Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Mematahkan penyerangan


__ADS_3

Aku mendapat kan mu..


Di karenakan kolam Ghaib bercahaya di muara hijau. Para cenayang melakukan upacara panjang untuk menjaga sinar itu supaya tetap menyala. Ketua cenayang melihat dari dalam akan gerhana matahari dan bulan yang akan terjadi di masa depan. Suatu perputaran waktu dan renkarnasi yang akan membuat pusara alam jin semakin terbuka lebar.


Mengingat tragedi kematian cenayang Karang. Seluruh isi pura mengadakan pengikatan rantai ghaib agar tidak ada satupun yang bisa memasuki pura tanpa seijin mereka. Mata ketua cenayang memerah, dia sangat terkejut akan pertemuan kembali persimpangan Poros dua jin yang terbentang jarak penghalang dan perbedaan. Terlebih lagi ada makhluk-makhluk pengganggu yang setiap saat ingin mengambil nyawa Raja Permadi.


"Suku Taraya, sepertinya sudah saatnya kami melawan kalian!" gumam ketua cenayang.


......................


Lapisan tanah dunia di negeri jin masih menjadi saksi segala bisikan yang pernah engkau layangkan. Hari ini langit seolah menahan bendungan air yang akan tumpah dan menggantkan warnanya menjadi corak jingga. Walau memori telah terhapus paksa, setidaknya masih tetap bernafas di tempat yang sama.

__ADS_1


Kakinya bak mencakar langit, kepakan sayap membentang mengibas angin kencang. Gangga samar mendengar sayup panggilan yang di tiup oleh Arska. Radar Gangga langsung menuju ke radius sumber yang di tuju. Dia atas punggungnya masih ada cenayang Han memegang kuat badannya. Mereka kembali menuju istana jati jajar. Para prajurit yang kewalahan mengejar mereka dari kejauhan berbalik arah dan terhenti melihat gerombolan pasukan dari kerajaan Yaksa.


"Serang...!" sorakan dari Raja kedua Yaksa langsung memainkan pedang menebas leher para prajurit.


Suara tapak kaki kuda dari arah berlawanan saling berkejaran. Rusuh sekali keadaan wilayah serta bala tentara kerajaan jati jajar yang sudah di serang dari berbagai arah.


"Lindungi putri!" perintah panglima perang melayangkan pedang di udara.


"Putri, ayo raih tanganku!" ucap cenayang Han dengan wajah memelas.


"Ada apa? kenapa suasana kerajaan menjadi kacau sekali?" tanya putri Arska meraih tangan Han dan naik ke atas punggung Gangga.

__ADS_1


Cenayang Han berusaha mempersatukan kembali putri dan Raja, dia menuju Medan perang ke arah lembah sungai. Sosok jin bersayap yang pernah mengatakan selalu ingin melindunginya terlihat tidak acuh tak acuh hanya melihat putri dari udara.


"Raja, dia adalah musuh utama yang harus di bunuh untuk mendapatkan kerajaan jati jajar. Kau harus melempar nya dengan ini saat jarak mereka semakin dekat!" ucap Huson memberikan tombak raksasa kepada nya.


Tatapan raja kedua Yaksa yang begitu bimbang, wajah sangat mirip di dunia yang telah tiada nyata kini dia temui kembali di alam jin. Astro berusaha meredam segalanya.


"Aku tidak bisa membunuhnya!" ucapnya memberikan kembali tombak tersebut.


Tanpa pikir panjang, Huson langsung melempar tombak mematikan itu ke arah sang putri. Gangga yang masih mencari celah melewati busur anak panah dan menyeimbangkan tubuhnya membawa dua sosok yang paling berharga kini terpaksa memiringkan tubuh untuk menghindari serangan dari Huson.


"Paman hentikan, apa yang kau lakukan?" Astro tanpa sadar mengepakkan sayap dan terbang menangkap putri Arska yang terjatuh dari tubuh Gangga.

__ADS_1


"Arghhh..." jerit cenayang Han.


__ADS_2