Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Extra_Part04 - Kualat


__ADS_3

Setelah satu jam sepuluh menit perjalanan melanglang buana di udara melintasi atas awan, kini pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat di bandara I Gusti Ngurahrai, Bali. Mereka dijemput oleh pihak resort yang sebelumnya sudah di booking oleh Arfin sebagai tempat menginap selama liburan di sana.


Ia memesan dua kamar resort yang berbeda tipe namun berdekatan, satu untuk ia dan istrinya sedangkan satunya lagi untuk Mama, Mami dan Cahaya dan Mbak Retno. Resort yang tepat di pinggir pantai dan terdapat kolam renang dengan pemandangan indah laut lepas, menjadi pilihan mereka untuk menginap.


Setibanya di resort, Arfin langsung masuk lalu membereskan barang- barang Naz dan dirinya di kamar mereka, namun Naz yang menggendong Cahaya yang tak mau lepas darinya malah ikut ke kamar Mama dan Maminya yang lebih luas dari kamar yang diperuntukan untuknya dan suaminya, karena mengambil three bedroom penthouse sehingga ada tiga kamar tidur, ruang tamu dan ruang makan juga kamar mandi tentunya di sana, sedangkan tempat Naz mengambil one bedroom suite yang hanya ada satu kamar tidur yang lumayan luas juga.


“Kamu kok malah disini terus sih Naz,, temani sana suami mu,, mungkin ia butuh sesuatu,,,”, Bu Rahmi menghampiri Naz yang sedang duduk di sofa sambil melihat laut dari dinding kaca.


“Dia kan sudah besar Ma,,, kalau mau apa-apa kan bisa ambil sendiri, aku mau nemenin Cahaya aja,, nanti kalau dia pengen mimi gimana?”, Naz mencari alasan untuk memuluskan langkahnya memberi pelajaran pada suaminya yang sudah membuatnya kesal.


“Ya ampun Naz,, tadi kan selama di pesawat Cahaya mimi terus sampai tidur,, di mobil aja nempel terus sama kamu, mumpung sekarang dia lagi makan disuapi oleh Nena-nya di teras balkon, kamu bisa pergi ke kamar mu,,,,”. Bu Rahmi malah mengusir Naz.


“Tapi kan Ma,,, nanti kalau Cahaya pengen mimi lagi gimana?”, Naz terus mencari alasan.


Bu Rahmi beranjak menuju tempat beliau meletakan barang bawaannya yang baru saja dibereskan, beliau mengambil sebuah godie bag dan benda berbentuk kotak lalu kembali menghampiri Naz,


“Nih,,, kamu isi dulu botol- botolnya dengan ASI mu,, jadi kamu bisa tenang berduaan bersama suami mu”, Bu Rahmi menyerahkan kedua barang tersebut pada Naz.


“Hahh,,,?? Mama kok bawa ini sih?”, Naz terkejut saat melihat isi godie bag tersebut yang ternyata alat pompa ASI yang biasa digunakannya, padahal ia sengaja tak membawa benda itu, lebih tepatnya ia tak sempat menanyakan pada ART nya tentang barang apa saja yang sudah disiapkan untuk dibawa, karena saat ia keluar kamar semua barang bawaan sudah dimasukan ke dalam bagasi mobil.


“Ya iya lah,,, Mbak Jumin dan Mbak Retno sudah menyiapkan segala keperluan kamu dan Cahaya,,,”.


“Dih,, dasar licik…”, Naz menggerutu kesal.


“Siapa yang licik? Mama maksud mu?”, tanya Bu Rahmi.


“Bukan Ma,, tapi suamiku,,,”.


Bu Rahmi terkekeh mendengar keluhan putrinya, “Sayang,,, dia itu bukannya licik, tapi romantis, kasihan kan semenjak menikah gak pernah pergi honeymoon, katanya kamu suka nolak terus,, makanya Mama kasih saran supaya ngasih tahu kamu nya pas mau berangkat saja jangan dari jauh- jauh hari, jadi kan kamu gak punya pilihan,,, hehehe”.


