
Pagi hari itu biasanya identik dengan udara dingin dan sejuk yang terasa adem ke hati sanubari. Namun berbeda, kali ini yang justru terasa hareudang, yah namanya juga di ibu kota jam delapan pagi sudah mulai terasa panas walaupun matahari baru naik seperlima dari lintasan nya menerangi belahan bumi di siang hari.
Seorang pria tengah duduk seorang diri di bangku tepi danau di bawah pohon rindang dan duduk menghadap ke danau tersebut. Ia menutup matanya dan menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya yang dilakukan secara beraturan, seakan tengah menikmati kesunyian dan udara segar dari pepohonan hijau di sana, menenangkan pikiran sejenak dari hiruk pikuk keramaian ibukota yang biasa menemani kesehariannya.
Tiba- tiba ada tangan yang menyentuh pundaknya, sontak ia langsung membuka matanya karena terkejut, pikirnya setelah kepergian bocah- bocah tadi tidak ada siapapun lagi di sana selain dirinya. Kemudian ia menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memegang pundaknya,
”Naz,,,,”, ucapnya dengan membulatkan matanya karena terkejut.
Naz pun lebih terkejut lagi saat melihatnya dan perasaan bahagia yang tadi sempat membuncah pun sirna seketika,
“Bang Evan,,,sedang apa di sini?”, tanyanya heran.
“Lagi duduk lah cantik, lagi ngapain lagi? Memangnya gak lihat apa?”, jawabnya seenaknya.
”Kamu sendiri ngapain di sini tiba- tiba datang langsung memegang pundak ku, aku pikir nyi kunkun”, Evan mengira-ngira.
“Aku, emm,,,aku kesini mencari seseorang Bang,,,”, Naz menjawab dengan gelagapan,
”Hahh apa tadi?..nyi kunkun, siapa itu ?”, lanjutnya bertanya.
“Ngapain sih nyari orang lain, ini ada Abang di sini,, ayok sini duduk jangan berdiri aja nanti kakinya bisa varises”, Evan mengajak Naz duduk di bangku panjang bersamanya, dan Naz pun ikut bergabung duduk di sana.
“Bang Evan belum jawab ih, nyi kunkun itu apa?”, ternyata Naz masih penasaran.
“Yaelah, nyi kunkun itu kuntilanak Naz, masa gitu aja gak tahu?”, Evan menjawab sambil tertawa kecil.
“Oh, kirain siapa gitu,, Emm,,ngomong- ngomong Bang Evan sering kesini?”, Naz kembali bertanya.
“Dulu sih sering, tapi akhir-akhir ini baru beberapa kali kesini, tempatnya enak buat ngadem, apalagi kalau sore bisa refresh otak setelah menghadapi hari yang melelahkan, asal jangan kemaleman aja serem nanti ada nyi kunkun lagih", ucapnya tersenyum,, "kamu sering kesini juga?" tanyanya.
“Iya, aku sering kesini kalo lagi main ke panti”, jawabnya santai,
"Eng... Bang Evan sendirian kesini?”, Naz yang ternyata kepo lover kembali bertanya.
“Enggak, tadi sama nyokap, tapi beliau lagi ke Panti. Abang ungguin disini aja, malas ke sana”, Evan menjawab dengan nada sedikit kesal.
“Kalo nungguin mah di halaman gitu yang deket, ini mah jauh- jauh kesini, aneh,,emang males kenapa? Gak suka sama anak- anak panti emang ?”, Naz masih aja pinisirin.
Evan tersenyum simpul, “Di sana itu mengingatkan ku pada seseorang, kalo bukan karena nyokap yang maksa minta diantar, aku gak akan mau ke panti lagi”, Evan menghela nafas kasar seperti mengingat sesuatu yang menyakitkan.
“ Mengingatkan pada siapa emangnya?”, Naz benar- benar menuruni sifat sang Bunda kalau sudah kepo.
“Tumben kamu kepo, bisanya cuek dan jutek banget sama abang”, Evan merasa ada yang aneh dengan Naz.
“Masa sih,, ah biasa aja tuh”, Naz malah menyangkal, padahal memang biasanya Naz cuek pada Evan yang selalu berusaha mendekatinya, karena Naz tahu kalau Evan itu seorang playboy.
