
Hari jumat ini tak seperti biasanya jam sekolah berakhir pada pukul sepuluh karena UTS telah berakhir pada kamis kemarin sehingga prosesi pembelajaran pun tidak seefektif biasanya. Sebagian siswa yang mendapat nilai kurang dari standar yang di tentukan mengikuti ujian remedial di aula sekolah, sedangkan yang lainnya masuk ke kelas masing- masing dan diberi tugas oleh pengajar masing- masing untuk mengisi kekosongan waktu daripada keluyuran tidak jelas walaupun masih di sekitaran sekolah.
Naz yang baru saja tiba di rumahnya langsung disambut oleh sang Bunda di teras depan dan diajak masuk ke dalam yang ternyata di sana sudah ada Mimih dan Tante Ina.
“Mimih,,,, “, ucap Naz langsung menghampiri Mimih nya yang sedang duduk di kursi tamu, Naz menyalaminya lalu memeluk beliau,,”Mimih,,, aku kangen banget”, ucapnya lalu mencium pipi Mimihnya.”Loh,, Kak Arsen mana? Kok belum gak kelihatan?”, tanya Naz sambil mengedarkan pandangannya.
“Mimih oge meni sono pisan kanu geulis,,,, Arsen mah nuju KKN jadina teu bisa ngiring kadieu”, ucap Mimih.
“Mimih juga kangen banget sama yang cantik ini, Arsen sedang KKN jadinya gak bisa ikut ke sini”.
“Jadi sama Mimih aja nih kangennya? Arsen yang gak ada juga di tanyain sedangkan yang menjanteng disini dianggap ghaib”, ucap Tante Ina yang belum kunjung di sapa oleh Naz.
“Iiihh,,, sama Tante Ina juga kangen”, Naz menghampiri dan menyalami Tantenya yang duduk di kursi yang lainnya bersama Aliya, “Hallo Aliyaa,,, apa kabar,, kamu tambah cantik dan gemesin aja ihhh”, ucapnya sambil menjembel pipi Aliya.
“Aduhh,,, kak Nanas,, pipi aku satitt”, ucap Aliya protes sambil mengusap pipinya.
“Abisnya Aliya bikin gemes,, wahh ternyata boneka tedy bear nya Aliya sudah besar ya,,,”.
“Iya,,, poneka ku lebih besal dali punya Nanas, ini kan dali om bos ayah, katanya kak Nanas satit jadi minta ditenokin syama poneka yang dulu”.
“Hah,, Om Bos Ayah…?? Siapa itu??”, tanya Naz heran.
“Itu loh Naz, temannya Dandy yang waktu itu main ke Bandung yang datang barengan sama kamu, Dandy dan Mas Rizal.Ternyata dia itu atasannya Mas Aji di kantor, dan saat datang ke rumah mau mengambil berkas ketemu deh sama Tante. Awalnya Tante gak kenal, tapi dia masih mengenali Tante rupanya dan memperkenalkan dirinya serta menyebutkan dia itu sahabatnya Dandy, dan saat melihat Aliya, dia mengajak Aliya ngobrol mengatakan bahwa kamu mogok makan sampai sakit karena ditinggal boneka mu itu. Bahkan dia sampai membujuk Aliya agar mau menyerahkan boneka mu padanya dengan memberikan Aliya boneka yang lebih besar, katanya sih boneka mu itu ada nilai sejarahnya,, ternyata benar saja boneka itu sudah sampai dengan cepat ke tangan mu”, Tante Ina menjelaskan panjang lebar.
“Maksud Tante,, orang itu Kak Arfin?” tanyanya memastikan.
“Iya,,, siapa lagi atuh Naz”, jawab Tante Ina.
“Eh,, kamana eta si kasep teh gening meni teu nepungan ka Mimih, teu apaleun kitu Mimih ka Jakarta?”, rupanya Mimih ingatannya, masih tajam.
“Eh,, kemana itu si ganteng kok gak menemui Mimih, apa dia tidak tahu kalau Mimih ke Jakarta?”.