“Oh,, jadi Mama biang keroknya”, Naz mengambil kesimpulan dari ucapan Mama nya.


“Hahaha,,, sudah sana pergi ke kamar mu…”, Bu Rahmi kembali mengusir Naz.


Naz mendengus kesal karena ternyata suaminya mendapat dukungan penuh dari Mama nya sendiri, ia pun bangkit dari duduknya, namun saat akan beranjak pergi, Mami dan Mbak Retno datang dengan membawa Cahaya.


“Tuh,, Magu nya masih disini,,,”, Bu Hinda yang menggendong Cahaya baru masuk langsung menghampiri Naz dan Bu Rahmi.


“Wahh,, sayangku,,,, abis mamam ya sama Nena?”, Naz langsung mengambil alih Cahaya dari pangkuan mertuanya, karena ia minta digendong dan tentunya karena ia haus.


“Iya Magu,, Cahaya mamam nya banak loh,,,”, Bu Hinda menjawab dengan menirukan suara anak kecil.


“Wahh,, pinter syekali anak Magu,,, tilimikicih yah Nena udah cuapin aku,,”, Naz pun mengikuti mertuanya bicara seperti anak kecil.


“Mimi mimi,,,, “, Cahaya mendusel-duselkan mulut dan hidungnya pada gundukan gunung kembar Magu nya.


“Hmmm,,, kamu tuh ya,, inget sama Magu kalau pengen mimi aja,, dari kemarin nempel terus sama Nena dan Oma,,”, Naz kemudian duduk dan cahaya pun duduk dipangkuan nya.


“Mimi mimi Mamama…”, Cahaya kembali merengek.


“Iya,, sayang,,, “, Naz pun segera menyusui putrinya yang sudah tidak sabaran itu.


“Cahaya belum dikasih sufor, Naz?”, tanya Bu Hinda yang ikut bergabung duduk bersama Naz dan Bu Rahmi, sedangkan Mbak Retno pergi ke wastafel untuk membersihkan bekas makannya Cahaya.


“Belum Mi,, ASI ku banyak banget, suka sampai diperah dimasukin botol, jadi belum aku kasih sufor,,”.


“Gak apa- apa kan ASI nya bisa dibarengin sufor,, apalagi nanti kamu akan sangat sibuk dengan kuliah mu,, jadi kan Cahaya bisa mulai dibiasakan minum sufor dan dicoba merk apa yang cocok nya,, ", Bu Hinda memberikan saran.


"Maaf ya sayang,, bukannya Mami mau ikut campur dalam cara mengurus anak,, Mami cuman khawatir Cahaya seperti Arfin, dia waktu lepas ASI gak cocok sama susu sapi, setelah dicoba berbagai merk apa pun pasti ujung- ujungnya sakit, jadinya dikasih sufor soya yang terbuat dari kacang kedelai dan setelah TK dia baru ketahuan alergi keju sama seperti mendiang kakeknya, ayahnya si Papi,, takutnya nurun juga sama Cahaya”, lanjut beliau mengutarakan kekhawatirannya.


“Iya Naz,, sebaiknya kamu coba kasih sufor perlahan, agar setelah lepas ASI nanti Cahaya gak susah pindah ke sufor, dan supaya dia tetap bisa mengkonsumsi susu walaupun sudah lepas ASI untuk memenuhi asupan nutrisi dan kalsium bagi tumbuh kembangnya,, Soalnya gak sedikit loh anak yang susah minum susu setelah lepas ASI,,”, Bu Rahmi pun mendukung usulan besannya.


Naz terdiam sejenak nampak memikirkan mengenai pendapat Mama dan Mami nya yang tentunya lebih tahu dan berpengalaman dalam mengurus anak,


“Iya Ma,, Mi,, nanti aku pikirin lagi untuk mencobanya,, terimakasih banyak ya,, Mami sama Mama selalu membantuku dalam berbagai hal,, maaf ya,, aku sama Aa suka ngerepotin kalian terus,,”. Naz merasa sungkan.


