Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Bunda Sang Investigator


__ADS_3

“Arfin kok kamu bisa tahu Naz kepengen Naik roller coaster?? Tahu dari mana??” Bunda yang merasa heran Naz terlihat akrab dengan Arfin pun tambah bertanya- tanya seakan Arfin mengetahui banyak hal tentang Naz.


Arfin dan Naz pun hanya bisa saling melempar lirikan mata tanpa mengeluarkan suara seolah mengisyaratkan saling mempertanyakan jawaban apa yang harus diberikan pada Bunda. Kemarin malam baru saja terbebas dari penyelidikan Ayahnya Naz, sekarang Bunda yang sudah mulai menunjukkan mode reporternya, Arfin tahu betul mengenai Bunda Anita ini kalo belum tuntas sampai akar- akarnya akan terus melontarkan pertanyaan lebih kepo dari wartawan, belum lagi nanti akan melontarkan ceramah ala mamah dedeh. Beuh ini mah keluar dari kandang buaya masuk ke kandang maung.


“Bunda,,, aku jadi makan apa enggak ini?” Naz mencoba mengalihkan perhatian sang Bunda yang sejak tadi terus menyipitkan matanya menatap Arfin penuh curiga.


“Iya atuh sayang,, itu kan tadi makanan udah disiapkan nanti keburu dingin, makan gih sana ,,Bunda masih ada urusan sama Arfin”, Bunda malah menyuruh Naz pergi ke ruang makan sendirian.


“Hadeuh Bunda suka agak susah emang dialihkan perhatiannya kalo sudah kepo begini “Gumam Naz dalam hati, Naz berjalan mendekati sang bunda dan berdiri dian tara Bunda dan Arfin, “Aaah,, aku mau ditemenin Bunda, masa aku makan sendirian”, Naz memegang lengan Bundanya dan bergelayut manja.


“Naon kamu mah ah, biasanya juga makan sendiri” Bunda masih kekeh tidak goyah.


“Yaudah aku gak jadi makan, mau masuk kamar lagi aja”, Naz mengeluarkan jurus ancamannya.


“Yakin eta teh mau masuk kamar lagi ?,, ,Moal jadi naik roller coaster “ Bunda bicara dengan santainya sambil melirik Naz,”Bunda mah jadi makin curiga, kalian teh nyembunyiin sesuatu nya dari Bunda, hem?”, Interogasi segera dimulai, Bunda melirik ke Arfin dan Naz yang kini berdiri berdampingan secara bergantian.” Arfin,,, kamu teh dari tadi belum menjawab pertanyaan Bunda”.


“Iy iya, pertanyaan yang mana Bunda?” Arfin pura- pura amnesia.


“Hadeuh, meni pake siaran ulang ini mah nambah- nambah durasi aja,,,,,Dari mana kamu tahu kalau Naz kepengen naik roller coaster ?,,Karena selama ini Bunda gak pernah ngizinin Naz naik kareta oray- orayan kitu ihh sararieun muter- muter dijungkir balikeun” Bunda jadi nyerocos.


Arfin menghela nafas panjang menetralkan kegugupannya “Itu Bunda, tempo hari kan Naz pernah dikira bolos dari sekolah, terus aku ajakin makan di mall dan di sana naik mini coaster katanya Naz pengen naik roller coaster gitu, waktu di telepon juga bilang pengen banget naik roller coaster”,Arfin yang sedang menjelaskan tiba- tiba lengannya disikut oleh Naz.


“Di restoran mall mana yang ada mini coaster nya?,, Ehh,, mini coaster teh naon? ” Bunda kembali bertanya.


“Itu Bunda,, kan aku pernah diantar pulang sama Kak Arfin tempo hari, terus mampir ke pasar malam dan di sana aku naik kora- kora,, itu loh yang perahu di ayun-ayunkan ke kanan dan ke kiri”, Naz ikut berbicara karena tidak mau kalo bunda nya tau Naz pernah naik mini coaster, jika main ke mall setiap ke wahana permainan selalu dilarang naik mini coaster ataupun roller coaster oleh Bunda.


“Makan ke mall sama Arfin terus ke pasar malam juga sama Arfin,,, kalian teh sering jalan bareng??”, Bunda merasa terkejut karena setahunya Arfin tidak pernah dekat dengan seorang wanita karena sikap dingin dan rasa minder nya, begitu juga dengan Naz yang tidak pernah dekat dengan teman laki- lakinya kecuali sahabatnya,Andes ,,”Eh,, tunggu- tunggu,, tadi teh kamu bilang apa Arfin, di telpon juga Naz bilang pengen naik roller coaster,,,maksudnya kalian suka teleponan gitu?” Aduhh ini mah si Bunda lebih tajam dari siletnya kak Rose.