Tiba- tiba ponsel Evan berdering menandakan ada panggilan masuk, dan dia pun berdiri berjalan ke dekat danau langsung menerima panggilannya itu dan tak lama mengakhiri panggilan tersebut.
"Sayang sekali cantik, abang harus pergi dulu, itu Nyonya besar sudah selesai dan sudah mau pulang”, Evan pun pamit undur diri dan Naz menganggukinya sambil tersenyum.
Naz masih duduk di bangku dengan penuh tanda tanya. “Apa Bang Evan itu kak Anas ya?, tatapan matanya sama dengan Kak Anas yang tujuh tahun lalu ku lihat,,argh… kenapa aku tidak tanya langsung tadi,, bodoh sekali kau Naz”, Naz bergumam dalam hati lalu menepuk jidatnya.
Naz mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan mencoba menghubungi seseorang
‘Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan cobalah beberapa saat lagi’.
"Kok nomor Kak Arfin gak aktif- aktif ya dari semalam?”, ucapnya merasa heran.
Naz bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke panti, setelah beberapa saat ia tiba di halaman panti yang sebelumnya ada mobil terparkir, kini sudah tidak ada “Oh, yang tadi parkir itu mobilnya Bang Evan toh”, Naz berdialog sendiri.
“Iya benar, kok tahu sih”, Bude menjawab ucapan Naz secara tiba- tiba dan mengagetkannya.
“Eh Bude,, assalamu'alaikum ”, Naz menghampiri Bude Hafsah dan menyalaminya.
“Wa’alaikumsalam Naz,,, pasti dari danau ya,, Bude lihat itu mobilnya parkir di depan tapi kok orangnya gak nongol- nongol”, ucap Bude yang sudah berpakaian rapi dan membawa tas.
“Hehe,, iya bude,, tadi kayaknya Bude juga lagi ada tamu, jadi tadi aku ke danau dulu aja deh,, Bude mau kemana nih udah rapi gini??”, Tanya Naz yang memperhatikan penampilan Bude.
“Bude mau ke rumah sakit menjenguk seseorang yang merupakan donatur tetap di sini, Bude tadi dapat kabar katanya dia dirawat sejak kemarin sore”, Bude menjelaskan maksud dan tujuannya.
“Bude sendirian kesana nya?”, tanyanya.
“Iya,,, kalo yang lain ikut siapa yang kan menjaga anak- anak Naz?, apalagi kalau anak-anak ikut,, aduh bisa heboh di rumah sakit nya”. Bude tak kuasa membayangkannya.
“Kalo begitu aku temani ya,, ayok Bude”, Naz menawarkan diri menemani.
“Wah, jadi merepotkan inih”, Bude merasa sungkan.
“Enggak ko Bude kayak sama siapa aja ih”.
__ADS_1
Naz dan Bude pun berangkat menuju rumah sakit diantar oleh Pak Udin tentunya, di perjalanan sempat berhenti dulu untuk membeli parsel buah sebagai ciri khas jika menjenguk orang sakit, kalo menjenguk pasangan mah kan biasanya bawanya bunga, tapi sayang bunga hanya bisa dipandang dan dicium saja tapi gak bisa dimakan, jadinya beli parsel buah- buahan saja.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih, dikarenakan ini hari minggu jalanan ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang, mobil yang dikendarai Pak Udin yang sempat terjebak macet pun akhirnya kini sampai di rumah sakit yang merupakan tempat tujuan Bude.
Naz yang membawakan parsel buah berjalan beriringan bersama Bude masuk ke dalam rumah sakit, Bude lalu menanyakan kamar tempat dirawat orang yang ditujunya ke bagian informasi dan setelah diberitahu Bude menghampiri Naz yang menunggunya sambil duduk di kursi.
“Ayo Naz kita naik lift, katanya tempat rawat inapnya di lantai 6 kamar VVIP nomor 619”.
Bude dan Naz pun menaiki lift menuju lantai 6, saat sampai di sana mereka bertanya kepada suster letak kamar tersebut, setelah ditunjukan mereka pun bergegas menuju kamar tersebut. Sesampainya di depan pintu kamar, ada seorang wanita paruh baya tengah duduk di kursi depan ruangan tersebut.