“Namanya juga orang tua, tugasnya gak ada habisnya, walaupun anak- anaknya sudah berumah tangga, setiap orang tua pasti tak ada hentinya memikirkan kebahagiaan ataupun mengkhawatirkan mereka”, ucap Bu Hinda.


Naz sebenarnya merasa tidak enak jika ia harus bersenang- senang dengan suaminya, sementara ia malah merepotkan Mama dan Mami nya dengan menitipkan Cahaya pada mereka yang sudah tidak muda lagi, pastinya akan merasa kewalahan mengurus putri gembil nya yang sangat aktif itu. Tapi, ia pun merasakan bagaimana menjadi orang tua yang selalu ingin melihat anaknya bahagia, mungkin karena Arfin yang mengeluh kepada Mama dan Mami-nya soal mereka yang belum pernah merasakan yang namanya bulan madu. Selain karena saat baru menikah Arfin masih impoten juga sedang banyak kerjaan, dan setelah impoten nya sembuh Naz malah langsung hamil, jangankan untuk liburan, untuk pergi ke Jakarta saja Arfin melarang Naz, sehingga mereka melupakan yang namanya honeymoon.


Setelah Cahaya merasa kenyang, ia pun kembali minta digendong oleh Nena nya, seolah tak memperdulikan Magu-nya lagi. Bu Hinda membawa Cahaya pergi ke kamar untuk mengajaknya bermain. Naz pun akhirnya beranjak pergi menuju ke kamarnya untuk menghampiri suaminya dengan membawa alat pompa serta cooler box ASI yang tadi diberikan oleh Mama nya.


Saat hendak sampai, ia justru bertemu suaminya yang baru saja keluar dari kamar dengan membawa kartu akses di tangannya.


“Aa mau kemana?”, tanya Naz yang memerhatikan penampilan suaminya dari atas hingga ke bawah.


“Mau berenang,, mumpung belum panas,,,”, jawabnya tersenyum.


“Kok gak pakai baju? Malah pakai kolor doang”, Naz memprotes suaminya yang bertelanjang dada.


“Emangnya berenang harus pakai jubah?”, Arfin malah menjawab ngasal dengan pertanyaan konyol.


“Ya maksudnya pakai baju kaos kek atau kaos dalam gitu”, Naz memperjelas maksud dari perkataanya.


“Enakan seperti ini sayang,, kalau renang pakai baju, nantinya malah masuk angin,, “.


“Kan bisa pakai baju renang”, Naz kekeuh menyuruh suaminya memakai baju.


“Maksudnya bikini gitu?”, Arfin terus saja bercanda.


“Sekalian aja pakai baju renang putri duyung", Naz mulai kesal.


"Ya ampun sayang... nanti Aa bisa ditangkap dinas perlindungan hewan langka dong", Arfin terus saja bercanda.


"Biarin,,, sekalian aja Aa dimusium kan,,,", Naz semakin kesal.


"Hahaha,,,, jangan dong sayang,,, nanti gimana nasib kamu dan Cahaya hayoh?".


"Gampang,,, tinggal cari Pagu baru buat Cahaya mah", Naz bicara dengan entengnya.


"Enak aja,,, kamu kok udah punya niatan gitu?", Arfin tak terima.

__ADS_1


"Abisnya Aa nyebelin, bahas apa jawabnya apa,, malah merembet kemana-mana,", Naz semakin kesal.


"Iya iya dehh.... ehh tadi bahas apa ya,, lupa?", Arfin pura-pura.


Naz mendengus kesal, "Aa pake baju renang khusus laki- laki sana", titah Naz.


“Aa lupa bawa,,, hehe”, Arfin malah nyengir.


“Beli kan bisa,,”.usul Naz.


“Keburu siang, sayang,, nanti panas banget,, sekarang kan sinar mataharinya masih mengandung vitamin D,, orang baru jam sembilan lebih lah,,”, Arfin terus saja menolak saran istrinya.


Naz memutar jengah bola matanya,“Terserah lah,,,”.


“Ikut yuk,,,”, Arfin malah mengajak Naz pergi berenang.


“Aku kan gak bisa berenang,,, mau ngapain ikut juga?”. tolak Naz.


“Ya jagain Aa,,, “.