Naz dan Arfin menjadi salah tingkah, dan Arfin baru menyadari kalau dia tadi sudah bicara keceplosan, pantesan saja tadi Naz mengikut lengannya, hadeuh ieu mah alamat kebongkar semua, karena Bunda gak akan berhenti sebelum mendapat jawaban yang sebenar- benarnya.


Brukkk…. Naz tiba- tiba pingsan, entah ini modus atau beneran.


“Naz,,,,” Teriak Bunda dan Arfin terkejut melihat Naz yang terkapar lemah, mereka pun langsung berjongkok dan Arfin langsung menggendong Naz membawanya masuk ke kamar Naz yang pintunya masih terbuka. Arfin membaringkan Naz perlahan di atas tempat tidur.


“Naz,, sayang,, kamu kenapa ?” Bunda sangat panik lalu menepuk- nepuk pipi Naz pelan.”Ya ampun wajahnya meni pucat begini, Arfin kenapa kamu teh malah diam saja, cepat panggilkan Ayah nya Naz”, Bunda mengagetkan Arfin yang tengah bengong.


Arfin pun bergegas keluar dari kamar Naz dengan perasaan khawatir dan panik, dan ternyata Dandy sudah pulang dari bandara, “Ar kenapa lo, kaya orang bingung gitu?”, Tanya Dandy.


“Dan, untung lo udah pulang, itu Naz barusan pingsan”.


“Hah, pingsan ko bisa ?” Dandy membalikan badannya hendak pergi meninggalkan Arfin.


“Dan, lo mau kemana ? Adik lo tuh pingsan dan sekarang lagi di kamarnya, kenapa lo malah mau pergi?” Arfin bicara ketus merasa kesal pada sahabatnya itu.


“Gue mau keluar ngambil stetoskop yang disimpan di dalam mobil gue Tuan Arfin, biasa aja kali lo gak usah nyolot gitu”, Dandy langsung berlari keluar dan tak lama datang kembali membawa tas peralatan medisnya, lalu masuk ke kamar Naz diikuti oleh Arfin yang tengah membawa air minum untuk Naz. Dandy langsung menggeser kursi dari depan meja rias ke samping tempat tidur untuk didudukinya dan langsung memeriksa keadaan Naz yang terbaring lemah. “Kenapa Naz bisa sampai kayak gini Bund?,,ini asam lambungnya naik, tensi darahnya juga rendah”. Dandy menjelaskan hasil pemeriksaannya.

__ADS_1


“Naz teh belum makan Dan, “,ucap Bunda sendu yang kini tengah duduk di ranjang sebelah Naz yang terbaring dan terus mengelus kepala Naz serta menggosokkan kayu putih ke dahinya, beliau begitu sangat mencemaskan keadaan putri kesayangannya.


“Ya ampun, dari pagi belum makan?,,, Pantesan aja lemas begini, tadi pagi sebelum berangkat Naz cuman minum susu aja Bund, dan dia gak mau makan apa- apa katanya perutnya gak enak karena lagi datang bulan”, Dandy menjelaskan keadaan Naz.


“Tadi teh dia mau makan, tapi pas tau bonekanya dibawa pulang sama Aliya ke Surabaya jadinya ngambek dan gak mau makan,, setelah dibujuk akhirnya mau makan, tapi gara- gara Bunda gak mau nemenin dia makan jadinya kayak gini, maafin Bunda sayang “,Bunda mencium kening Naz .


“Emhh,,,” Naz mulai sadar dan perlahan membuka matanya lalu memegang pelipisnya,”Kepalaku pusing Bunda”, Naz mencoba membangunkan dirinya lalu di bantu Bunda untuk duduk.


“Naz, ini minum dulu” Arfin menyodorkan gelas berisi air putih dan Naz pun meminumnya perlahan.


“Ini minum obat maag dulu, nanti 20 menitan lagi baru kamu makan ya”, Dandy memberikan obat dan langsung diminum oleh Naz, lalu dia kembali berbaring lagi karena masih merasa pusing dan ditemani Bundanya, sedangkan Dandy dan Arfin keluar kamar Naz. Setelah 20 menit Arfin kembali masuk ke kamar Naz membawa nampan berisi sepiring nasi dan lauk pauknya beserta air minum untuk Naz. Unchh perhatiannya si aa.


“Bunda, ini makanan untuk Naz, tadi mau minta tolong tapi di dapur gak ada siapapun jadi aku bawa sendiri aja kesini”, Arfin menyerahkan nampan itu pada Bunda dan menjelaskan sebelum Bunda banyak bertanya lagi.


