
Waktu baru menunjukan pukul setengah sepuluh pagi, jalanan ibukota nampak mulai agak lenggang tidak terlalu dipadati laju kendaran seperti biasanya karena ini sudah masuk jam kerja bagi para pencari rupiah. Baik itu dalam suatu instansi ataupun pekerja serabutan, karena pagi adalah waktu untuk menjemput rezeki.
Naz yang sedang dalam perjalanan menuju pulang nampak sedang sibuk melamun kan hubungannya dengan Arfin yang selalu ada saja gangguannya. Yang pertama terhambat restu orang tua, persoalan identitas Naz, kesalahpahaman Maira, dan sekarang wanita yang selalu mengejar Arfin sejak masih sekolah ternyata masih belum menyerah juga, sampai ia melamar kerja ke perusahaan Arfin untuk menjadi sekretarisnya.
“Kenapa Kak Nadine melamar jadi sekertaris Kak Arfin ?, apa dia masih belum nyerah juga mendekati Kak Arfin?,,, arghh,,, ngapain sih aku mikirin itu,,, Kak Arfin kan gak pernah peduli sama dia,,, lagian dia sayangnya cuman sama aku”, Naz bergumam dalam hati.
“Apa aku ikutin aja saran Ayah semalam ya untuk bertunangan dengan Kak Arfin?”, Naz tiba- tiba teringat dengan pembicaraan kemarin dengan Ayahnya.
Suara deringan ponselnya membuyarkan lamunan Naz, dan saat dilihat nomor yang tidak dikenal, “Nomor baru,,, nomor siapa ini ya? apa nomor fans gue,, ahh biarin aja deh gak usah diangkat”, ucap Naz berbicara sendiri, namun ponselnya terus berdering dan dibiarkan begitu saja sampai berhenti.
Ternyata nomor tersebut kembali menghubunginya lagi, “Siapa ini ya,,, apa orang yang ku kenal? Yasudah lah ku angkat saja siapa tahu penting, setelah panggilan yang ketiga ini akhirnya Naz mengangkatnya, “Hallo,, Assalamu’alaikum”, sapa nya lalu menjauhkan telinganya dari ponsel karena mendengar jeritan tangis seseorang.
“Wa’alaikumslam,, Naz ini Mami,,, kamu lagi dimana ?”, tanya beliau.
“Oh Mami,,, iya kenapa Mi ? aku lagi dijalan nih,,, itu suara tangisan siapa Mami?”, Naz kaget mengetahui kalo si penelpon yang sejak tadi diacuhkannya ternyata adalah CaMer nya.
“Bolehkah Mami meminta bantuan mu?”, Mami kembali bertanya.
“Tentu saja Mami,,, apa yang bisa aku bantu?”, jawab Naz.
“Ini,,, tadi Mami ketemu sama Nervan, Maira dan Nala di parkiran rumah sakit setelah menjenguk Bude Hafsah, karena anak kecil gak boleh masuk ke dalam rumah sakit dan Nala gak mau dititipkan ke Mina, jadi Mami ngajakin Nala pulang dan membujuknya dengan mengajak membeli boneka,, ehh ini baru sampai rumah, Nala malah nangis kejer gini dan Nervan tidak bisa dihubungi lagi,, apa kamu bisa kesini?”.
“Apa? Jadi itu yang nangis sampai menjerit gitu Nala?”, Naz malah balik nanya.
“Iya Naz, mungkin saja dia mau nurut sama kamu, kata Arfin kamu sering main sama dia,,, udah dulu ya,, Mami mau coba menenangkannya dulu,, Mami tunggu ya di rumah,, assalamu’alaikum”, ucap beliau mengakhiri panggilannya.
“Oh,, iya iya baiklah,,aku akan segera ke sana, wa’alaikumsalam”, jawab Naz.
“Pak sopir, aku gak jadi pulang,, tolong antarkan aku ke tempat lain ya”, ucap Naz.
“Diantar ke alamat mana, Nona?”, tanya Pak sopir.
“Ke rumah Kak Arfin,,, “, jawab Naz singkat karena pastinya sopir sudah tahu alamat rumah bosnya itu.
“Baik Nona”.
