
Siang menjelang sore, seorang pria yang berparas tampan dengan mata almond, hidungnya yang mancung, bibirnya tipis dan berkulit kuning langsat, tengah mengendarai Ferrary California menyusuri jalan perkotaan dengan senyum berseri- seri.
Entah apa yang membuatnya bisa sebahagia itu. Jika saja ada yang melihat, mungkin bisa mempertanyakan kewarasannya yang senyam- senyum sendiri tanpa sebab.
Senyumannya terhenti tatkala benda pipih miliknya mengeluarkan suara tangisan minta diangkan. Kemudian dipasangkan nya Speaker Hands free Bluetooth ke telinga kanannya.
“Hallo,, Assalamu’alaikum, Ar “, sapa orang diseberang sana.
“ Wa’alaikumsalam, Dan…. Kenapa Lo? udah kangen lagi sama gue? Baru aja berjauhan 15 menit." Arfin tertawa mengejek sahabatnya.
“Ogah gue ... ini kemeja kotor lo yang di kamar gue dan udah dikerumunin semut ." Dandy memberitahukan Arfin tentang nasib kemeja korban salting ( salah banting).
“Yaelah, Dan... tolong dicuciin dong, itu kan karena ulah adek lo juga.” Arfin baru teringat jika ternyata kemejanya ketinggalan.
“Oh yaudah deh kalo gitu, bye... assalamu’alaikum ....".Dandy mengakhiri sambungan telpon mereka.
“ Wa’alaikumsalam,” jawabnya singkat.
“Astaga ... si Dandy nelpon cuman laporan kemeja dikerumunin semut doang, dasar semprul." Arfin bicara sendiri karena kesal tidak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu.
Akhirnya pria yang berperawakan tinggi sekitar 185 cm itu tiba di kantornya, kemudian bergegas masuk dan meminta salah satu staff keamanan untuk memarkirkan mobilnya. Arfin memasuki lift dan ditekannya tombol angka 12.
Ting ...
Lift berbunyi menandakan telah sampai di tempat tujuan dan pintunya pun terbuka dengan otomatis. Ya, namanya juga lift.
Arfin berjalan dengan menekan kaki kanannya sedangkan kaki kirinya agak diseret sdikit, lalu masuk ke ruang kerjanya.
Hal pertama yang ia lakukan adalah mencari keberadaan tas kerjanya, karena setelah makan siang dengan kliennya tadi ia titipkan kepada sekertaris nya untuk disimpan di ruang kerjanya. Ternyata tas kerjanya disimpan di atas kursi kebanggaannya.
Arfin mengambil tas kerjanya lalu duduk. Ia membuka tas dan mencari sesuatu.
“Nah ini dia,” ucapnya mengeluarkan sebuah buku berukuran lebih kecil dari buku tulis Siddu dengan sampul warna coklat muda dan dilapis plastik bening. Dibukanya buku itu, dan diambil satu lembar foto yang diselipkan di sana.
Arfin POV
Ternyata namamu adalah Naz adik dari sahabat dekatku sendiri. Jika tahu sejak awal, mungkin aku akan lebih mudah menemukanmu.
Entah mengapa selama beberapa hari ini kau begitu mengganggu pikiranku, memporak porandakan perasaanku karena melihatmu berkali- kali tanpa sengaja.
Gadis yang seminggu lalu bertabrakan denganku saat di bandara hingga menumpahkan minuman cola ke jaket ku.
Flashback
Bruk...
Aku bertabrakan dengan seseorang dan membuatku jatuh terduduk
"Kalo jalan pakai mata!” maki ku pada orang itu tanpa ku melihatnya, karena fokus ku pada jaket yang menjadi basah kena tumpahan air soda berwarna coklat tua.
Saat aku melihat ke arahnya, hampir saja ku memarahinya. Namun saat mata kami saling bertemu, malah membuatku diam terpaku.
"Manik indahnya itu ... mengingatkan ku pada seseorang," gumam ku dalam hati.
“Ma- maaf saya tidak sengaja,” ucapnya terbata- bata. Sepertinya ia takut melihat tatapanku dan itu mampu membuat ku tersadar dari lamunanku.
Aku menghela nafas panjang, lalu ku teringat dengan komik yang ku pegang tadi yang sudah tidak ada di tidak ada dalam genggamanku. Ternyata komik ku tergeletak di samping tubuhku yang jatuh terduduk berhadapan dengan gadis itu.