“Assalamua’laikum,, Bu Darmih “, Bude menyapa seorang wanita yang bernama Bu Darmih.
“Wa’alaikumsalam, eh ada Bude Hafsah, mau besuk tuan muda ya?”,Dia menjawab salam dan kemudian bersalaman dengan Bude Hafsah, Naz pun ikut menyalaminya dan tersenyum rengkuh padanya.
“Eh, ini siapa cantik sekali?”, ia menanyakan Naz yang menyalaminya.
“Saya Rheanazwa Bu, panggil saja Naz”, Naz memperkenalkan diri dan tersenyum manis pada Bu Darmih.
“Dia ini suka main ke panti, dan kebetulan tadi baru sampai di Panti, eh malah mengantarku kesini ”, Bude sedikit menjelaskan.
“Oh begitu toh, mari- mari masuk ke dalam”, ajaknya mempersilahkan masuk.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam kamar, Naz dan Bude dipersilahkan duduk di sofa yang tersedia di sana, sedangkan pasiennya tidak terlihat karena tempat tidurnya terhalang tirai.
"Kok tirai nya ditutup, lagi istirahat ya?”, tanya Bude.
“Iya, tapi sudah hampir satu jam beliau tidurnya, semalam susah tidur karena sesak dan mengeluh gatal- gatal lagi”, jawab Bu Darmih.
“Saya lihat sebentar boleh?”, Bude bangkit dari duduknya dan meminta izin.
“Silahkan Bude”, setelah dipersilahkan Bude pun menghampiri pasien dan melihat keadaanya, ternyata masih tertidur pulas.
“Naz, kamu gak mau lihat ke sana?”, tanya Bude yang sudah kembali duduk di sofa.
“Emmm,, hehe, iya Bude boleh”, Naz pun bangun dari duduknya melangkah menuju tempat pasien berada dan sedikit membuka tirai nya.
Saat melihat pasien yang tengah tertidur itu Naz terkejut dan membulatkan matanya. Ia menghela nafas panjang serta membekap mulutnya dengan telapak tangannya, kemudian ia melangkahkan kakinya mendekati ranjang.
“Kak Arfin”, lirihnya sedih sambil melangkah mendekati ranjang kemudian tak terasa ia meneteskan air matanya karena melihat pria yang sejak semalam tidak bisa dihubungi ternyata tengah terbaring lemah di rumah sakit.
Naz menangis tanpa mengeluarkan suara karena takut membangunkannya, ia sangat sedih melihat keadaan Arfin, selain wajahnya lebam akibat pukulan Arsen, juga dipenuhi bintik merah akibat memakan roti keju buatannya kemarin.
“Emhh,,,”, Arfin menggerakkan tangannya dan membuka matanya perlahan,
"Naz,,” ucapnya pelan dengan nada serak khas bangun tidur,
”Ya ampun, sedang sakit begini pun di kepalaku hanya ada Naz, apa aku sedang bermimpi ataukah berhalusinasi?,,, tidak mungkin dia ada disini, karena aku sudah melarang Dandy mengatakan kalau aku masuk rumah sakit ", Afin bicara dalam hatinya dan membuka matanya untuk mengumpulkan kesadarannya, lalu dia mengucek matanya karena masih tidak percaya Naz ada di hadapannya.
“Kak Arfin,, hiks hiks”, Naz menangis dan memegang tangannya, ”Maafin aku, gara- gara aku kakak jadi seperti ini”, ucapnya menyesali.
Arfin pun membuka matanya dengan sempurna,
”Naz, kamu benar- benar ada disini?”, tanyanya heran, sedangkan Naz yang sedang menangis hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab dengan kata- kata.
“Kamu kok bisa tahu aku ada di sini?”, Arfin kembali melontarkan pertanyaan.
“Gimana keadaan lo sekarang Ar”, Dandy yang masuk tiba- tiba terkejut melihat pemandangan di depan matanya.
"Dek, kok bisa ada di sini?”, Dandy merasa heran padahal ia tidak memberitahukan Naz soal Arfin yang di opname sedangkan Naz sibuk menghapus air matanya lalu hendak menjawab pertanyaan Dandy.
