
Ragu dan jalan ini menjadi terhenti. Keterpaksaan tidak sependapat dengan belenggu kersa misteri yang merasuki penguasa di alam jin. Hampa, sesak dan ilusi bercampur menjadi perbedaan tiap bait meragu. Hanya satu yang tidak akan menjadi kepalsuan. Saat detak jantung masih berdetak dan mengalirkan satu nama yang di tuju. Siapa lagi yang membanting gelas kaca begitu keras? padahal Kristal kepercayaan sedang berusaha di satukan kembali sepanjang nafas yang hampir berhenti. Kisah rumit ini di setitik tinta hitam mulai menebar di atas kertas putih.
Disini tepat menginjakkan kaki di depan pintu masuk gerbang Jati jajar, Han melihat berkas cahaya kilat hijau menerobos menuju lapisan tembok raksasa istana. Dia memecahkan guci besar yang berisi bunga allysum biru yang berada di alun-alun istana. Pandangan mata panglima yang akan mengarah kepadanya kini beralih menuju arah asal suara. Dia berlari melihat tanda-tanda apa yang mencurigakan yang membuat benda itu menjadi hancur.
Cenayang Han masih melihat kilat cahaya yang tidak terlihat oleh mereka. Beberapa kali panglima mencoba memeriksa tanda-tanda yang mencurigakan, namun tidak ada apapun yang terdeteksi. Dua jin dayang menghampiri membersihkan serpihan guci dan salah satunya melengos melirik Han.
“Cepat bersihkan!” perintah panglima lalu berjalan menarik lengan Han.
Dia membisikkan sesuatu kepada Han, sebuah identitas kedekatannya kepada sosok jin cenayang penghianat. Sontak Han bergerak mundur sambil mengepal tangan, dia bersiap melakukan penyerangan jika panglima akan menangkap atau membawanya ke penjara bawah tanah.
“Bukan kah kau sahabat terdekat cenayang Karang si penghianat itu? apa tujuan mu kesini? Kau seperti berputus asa menuju perangkap mu sendiri!” ucap panglima mengendus kesal.
“Tutup mulut besar mu, aku hanya ingin melihat putri yang sedang sakit di kerajaan ini” kata cenayang Han merendahkan suara.
__ADS_1
“Tidak ada yang menerima dan memanggilmu bukan?”
Ketika panglima mendorong tubuh Han, Suara pekik Gangga yang menggelegar terbang mendekatinya. Paru Gangga mendekati Han dan menunduk menuju tangan sebelah kanannya.
Flashback ikatan Gangga dan cenayang Karang
Sekitar berabad ratusan tahun sebelum arunika benar-benar menampakkan diri di atas lembah sungai jin, hewan raksasa bersayap besar itu seolah menutupi sinar mentari. Seekor peliharaan Karang yang begitu setia kepadanya. Gemuruh tabu gendang melayangkan jejak peperangan yang terjadi tanpa henti.
“Praghhh, syattt…” tubuh Karang di tikam dari belakang dengan pedang raksasa oleh pendamping raja Yaksa.
Tiba-tiba hewan raksasa dari angkasa terbang melahap tubuh si pembunuh itu dan mencengkram tubuh Karang menjauh dari medan peperangan.
“Lepaskan aku..” lirih suara Karang mengusap kuku raksasa Gangga.
__ADS_1
Mereka mendarat di atas lembah sungai jin, di bawah rintik hujan yang semakin deras. Karang menyampaikan permintaan terakhirnya kepada hewan peliharaannya itu.
“Gangga, kau dengarkan aku. Kau harus melindungi penerus kerajaan jati jajar dan menjadi hewan peliharaannya di masa depan. Pilih lah putri jin Raja, carilah dia..”
Flash on
Mata Gangga membaca cahaya hijau yang tersimpan di tubuh Han. Tangan cenayang Han mengusap sayapnya.
“Gangga, menjauh darinya!” ucap panglima semakin mendorong tubuh Han.
“Ijinkan aku bertemu raja untuk melihat keadaan putri”
...-To be continued-...
__ADS_1