
Nasib panglima perang yang berjuang menahan para suku Taraya itu berakhir dengan kematian yang mengenaskan. Setelah mendapatkan dua tikaman pedang dan satu anak panah, jasad sang panglima di makan habis tidak tersisa oleh para suku Taraya. Tulangnya di bakar sebagai bahan persembahan dan beberapa pasukan Taraya masih terus mengejar Raja Permadi.
Serpihan sayap Raja yang terpotong di jadikan sebuah mediasi untuk mengirim sihir hitam kepadanya, di kala sang Raja yang sedang sekarat akibat terkena racun berduri. Disitu pula kekuatannya semakin berkurang dan detak jantungnya sangat lemah. Kepala cenayang muara hijau mengetahui kondisi Raja yang terkena sihir hitam dan racun. Setelah pingsan di depan pura, dia di bawa di aula dan di kelilingi oleh para cenayang, tubuhnya di selimuti oleh kain hijau yang membentang lebar.
Di dalam alam sadar sang Raja
Berjalan di padang rumput hijau, sinar matahari yang tidak begitu terik bersama semilir angin yang memberi udara segar. Dari kejauhan ada sosok wanita yang memperhatikannya, sosok yang tidak asik terus menatap tanpa henti.
“Engkau sangat mirip dengan putri ku, apakah engkau putri Arska?” panggil sang Raja terbang menujunya namun sosok itu menghilang seketika.
...----------------...
__ADS_1
“Apa yang harus kita lakukan pada hewan raksasa ini?” tanya salah satu cenayang kepada cenayang Han.
“Aku akan tetap berusaha mengobatinya” jawab cenayang Han.
“Engkau sudah tampak lemas.”
Kaki gangga yang tidak bisa terlepas dari rantai, sihir yang terlalu kuat sedangkan setengah kekuatan para cenayang telah terkuras untuk membantu menyembuhkan sang Raja.
Cenayang Han yang mendapatkan kantung kekuatan dari cenayang Karang langsung menarik salah satu kekuatan untuk membantu Gangga. Suara Gangga yang menggelegar kesakitan, badan hewan raksasa itu menghentakkan kaki membuat guncangan tanah sehingga beberapa dari cenayang tidak bisa berdiri dengan seimbang. Cenayang Han berusaha menenangkan, dia mengusap punggung Gangga dan membisikkan sesuatu
Hewan cerdas itu mengerti perkataan sang Cenayang.
__ADS_1
...----------------...
Hari demi hari berlalu, di Istana Jati jajar para menyelinap dengan menyamar sebagai prajurit dan dayang masih mencari celah dan titik kelemahan kerajaan. Riwayat pil hitam untuk membunuh ibunda Ratu Jati jajar akhirnya di temukan oleh salah satu dayang istana yang bertugas membersihkan kamar kebesaran.
“Benda apa ini?” gumamnya mengamati sangat lama.
Bentuk bulat berwarna hitam dan terasa panas itu di curigai oleh sang dayang, dia memberitahu kepada kepala kasim istana. Sang raja masih pergi keluar sedangkan ibunda Ratu sedang dalam proses pemulihan beristirahat panjang di atas tempat tidur permadani sambil memikirkan nasib putri Arska. Sosok peran seorang ibu yang begitu mengkhawatirkan anaknya. Segala upaya telah di coba untuk menemukannya sampai pada suatu hari sosok utusan kerajaan mengabarkan Raja Permadi menuju pura hijau bersama Gangga.
“Apa? Kenapa Gangga bisa bersama Raja Yaksa? Cepat bawa hewan itu kembali ke istana!” tegas sang Raja.
Sosok kasim menghampiri sang raja dengan membungkukkan tubuh. Dia menunjukkan sebutir pil hitam itu, sontak sang raja mengerahkan pengawal pendampingnya berserta panglima perang untuk mencari tau musuh yang berusaha membunuh ibunda Ratu.
__ADS_1
Berselang waktu, pangeran Tranggala kembali memasuki istana Jati Jajar, dia menawarkan lagi pasukan untuk berjaga di benteng tembok istana dan membantu mencari putri.
“Sudikah Raja menerima dengan tulus?” tanya pangeran Tranggala.