
Setelah menemukan keberadaan putri Arska, sang Raja langsung membawa sang putri keluar dari sel menuju istana Jati Jajar. Di perjalan menuju kesana, Raja merasakan tubuh sang putri sangat dingin. Dia menghentikan kepakan mendarat di atas lembah sungai jin. Di bawah terik mentari, wajah sang putri begitu pucat dan detak jantungnya melemah.
“Wahai putri bertahanlah, maafkan aku yang selama tujuh hari sebelumnya terlalu sibuk mengurus kerajaan sehingga tidak sempat mengawasi dan menjaga mu.Sebentar lagi kita akan sampai, jangan tinggalkan aku" ucap Raja Permadi mengusap keningnya.
Raja melanjutkan mengepakkan sayap terbang lebih cepat hingga sampai di depan benteng istana Jati Jajar. Disana sudah ada para prajurit yang siap menyerang melihat kedatangannya. Namun saat melihat putri Arska, panglima perang meminta seluruh pasukan menurunkan senjata. Dia mendekati Raja Permadi lalu menunduk.
“Wahai Raja Yaksa, terimakasih telah membawa putri kembali” ucap panglima.
__ADS_1
Putri di tempatkan kembali di ruang kebesarannya, para tabib tampak sibuk memeriksa. Sementara Raja Permadi menunggu di halaman kerajaan bersama panglima perang. Dia tidak di perkenankan masuk istana. Walau bagaimanapun dirinya adalah musuh yang tidak pernah berhenti menyatakan peperangan ke kerajaan Jati Jajar.
“Raja, hamba ingin menanyakan mengapa dimana bisa menemukan tuan putri?” tanya panglima perang.
“Jika aku menceritakan kejadian sesungguhnya kepada ku, apakah engkau masih mempercayaiku?”
Raja Permadi memperhatikan wajah curiga pada panglima perang.
__ADS_1
Penampilan Raja perlahan membuat sang panglima percaya akan jubahnya yang kotor, kaki penuh lumpur dan wajah begitu pucat. Perut raja tiba-tiba bernyanyi di dekat panglima. Raja menahan rasa malu dengan mengepakkan sayap raksasanya di dekat panglima lalu memalingkan wajah. Panglima menahan tawa menunduk memperhatikan sang Raja.
“Panglima, aku akan menceritakan semua kejadian yang terjadi sesungguhnya kepada mu” ucap Raja Permadi.
Sang Raja menceritakan semua kejadian secara rinci ke panglima. Dengan sabar panglima mendengar segala perkataannya. Setelah beberapa lama, panglima meminta sang Raja duduk di alun-alun kerajaan, dia seperti sudah memberi sinyal pertemanan untuknya. Panglima masih mengamati sayap besar raksasa milik raja Yaksa. Baru kali ini dia bisa lebih dekat melihat rupa jin yang di perbincangkan oleh para penghuni Jati Jajar. Panglima meminta para dayang untuk menyiapkan minuman dan makanan kepada Raja Yaksa.
Hari ini seluruh penghuni istana mengetahui segala perbuatannya ke Raja Yaksa, jika Raja Jati Jajar mengetahui maka dia telah siap untuk di penggal. Raja Permadi enggan menyentuh semua hidangan yang ada di depannya. Dia belum merasa tenang jika belum mendengar kabar sang putri Arska. Ibu suri sudah mengurungnya selama beberapa hari, tubuh putri luka bekas cambukan dan dia tidak minum setetes pun. Ingin sekali sang Raja menghukum mati ibu suri, tapi dia mengingat lagi akan rasa sayang sang ayahanda, Raja sebelumnya kepada sang nenek.
__ADS_1
“Raja, silahkan nikmati hidangan ini, apakah engkau merasa ada racun di dalam sana?” tanya panglima.
“Sekalipun ada racun disana maka aku tetap meminumnya, suatu kehormatan bagi kerajaan musuh mendapatkan perlakuan baik. Aku akan minum setelah mengetahui kabar putri Arska” ucap raja Permadi.