“Naz datang bersama Bude ,Dan,,, tadi saat Bude mau berangkat kesini ada Naz ke panti, dan dia menawarkan diri mengantar Bude”, Bude menghampiri Dandy.
“Bude kok gak bilang kalau yang sakit itu Kak Arfin?”, Naz melempar pertanyaan pada Bude.
“Ya kan kamu juga gak menanyakan nama donatur yang mau Bude jenguk,, kok kamu bisa kenal sama Arfin”, Bude merasa heran.
“Itu, itu kan Kak Arfin sahabatnya Kak Dandy dan suka maen ke rumah, Bude”, Naz menjawab dengan terbata-bata.
“Ah iyaa,, Bude lupa,, oh ya,,Arfin semoga lekas sembuh ya,, maaf Bude gak bisa lama- lama, Bude harus kembali ke panti, bude pamit pulang dulu yaa”, Bude berniat untuk segera pulang,
" Ayo Naz kita pulang”, ajak beliau.
" Iya Bude, terimakasih sudah menyempatkan menjenguk", ucap Arfin.
“Emmm,, Bude pulang diantar Pak Udin aja ya, nanti ku telepon Pak Udin nya, aku pulang sama Kak Dandy aja”, Naz menolak untuk pulang, dan Bude pun mengiyakan perkataan Naz lalu berpamitan pada Bu Darmih yang kemudian mengantarkannya keluar kamar. Sedangkan Naz berjalan keluar tirai dan menelpon Pak Udin untuk mengantarkan Bude pulang ke panti, lalu kembali menghampiri Arfin dan Dandy.
“Kak Dandy kenapa gak bilang sama aku kalau Kak Afin masuk rumah sakit, kan semalam kakak ke kamarku nganterin bingkisan, tadi kata Bude juga kak Arfin dirawat sejak kemarin sore, berarti kan sejak Kakak tahu”, Naz mulai menginterogasi Dandy.
“Ya ampun Dek, kamu tuh kalo udah nyerocos seperti fotokopian bunda tahu gak,,, noh orangnya yang melarang Kakak bilang ke kamu kalo dia masuk rumah sakit, dia cuman gak mau kalo kamu merasa bersalah, entar mikir takut di gentayangin lagi deh”, Dandy malah menakuti Naz.
__ADS_1
“Sialan lo, emangnya gue udah mati apa pake gentayangan segala”, Arfin merasa kesal dengan kalimat terakhir yang diucapkan Dandy.
Ceklek,,
Terdengar ada suara pintu terbuka, lalu Dandy menggeser kan tirai seluruhnya hingga ke pinggir.
“Wah, lagi ada tamu rupanya,, Naz kok kamu ada di sini , bukannya tadi di Panti?” Evan merasa heran atas keberadaan Naz.
“Iyah, tadi bareng Bude kesini mau besuk seseorang katanya, ternyata yang sakit Kak Arfin”, jawab Naz.
“Ko lo tahu Naz tadi ada di panti, sejak kapan lo ke panti lagi Van?”, Dandy merasa heran pada sahabatnya yang satu itu, karena ia tahu betul semenjak kejadian itu Evan tidak pernah menginjakkan kaki ke panti asuhan itu lagi.
“Tadi nyokap maksa minta diantar ke panti karena sopirnya lagi nganter bokap ke luar kota, gue gak masuk ke panti lah parkir doank di sana”, Evan menjelaskan lalu menghampiri Arfin,
"Gimana Ar, sekarang udah baikan?”, Arfin mengangguki pertanyaan Evan.
"Naz , katanya sama Bude, mana Bude nya ko gak kelihatan, apa ghoib ya?”, Evan kembali bertanya pada Naz, kemudian duduk di ranjang di sebelah kaki Arfin.
“Bude udah pulang duluan ”, Jawab Naz singkat.
“Kok kamu gak ikut pulang, mau ngintilin Dandy yang mau ngedate ya?”, Evan bertanya usil.
“Diem lo kampret”, Dandy langsung nyamber.
“Hah,, Kak Dandy udah punya pacar?,, haha emang ada yang mau ya?”, Naz mengembalikan perkataan Dandy tempo hari.
“Hahahah, adek lo aja gak percaya lo punya gebetan, Dan”, Evan menertawakan Dandy dengan renyahnya.
