
Di ruangan kebesaran putri Arska
Harum semerbak ruangan itu tercium oleh sang raja, aroma khas bunga sang putri yang selalu dia dekap di saat-saat tertentu. Raja perlahan berjalan menghampiri putri yang masih tidak sadarkan diri. Ketika sampai di tepi ranjang, raja membungkuk berjongkok meraih tangan putri Arska. Dia mengecup punggung tangan sang putri.
“Putri bangunlah, aku akan pergi mencarikan obat untuk mu. Buka lah mata mu wahai putri, agar aku merasa tenang saat meninggalkan mu” ucap Raja Permadi.
Dia menepikan sentuhan hangat tepat di kening putri Arska. Perlahan manik mata sang putri terbuka memandangi sekitar. Ada Raja Permadi di ruangan kebesarannya, seolah sosok jin itu tidak pernah terlepas dimana pun dia berada atau setelah bertemu dengannya, dunianya kini selalu di penuhi dengan kehadirannya. Raja tersenyum melihat putri Arska, dia mendaratkan sentuhan hangat kedua di dahi sang putri.
“Kini Cuma aku saja yang bisa menyentuh mu, tidak akan aku biarkan jin lain merampas milik ku” ucap Raja Permadi.
Di situasi kritis seperti ini, sosok jin perayu itu sempat menumpahkan kata manis untuk putri Arska. Sang putri ingin sekali memukul raja yang katanya selalu melindunginya itu. Dalam benak putri Arska merasa begitu kesal atas perlakuan ibu suri, neneknya yang menginginkan kematiannya. Putri Arska memalingkan wajah, dia benar-benar ingin memutuskan pertemuan dengan Raja Yaksa.
__ADS_1
“Putri, aku rela mati jika tidak mendapatkan obat mu. Aku meminta ijin pergi ke tebing bagian utara, wahai putri jangan engkau memalingkan wajah mu” ucap Raja memelas.
Perlahan sang putri melihat Raja Permadi lalu melirik daun kering yang berada di atas kepalanya. Dia juga memperhatikan sayap Raja yang kotor bersama penampilannya yang sangat memprihatinkan. Segala perjuangannya untuk menolong dirinya, sang putri sampai saat ini masih meragukan kebenaran segala rasa yang di berikan oleh sang Raja.
“Wahai putri, aku berjanji akan kembali dan membawa obat untuk mu, balas lah cinta ku agar menjadi cinta biru.”
Mendengar ucapan sang Raja, putri Arska ingin sekali tertawa. Tapi matanya masih terasa berat, kepala kembali menghajar rasa sakit bersama sekujur tubuhnya. Dia memejamkan mata kembali, gerakan tangan menggenggam tangan Raja Permadi yang besar. Raja merasakan tangan mungil putri membalas genggamannya, dia menepikan rasa hangat di punggung tangan sang putri.
Dari balik pintu sang panglima mengamati segala gerak-gerik Raja Permadi, seperti adegan mengintip dan ingin tau apa yang Raja lakukan di dalam sana. Begitu pula pengawal mengamati dari belakang tubuh sang pengawal.
“Sudah, Raja bersayap itu akan memakan kita jika dia mengetahui kita melihatnya dari tadi” ucap pengawal.
__ADS_1
Raja berpamitan kepada Panglima dan pengawal, tapi sesuai janjinya akan meneguk te hyang di suguhkan oleh panglima untuknya.
...----------------...
Di menara yang tinggi
Putri Helena masih menjalani masa hukuman atas perbuatannya, disana dia terus mengasah kekuatan hitam suku Taraya. Kebimbangan dan keresahannya saat berkali-kali setiap malam menebar kiriman sihir di udara untuk menyerang sang putri langsung sirna seperti ada kekuatan lain yang melindungi.
“Arska dengan cara apapun aku akan membunuh mu” gumam putri Helena.
Malam ini adalah bulan purnama merah yang hadir di langit jin setiap ratusan abad sekali. Pancaran energi negatif sangat kuat untuk menyalurkan ilmu merasuki aliran darah jin yang melemah. Putri Helena memanfaatkan kejadian fenomena alam ini untuk menggerakkan aliran darah para jin yang berada di sekitarnya.
__ADS_1