“Pan Arfin mah nuju di Surabaya atuh Mih, si kasep teh sing horeng Bos na Mas Aji di tempat damelna, pan ayeuna mah dintenan damel jadi teu tiasa kadieu Mih, Mas Aji ge teu tiasa sumping, jabana ge Ayu sareng Irfan nuju ulangan di sakola jadi ngan Ina hungkul nu tiasa kadieu teh di rencangan ku si bungsu”, Tante Ina menjelaskan.
“Kan Arfin lagi di Surabaya Mih, si ganteng itu ternyata bos nya Mas Aji di tempat kerjanya, sekarang kan hari kerja jadi gak bisa kesini Mih, Mas Aji juga gak bisa datang karena Ayu dan Irfan sedang ulangan di sekolah jadi hanya Ina saja yang bisa datang kesini di temani si bungsu”.
“Mimih , Tante, Nanaz ke atas dulu ya mau mandi sama ganti baju, udah gerah dan lengket rasanya,, dadahh Aliya”, ucap Naz lalu bergegas naik ke lantai dua ke tempat kamarnya berada, Naz masuk dan langsung berlari menjatuhkan dirinya ke tempat tidur lalu memeluk boneka tedy bear kecilnya. “Hiks… hiks,, hikss,,,hhuhuhu,,,hiks hiks hiks,,, kenapa begitu banyak kebaikan yang kau berikan padaku Kak,,, sampai hal sekecil ini pun kau lakukan untukku, hanya supaya aku tidak sedih karena kehilangan boneka pemberianmu ini,,, hiks hiks hiks,,,”, ucapnya dalam hati dengan berlinang air mata. Naz merasa semakin bersalah pada Arfin yang telah banyak melakukan pengorbanan untuknya, sedangkan ia telah menyia- nyiakannya begitu saja, dan kini tinggalah penyesalan yang mendalam dan menggoreskan luka perih d hatinya.
Setelah merasa tenang Naz pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya kemudian melaksanakan shalat dzuhur di kamar.
Sejak siang tadi keluarga Naz mulai berdatangan selain Mimih dan Tante Ina, ada juga Opa, Oma, Pak Syarief, Bu Rahmi, dan sanak sodara lainnya . Naz yang sudah selesai membersihkan dirinya pun kembali turun ke bawah ikut nimbrung bersama keluarganya yang tengah berkumpul bersamaan dengan para lelaki yang sudah pulang dari masjid usai melaksanakan shalat jumat. Ruang tengah pun sengaja di gelar karpet permadani supaya suasana kebersamaan semakin terasa hangat dan mereka makan bersama sambil duduk lesehan.
Seusai makan para lelaki ngobrol- ngobrol santai sambil membicarakan untuk acara esok, sedangkan para wanita mendekor bingkisan untuk hantaran acara lamaran Dandy dan terus menggodanya yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. Naz sedari tadi nampak mencari keberadaan seseorang yang mungkin akan datang ke rumahnya, namun yang di tunggu pun tak nampak batang hidungnya sampai malam juga. Sebagian orang menginap sedangkan Pak Syarif dan kedua kakaknya beserta istri pamit pulang.
Keesokan harinya pagi- pagi sekali penghuni rumah sudah sangat disibukan dengan berbagai kegiatan, ada yang menyiapkan makanan, ada yang menyiapkan pakaian seragam yang akan dikenakan masing- masing dalam acara nanti, ada yang sudah mulai merias diri, ada yang masih mandi dan sebagainya.
Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi dan semua orang sudah bersiap untuk berangkat mengantarkan Dandy untuk melamar kekasih pujaan hatinya, Arini. Para lelaki mengenakan batik warna moka bercorak hitam sedangkan para wanita menggunakan gaun yang di mix dengan bahan brokat tile dengan warna moka pula dengan berbagai model. Semua orang mulai keluar satu persatu dengan sebagian orang membawa hantaran lamaran dan masuk ke dalam mobil yang jumlahnya sebanyak enam mobil.
