
Prang…
Astro menjatuhkan sebuah kotak kaca yang berisi cincin di dalamnya. Sudah sangat lama dia menanti pertemuan dengan Maharani dan berjanji melingkarkan cincin di jari manisnya walaupun mereka tidak bisa bersama.
“Bukan aku..” lirih suara putri turut bersedih.
Misteri yang membuah dia sangat bingung untuk apa bertemu sosok yang mirip dengan Raja Permadi di alam dunia dan mengetahui akhir cerita mereka.
...----------------...
Raja Permadi pulang menuju istana Yaksa bersama Kasim dan pengawalnya. Dengan berat hati dia meninggalkan hutan dan Gangga. Hewan peliharaan itu dia titipkan kepada salah satu prajurit kerajaan jati jajar yang berjaga di sana. Semula, prajurit begitu ketakutan melihat sosok penguasa wilayah Yaksa dengan sayap raksasa besar mengikutinya.
__ADS_1
“Tolong kirimkan burung merpati ke istana ku ketika mendapatkan tanda keberadaan putri dan jaga Gangga untuk ku!” ucap Raja terbang meninggalkan hutan di susul oleh kasim dan pengawal menunggangi kuda dari kerajaan Jati Jajar.
Raja tiba di depan gerbang istana, dia buru-buru bergegas masuk mencari ibu Suri. Para dayang langsung membukakan pintu kamar kebesaran ibu Suri tanpa meminta ijin darinya.
“Lancang sekali membuka ruangan ibu Suri tanpa meminta ijin dari ku!” ucap dayang pendamping ibu suri menurunkan tangan yang akan dia ayun ke wajah salah satu dayang penjaga pintu.
“Dimana ibu suri?” tanya Raja melotot mengepalkan tangan.
Ruangannya sepi, Raja menuju meja bundar tempat ibu suri melakukan pekerjaan. Dia melihat tiga buah gulungan, yang di ikat dengan pita berwarna hitam. Pada gulungan pertama yang dia buka, dia melihat peta wilayah kerajaan Yaksa dan berbagai simbol aneh yang di gambar di titik sudut tempat-tempat tertentu. Gulungan kedua, dia membuka sebuah lukisan wajah putri Arska. Wajah sang putri yang menjadi berbeda Karena di penuhi dengan titik-titik tinta berwarna hitam di seluruh wajah. Ada tulisan seperti mantra di bawahnya. Raja meremas gulungan kertas lalu mengoyaknya menjadi bagian kecil.
Tanpa perlu bertanya ke siapapun atau memerintahkan salah satu pengawal untuk mencari ibu suri, darah Raja Permadani yang sudah mendidih ingin mengetahui apa sebab mengapa ibu suri begitu membenci putri Arska.
__ADS_1
Siang hari yang terik setelah melewati malam di hutan yang di tutupi pepohonan besar, kasim masih kelelahan namun tetap setia mengikuti kemanapun langkah sang Raja Pergi.
“Aku sudah terlalu tua untuk berlari” gumam sang kasim pontang-panting mengikuti langkah Raja Permadi yang tampak ringan menyeret sayap raksasanya.
Di dekat kolam teratai, disana ada ibu suri dan putri Helena yang bercengkrama, tertawa dan bersenda gurau sambil menikmati hidangan.
“Raja, kemarilah..” ucap ibu Suri menarik lengan Raja Permadi dan mendudukkannya di dekat putri Helena.
“Raja tunjukkan sikap baik mu sebagai seorang raja yang terhormat, patuhlah” bisik ibu suri melirik lalu meminta dayang menuangkan teh untuknya.
Raja berusaha mengatur emosi sambil meremas serpihan kertas di tangan sebelah kanan dan menggenggam kertas gulungan peta di tangan sebelah kiri. Perlahan dia meletakkan serpihan kertas di depan ibu suri sambil berkata nada suara pelan.
__ADS_1
“Nenek, sepertinya urusan kita belum selesai. Aku menunggu mu di aula kerajaan”
Raja meninggalkan peristirahatan kolam teratai tanpa menoleh ke arah putri Helena sedikitpun.