“Heleh,,, Aa ini bukan anak kecil kali, udah bisa bikin anak malah,, masa iya harus dijagain segala".


“Emangnya gak takut kalau suami mu yang ganteng ini digodain bule cantik gitu”.


“Idih,, udah buntutan juga,, masih aja ngarep ada yang godain,, palingan noh digodain syaitonnirojim”, Naz mengejek suaminya.


“Ehhh jangan salah… Biarpun udah punya buntut juga, kan pesona Aa gak pernah luntur”, Arfin malah semakin narsis.


“Ihh,,, PDOD banget sih,, sini mana kartunya,, aku mau ganti baju,, gerah ini,,”, Naz malah meminta kartu akses untuk masuk ke kamarnya.


Setelah Arfin menyerahkan kartunya, ia beranjak pergi berjalan menuju lift untuk ke lantai bawah dan berenang di kolam renang dengan pemandangan laut lepas. Sedangkan Naz yang menolak ikut dengan suaminya malah masuk ke kamarnya.


Seusai Naz berganti pakaian dengan dress santai, ia kembali keluar dari kamarnya untuk menemui putrinya lagi, namun baru saja ia membuka pintu kamarnya, ia mendengar ada dua orang wanita sedang cekikikan membicarakan sesuatu yang kemudian mengetuk pintu kamar yang bersebrangan dengan kamarnya.


“Loh,, kok kalian udah balik lagi? Katanya mau jalan- jalan”, tanya seseorang yang membukakan pintu kamar dari dalam.


“Enggak jadi,, kita mau berenang aja,, “, ucap wanita yang satu.


“Iya bener… sekalian ngeceng,, ada cowok ganteng lagi berenang di sana”, wanita yang satu lagi pun ikut menjawab.


“Bule maksud kalian?”, tanya si pembuka pintu.


“Bukan,,, orang pribumi deh kayaknya,, tapi ganteng banget“, ucap wanita yang satu.


“Ho oh bener,, gue mau ganti baju dan pakai baju renang yang sexy,, siapa tahu dia kecantol sama gue,, hahaa”, wanita yang satu lagi sampai berharap.


“Gue juga ah,, mungkin aja itu jodoh gue yang baru turun dari langit,, hahaa”, wanita yang satu juga ikut berharap. Naz yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka pun beranjak pergi.


“Emang seganteng apa sih orangnya?”, tanya sang pembuka pintu penasaran.


“Ganteng banget,, putih tinggi, gak pakai baju dan hanya bertelanjang dada,, uunchh sexy pokonya deh,, bikin hatiku meleleh melihatnya,, “.


“Iya ya,, udah ah gue mau masuk,,, gue pengen cepet- cepet samperin dia,, pura- pura mijitin dia gitu,,hihihi”, kedua wanita itu pun masuk ke kamar tersebut.


Naz yang mendengar ciri- ciri lelaki yang dibicarakan tadi langsung menghentikan langkahnya,


“Kok yang mereka omongin kayak laki gue deh”, gumam nya dalam hati.


Naz teringat kalau suaminya sedang di kolam renang,


“Yassalam,,, itu orang ya,, udah punya buntut juga masih aja so so an tebar pesona,,, awas kau ya”, Naz menggerutu lalu mendengus kesal. Ia berputar arah dan masuk kembali kamarnya untuk berganti pakaian lagi serta berdandan.


Setelah beberapa saat ia mengambil tas dan memakai kacamata, lalu keluar dari kamarnya pergi ke lantai bawah untuk nyamperin suaminya yang sedang berenang.


Saat ia hendak turun menggunakan lift, ternyata malah barengan dengan ketiga perempuan tadi yang kini sudah memakai bikini dengan kain pantai yang dijadikan rok yang kedua ujung pojoknya diikat di pinggang.


Naz merasa kesal karena mereka terus membicarakan dan memuji- muji pria yang ia kira suaminya. Mereka juga saling berharap suaminya akan tertarik pada mereka sembari cekikikan.