“Gilee lo Dan,,, udah sukses ya lamaran romantisnya,, kini tinggal lamaran resmi alias bertunangan,,”, Ucap Nervan yang baru datang menghampiri Dandy yang tengah berdiri berdampingan dengan Naz.
“Kemana aja lo baru nongol?”, Tanya Hardi ketus.
“Hahah,,,,yang pentingkan belum pada berangkat”, ucapnya ngeles,,” wah wah,, neng cantik makin cantik aja kalau pakai gaun gini,, kan kelihatan identitas perempuannya,, bak puteri raja”, ucap Nervan memuji Naz yang memakai dress moka kombinasi tile brokat daun dengan lengan sedikit semu membentuk balon dengan panjang dress-nya sebetis, rambut dicepol ke belakang dengan riasan bunga di tengahnya, sepatu hak pendek, dan tentunya wajahnya dirias dengan sentuhan makeup flawless.
__ADS_1
“Hadeuh,,, lebay banget sih Bang”, ucap Naz malas.
“Eh,, udah udah ..ayok kita berangkat,, yang lain udah pada naik mobil tuh”, ucap Hardi dan tiba- tiba Raline datang menghampiri mereka.
“Mas Hardi,, aku bareng Bang Evan ya naik mobilnya, mobil Papa penuh sama hantaran tuh”, ucapnya bergelayut manja pada Hardi.
Nervan meliht ke arah Naz lalu tersenyum licik,, “Ayok Raline,, sama Abang aja berangkatnya biar Abang gak kesepian di mobil,, gak ada temen ngobrol”, ucapnya tersenyum lebar karena melihat Naz yang membuang muka nampak cemburu menurutnya.
“Nitip adek gue,,, jangan macem- macem lo”, ucap Hardi mengancam.
“Iya, iya tuan ,,, Ayok Raline”, ajaknya sambil mengajak Raline menggandeng tangannya, “Duluan ya Naz,,,”, ucapnya melempar senyum, sedangkan Naz hanya memutar jengah bola matanya dan ia pun memasuki mobil yang ditumpanginya bersama Dandy beserta Ayah Bundanya, kemudian mereka pun berangkat menuju kediaman keluarga Arini.
Sesampainya di sana, kedatangan mereka di sambut oleh penerima tamu, kemudian di persilahkan masuk. Betapa terkejutnya Bunda saat bersalaman dengan kedua orang tuanya Arini yang menyambut bersama puteri yang satunya lagi.
“Pak Indra”, ucap Bunda terkejut, lalu raut wajah bunda berubah saat melihat Sherly yang ikut menyambutnya.
“Ibu Anita,,,”, Pak Indra pun tak kalah terkejutnya, “Jadi Dandy itu anaknya Bu Anita?”, lanjutnya bertanya.
“Iya Pak,, Dandy itu anak saya dan Anita”, Pak Rizal yang menjawab, karena sang istri malah diam mematung, ”Saya Rizal Harfi”, lanjutnya lalu saling bersalaman.
“Mari,, mari silahkan duduk”, Pak Indra mempersilahkan duduk, dan para rombongan pun segera mengambil tempat duduk masing- masing yang telah disediakan.
“Bunda,, ayo kita duduk”, ucap Naz berbisik dan menggandeng Bundanya yang raut wajahnya berubah seperti sedang kesal lalu mengajaknya duduk dan mereka pun duduk bersebelahan “Bunda,,, jangan seperti ini,, ini acara penting Kak Dandy,, aku mohon,, kita sudah melupakan dan tidak akan membahas masalahku dan Sherly lagi kan Bunda,, tolong jangan sampai masalahku yang dulu merusak moment kebahagiaan Kak Dandy”. Ucap Naz kembali berbisik ke telinga Bundanya, kemudian Beliau nampak menarik nafas panjang dan menghembuskannya untuk menetralkan perasaannya yang sedang terkejut sekaligus kesal.