“Terima kasih Ar,,” Bunda menerimanya sambil tersenyum pada Arfin,” Sayang, ayo bangun, kamu makan dulu ya” Bunda menyimpan nampan di atas meja kecil di sebelah ranjang dan membantu membangunkan Naz untuk duduk.


“Bunda, dicariin Ayah tuh” Dandy yang tiba- tiba masuk langsung menyampaikan pesan, kemudian kembali keluar kamar lagi karena sedang menerima panggilan telepon.


“Bunda pergi dulu atuh ya, kamu harus makan sekarang ya”, Bunda menyodorkan piring pada Naz lalu bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar Naz untuk memenuhi panggilan paduka yang mulia.


“ Mau aku suapin Naz?” Arfin duduk di kursi samping tempat tidur Naz lalu menawarkan diri menyuapi.


“Enggak usah, aku bisa makan sendiri kok “, Naz membenarkan duduknya lalu mulai memakan makannya , sedangkan Arfin terus memperhatikannya sambil senyam-senyum sampai Naz selesai makan.”Kak Arfin kenapa senyam- senyum sendiri, kesambet ya?”.


“Iya, kesambet kamu” Arfin menjawab ngasal sambil tersenyum.


“Hutang ?,,, hutang apa?”tanya Arfin heran.


“Tadi katanya kalau aku mau makan mau diajak ke Trans Studio mau naik roller coaster”, Naz ingatannya sekeut.


“Ya ampun kamu lagi sakit aja masih inget sama itu ya, emangnya tadi pingsan gak serasa naik roller coaster apa ? muter- muter” Arfin bicara sambil memutarkan telunjuknya membentuk lingkaran.


“Pokoknya harus titik, kata bunda laki- laki yang baik itu harus mempertangungjawabkan apa yang di ucapkannya”, jurus mamah dedeh keluar.


“Oh ya.. jadi menurutmu aku ini laki- laki yang baik?”, Arfin malah menggoda Naz.


“Kayaknya sih gitu”, Naz memutar jengah bola matanya lalu mencebikan bibirnya.


“Baikah, tapi tidak hari ini,,,, besok saja yaa ,,untuk sekarang kamu istrahat ajja biar cepet pulih”.


“Aku tuh gak sakit Kak, cuman kelaparan aja ih,, awas ya janji besok loh,,,eh tapi, besok kan weekend nanti harga tiket masuknya mahal loh”, Kalo anak sekolahan mau jalan emang suka mikir isi dompet dulu ya.


“Oh ya,,,hemmmm,,,nanti deh aku lihat isi dompetku dulu, siapa tahu masih ada uang di dalamnya”, Arfin pura-pura kismin.


“Kalo gak ada?”, tanya nya polos.

__ADS_1


“Nanti aku kasbon deh gampang,,”, Arfin menjawab ngasal.


“Dih,, suka pura- pura miskin dehh“, Naz dan Arfin pun terus ngobrol bercanda ria sambil tertawa, tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperhatikan mereka dari luar karena pintu kamarnya terbuka. Setelah beberapa saat Arfin pun meminta Naz untuk kembali beristirahat dan dia pun pamit meninggalkan Naz dengan membawa nampan yang isinya sudah raib dibabad habis oleh Naz. Arfin berjalan ke arah dapur kemudian mencuci piring dan gelas bekas makan Naz tadi.


“Arfin, bisakah kita bicara sebentar?” Suara itu mengagetkan Arfin.


“Iya, mau bicara soal apa Bunda? Kayaknya serius banget” Arfin melihat tatapan serius di wajah Bunda.


“Ayo kita ngobrol di teras samping sambil ngasih makan ikan”, Bunda mengajak Arfin ke halaman samping dimana di sana terdapat kolam ikan hias dengan berbagai macam tanaman di pinggirannya. Mereka duduk di kursi rotan yang menghadap ke kolam. “Ar,,, apa kamu memiliki perasaan terhadap Naz?”, Omigot, Bunda meni langsung to the poin.


Arfin merasa terkejut dengan pertanyaan Bunda “Maksud Bunda gimana?”


“Kamu teh gak usah pura- pura Ar, Bunda bisa lihat dari cara kamu menatap Naz dan memperlakukannya” Bunda bicara sambil melempar makanan ikan tanpa menoleh ke arah Arfin .”Kenapa kamu bisa menyukai Naz? Kamu kan sudah tau siapa Naz sebenarnya Ar”.


