Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Pengurungan putri Helena


__ADS_3

Putri Helena sudah berdiri menghadap Raja, di sampingnya ada Ratu Sesa yang tertawa menyeringai lalu menekan leher sambil memeluk sang Raja.


“Putri, katakan padaku kenapa engkau menyakiti Ratu Sesa?” tanya Raja Gurun.


Putri Helena menahan amarah untuk menghabisi sang Ratu, namun dia tidak mau di anggap sebagai pembangkang dan pemberontak kerajaan. Putri Helena hanya terdiam menunduk tanpa bisa menjawab sepatah katapun.


“Raja, berilah hukuman agar dia tidak melakukan hal itu lagi kepada ku!” tangis Ratu Sesa terisak memeluk Raja Gurun.


“Putri hukuman mu akan terasa ringan jika berlutut dan meminta maaf kepada Ratu” ucap Raja Gurun.


Putri Helena terpaksa menuruti perkataan sang Raja, dia juga tidak mempunyai bukti atas kematian Ratu Rafa.

__ADS_1


“Wahai Sesa, akan aku pastikan malam mini adalah malam terakhir mu di dunia jin!” gumam putri Helena.


Putri Helena di kurung selama seratus hari di menara kerajaan, dia di hukum tidak boleh keluar dari sana selama seratus hari lamanya. Tidak ada dayang pendamping atau pun penjaga, selama dua hari sekali sang pengawal pribadi Raja mengantarkan makanan langsung untuk sang putri di depan pintu ruangannya. Menara yang tinggi, lembab dan gelap.


Penerangan disana hanya ada sebatang lilin yang di tegakkan di atas ubin. Dendam putri Helena kepada putri Arska kini sama hal nya dendam kepada Ratu Sesa, tapi kepentingan yang harus segera dia habisi adalah Ratu Sesa yang sudah menghabisi Ratu Rafa.


Tepat di pertengahan malam ganjil di malam yang mencekam, putri Helena mengirimkan sihir melalui kepala tengkorak yang dia miliki ke Ratu Sesa. Jelmaan ular hitam melata sampai ke ranjang sang Ratu, dia masuk ke dalam selimutnya melilit tubuh sang Ratu sangat kuat sampai sang Ratu tidak bisa berteriak. Kepala ular hitam itu menancapkan gigi ke lehernya menghisap habis darah sang Ratu.


“Arghh…” teriak dayang histeris melihat kematian Ratu Sesa.


...----------------...

__ADS_1


Kerajaan Yaksa


Ibu suri di kelilingi dan di jaga oleh sepuluh dayang di setiap sudut ruangan. Bawah mata melingkar kehitaman merasakan hawa kantuk, tidurnya tidak nyenyak menyambung segala mimpi gangguan sosok mengerikan.


“Kenapa mantra dari pura ini tidak berfungsi? Apakah kekuatan muara hijau telah hilang? Padahal aku telah merencanakan penyerbuan ke kerajaan Jati Jajar!” gumam ibu suri menatap mantra kertas yang di berikan oleh kepala cenayang.


Raja Permadi menghampiri ibu suri, dia tetap memperlakukan sang nenek dengan baik sambil mengantarkan banyak hadiah barang-barang kesukaannya.


“Nenek, sampai kapan engkau tidak merestui ku dengan putri Arska?” tanya Raja Permadi mengusap punggung tangannya.


“Sampai aku mati, kerajaan kita tidak akan pernah berdamai dengan kerajaan mereka! Sudahlah aku sangat lelah.”

__ADS_1


Raja hanya bisa menghela nafas, dia berpamitan lalu berjalan meninggalkan kamar kebesaran ibu suri di ikuti oleh para kasim dan pengawalnya. Jarang sekali sang Raja di ikuti oleh para dayang, dia memberikan jarak jauh untuk para dayang istana sekalipun mengurus keperluan pribadinya. Raja mendongakkan kepala ke atas langit, cahaya rembulan yang merindukan sosok jin dari kerajaan seberang yang sedang menyimpan hatinya.


“Putri, jika malam ini aku menemui mu dengan wujud angsa. Apakah engkau sudah terlelap? Jika sudah ijinkan aku terus menjaga mu seperti biasa dari atas pohon dekat bunga allysum biru kesukaan kita” gumam Raja Permadi.


__ADS_2