
Kelopak bunga penuh tumpahan madu selalu di rindukan oleh sosok jin bersayap. Cinta dan rindu tidak pernah terkalahkan sekalipun obat penenang bertemu seolah tidak cukup walau sesaat penuh meluap. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi ratu di hatinya. Putri Arska yang begitu raja jin bersayap itu cinta.
“Nenek, aku sangat menghormati mu. Aku berharap engkau meminta maaf kepada raja jati jajar, agar peperangan ini tidak terulang kembali” bisik Raja permadi.
“Demi langit, leluhur mu bahkan raja dan ratu yaksa yang sudah selesai memerintahkan negeri ini tetap memenuhi janji mereka untuk membalaskan dendam atas seluruh darah yang gugur di medan perang. Sampai aku mati pun tidak akan memaafkan kerajaan itu” ucap sang ibu suri.
“Nenek, apa yang sudah engkau katakan? Engkau mengetahuinya bukan? Tragedi lalu atas penyerangan telaga hitam yang hampir meruntuhkan Yaksa. Jika putri Arska dan pasukannya tidak datang, mungkin kita sudah hancur” ucap Raja Permadi.
Ibu suri yang keras hati itu tetap pada pendiriannya, dia berdiri dengan tegak sambil mengangkat tongkat Yaksa.
“Yang mulia, apapun keputusan engkau. Kami akan mematuhinya” ucap sang hakim.
__ADS_1
“Apa? Aku yang harus mengambil tindakan!” suara keras ibu suri memenuhi seluruh aula istana.
“Kasim, tolong bawa ibu suri ke ruangan kebesarannya. Beliau harus beristirahat, kesehatannya sudah mulai menurun” perintah raja Permadi.
“Raja! Kau masih menganggap aku nenek mu bukan? Apakah ini balasan mu setelah aku mengurus mu sedari kecil?” teriak ibu suri meronta-ronta enggan di bawa oleh para kasim dan dayang.
Setelah mendengarkan isi dekrit sang putri, semula para punggawa serta pejabat yang ingin melengserkan nya kini beralih mematuhinya. Semua ini bukan unsur kesengajaan sang raja jin bersayap. Dia terpaksa menggugurkan penghianat yang ingin melayangkan perang di depan kedatangan raja yaksa.
...----------------...
Keadaan putri cepat sekali pulih, setelah sekujur tubuhnya terluka bahkan kekuatannya melemah. Malam ini dia membuka mata tepat di tengah malam. Jarum dinding raksasa, nyanyian suara burung hantu dan suara jeritan para arwah prajurit yang gugur di peperangan. Putri perlahan turun dari kasur lalu memakai jubah menuruni anak tangga istana menuju kandang gangga. Sesekali dia merasakan ada bayangan yang mengintai, sosok arwah penasaran yang di kirim oleh ibu suri hampir saja celaka.
__ADS_1
Obor raksasa tepat di atas kepala sang putri terjatuh namun segera di tepis oleh sayap Gangga. Api yang menyala itu membakar bagian atas sayapnya dan tumpukan jerami kering yang terdapat di dalam kandang. Gangga mengibaskan sayap berusaha memadamkan api, namun kobaran semakin menjalar setelah ada angin kencang yang berhembus dari arah utara.
“Kebakaran!” teriak para prajurit berbondong-bondong sambil membawa air.
Gangga membawa putri Arska terbang keluar istana, hewan yang merasa sang majikannya merasa terancam itu menjauhkan diri membawa putri terbang sejauh mungkin dari wilayah Jati jajar.
“Gangga, kemana kita akan pergi? Ayo kembali ke istana” ucap sang putri.
Tapi ketika mereka berbalik arah, dia melihat sosok hitam yang mengerikan terbang dengan mata bolong menembus mereka. Gangga dan sang putri terjatuh dari udara, suara teriakan sang putri terdengar di telinga raja jin bersayap. Dengan cepat raja Permadi terbang mencari keberadaan sang putri.
🌿IG @arsyalfaza
__ADS_1