Arfin terdiam sejenak lalu menghela nafas panjang, “ Naz itu gadis yang unik, meskipun kadang sering usil tapi dia anak yang baik dan peduli terhadap sesama. Awalnya aku hanya mengaguminya saja Bund, tapi karena kami sering tidak sengaja bertemu menimbulkan perasaan yang aneh yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan, bahkan saat melihat dia menangis di sekolahnya tempo hari membuat dadaku sesak dan merasakan kesedihannya, lama kelamaan aku menyadari kalau itu adalah perasaan suka. Aku sudah mencoba menghindarinya dan mengubur dalam- dalam perasaanku, tapi aku tidak sanggup melakukannya Bund, justru kami malah semakin dekat, tapi,,, aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya Bund”. Akhirnya Arfin membeberkan tentang perasannya terhadap Naz.


“Arfin, kamu tahu kenapa Bunda teh berani mempertanyakan hal ini sama kamu?”, Bunda bertanya kembali pada Arfin dan dia hanya menggelengkan kepala,,” Bunda teh sering dengar kalau Naz setiap malam suka teleponan dengan seseorang, dia teh selalu terdengar ceria berbicara dengan orang itu, bahkan banyak perubahan dari dirinya, bunda tidak pernah melihat raut kesedihan lagi yang selalu ia sembunyikan di dalam keceriannya yang palsu, dia lebih periang dari sebelumnya, dan saat tadi kamu bilang kamu bicara dengan Naz di telepon Bunda jadi curiga kalo yang suka teleponan sama Naz itu teh kamu Ar”. Bunda membeberkan hasil analisanya.


“ Sejak kecil Naz anak yang energik,periang dan sangat manja,,dia juga sangat disayangi oleh keluarga Ayahnya karena mereka sangat menginginkan cucu perempuan. Namun semenjak semua orang tahu siapa Naz yang sebenarnya, semuanya berubah dan Naz pun selalu menutup diri dari pergaulan teman sekolahnya. Sejak SD sahabatnya hanya itu- itu saja yang selalu setia dan bisa menerima Naz apa adanya, bahkan Bunda juga tahu saat di sekolah Naz akan merubah penampilannya seperti gadis culun agar orang- orang tidak mau mendekatinya. Makanya Bunda heran saat mendengar kamu mengajaknya makan di mall dan ke pasar malam dia bersedia, bahkan saat tadi melihat kalian bisa bercanda begitu akrab Bunda senang sekali melihatnya Ar, terimakasih ,, terimakasih banyak sudah membuat gadisku kembali periang lagi seperti dulu”, Bunda tak kuasa menahan air matanya yang tiba- tiba membasahi pipinya, lalu langsung dihapus dengan tangannya.


"Tapi Bund,,aku merasa tidak pantas untuknya”, Arfin menundukkan kepalanya seakan kepercayaan dirinya menciut kembali.


“Kenapa kamu teh berpikiran seperti itu ?,,,Apa karena Naz bukan putri kandung ku dan hanya seorang anak….” belum selesai perkataan bunda langsung disangkal oleh Arfin.


“Bukan karena itu Bund,” Arfin menghela nafas panjang sejenak, “Aku merasa tidak pantas untuknya, karena aku ini hanya seorang pria cacat, Bunda”. Lirihnya sedih.


“Ar, Naz bukan tipikal orang yang suka memandang orang lain dari segi fisik atau pun materinya, lagi pula dia sepertinya terlihat nyaman dengan kamu Ar. Dia memang menutup diri dari pergaulan dengan teman sekolahnya, tapi dia suka membantu jiga ada temannya yang kesusahan meskipun temannya itu pernah menyakitinya atau merendahkannya. Dibalik sikap tengilnya, hatinya sangat baik Ar, bahkan jika dia merasa sedih selalu disembunyikannya karena tidak ingin membuat orang- orang di sekeliling yang menyayanginya merasa sedih. Ini bukan sekedar promosi SPG ya”, Bunda masih sempet bercanda lagi serius gini teh.


Arfin terdiam sejenak memikirkan perkataan Bunda yang ternyata telah memberi lampu hijau padanya , namun tidak tahu dengan orang yang bersangkutan apakah menyukainya juga dan bersedia menerima cintanya. “Aku takut jika aku terlalu percaya diri, sedangkan Naz tidak memiliki perasaan yang sama terhadapku, Bund,,,aku terlalu pengecut untuk mengatakannya, ketakutan ku seakan lebih besar dari kepercayaan diriku”.


“Arfin, kalo Bunda perhatikan sepertinya Naz juga mempunyai perasaan yang sama terhadapmu,,dia juga suka sama kamu Ar”, Bunda menepuk pundaknya Arfin.


“Siapa yang suka sama Arfin, Bund?” Terdengar suara seseorang dari belakang mereka.


jeng jeng......


----------------- TBC ---------------


************************************


siapa yang diam-diam ngintip acara interogasi yaa....??


Happy Reading 😉🥰


Jangan lupa tinggalkan jejakmu,,,, 🥰😉

__ADS_1


like, koment, rate bintang 5 dan vote.... 😉


__ADS_2