
Berbagai pertanyaan timbul, apa yang sebenarnya terjadi pada mbok. Para warga saling berbisik memperbincangkan kematian wanita tua yang bekerja di rumahnya. Ayah dan ibunya Maharani belum pulang. Nomor mereka berkali-kali Maharani hubungi namun tidak dapat menyambung. Sinyal terputus dan isi pesan tidak terbaca. Maharani sangat gusar, kejadian itu sangat membuat dia ketakutan. Tangannya masih bergetar bersama tubuh yang belum seimbang berdiri.
"Aku harus kuat!" gumamnya.
Dia mengurus proses pemakaman si mbok dengan segera. Mayat itu sangat cepat di kerubungi oleh lalat dan serangga. Aroma anyir membekas belum hilang di ruangan. Darah di atas ranjang Maharani belum hilang. Dia meminta bantuan warga untuk memindahkan ranjang di halaman rumah termaksud kerangkanya.
Setelah semua orang kembali ke rumah mereka masing-masing. Maharani menekuk memeluk lutut menahan segala perasaan takut.
Srek, srek
Langkah kaki di halaman rumah menghentakkan Maharani untuk mengintip dari pintu masuk.
Disana ada raja, lelaki yang selalu mengikuti hingga saat ini. Maharani membuka pintu, dia memeluk tubuh raja dengan erat sambil menangis. "Maharani, apa yang sudah terjadi?"
__ADS_1
Dia terisak tangis menggenggam erat sayap raksasa tidak mau melepaskan. Raja membalas pelukannya, dia mengajak Maharani pergi ke kediamannya. Terlihat langkah kaki Maharani gemetar, mereka menaiki kendaraan raja dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan dia terdiam, mengusap air mata pandangan lurus ke depan.
Di dunia ini, bahkan setelah reinkarnasi untuk menghidupkan kembali jiwa putri Arska. Semuanya tetap sama, kesedihan, duka dan darah tetap hadir. Tangan kanan raja memegang setir mobil sedangkan tangan kiri perlahan memegang tangan Maharani.
"Paman, aku tadi memeluk mu karena terpaksa. Tidakkah engkau bisa berhenti untuk tidak salah paham?" ucap Maharani melepaskan tangan raja.
Sulit menggapai hati Maharani, bagaimana dia bisa menghidupkan setengah jiwa putri Arska yang ada di dalam dirinya dan kembali ke alam jin? Raja memarkirkan mobilnya di depan rumah. Dia membawa Maharani masuk ke dalam rumahnya. Mereka di sambut oleh Kasim Jou. Kasim sangat kaget saat melihat sosok wanita itu berdiri di depannya.
"Tuan putri Arska.." ucapnya lalu membungkuk memberi hormat.
"Baik yang mulia.."
Maharani membalas perlakuan Jou terhadapnya lalu berjalan mengikuti langkah raja Permadi. Dia duduk di sofa kursi berwarna putih di samping raja. Ada sebuah guci yang berukuran sangat besar berada di sudut ruangan. Di tengah meja kaca terdapat vas bunga kaca dengan bunga allysum biru di atasnya.
__ADS_1
Maharani mengambil setangkai bunga lalu tersenyum memejamkan matanya.
"Telah lama kita berpisah" ucapan yang tidak dia sadari ketika membuka matanya kembali.
Raja memperhatikan wajahnya, ketika Kasim Jou membawa dua gelas minuman dengan cepat raja meraih segelas memberikan kepada Maharani.
"Aku tidak ingin minum" bisik Maharani meletakkan kembali gelas ke atas meja.
"Engkau sudah menangis selama satu jam dan tidak merasa haus sama sekali?" tanya raja.
"Siapa yang akan mengetahui jika engkau akan mencampurkan sesuatu di dalam sana lalu.. aku harus melindungi diriku sendiri"
"Putri, aku tidak seperti itu. Akan aku buktikan kalau minuman ini tidak ada apapun di dalamnya" Raja meneguk segelas minuman sampai habis.
__ADS_1
"Aku hanya berjaga-jaga"
Raja menarik tangan Maharani menuju dapur. "Kalau begitu engkau harus buat minuman sendiri"