Baru saja Naz berhasil menenangkan Bundanya, kini Naz yang mendapatkan kejutan saat dia tanpa sengaja memandang ke arah Pak Indra yang baru kembali masuk bersama seseorang, lalu terlihat orang di belakang merek berjalan seorang diri, lalu ia pun mengedarkan pandangannya dan tanpa disangka mereka berdua saling bertatapan. Rasa terkejut Naz bercampur rasa bahagia yang membuncah di hatinya, kerinduan yang selama dua pekan ini menyiksanya seakan terobati saat melihat pria yang dicintainya akhirnya menampakkan dirinya setelah lama tak berjumpa, namun sayang itu tak berlangsung lama, saat Naz melempar senyuman padanya, dia langsung membuang muka dan berjalan menuju tempat duduk yang berjauhan dengan Naz dan ternyata ia duduk dekat dengan Mimih dan Tante Ina yang menggendong Aliya.
Senyuman Naz langsung sirna seketika berubah sendu dan menjadi rasa sakit yang seakan menyayat hati, pria yang selama ini selalu membuatnya merasa bahagia dan berbunga- bunga, selalu mengobati sedihnya dan memberikan rasa nyaman, kini hanya rasa sakit yang ia rasakan saat melihat pria pujaan hatinya mengacuhkan dirinya bahkan baru sebentar saja bertatapan langsung membuang muka,”Sebenci itu kah dia padaku, sedangkan dengan Mimih dan Tante Ina dia terlihat ramah sekali, tapi padaku,,,, menatapku saja dia seperti tidak sudi,,”, Lirih Naz saat melirik ke tempat Arfin duduk bersama Mimih dan Tantenya, dengan berusaha sekuat tenaga supaya tidak terlihat sedih dan tidak menangis.
Acara lamaran pun berjalan dengan lancar, diakhiri saling tukar cincin. Selanjutnya para tamu dipersilahkan menyantap hidangan. Dan mereka pun menghampiri meja prasmanan untuk mengambil dengan memilih makanan yang beraneka ragam di sana. Naz pun bangun dari duduknya dan mengikuti bunda nya mengambil makanan, ia berjalan dengan langkah gontai dan pikiran entah kemana hingga tak menyadari kalau di dekat meja prasmanan ada Dandy, Hardi dan Arfin yang tengah ngobrol.
“Ayok- ayok,,, halah lo baru lamaran aja udah nervous apalagi mau akad nanti”, ucap Hardi lalu menertawakan Dandy, dan mereka pun hendak makan.
Saat Arfin hendak mengambil piring ternyata Naz juga baru sampai di sana hendak mengambil piring, mereka pun kembali bertatapan dan lebih parah dari yang tadi Arfin langsung membalikan tubuhnya lalu meninggalkan meja prasmanan tersebut, begitu pun Naz bergegas pergi kemudian menghampiri Arini yang berdiri tak jauh dari sana, “Kak,,, aku mau numpang ke toilet boleh”, tanyanya.
“Oh iya Naz,,kamu lurus kesana terus mentok belok kiri, nanti ketemu kamar mandinya”, ucap Aini sembari menunjukkan arah.
“Makasih ya Kak,,,”, Naz pun langsung berjalan menuju kamar mandi sesuai petunjuk arah dari Arini, sesampainya di sana ia langsung masuk lalu menguncinya menyalakan kran, dan akhirnya air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah mengalir deras dari kedua manik indahnya ,hiks,,,hiks,,, hiks,,,, Naz terus menangis meluapkan kesedihannya, membekap mulut dengan telapak tangannya untuk menahan suara agar tidak didengar orang, menelungkup kan telapak tangan satunya lagi di dadanya yang terasa sesak dan sakit seakan perlakuan Arfin tadi terus terbayang di kepalanya, Arfin yang membuang muka saat melihatnya, menghindari berpapasan dengan nya, menjauhi saat tak sengaja berdekatan dengannya, hiks,, kiks hiks,,, “Kenapa ini begitu menyakitkan”, lirihnya.