Aku langsung mengambil buku kecil bersampul warna coklat muda dilengkapi sampul plastik milikku yang tergeletak, lalu berdiri dan bergegas pergi mencari toilet untuk membersihkan jaketku.
Tak lama aku keluar dari bandara setelah menghubungi jemputan ku yang sudah tiba. Aku menaiki mobil dan duduk di samping kemudi.
Entah apa yang terjadi, jalanan begitu macet tidak seperti biasanya, karena jenuh aku membuka komik ku untuk ku baca. Betapa terkejutnya aku ada sebuah amplop terselip di sampul buku bagian dalam, dan ku yakini itu bukan milikku.
Karena penasaran ku putuskan untuk membukanya, dan ternyata isinya ada 8 lembar foto tiga orang gadis dan satu pria.
Aku membuka lembaran komik ku, yang ternyata sama ini adalah komik Detektif Conan hanya saja isinya berbeda dengan yang ku baca di pesawat tadi.
“ Ya ampun, punya siapa ini? Sepertinya tertukar dengan punyaku,” gumam ku dalam hati.
Aku baru menyadari ada yang memiliki kebiasaan seperti ku, membungkus komik dengan kertas sampul berwarna coklat muda dan sampul plastik yang sudah kulakukan semenjak SMA.
Setelah hampir satu jam jalanan padat merayap hingga macet total, akhirnya sekarang mulai lancar setelah ada mobil ambulan datang dari arah berlawanan.
“Oh, pantesan macet, kayaknya ada kecelakaan itu Ar”, ucap sang pengemudi yang dari tadi hanya sibuk berbicara diteleponnya.
“Hmmm, iya sepertinya begitu,” jawabku sambil melihat satu persatu foto dari dalam amplop.
Mobil terhenti tepat di depan garis pembatas karena menunjukan lampu merah menyala.
Kulihat ada seorang gadis cantik memakai celana jeans birel dengan atasan blouse pastel berkerah mendekati seorang nenek-nenek nenek dan terlihat berbicara dengannya. Kemudian gadis dan nenek itu menyebrang dari arah pom bensin, namun sang gadis kembali menyebrang.
“Masih ada gadis muda yang baik hati, ternyata dia menyebrang hanya untuk membantu nenek itu,” gumam ku dalam hati sambil tersenyum.
“Eh, tunggu gadis itu, seperti _____“ aku langsung melihat foto yang ada di tanganku. “Ya, itu dia gadis yang sama dengan yang ada di foto ini.” Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku.
__ADS_1
“Ar, Lo kenapa senyam senyum sendiri?” tanya si pengemudi yang sudah menjalankan kembali mobilnya, dan ternyata dia memperhatikanku.
“Gak apa- apa, hanya saja aku mengingat sesuatu yang lucu," jawab ku sambil tersenyum.
“Kau seperti anak ABG sedang kasmaran saja, senyam-senyum sambil melihat foto itu. Sini coba lihat foto siapa itu.” Dia berusaha merebut foto tanganku.
“Jangan ikut campur, konsentrasi saja menyetir,” ucapku agar dia tidak semakin kepo.
**
Seminggu berlalu setelah kejadian itu, aku tak pernah bertemu dengan gadis itu lagi dan aku pun sudah lupa.
Siang ini setelah shalat dzuhur dan makan siang, aku pergi bersama dua orang rekan kerjaku untuk meninjau lokasi yang akan menjadi proyek kami. Tanah yang luas untuk dijadikan lahan pembangunan perumahan yang tempatnya terbilang strategis.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, kami pun telah selesai dan bergegas pulang. Aku tidak pulang bersama dengan mereka, hendak mencari masjid terdekat karena setengah jam lagi ashar.
Aku bertanya pada salah seorang warga letak masjid terdekat dan aku pun segera ke sana yang memang sangat dekat hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai di sana.
Ku parkir kan mobilku di alaman masjid, saat hendak keluar aku melihat ada bangunan yang terbuka bagian depannya yang tak jauh dari tempat ku berdiam.
Di sana nampak ada beberapa anak- anak berpakaian agak kumal duduk di lantai beralaskan tikar dengan meja panjang yang pendek seperti dibagi beberapa kelompok ,dan ada empat orang yang berseragam putih abu-abu yang masing- masing duduk di kursi yang di samping nya terdapat white board kecil di masing- masing kelompok itu.
