
Sekali kepercayaan itu terkoyak maka selamanya kristal batu es membeku di keabadian. Kata indah, hari manis, surat cinta dan pengorbanan semua runtuh seruntuhnya hati yang sudah mengeras. Dia adalah putri Mahkota bermata ghaib di iringi dua cahaya hitam dan putih. Di balik pendamping kelahiran pergantian tahun alam jin. Tidak ada yang bisa mengetahui segala takdir dan nasib kebersamaan rasa cinta di dunia ini. Meskipun sudah lenyap, mata ghaib itu masih menyala mengingat lagi hal yang membuat sang surya terlalu membakar dirinya.
...❄❄❄❄❄❄...
Intisari dunia alam dimensi jin, hari yang kelam di tambah duka penderitaan. Sebuah istana yang megah menjulang tinggi ke atas langit tidak terlihat indah ketika sudah menapaki satu langkah ke dalamnya. Tentang cinta biru, rumit hati tidak terkendali. Rasa putri Arska yang semakin samar memudar menghilang. Jarum jam yang selalu di permainkan oleh sang raja jin bersayap. Kematian yang seharusnya tidak terulang bahkan ramuan pembangkit jiwa dari bantuan cenayang tidak bisa memberi aurora untuk kebahagiaan mereka.
Guyuran hujan deras membanting tanah, terlalu basah mengurai jejak simbah darah para prajurit jin yang gugur di Medan perang. Lumpur menapaki kaki bekas sayatan, tusukan dan anak panah masih menancap di tubuh mereka. Kerajaan berhasil di pertahankan, kembali lagi cerita baru dan hal mistis mengisukan kehadiran sosok ghaib yang membantu. Musuh belum sampai disini untuk menyerang, dendam dan amarah masih di berkobar di hati mereka.
Sesampainya kembali di istana, Darson mencari cara baru untuk menggulingkan raja Yaksa beserta kerajaannya. Di dalam ruang kebesaran, dia meraih jubah dan menyiapkan sekotak pil opium. Mimik wajah tertawa lebar bahkan sampai terbahak-bahak. Dia belum sadar betul akan tanaman opium yang telah musnah di lahan kerajaan miliknya.
“Raja Permadi, kau akan segera mati!” gumam sang pangeran.
Pengawal pendampingnya menghampiri kemudian dia menunduk memberi hormat. Namun sang pangeran tampak acuh. Perlahan sang pengawal membisikkan sesuatu dengan nada bergetar. Mata sang pangeran melotot, Dia menarik pedang yang berada di pinggangnya lalu di arahkan ke leher sang pengawal.
“Coba kau katakan sekali lagi dengan suara yang jelas atau pedang ku ini akan memenggal leher mu dalam hitungan lima detik!” bentak sang pangeran.
“Maaf pangeran, apa yang hamba katakan adalah benar. Ladang tanaman opium tiba-tiba menghilang, hanya ada bekas debu dan tanah tandus di atasnya. Terlebih lagi, sekarang pangeran harus membantu sang raja berperang di wilayah Tenggara.”
Mendengar perkataan sang pengawal, pangeran Darson memasukkan pedangnya kembali . DIa berjalan tergesa-gesa menuju lading tanaman opium. Seperti tidak percaya, sang pangeran menyentuh tanah tandus retak berwarna merah. Dia memasang wajah marah, tanpa memikirkan kewajibannya membantu sang ayah berperang. Pangeran menaiki kuda tanpa membawa pengawal menuju hutan hitam tempat para penyihir yang terkenal dengan suku Taraya.
“Pangeran! Tunggu pangeran!” teriak panglima kerajaan berusaha mencegahnya.
Pangeran Darson mempercepat lari kudanya, dia memacu sekencang-kencangnya hingga dia hampir tidak bisa mengendalikan arah tikungan melewati perbukitan lembah sungai jin. Tempat para penyihir hitam itu selubungi rawa, semak belukar, ranting tajam dan lapisan pohon hutan. Banyak asap putih mengepul, hewan liar, suara aneh juga bungkusan hawa begitu dingin. Mencapai tempat itu dengan tujuan tertentu, banyak para jin yang tidak pernah bisa kembali dari sana.