“Dasar wanita ganjen, kecentilan, enak aja mau godain laki gue,, kayaknya mereka ini jomblo akut yang gak laku- laku deh,, lihat cowok ganteng dikit aja langsung mau diserbu gitu udah kayak mau berburu diskon besar- besaran aja,, dasar norak..!!,”, Naz menggerutu kesal dalam hati.


Ting,,,


Lift yang mereka tumpangi telah sampai di lantai dasar, mereka pun keluar dari lift dan berjalan keluar gedung untuk menuju halaman resort, dimana terdapat kolam renang yang dituju itu berada. Karena terbilang masih pagi, juga hari kerja dan bukan weekend atau libur panjang, sehingga di sana tidak ramai pengunjung.


Naz yang sudah jengah dengan tiga wanita centil itu, akhirnya kesabarannya sudah mulai habis saat baru keluar pintu gedung resort, salah satu dari mereka menunjuk Arfin yang sedang berdiri di tepi kolam, karena ternyata memang benar yang mereka bicarakan adalah suaminya.


“Tuh,, itu tuh,,, ganteng kan”, tunjuk salah satu wanita.



"Ganteng apanya,,? cuma klihatan punggungnya doang,,,", protes wanita yang penasaran tadi.


“Ekhem,,, Maaf Mbak, dari tadi lagi ngomongin cowok itu ya?”, Naz akhirnya buka suara.


Ketiga wanita itu langsung menatap Naz, “Iya,, anda nguping ya?”, jawab salah satu dari mereka dan malah melemparkan tuduhan.


“Gak nguping Mbak,, sejak di lift kan kalian membicarakan seorang pria dan saya juga punya telinga jadinya kedengaran karena kita satu lift, dan ternyata pria itu toh”, Naz tersenyum ketir.


“Bukan urusan anda ya”, ucap wanita yang di kamar membukakan pintu tadi.


“Tapi Mbak,, cowok itu tuh punya penyakit aneh tahu gak”, Naz memulai aksinya.


“Hah,, masa sih? Emangnya anda kenal sama cowok itu?”, tanya wanita yang menunjuk Arfin tadi.


“Ya kenal lah,,, kenal banget malah, kami itu tinggal di komplek yang sama”, Naz mengatakan hal yang sebenarnya,


“Gimana gak kenal,, orang itu laki gue,, kamprett”, Naz menggerutu dalam hati.


“Emang penyakit aneh apa?”, tanya salah satu dari mereka.


“Emmm,, jadi, kalau ada cewek yang mendekatinya, dia bakalan ngamuk gak karuan kayak kerasukan setan, dan bisa sampai melukai cewek itu, bahkan bisa dicekik nya sampai mati,,, khrekk”, Naz melintaskan tangannya pada lehernya seolah sedang menggorok,

__ADS_1


“Tuh tuh,,, kursi pantai itu aja bisa dilempar loh ke wajah cewek yang mendekatinya”.


“Ihh,, ganteng- ganteng kok serem banget sih ngidap penyakitnya”. Salah satu dari mereka yang sebelumnya memuji- muji Arfin, kini bergidik ngeri.


“Iya,, ihh,, bisa mati muda gue kalo deketin tuh cowok,,, memangnya cowok itu kena penyakit apa ?”, tanya temannya penasaran.


Naz terdiam sejenak memikirkan nama penyakit aneh yang tidak mungkin diketahui oleh mereka, kemudian ia teringat sesuatu,


“Eng,, namanya penyakit Kuntit Babaung,,”, ucapnya dengan serius untuk meyakinkan mereka agar mempercayainya, namun sesungguhnya ia merasa tak kuat menahan tawa melihat ekspresi ketiga wanita itu yang terkejut lalu bergidik ngeri.


“Jenis penyakit macam apa itu,,? Kok gue baru dengar deh”, salah satu dari mereka ada yang menyadari.


“Eng,, itu lebih parah dari penyakit sapi gila atau penyakit anying edan gitu,,,”, Naz semakin mengarang kemana- mana.


“Ihh,, serem banget”.


“It itu jauh lebih serem,,, ayo cepat kita pergi,, sebelum dia nyamperin kita”, salah satu dari mereka menunjuk ke arah belakang Naz dengan ketakutan, lalu mengajak pergi kedua temannya.