Saat diperjalanan menuju kediaman Arfin, Naz memainkan ponselnya berkirim pesan dengan ketiga sahabatnya yang masih liburan, kemudian ia melihat ada toko buku di depan jalan sana, ia teringat saat Nala menggambar di kantor Arfin dulu, ia pun tanpa sadar menyimpan ponselnya di jok, “Pak, tolong berhenti ya, saya mau ke toko buku dulu”, ucapnya, lalu sang sopir pun membelokan mobilnya ke pinggir jalan dan berhenti.
Naz kemudian turun lalu masuk ke dalam toko buku tersebut, ia membeli satu buku gambar ukuran sedang yang sampulnya gambar spiderman dan satu yang berukuran besar dengan gambar sampul biru polos, dua buku mewarnai yang bergambar princess dan hewan, pensil warna, pensil gambar beserta serutannya, penghapus, dan sebuah penggaris yang panjangnya 30 cm.
Setelah ia membayar belanjaannya ia segera kembali masuk ke dalam mobil, kemudian sang sopir pun kembali melajukannya.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian Naz pun sampai di kediaman Arfin, ia pun turun dari mobil dengan membawa kantong kresek berisi belanjaannya tadi dan mengucapkan terimakasih pada sang sopir. Naz berjalan menuju teras depan, kemudian ia memencet bel rumah. Ting nong….. tak lama ada yang membukakan pintu, baru saja Naz membuka mulutnya untuk mengucapkan salam, Bi Darmi langsung menyapa, “Eh, Nona…. Mari masuk, Nyonya sudah menunggu dari tadi”, ucapnya dengan nada sedikit panik.
“Mami sama Nala dimana?”, tanya Naz.
“Ada di halaman samping di dekat kolam renang,, mari Bibi antar kesana”,
“Iya Bi,, terimakasih”, ucap Naz lalu mengikuti langkah Bi Darmi. Saat masih di dalam rumah, Naz sudah mendengar Nala yang menangis sambil menjerit- jerit, Naz pun mempercepat langkahnya saat keluar dari pintu samping, ia berlari menghampiri Nala yang sedang mencoba ditenangkan oleh Mami.
“Huwaaaa,,,,,,hwuaaaaa,,,,“, Nala menangis sampai sesenggukan sambil duduk di rerumputan dengan mengoseh- ngosehkan kakinya dan sepertinya ia sudah lama menangis, ia pun terus menolak Mami dengan terus menempas tangan Mami yang berusaha merangkulnya.
“Nala,,,, sayang,,,”, ucap Naz langsung mendekati Nala, “sini sayang sama kakak ya”, Naz langsung mengedong Nala dan ia pun langsung mendaplok dipelukan Naz, ”Sssssttttt sssttttt,,, udahan nangis nya ya,,, itu sampai sesenggukan gitu,,, nanti Nala capek loh”, ucap Naz menenangkan sambil mengusap- usap punggung Nala.
“Hwuaaa,,,, Mama,,, Papa,,,hwuaaaaa”, teriak Nala disela tangisannya sambil sesenggukan.
“Iya,,, nanti Mama sama Papa Nala bakalan kesini,,, tapi Nala nya jangan nangis lagi ya,, Nala kan anak baik, anak pintar,, nanti Kakak kasih hadiah kalo berhenti menangis”, ucapnya membujuk dan Nala pun sudah mulai berhenti menangis dan berteriak, tinggal sesenggukannya saja.
“Akhirnya,,,, Nala ada yang bisa menenangkan Nala,, Mami panik banget,, dia belum terlalu dekat sama Mami jadi dia masih merasa asing mungkin ya,,, “, Mami merasa lega, ”Ayok, kita bawa Nala masuk ke dalam, diluar panas,,,”, ajak Mami.
“Iya Mi,,,”, jawab Naz, “Oh iya, Bi boleh minta tolong bawakan kantong kresek ini”, ucap Naz meminta bantuan pada Bi Darmi, karena ia merasa kesulitan membawa kantong kresek sambil menggendong Nala. kemudian Bi Darmi pun membantu membawakannya, dan mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah.
“Wahh,,, Nala bonekanya banyak banget,, pasti Nenek yang membelikannya ya”, ucap Naz yang yang melihat beberapa boneka bertebaran di sofa sampai lantai, kemudian ia duduk dan Nala pun duduk dipangkuannya sambil memeluk Naz.
“Nena bukan nenek”, Mami meralat ucapan Naz.
“Kamu suka sama anak kecil ya Naz?”, tanya Mami.