Mataku terbelak saat pandangan ku tertuju pada salah satu anak yang berseragam putih abu-abu duduk di kursi seperti sedang menjelaskan sesuatu di sebuah white board yang sesekali menampakkan senyum merekah dari bibir manisnya.
”Gadis itu ... ternyata dia seorang siswi SMA” gumam ku tersenyum.
Aku terus memperhatikannya dari dalam mobilku. Melihatnya mengoceh dan sesekali senyum merekah keluar dari bibir manisnya, membuatku seperti orang bodoh senyam- senyum sendiri.
Aku tersentak kaget mendengar adzan dikumandangkan dan kulihat mereka sudah mulai bubar, aku pun keluar dari dalam mobilku untuk masuk ke masjid melaksanakan shalat ashar.
Setelah selesai mengambil wudhu, aku masuk ke dalam masjid, ternyata sudah ada lima orang pria yang hendak melaksanakan shalat berjama’ah.
Aku berdiri di jajaran paling kanan, saat akan dimulai datang seorang pria berseragam putih abu-abu yang berlari seusai mengambil wudhu dan berdiri tepat di sampingku.
Setelah selesai melaksanakan shalat berjama’ah, karena waktuku luang aku mengambil Al- Quran untuk ku baca.
Selang beberapa saat tiba- tiba ponsel di dalam saku celanaku bergetar, lalu ku akhiri membaca Al- Quran nya dan menyimpan kembai ke tempatnya.
Ku buka ponselku ternyata ada miscall dan pesan dari Mami. Saat aku membaca isi pesan di ponselku seperti ada yang memperhatikan ku, dan aku melihat ke sekelilingku tidak ada siapapun, tapi terdengar suara wanita yang sedang berbincang pelan di balik tirai pembatas antara laki- laki dan perempuan.
“Ar, nanti kalau pulang tolong ambilkan ayam bakar dan sop buntut pesanan Mami di The Raos Café ya.” Itulah isi pesan dari Mamiku.
“Hufh, kenapa tidak pesan gofood saja sih” omelku pelan.
Aku pun keluar masjid dan langsung masuk ke dalam mobilku, saat hendak berangkat kulihat gadis itu baru keluar dari pintu samping masjid bersama temannya.
Sesampainya di parkiran kafe, aku menelpon Mami supaya pelayan kafenya mengantarkan pesanan ke parkiran, karena aku sedang malas untuk masuk ke kafé .
Pesanannya dimasak dadakan jadi aku harus menunggu beberapa saat. Aku berdiri di samping mobilku sambil berbicara di telpon dengan Mami.
“Maaf, dengan Mas Arfin?” tanya seorang pria memakai celana hitam dengan kaos hijau yang ada tulisan The Raos datang membawa dua tentengan kantong kresek.
“Iya, saya Arfin,” jawabku dan mengakhiri sambungan telepon.
“Ini Mas pesanan atas nama Ibu Hindayanti, semuanya 345 ribu.” Orang itu menyodorkan dua kantong kresek padaku.
Aku menyerahkan empat lembar uang seratus ribuan pada orang itu. “ Terimakasih pesanannya, ini ambil saja kembaliannya,” ucapku sambil membuka pintu mobil untuk menyimpan bungkusan di jok samping kemudi.
“Terimakasih banyak ,Mas. Permisi,“ ucap pria itu, kemudian ia kembali masuk ke dalam kafe .
“Den Arfin ....” terdengar suara seorang pria dari belakang dan menepuk pundak ku.
“Iya,” jawabku menoleh ke belakang dan mengerutkan dahi ku. “Pak Samsudin…” ucapku membalikan badan sempurna dan menyalami beliau.
“Iya, Den ... Saya Samsudin mantan supir aden dulu,” jawabnya sambil tersenyum.
“Gimana kabarnya Pak? Sudah lama tidak bertemu ... Kalau tidak salah, terakhir bertemu Pak Samsudin saat saya kelas 2 SMP ya? Sekarang kerja disini Pak?” Aku malah memberi segerombolan pertanyaan.
“Hehe, alhamdulillah baik Den. Aden sendiri gimana kabarnya, sehat ? Bapak sama Ibu gimana sehat juga? Pangling loh, saya lagi nganter anak majikan makan disini ,Den“ Pak Samsudin ikutan jawab diikuti pertanyaan beruntun.
