Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Cinta mengudara


__ADS_3

Di tengah barak hutan belantara, pangeran sedang menulis lembaran surat di atas selembar daun raksasa berwarna coklat. Dia memakai tinta hitam biasa berusaha menggerakkan tangan perlahan. Di sampingnya masih ada sisa serpihan daun hijau yang berukuran sedang. Hatinya sedang gundah gulana akan masa depan kerajaan Yaksa atau meraih hati putri jati jajar. Pangeran meneguk air dan mulai menulis segala pikiran utama yang paling di tuju untuk putri Arska.


Selembar daun raksasa berwarna coklat


Teruntuk tuan putri Arska


Aku akan datang lagi ke lembah sungai jin untuk memastikan kesetiaan ku, kali ini jadilah sesuatu yang bisa sedikit menunggu. Kerajaan Yaksa sedang di landa kekacauan walau ku tau demikian pula dengan segala perjuangan diri mu membela kerajaan jati jajar. Bagaimana lagi aku akan membelah angin di udara jika sayap ku masih terluka?


Merayu mu di dalam serpihan putih bunga alyssum biru


Menenangkan besar gemuruh kegelisahan mu dengan mengirim ukiran nama mu dengan darah ku di balik pita biru


Benih rasa ini masih terasa bahkan beribu kali tombak menghunus tubuhku

__ADS_1


Di dalam lembaran-lembaran daun hijau berukuran sedang, pangeran menyelipkan buah delima merah ranum. Dia memasukkan semua di dalam sobekan kain bajunya. Badar berlari dengan tergesa-gesa, pakaiannya kotor dengan mengusap mata. Dia baru saja selamat dari pengejaran salah satu mata-mata ibu Suri.


“Apa yang terjadi dengan mu?” tanya pangeran mengerutkan dahi.


“A, a, aku..” nafas Badar masih terengah-engah, dia menepuk-nepuk dadanya sambil menangis.


“Aku hampir mati di bunuh pengawal ibu suri, pangeran! Selamatkan lah aku!” teriak Badar berlutut meraung-raung.


“Berani sekali pengawal itu_” pangeran mengentikan pembicaraan dan berpikir mencari jalan keluar.


“Kau kasim jin merah pendampingku yang terkuat, kenapa menangis hanya karena hal sepele? Memalukan sekali!” Pangeran menyodorkan kembali kain yang berisi lembaran daun untuk putri.


"Pangeran, apakah kau ingin menyuruh ku kembali ke luar sana? Tolong bunuh saja aku sekarang”

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar langkah kaki prajurit memasuki tenda pangeran. Dia mengatakan bahwa hari ini pasukan telah siap kembali ke istana bersama ibu suri. Prajurit juga menyodorkan sebuah gulungan dari ibu suri kepada pangeran. Pangeran membuka isi gulungan dan sangat terkejut saat membukanya.


...Bersama hidupnya kembali pangeran pewaris tunggal putra mahkota kerajaan Yaksa, maka aku sebagai ibu suri memberikan petisan pengangkatan tahta dengan menggantikan nyawa ku...


Pangeran menutup kembali gulungan dan berjalan menuju barak ibu suri.


Walau bagaimanapun dia adalah nenek yang menyelamatkanku, bagaimana bisa dia menggantikan dirinya untukku lagi? Gumam pangeran menggenggam gulungan.


Di tengah wilayah seluruh pasukan ibu suri sudah memakai baju perang bersama senjata di tangan. Ibu suri juga sudah berdiri di tengah-tengah sambil memberikan senyum kepada pangeran. Badar mengikuti langkah pangeran dari belakang dan bersembunyi di balik tubuh pangeran. Dia sangat takut di penggal oleh ibu suri karena sudah di anggap berhianat melewati batas barak pertahanan.


“Nenek, sebelumnya aku sedang meminta Badar untuk mencarikan sesuatu” ucap pangeran memegang tangan ibu suri.


“Nanti saja kita bahas, sekarang waktunya berangkat."

__ADS_1


Ibu suri menaiki kuda jin di bantu oleh pengawal dan suara tabu pukulan gong menandakan tanda perebutan kembali kekuasaan menuju kerajaan Yaksa. Pangeran ikut menaiki kuda bergerak di samping ibu suri, dia melemparkan bungkusan kain kepada Badar dan memainkan mata.


__ADS_2