__ADS_1
“ihihihih!” tawa cekikikan wanita tua memegang tongkat melebihi dua kali tinggi tubuhnya.
Mata merah berlendir, menghembus seribu burung gagak keluar dari rahangnya. Hewan-hewan itu menyerang sang pangeran, secara brutal hingga beberapa kulit daging tersobek mengeluarkan darah bercucuran. Pangeran Darson menepis, mengayunkan pedang untuk membunuh semua hewan itu.
“Hampir saja aku jadi bangkai makanan hewan-hewan ini” ucapnya melanjutkan perjalanan.
Beberapa meter terdengar ramai suara aneh, asap hitam di udara dan jeritan menggema. Pangeran Darson tanpa gentar turun dari kudanya lalu berjalan menghampiri sumber suara tersebut. Salah satu sosok mengerikan memakai jubah yang terbuat dari daun raksasa menyergahnya. Dia menyayat pergelangan tangan sang pangeran. Semula sang pangeran merasa nyawanya terancam tapi, sosok itu menampung darah miliknya ke dalam wadah kecil berwarna hitam kemudian di serahkan ke sosok besar yang sedang berdiri di depan bara api yang menyala.
“Taraya!” teriak mereka serentak.
Kayu panjang, senjata aneh mereka hentak ke tanah berkali-kali menyebutkan nama itu.
Sang pangeran meletakkan pedangnya di atas tanah, dia membungkuk sambil menekan darah di pergelangan tangannya yang tidak mau berhenti. Sosok hitam besar tadi mendekatinya, dia menjilati darah pada luka Darson. Lidahnya menjulur panjang mirip ular, mata melotot menyeringai menunjukkan empat gigi taring lancip.
“Stthh!” ringisnya.
Salah satu sosok aneh lain mendengus mencium sekujur tubuh Darson. Dia menarik paksa jubah yang di kenakannya . Darson membantu melepaskan karena sudah tidak tahan merasakan cekikan, dia mengeluarkan muntahan cacing setelah sosok tersebut menyentuh lehernya.
“To_to_tolong selamatkan aku!” ucapnya.
“Bukankah tadi sudah ku katakana, kau kesini seolah mengantarkan nyawa mu sendiri” ucap sosok hitam besar.
“Cepat katakan bahwa kau sudah menjadi penganut kami!” bisik sosok aneh lain.
__ADS_1
Sang pangeran mengangguk, dia tidak sanggup menahan sakit di sela muntahan cacing tanpa henti. Akhirnya dia jatuh pingsan di bawa oleh tiga sosok suku Taraya ke atas sebuah batu raksasa. Para suku Taraya berkumpul mengitarinya. Mantra telah di ucapkan, suara keras mereka membangunkan sang pangeran. Dia ketakutan, tidak ada sela jalan sedikitpun untuk berlari.
“Tolong!” teriaknya histeris.
“Pangeran, jangan takut! Sekarang kau boleh mengatakan permintaan mu kepada kami” ucap kepala suku Taraya.
“Hanya ada dua pilihan, kekuasaan atau usia keabadian. Setelah kau memutuskannya maka minumlah darah jin setan terkuat ini. ahahah, Taraya!” tambahnya.
Bara api, suara riuh ramai dan kabut hitam menyelimuti tempat itu. Pangeran Darson berdiri dengan memukul dadanya sendiri.
“Aku, penerus raja Kalingga selanjutnya.
Sosok penguasa yang abadi!” teriaknya lantang lalu merampas ramuan terkutuk yang tampa dia sadari telah menggadaikan jiwanya.
Sang kepala cenayang melotot, dia tidak percaya jika pangeran Darson merupakan sosok jin yang rakus dan serakah. Ritual, bunyi hentakan kaki aneh dan tongkat ramai menabur biji-bijian di di sekitar batu raksasa. Ekspresi wajah penuh hawa nafsu akan harapan keserakahan.
"Segalanya akan aku miliki!" teriakan bercampur wajah menyeringai.
...----------------...
Jangan lupa untuk dukungan penyemangat author agar update ya 🤝
rate ⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
mawar/ like/ komentar/ kopi / bunga mawar/ vote.
Maaf author masih sibuk di real life. Semoga para author dan pembaca sehat selalu. Terimakasih, salam persahabatan💕