“Jangan panggil Aden lah, panggil Arfin saja, Pak” pintaku pada beliau karena rasanya gak enak aku sudah bukan majikannya lagi.
Kami pun mengobrol sampai beberapa saat di samping mobilku. Tiba-tiba ponselku kembali berbunyi ada pesan masuk dari Mami yang memintaku untuk segera pulang karena sudah merasa lapar.
Aku pun berpamitan pada Pak Samsudin, dan kuberikan sejumlah uang yang sempat ditolaknya tapi aku tetap memaksanya.
“Aduh nak Arfin, gak usah repot- repot begini, saya jadi gak enak.” Pak Samsudin mengembalikan lagi padaku.
“Gak apa- apa Pak, dulu saya sering pinjam uang loh kalo mau ikut balapan motor kekurangan uang. Ini hanya sedikit ko untuk jajan Bilqis.” Aku tetap memaksa dan ingat dulu beliau punya bayi bernama Bilqis. mungkin sekarang sudah sekolah.
Akhirnya setelah acara paksa- memaksa selesai, aku pamit pulang dan masuk ke dalam mobilku. Saat menyalakan starter.
"Kok aku merasa melihat gadis itu lagi? argh, apa- apaan ini ... Kenapa aku jadi berhalusinasi begini?” Aku melajukan mobilku untuk segera pulang.
**
__ADS_1
Keesokan harinya, saat aku akan berangkat ke kantor aku mendapat pesan singkat.
Dandy
“Bro, kalo ada waktu luang mampirlah ke rumah, Bunda udah kangen sama lo."
Aku
“oke, nantilah bisa diatur."
Ya ampun, aku lupa belum menemui bunda semenjak pulang dari Amerika. Bunda sudah seperti ibuku sendiri, beliau selalu ada di saat aku membutuhkan pendapat atau dukungan. Bahkan saat aku benar-benar dalam keadaan terpuruk pun beliau selalu ada di garda terdepan untukku.
Aku kembali ke kamarku untuk mengambil sesuatu yg ku beli di Amerika sebagai buah tangan untuknya yang ku simpan dalam godie bag.
Jam 10 aku ada meeting dengan klien ditemani sekertaris ku di sebuah restoran yang ternyata searah dengan jalan ke rumah Dandy.
Setelah meeting aku merasa ada waktu luang, ku putuskan untuk berkunjung ke Rumah Dandy dan janjian dengan Hardi. Sedangkan sekertaris ku, Dewi kembali ke kantor naik taksi online dan membawakan tas kerjaku.
Aku pun berangkat melajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Tiba- tiba terasa ada yang aneh, kupikir mungkin ban nya kempes, dan aku pun memarkirkan mobilku ke pinggir jalan..
Kulihat satu persatu ban mobilku dengan sedikit berjongkok, ternyata baik- baik saja. Terdengar suara orang berlarian entah sedang apa.
Plukk ... ada sesuatu yang empuk dan ada bagian lembeknya mendarat di wajah ku dan jatuh ke bagian dadaku.
“Eughh, apa ini? Tidak mungkin kalau kotoran hewan bisa sebesar ini dan rasanya manis” gumamku kesal sambil mengusap wajahku, yang ternyata itu adalah mentega dari kue warna- warni.
“Woyy, siapa yang melempar kue sembarangan?“ Teriak ku karena kesal, dan aku melihat ada seseorang berdiri dengan menutup mulut dengan kedua tangannya memakai baju batik yang senada dengan rok abu- abu nya, ku yakin itu anak sekolahan.
Anak itu langsung balik kanan dan melarikan diri
“Woyy, jangan kabur kamu anak kurang ajar!!” aku berteriak kesal, bukannya dia minta maaf malah langsung kabur.
Karena aku tidak mungkin mengejarnya yang sudah berlari jauh, ku putuskan untuk masuk ke mobil dan melanjutkan perjalananku ke rumah Dandy. Sesampainya di sana, aku langsung masuk dan ternyata Hardi sudah lebih dulu sampai.
“Hallo, bosque ... Apa kabar lo hari ini?" Hardi menyambut ku di teras rumah dengan menertawai ku.
“Menurut yang lo lihat, Pak Dosen ....” jawabku kesal, karena pasti penampilanku memalukan dan kami masuk ke dalam rumah.