“Iya Mami,,, mereka tuh lucu- lucu dengan segala tingkahnya,, sayangnya keponakanku di Amerika,, jadi gak bisa main sama mereka,, paling main sama anak- anak panti ”, Jawab Naz.
“Pantesan aja Nala bisa cepat dekat dengan mu, bahkan kamu langsung bisa menenangkannya,, ternyata walaupun kamu masih ABG tapi sudah punya naluri keibuan ya kamu”, Mami memuji, dapet nilai plus deh Naz dari sang CaMer.
“Hehehe,,, Nantinya kan kalau sudah berumah tangga bakalan jadi seorang ibu,, jadi itung- itung latihan, supaya kalau sudah punya anak nanti sedikitnya sudah paham tentang mengurus anak,, hehehe”, ucap Naz tersenyum.
“Wahh,,,, jangan- jangan kamu sudah siap menikah ya?”, Mami menebak- nebak dan Naz nampak terkejut seolah merasa takut mendengar hal itu, mungkin ia teringat dengan jarum gede yang tempo hari dikatakan Bunda.
”Enggak apa- apa lah, nikah muda juga sah- sah aja, dulu juga Mami nikah muda,, baru lulus SMA langsung nikah, langsung ngurus tiga anak pula”, Mami berbagi pengalaman.
Nala melepaskan diri dari pelukan Naz dan duduk tegak lalu menatap wajah Naz, “Nikah itu apa?”, tanya Nala sambil sesenggukan, sontak membuat Naz dan Mami saling beradu pandang seolah berbicara dengan isyarat lirikan mata, keduanya merasa bingung harus menjawab pertanyaan Nala, karena dia masih sangat kecil dan tidak sepantasnya menjelaskan hal itu padanya.
“Nala,,, kakak punya sesuatu buat Nala,, nih ada dalam kantong kresek,, Nala pasti suka”, Naz mengalihkan perhatian Nala pada bungkusan yang ia bawa supaya Nala tidak manenyakan soal nikah lagi, soalnya dia anak yang berpikir kritis entah kepo, kalo belum dijawab pasti nanya terus.
“Apa?”, tanyanya sambil sesenggukan.
__ADS_1
“Lihat ini,,, ada buku gambar, ada pensil warna, ada buku mewarnai, ada pensilnya juga“,Naz mengeluarkan satu persatu isi dari kantong kresek itu dan ditunjukan pada Nala, kemudian ia turun dari pangkuan Naz dan menunjuk buku gambar yang sampulnya bergambar spiderman serta pensil warna. “Nala, mau ini?”, tanya Naz dan ia pun mengangguk, “Ini gambarnya apa? Nena belum tahu katanya,, jadi coba Nala kasih tahu”, tanya Naz menunjukan gambar sampul buku gambar tersebut.
“Se-pili-pe-men…”, jawabnya sambil sesenggukan dan itu membuat Mami tertawa mendengarnya.
“Manusia bala- bala ya?”. tanya Naz pura- pura.
“Bu-kan,,, tapi manucia laba- laba”, jawab Nala sambil memukul paha Naz karena kesal, sedangkan Naz dan Mami terus tertawa melihat tingkah Nala yang ngambek aja menggemaskan.
“Nala mau menggambar ya?”, tanya Naz lalu diangguki Nala, “Tapi, sebelum menggambar Nala harus cuci muka dulu ya,,, itu wajahnya berantakan karena habis nangis tadi, jadi mirip badut,,, biar cantik lagi Nala nya harus membersihkan wajahnya dulu ya,, supaya sepilipemennya tidak takut melihat Nala,, oke”, bujuk Naz dan Nala pun mengangguk tanda setuju.
“Mami,, aku permisi ke toilet dulu ya”, ucap Naz lalu ia beranjak pergi ke toilet yang sudah ia ketahui letaknya sambil menggendong Nala.
Setelah beberapa saat Naz dan Nala yang wajahnya sudah nampak segar sudah kembali ke ruang tengah. Naz membuka buku gambarnya dan disimpan di atas meja lalu membuka kotak pensil warna dan menarik dalamnya seperti menarik laci, sehingga Nala bisa mengambil pensil tersebut dan menggunakannya. Nala menggambar tepatnya mencurat- coret buku gambarnya dengan posisi berdiri sedangkan Naz duduk di lantai agar mensejajarkan dirinya dengan Nala.
