
Pasukan tentara berkuda hitam milik pangeran Tranggala telah pergi meninggalkan kerajaan Jati jajar. Di dalam pikiran putra mahkota telaga hitam itu masih mengingat segala amarah putri Jati Jajar terhadapnya. Dia menunggangi kuda kebanggaannya menuju istana Yaksa, sampailah dia di depan tembok raksasa pembatas wilayah memasuki daerah yang penuh dengan penjagaan algojo dan jin bermata merah.
Kuda-kuda mereka tidak terkendali ketika di kelilingi oleh hewan bersayap yang mengitari mereka tanpa henti. Pangeran Tranggala mengeluarkan pedang raksasanya, dia membunuh beberapa ekor burung yang mendekatinya. Aroma anyir itu memicu kawanan hewan berekor lain mendekati lalu menyerang mereka secara brutal. Penjaga gerbang dan prajurit Yaksa yang menyaksikan itu membantu para kawanan hewan bersayap dengan melepaskan busur anak panah menuju pangeran Tranggala dan pasukannya.
“Pangeran, sepertinya kita harus pergi dari tempat ini” ucap penjaga pendamping.
Mereka meninggalkan tanah Yaksa dengan jejak kaki bekas tumpahan darah hewan bersayap. Kejadian itu segera di laporkan oleh panglima penjaga kepada raja Permadi.
“Pangeran Tarangga, sepertinya dia memintaku mengeluarkan pedang kembali. Setelah pertempuran waktu itu. Aku tida akan melepaskannya” ucap raja Permadi.
Sosok raja yang semula bersikeras tanpa ingin melakukan pembunuhan atau menebas leher para jin yang memberontak atau melawannya itu kini berubah menjadi sang raja jin yang membawa pedang untuk membawa jin yang di bunuh menjadi menghembuskan nafas terakhir. Banyak yang mengatakan, jika raja jin bersayap membawa pedang di tangannya maka akan ada nyawa jin yang melayang tanpa ada ampunan darinya.
__ADS_1
Malam itu, raja bersikeras mengepakkan sayap mengejar para pasukan dan pangeran Tranggala. Sedangkan panglima dan penjaga pendampingnya ikut menyusul menaiki kuda. Kecepatan kepakan sayap raja yang terlalu cepat membuat mereka kehilangan jejak sang raja.
“Kemana arah raja Yaksa pergi?” tanya panglima perang memutar pandangan melihat sekeliling adalah hutan di dekat lereng gunung.
“Menurutku raja akan menjumpai pangeran Tranggala yang berani menumpahkan darah di wilayah Yaksa. Dia sudah menyerang pasukan hewan bersayap yang berjaga di perbatasan. Raja pasti sangat marah dan tidak akan memaafkannya” ucap sang penjaga raja.
“Pintar sekali kau, itulah mengapa raja memilih mu sebagai pendampingnya” jawab sang panglima.
“Tidak, kita berdua adalah pilihan dan orang kepercayaan raja Yaksa. Hidup kita kini di tangannya” kata sang penjaga.
Putri Arska membakar ranting di belakang istana, dia berharap salju akan segera berhenti. Tangan putri Arska yang mempunyai aliran Yin dan Yang di bantu oleh sihir cenayang Karang membuat badai salju di negeri jin mereda. Kini hanya beberapa butiran salju yang turun, putri mengucap syukur dan berharap salju yang berkepanjangan tidak akan membawa bencana dan musibah di negerinya.
__ADS_1
“Puti, salju telah berhenti” ucap dayang pita hijau.
“Ya, semoga besok matahari akan bersinar.”
“Aku sangat menanti untuk bisa mandi air hangat lagi” ucap dayang pita hijau.
Putri Arska tersenyum mengusap dahi dayang yang masih tampak belia itu.
“Lihatlah si pita hijau itu, dia menjadi dayang kesayangan putri Arska. Bagaimana bisa dia mengatakan ingin mandi air hangat dengan statusnya seperti itu?” berbisik kepada dayang lainnya yang sedang memperhatikan mereka dari lorong istana.
Suara dayang pita hijau seolah bernada tegangan tinggi, apapun yang dia katakan pasti jin yang berada beberapa meter mendengarnya.
__ADS_1
“Dayang pita hijau, bawakan aku makanan Gangga. Aku harus memeriksa keadaannya” ucap putri Arska.
“Hamba akan segera membawakannya putri.”