Setelah beberapa saat naz di kamar mandi, ia pun membasuh muka nya kemudian melapnya dengan tisu yang selalu ada di dalam tasnya, ia merapihkan dandanannya dan menenangkan dirinya dulu sampai tidak terlihat seperti habis menangis, kemudian Naz mematikan kran dan keluar dari kamar mandi.
“Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya,,, ibunya murahan anaknya pun sama murahannya”, ucap Raline ketus.
“Maksudnya apa ngomong gitu?”, tanya Naz sewot.
“Gak usah pura- pura,, gue lihat lo suka deketin Bang Evan,, gak usah kegatelan deh lo,, lo kan udah punya si Pincang itu”, ucap Raline.
“Gue ngejar- ngejar Bang Evan,,, ? gak kebalik tuh ngomong?? Dia yang ngejar- ngejar gue”, Naz bicara dengan penuh percaya diri.
“Oh,,, jadi gara- gara si pincang udah nyuekin lo jadi lo nyari mangsa yang lain”,.
“Terserah,,, minggir gue mau pergi”, ucap Naz.
“Emang cewek murahan seperti lo cocok dengan cowo pincang macam dia”, ucap Raline.
__ADS_1
“Si pincang si pincang,,, dia itu punya nama, dan namanya Arfin,, gue yakin lo gak budeg kan”, ucap Naz mendorong Raline.
“Emang kenyataannya gitu dia itu pria pincang”, Raline malah semakin menghina.
“Oh, iya dan lo si bodoh”, ucap Naz.
“Maksud lo apa ngatain gue si bodoh", Raline terpancing.
“Emang dari SD juga lo itu bodoh,, ulangan aja tukang nyontek sama gue,, PR lo dari SD sampai SMP juga gue yang ngerjain, mana lo gak pernah masuk ranking, minimal 10 besar gitu,,, gak pernah kan,, apa coba itu namanya, si bodoh”, ucapnya mengingatkan.
“Berani lo ya ngatain gue”, ucap Raline kesal.
“Berani lah,,, gimana rasanya nama lo di ejek jadi si Bodoh,,, gak enak kan,, kalau bukan karena uang Papa,, mana mungkin lo bisa lolos masuk SMA ternama, dasar si Bodoh” ucap Naz.
“Kurang ajar lo ya”, Raline langsung menjambak rambut Naz yang dicepol, dan Naz pun membalasnya, Raline manempar, Naz pun membalas dengan tamparan yang lebih keras.
“Berhenti,, apa- apaan kalian ini”, ucap Bu Rahmi yang menghampiri mereka yang sedang berantem di depan kamar mandi.
“Itu Ma,, dia ngatain aku si Bodoh yang gak becus dalam pelajaran , bahkan dia bilang aku bisa masuk SMA cuman karena sogokan dari Papa, Ma”, ucap Ralin merengek.
Plakkk ,,, Bu Rahmi langsung menampar Naz dengan kerasnya, “Saya sudah sangat bersabar dengan kamu, dengan kehadiran mu dan ibu mu,, cukup saya yang kalian sakiti, jangan pernah menyakiti anak saya sedikit pun, paham kamu”, ucap Bu Rahmi dengan menunjukkan jari telunjuknya ke wajah Naz, sedangkan Naz tertunduk sambil memegang pipinya, lalu ia pun lari dengan menunduk bergegas pergi meninggalkan keramaian pesta tersebut.
Naz berjalan keluar tak tentu arah kemana saja kakinya melangkah menyusuri jalanan trotoar yang tidak ia kenal dengan memegang pipinya yang sakit dan yang lebih sakit adalah hatinya, dengan air mata yang terus mengalir deras. Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya ia menghentikan sebuah taksi dan menaikinya.
Sementara di rumah Arini acara telah selesai dan para tamu pun berpamitan satu persatu untuk pulang ke rumah masing- masing, Arfin pun berpamitan padahal ketiga sahabatnya itu masih berkumpul dan ngobrol- ngobrol di sana.