“Wahh,,, cucu Nena sudah pandai menggambar lukisan abstrak ya,,, “, ucap Mami memuji Nala untuk mendekatinya.
“Ini bukan astak, tapi ini cacing cama cicak lainbow lagi main layangan”, ucapnya yang masih sedikit sesenggukan menunjukan garis corat- coretnya dan itu membuat Mami juga Naz menertawakannya.
“Kalian lanjutkan menggambarnya ya, Mami mau ngambil kue dan cemilan buat kalian”, ucap Mami.
“Gak usah repot- repot Mi,,, keluarin aja semua makanan yang ada,,, hahahhaa”, Naz sudah bisa bercanda pada camer nya itu.
“Hahaha,,, ashiapp,,, tapi harus dihabiskan ya,, kalo perlu sama toplesnya sekalian… hahaha”, Mami menimpali candaan Naz lalu beliau beranjak pergi ke dapur.
Nala sibuk dengan kreasi gambar abstraknya, dan Naz pun tidak mau kalah ia mengambil buku gambar yang lebih besar ukurannya dari buku gambar Nala, lalu ia mengambil pensil dan penggaris, kemudian mulai menggambar.
Setelah beberapa saat Mami datang bersama Bi Darmi membawakan kue dan beberapa toples makanan ringan serta minum untuk kedua bocah tamunya itu, ”Disimpan dimana ini makanannya ya,, mejanya dipakai menggambar ini ya?”, tanya Mami bingung melihat tidak ada tempat kosong di meja, kemudian beliau meminta Bi Darmi mengambil meja lain yang ada di belakang.
“Naz,, kamu suka gambar rumah juga ya? kayak Arfin aja gambar rumah", tanya Mami.
“Hehe,, iseng aja Mami,,, aku punya sebuah rumah impian, rumah yang bentukan luarnya minimalis, tapi dalamnya pengen luas,,, haha”, ucapnya tertawa.
“Kok Aneh sih,,, udah ja bilang rumah mewah kalau begitu jangan bilang minimalis”, Mami menimpal.
“Emang aneh Mi kedengarannya,,, aku tuh pengen punya rumah yang isinya ada 5 kamar tapi cuman satu lantai aja dan atapnya agak tinggi. Ada ruang tamu yang agak besar dan ruang tengah sebesar ini sehingga bisa dipakai kumpul bersama aggota keluarga. Dan punya halaman yang agak luas,, ya cukuplah buat ada taman kecil dan kolam renangnya, terus kolam nya itu satu kolam tapi sebagian yang dalam untuk dewasa ya sekitaran 1,5 meter lah kedalamannya, dan sebagian lagi yang dangkal untuk berenang anak- anak setitar 50-80 cm, jadi anak- anak tuh gak usah ke kolam renang umum kalau mau berenang, dan juga dikelilingi hijau- hijau kayak rumah ini”, ucap Naz medeskripsikan rumah impiannya padahal yang dia gambar hanya bagian luar depannya saja.
“Wah,,, wah wahh,,, kamu sudah punya rumah impian rupanya ya,,, “, Mami nampak senang dengan hal itu, kemudian ponselnya berdering, “Mami angkat telpon dulu ya,, ini Bunda mu menelpon,,”, ucapnya lalu beranjak pergi.
“Waduhh,,, jangan- jangan Bunda mau membicarakan tentang pertunangan,,,, yasalam,,, bagaimana ini..??”, gumamnya dalam hati, lalu ia mengambil tas nya di atas sofa dan mencari ponselnya. “Hah,,, ponselku dimana ya?? kok gak ada?”, Naz tidak menemukan keberadaan ponselnya sampai ia menumpahkan isian tas nya, tetap tidak ia temukan, “Yasalam,,,, itu ponsel dimana,,, mangkaning masih baru,,, Kak Arfin bisa marah kalao ponsel itu hilang,, mana mahal lagi,,,gimana ini”.Ucap Naz panik dan terus mencarinya di sekitaran ruang tengah tersebut sampai ke kolong sofa pun ia cari, namun tidak ditemukannya.
---------------------- TBC -------------------
__ADS_1
*********************************
Mohon maaf part nya kepanjangan jadi dibagi dua,,, maafkeun hamba khilaf….🙏🙏🙏🙏