“Ayo,, ayo,,”, kedua temannya yang lain pun ikut pergi dengan perasaan takut, mereka langsung berlari bersamaan.


“Hahahahahaa,,, baru ditakut- takutin segitu aja udah mangpret ,,, ahh cemen banget lo pada,, dasar cewek- cewek ganjen ,, hahaha”, Naz terus tertawa dengan renyahnya sambil memegang perutnya yang merasa geli melihat ketiga cewek ganjen itu sampai lari ketakutan.


“Dasar bego,,, mana ada penyakit kuntit babaung,,, lagian kan kuntit itu anak belut, gak mungkin lah belut babaung alias meraung,,,, auuummmm,,,, hahahahaha”, Naz terus menertawakan kekonyolon nya yang berhasil menjauhkan suaminya dari gangguan cewek ganjen- ganjen.


Naz kemudian berhenti tertawa dan menutup mulutnya, seolah baru menyadari jika ia sedang berada di kawasan tempat umum, tentunya ia akan dikira orang gila jika terus tertawa sendirian seperti itu. Ia pun kembali ke tujuan awalnya, yakni hendak menghampiri sang suami yang sedang berenang. Naz membalikan tubuhnya untuk melanjutkan perjalanannya. Namun betapa terkejutnya ia melihat ada seseorang berdiri tepat di hadapannya yang membuatnya membulatkan kedua bola matanya, ia langsung menarik nafas lalu panjang.


“Aaaaaaakkkkkkkk,,,”, Naz berteriak sekancang mungkin, begitupun orang itu ikut berteriak. Naz langsung berlari ke sembarang arah, yang ternyata malah berlari ke area dinning room dan orang gila itu pun malah mengejarnya.


“Haduh,, kualat gue,,, gara- gara ngatain suami, jadi dikejar orang gila,,,”, Naz menggerutu sambil terus berlari sekuat yang ia bisa, walau tidak bisa secepat dulu saat masih sekolah dan senang berolahraga.


“Tolong,,,,, tolong,,,, !! ada orang gila,,,”, Naz terus berlari dan berteriak membuat kehebohan.


Petugas keamanan yang melihat dan mendengarnya pun segera mengejar orang gila tersebut hingga aksi kejar- kejaran pun sampai ke halaman area kolam renang.


Arfin yang mendengar teriakan minta tolong yang membuat kehebohan di area resort itu, langsung melihat ke asal suara yang ternyata itu adalah istrinya yang berlari dikejar orang gila yang menuju ke arah kolam renang tempat ia berada. Arfin segera naik dari kolam renang hendak membantu istrinya.


Beruntung orang gila itu segera ditangkap oleh beberapa petugas keamanan yang tadi berdatangan, dan Naz yang masih ngos- ngosan kini sudah berada di dekat suaminya dan langsung bersembunyi di balik tubuh suaminya karena takut orang gila itu mendekat lagi padanya.


“Aa,,, aku takut banget,, orang gila itu ngejar- ngejar aku… “, ucapnya sambil ngos- ngosan lalu memeluk suaminya dari belakang.


“Tenang sayang,, orang gila nya sudah diringkus tuh sama petugas keamanan”.


Naz melepaskan pelukannya, lalu suaminya membalikan tubuhnya dan memeluk Naz yang masih nampak ketakutan sambil ngos- ngosan.


Tiba- tiba datang salah satu penjaga keamanan bersama seorang pria yang berpakaian rapi dengan mengenakan Udeng, ikat kepala khas Bali yang biasa digunakan kaum pria, mereka berdua menghampiri Naz dan Arfin.


“Mohon maaf Pak, Bu,, atas ketidaknyamanan yang baru saja terjadi,,”, ucapnya yang membuat Naz melepaskan diri dari pelukan suaminya dan keduanya menatap orang tersebut,


“Saya I Wayan Andriga selaku manajer resort di sini,, sekali lagi kami minta maaf atas ketidak nyamanan yang telah terjadi,,”, ucapnya lagi.