Arfin melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat, dan setelah beberapa saat ia tiba di tempat tujuannya, lalu memarkirkan mobilnya di halaman.
“Assalamu’alaikum Bude”, ucap Arfin memberi salam pada Bude Hafsah yang tengah menyapu lantai teras.
“Wa’alaikumsalam,,,, “, Bude menjawab salam dan Arfin pun menghampiri dan menyalami Bude, “ ayok masuk Arfin kayaknya sebentar lagi akan turun hujan langit sudah gelap seperti itu, padahal kan ini masih siang”, ucap Bude mengajak masuk ke dalam rumah, dan saat tiba di ruang tamu terlihat ada seseorang yang tengah tidur di sofa, “Ya ampun,,anak itu sampai ketiduran begitu ditinggal Bude sebentar nyari anak- anak ke taman danau”, ucap Bude menggelengkan kepala lalau mendekatinya. “Naz,, bangun,, ayo pindah ke kamar Bude”, Bude mencoba membangunkan Naz, namun ia nampaknya sudah lelap tak menggubris perkataan Bude.
“Sudah Bude, biarkan saja,, mungkin dia sedang lelah”, ucap Arifin.
“Iya,, tapi kasihan itu nanti badannya sakit kalau tiduran di sana, terus dia pakai gaun lagi, takutnya entar malah jadi tontonan”, ucap Bude.
“Yasudah aku bantu gendong dia untuk dipindahkan ke kamar Bude”, Arifin menawarkan diri.
“Wahhh,, beneran ini,, ko malah jadi ngerepotin kamu”, ucap Bude sungkan
“Gak apa- apa Bude”, ucap Arfin, lalu ia pun menghampiri Naz lalu perlahan merangkulnya lalu menggendongnya ala bridal style dibawa ke kamar Bude dan di baringkan di tempat tidur, Arfin menatap lekat wajah Naz yang tertidur pulas, lalu mengusap pipinya, “Pasti ini sakit sekali,,, maaf karena demi membelaku, kamu ditampar oleh mereka Naz”, lirihnya dalam hati dengan tatapan sendu." Emmm... dia mengacuhkan ku hiks hiks", ucap Naz mengigau.
“Arfin,, ini selimutnya, baru diambil dari lemari”, ucap Bude menyodorkan selimut, dan Arfin pun menyelimuti tubuh Naz dari dada hingga menutupi kakinya. “Ayo kita keluar, biarkan dia istirahat, dia pasti lelah sepertinya habis menangis”, Bude dan Arfin pun kembali ke ruang tamu dan mereka duduk di sana. “Kasihan anak itu, sepertinya beban hidupnya terlalu berat untuk remaja seusianya,, namun dia tak mau berbagi dengan siapapun,, dia lebih memilih menenangkan dirinya dengan berlama- lama duduk di tepi danau…”
“Memangnya Naz sering ke danau Bude?”, tanya Arfin heran.
“Iya sering,, kalau lagi sedih pasti kesana,,, untuk menghilangkan penat katanya,,, namun beberapa bulan lalu dia sering datang ke danau untuk menunggu kedatangan seseorang yang ia anggap sebagai motivatornya,, namun sayang orang itu tak pernah datang memenuhi janjinya”, ucap Bude.
“Motivator…siapa Bude?”, Arfin kembali bertanya.
“Entahlah siapa namanya,, tapi katanya Naz mengenalnya sejak ia kecil dan bertemu dengannya di tepi danau,, dan mereka sering komunikasi lewat sosmed karena orang itu tinggal di luar negeri, dan saat kembali ke Indonesia orang itu memberi janji akan menemuinya di danau, tapi sampai sekarang tak pernah menampakkan dirinya”, ucap Bude menjelaskan.
“Apa orang itu yang dimaksud Naz dalam pesan voice note nya,, dan karena orang itu juga Naz menolak ku,,,, Siapa dia??”, gumam Arfin dalam hatinya.
__ADS_1
---------- TBC. -----------