terlihat gugup.
“Ngagetin apa gangguin “ Ruby menggoda Naz.
“Gangguin apa ih, oh iya gimana hasil raport kalian, pada naik kelas kan” Naz malah mengalihkan pembicaraan.
“Dih, songong ya mentang- mentang juara umum, naik dong gue lumayan lah dapet peringkat ke 3” Jawab Ruby.
“Ko sama sih sama gue, gue juga peringkat 3,lo nyontek ya By?” Kiara si tukang protes suka aneh masa iya peringkat kelas nyontek.
“Kampret lo, emangnya lo kira nilai ujian bisa dari hasil nyontek” Ruby ngegas.
“Kalo aku sama dengan Naz, aku dapat peringkat satu,, unchhh mami pasti ngasih aku hadiah, yeyeyeye” Andes girang sekali.
“Naz ini raport mu” Arfin menyerahkan raport Naz yang dipegangnya.
“Permisi,,, Mas ini yang tadi mengambilkan raport Rheanazwa kan?” Tiba- tiba bu Yanti datang menghampiri.
“Iya benar, Bu” Arfin menjawab dengan singkat.
“Pasti kakaknya Rheanazwa ya, perkenalkan nama saya Riyanti panggil saja Yanti jangan panggil Ibu saya masih muda kok” Bu Yanti menyodorkan tangannya untuk bersalaman dan Arfin pun menyalaminya.
“Arfin” Ucapnya singkat lalu melepaskan tangannya.”Naz duluan ya, permisi” Afin pun berpamitan dan bergegas pergi.
“Naz, kakak kamu ganteng ya” Bu Yanti memuji Arfin.
__ADS_1
“Apa?” Naz merasa salah dengar tau gimana.
“Itu yang barusan, Mas Arfin itu ganteng ya, udah nikah atau belum?”, Bu Yanti guru yang kalem ternyata rada genit juga ya.
“Belum” Naz menjawab singkat karena merasa kesal.
“Ibu naksir yaa” Ruby mengoda Bu Yanti sedangkan wajah Naz nampak kesal mendengar itu.
“Sah- sah aja dong, kan ibu masih single ,, oh iya bisa minta nomor kontaknya gak Naz” Bu Yanti meni to the poin aduh.
“Maaf bu, kita permisi dulu ya, itu kayaknya acara pensi sudah dimulai, ayok” Naz mengajak ketiga sahabatnya enyah dari tempat itu dan berpamitan meninggalkan Bu Yanti.
“Naz, yakin mau nonton pensi, sejak kapan lo suka?” Ruby tahu betul Naz tidak suka menonton pertunjukan atau hiburan musik.
“Kita ke kantin” Naz menjawab dengan nada jutek. Mereka pun berjalan menuju kantin dan menduduki bangku yang ada di sana, sedangkan Ruby memesan makanan.
“ Naz, muka lo kenapa?” Kiara melihat Naz yang tengah cemberut.
“Iya ih, kamu gak salah makan obat kan Naz, harusnya senang jadi juara umum terus raport diambilin sama si ganteng Kak Arfin “ Andes ikutan berkomentar.
“Gak apa- apa, gak usah nyebut- nyebut nama dia deh” Jawabnya jutek.
“Dia siapa ? Kak Arfin maksudnya?” Ruby menggoda Naz.
“Please deh”
“Wah, fix ini mah ,gaess,, Naz ternyata beneran suka sama Kak Arfin” Ruby menyimpulkan sendiri.
“Seriusan ini?” Andes mulai heboh.
“Gak usah ngarang deh By”, Naz menyangkal.
“Lah buktinya, lo sering banget teleponan sama dia, terus kalo ketemu aura lo tuh beda, raut mukanya seneng terus kelihatannya”, Ruby menjabarkan.
“Ya itu kan aku telponan sama dia ngebahas soal pembangunan sekolah teras belajar”, Masih ngeles.
“Masa iya tiap malam teleponan nya, dan lagi sekolah teras belajar kan udah selesai sebulan yang lalu, ko sekarang masih suka teleponan”, Interogasi teruss.
“Kata siapa tiap malam?” Kembali menyangkal.
“Kita- kita tuh suka ngtes tau, nelpon lo malem- malem, dan nomor yang ada tuju selalu sibuk, ya gak Ra, Ndes” Perkataan Ruby diiya kan oleh kedua sahabatnya itu.” Naz, kita ini sahabat lo, jujur aja kenapa sih, gimana perasaan lo sama Kak Arfin?”
“Ya, gue ke Kak Arfin ya sama kaya gue ke kalian, dia baik dan perhatian sama gue kayak kalian ke gue gitu”, Jawaban macam apa inih.
“Ya ampun Naz, beda kali, gue aja bisa lihat kalo Kak Arfin juga suka sama lo, dan gue yakin lo juga suka sama dia seperti halnya suka kepada lawan jenis, alias jatuh cinta” Ruby semakin memperjelas agar Naz paham.
“Tapi itu gak mungkin By”, Yasalam Naz masih nyangkal.
“Gak mungkin kenapa, buktinya lo tadi kesal waktu Bu Yanti coba deketin Kak Arfin sampe barusan lo uring- uringan, itu namanya cemburu, dan cemburu itu timbul karena adanya rasa cinta”. Ruby menjelaskan kesimpulan yang ia dapat dari gelagat Naz.
Naz terdiam sejenak mendengar perkataan Ruby “Apa iya aku jatuh cinta,,,, mungkin kah aku jatuh cinta pada Kak Arfin?” Gumamnya dalam hati.
" Ya kan, ngaku aja deh Naz, kalo lo jatuh cinta" Ruby mepet terus.
" Jatuh cinta sama siapa Naz? " Tiba-tiba seorang pria menghampiri mereka dan mengejutkan ke empat orang tersebut.
--------------- TBC ------------
*********************************
Siapa yang datang?
Aduh ketahuan deh.....
__ADS_1
Happy Reading...