“Dia mau jenguk kesini tuh cuman modus, ceweknya kan kerja di rumah sakit ini, Naz", Arfin yang tengah duduk ikut menimpal.
“Wah,, masa sih,, mana orangnya Kak, kenalin dong sama Dede,,, yahh..nanti tetangga sebelah patah hati dong”, Naz jadi dibuat penasaran.
“Tetangga sebelah yang mana, Naz?,, Tante pingky yang jendeus itu bukan?”, Evan ternyata mengetahui fans nya Dandy.
"Bukannya namanya tante Risa, ko tante pingky sih Bang?”, Naz merasa aneh.
“Lah itu,, kalo lihat dia suka pakai baju pink, segala macam pink, sampe mobilnya aja di cat pink”, Evan memang ijo matanya kalau lihat cewek.
“Anjay Van, lo sampe hafal banget sama si tante, jangan- jangan lo lagi yang ngincer dia ya, buaya parah lo ”, Dandy akhirnya bisa membalas keusilan Evan.
“Sialan lo, siapa juga yang suka sama tante- tante, bukan selera gue”, Dandy, Naz dan Arfin menertawakan Evan, saking asyiknya mereka bercanda sampai tidak menyadari ada dokter bersama suster masuk ke ruangan.
“Permisi, saya mau periksa pasien dulu”, Ucap dokter itu dengan ramah Dandy dan Naz bergeser sedikit menjauh dari ranjang dan membiarkan Dokter memeriksa Arfin.
“Bintik- bintiknya masih terasa gatal gak ? Apa masih ada sesak?”, Dokter menanyakan apa yang dirasakan Arfin sambil memeriksa dengan stetoskop dan memperhatikan bintik-bintik yang ada di wajah, leher dan tangan Arfin.
“Sudah tidak ada sesak, kalo gatal masih terasa sedikit”, Arfin memberitahukan apa yang ia rasakan, dan ia melihat ke arah Naz melirikan matanya pada Naz lalu melirik pada dokter cantik yang memeriksanya, sedangkan Naz hanya mengerutkan dahinya.
“Apa maksudnya itu? apa Kak Arfin naksir sama dokter cantik itu,, pake lirik- lirikan mata segala lagi,, iihh dasar mata keranjang”, Naz bergumam kesal dalam hatinya.
“Oke, keadaannya sudah mulai membaik, semoga seterusnya membaik ya agar cepat sembuh dan bisa segera pulang”, Dokter kembali buka suara.
“Denger tuh Ar, dokter aja udah ngusir lo, udah males kali dia lihat muka lo ”,Evan malah mengejek Arfin dan yang diejek hanya tersenyum miring, sedangkan sang dokter cantik melempar senyuman manisnya.
“Masih ada visit lagi?”, Dandy bertanya pada dokter itu.
“Masih Mas, ada empat pasien lagi”, Jawabnya tersenyum, sedangkan Naz hanya cengo karena terkejut saat dokter itu memanggil Mas pada Dandy.
“Itu calon kakak ipar kamu Naz, kenalin dong Dan”, Arfin pun mengatakannya karena Naz sepertinya tidak mengerti dengan isyarat dari lirikan mata Arfin.
“Oh, ini adik kamu Mas, cantik sekali ya, perkenalkan saya Arini”, Ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
“Saya Rheanazwa, panggil saja Naz”, Naz membalas uluran tangan Arini dan bersalaman dengannya sambil tersenyum.
“Lagi menjenguk Arfin ya”, tanya Arini.
“Iya, dia mau merawat Arfin disini soalnya dia yang sudah ngasih roti keju sampai dimakan oleh Arfin”, malah Dandy yang menjawab.
“Oh, jadi kamu Naz si biang kerok yang sudah bikin Arfin terbaring disini toh”, Evan malah ikut menimpal sedangkan Naz malah gelagapan menggaruk- garuk kepalanya yang padahal tidak gatal karena merasa malu dan bersalah sambil nyengir kuda.
------------------- TBC --------------------
********************************
Ternyata efek alergi Arfin berkepanjangan yaa....
Happy Reading.... 😉🥰
Jangan lupa tinggalkan jejakmu😉🥰
__ADS_1