“Bagaimana bisa orang gila masuk begitu saja ke hotel bintang lima seperti ini,,?”, Arfin langsung melayangkan protes setelah melihat kejadian yang menimpa istrinya yang membuatnya ketakutan.


“Maaf Pak,, rekan saya tadi mengira kalau orang tersebut turis yang hendak menggunakan jasa pelayanan resort kami, karena orang itu berpakaian rapi sehingga kami tidak menyangka kalau dia itu ternyata orang gila,, kami mohon maaf atas kelalaian kami yang membuat ketidaknyamanan bagi Bapak dan Ibu”, petugas kemanan pun turut meminta maaf.


Arfin hendak memprotes lagi, namun Naz langsung memegang tangan suaminya untuk menahannya, karena ia takut suaminya akan lepas kendali memarahi pegawai resort tersebut,


“Iya Pak,, gak apa- apa kok,, yang penting kan sekarang orang gila itu sudah diamankan,, lagipula saya tidak terluka sama sekali kok”,


“Terimakasih banyak Bu, Pak,, Eng... untuk menebus kelalaian kami atas ketidaknyamanan yang terjadi, sebagai gantinya kami akan memberikan layanan khusus sesuai keinginan Bapak dan Ibu secara free,, ”, sang manager hendak memberikan kompensasi agar masalah tak berkepanjangan.


“Apa pun itu?”, tanya Naz.


“Iya,, apa pun, Bu,,,”, ucap sang manager dengan yakin.


“Baiklah,, kami akan pikir- pikir dulu”, Arfin yang masih nampak kesal pun ikut bicara.


“Maaf dengan Bapak dan Ibu siapa ya? “, tanya sang manager.


“Saya Al Arifin,,,”, Arfin menyebutkan namanya saja, tanpa memperkenalkan sang istri.


“Baik kalau begitu,, jika sudah ada keputusan tentang pilihan layanan dari resort kami, Bapak dan Ibu bisa menghubungi kami, nomor- nomornya sudah tertera di dekat telpon di kamar Bapak dan Ibu,, sekali lagi kami minta maaf,, dan kami pamit undur diri,, ”.


“Iya,,, ”. Arfin mengiyakan.


“Ya Allah,, seumur- umur baru kali ini dikejar- kejar orang gila, kualat ini mah kualat”, ucap Naz mengusap dada.


Arfin merasa heran dengan kalimat terakhir yang dikatakan istrinya, “Kualat kenapa?”.


“Eng,,, eng,,, itu kan dulu biasanya dikejar- kejar cowok ganteng gitu,,, hehe ”, Naz malah mengalihkan pembicaraan karena tak mungkin ia mengatakan kalau sudah mengatainya berpenyakit aneh pada ketiga wanita yang hendak mengganggu suaminya.


Arfin menarik tubuh Naz sehingga tubuh keduanya saling menempel begitu dekatnya,


“Oh ya,,, cowok ganteng ya,,,? ganteng mana sama Aa,, hemmm”.


“Ya sebelas dua belas lah,,, beda tipis- tipis”, Naz malah sengaja membuat suaminya yang mulai narsis itu kesal.


“Gak bisa,,, pokoknya harus Aa yang paling ganteng,,, ”,Arfin tak mau ada yang menyaingi dirinya di mata sang istri.


“Iya iya deh,, tapi itu tergantung,,,”, Naz lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher hingga pungguk sang suami.


“Tergantung apa?”, tanya Arfin yang melingkarkan kedua tangannya pada pinggang istrinya.


“Tergantung apa ya,,,”, Naz malah menggoda suaminya berbicara dengan nada manja sambil tersenyum, kedua mata mereka pun saling bertatapan.


Entah apa yang merasuki Naz, tanpa rasa malu tiba- tiba ia nyosor dan mencium bibir suaminya, tentu saja Arfin dengan senang hati membalas ciuman istrinya tanpa memperdulikan jika mereka sedang berada di tempat umum dan dilihat orang- orang.


---------Ext_Part 04-------


***********************


Happy Reading.....😍🤩

__ADS_1


__ADS_2