“Wihh, lo abis ngapain? kenapa berantakan gitu bro?" tanya Dandy yang sudah menunggu diruang tamu.
“Kayaknya dia banting setir jadi perias kue tart." Hardi malah semakin mengejekku.
“Diam kalian ... Dan, numpang ke toilet dong sekalian pinjem baju," ucapku lalu pamit ke toilet untuk membersihkan wajahku. Aku bergegas ke kamar Dandy yang tentunya sudah tidak asing lagi bagiku.
Aku kembali dengan kemeja milik Dandy yang ku ambil sembarang dari lemari pakaiannya, duduk di kursi tamu yang ukurannya paling besar dan membelakangi arah dari pintu masuk. Aku menceritakan kejadian nahas yang menimpaku kepada mereka, dan mereka semua malah menertawakan ku dengan nikmatnya.
Tiba- tiba terdengar ada yang membuka pintu dan mengucapkan salam. Dan ternyata itu adalah adiknya Dandy yang bernama Naz bersama temannya baru pulang sekolah.
Kedua nya menghampiri kami di ruang tamu, dan Dandy hendak memperkenalkan adiknya kepada ku. Aku pun berdiri dari dudukku, dan membalikan badan ku.
Betapa terkejutnya aku melihat salah satu dari mereka adalah gadis itu, gadis yang beberapa hari ini mengganggu kewarasan ku benar- benar ada di hadapanku memegang buku bersampul coklat muda.
Ku perhatikan dari atas sampai bawah, ternyata dia jugalah anak yang melempar kue ke wajahku tadi.
“Kamu..?” kata itu terucap begitu saja dari mulutku dan dia juga sama terkejutnya.
Entah apa yang dikatakannya karena pelan sekali sambil celingukan mungkin karena malu dan merasa bersalah.
“Kamu,,kamu kan yang tadi melempar muka saya pakai kue tart?” tanyaku memastikan.
“Hehe,, ma ma maaf Kak, aku tadi tidak sengaja” jawabnya dengan terbata-bata dengan wajahnya yang semu merah dan membuatnya tertunduk malu.
Sontak membuat Hardi dan Dandy kepo dan malah menggoda kami berdua. Apalagi setelah ku katakana bahwa dia juga yang menumpahkan minuman cola pada jaketku saat di bandara seminggu yang lalu.
Dia menggerutu pelan sambil menunduk dan yang kudengar hanya kata tikus.
“Apa ? sekarang kamu malah ngatain saya tikus?” ucapku untuk memancingnya menegakkan wajahnya, dan ya itu berhasil.
“Eng enggak, aku gak ngatain kakak tikus ko." Dia mengangkat kepalanya yg dari tadi tertunduk, kami pun saling bertatapan.
Entah apa yang merasuki ku, ingin sekali tetap saling bertatapan seperti ini. Tapi itu tidak berlangsung lama karena temannya yang bernama Ruby malah ikut menggoda kami.
Akhirnya dua gadis itu bergabung bersama kami, duduk di kursi tamu. Beruntung Ruby duduk di kursi yang hanya muat untuk satu orang, sedangkan Naz duduk bersebelahan denganku.
Jantungku rasanya berdetak tidak karuan sesekali melirik ke arahnya yang terlihat merasa canggung membuat kami menjadi salah tingkah. Apalagi saat kami semua makan kue tart yang dibawa Ruby, aku memperhatikan potongan kue bagian ku untuk memastikan tidak terdapat keju, karena aku alergi keju.
“Ar, ko kue lo gak dimakan? Jangan- jangan lo masih trauma sama kue itu ya,” ucapan Dandy yang menggodaku membuat Naz tersedak. Aku pun membantunya mengambilkan minum dari meja yang ada di hadapan kami, mereka bertiga semakin menjadi- jadi terus menggoda kami.
Tentunya itu membuat kami semakin salah tingkah, dan Naz akhirnya pamit pergi ke kamarnya dengan alasan akan mengerjakan tugas bersama temannya.
Flashback Off.
“Aku tidak tahu kenapa perasan aneh ini bisa muncul begitu saja, Naz “ Ucapnya sambil memandangi foto Naz yang sedang tersenyum.
“Apakah ini cinta? atau kah hanya rasa kagum saja pada mu, karena aku sadar aku tidak pantas untuk siapapun” Seketika senyum Arfin luntur dan hanya menatap foto Naz dengan sendu.
__ADS_1
---------- TBC----------