
"Maaf Raja sebaiknya kita menunda segala kehendak engkau untuk mencari cenayang itu. Bukankah engkau sudah mengirim banyak utusan untuk mencarinya?" tanya pangeran Tranggala berusaha menghalang-halangi niatnya.
"Tapi dia sudah menolong putri Arska"
"Raja, engkau adalah pemimpin rakyat mu yang lemah. Mengapa harus mengorbankan diri dengan meninggalkan istana? terlebih lagi sang putri belum pulih total bukan?" ucap pangeran kembali meyakinkan.
Raja tidak menjawab pertanyaannya, dia hanya mengusap dagu dan menghentikan langkah. Kini mereka duduk di alun-alun kerajaan, Pangeran Tranggala berusaha menyuntik pikiran raja dengan segala racun yang dia layangkan. Baru saja dua kerajaan yang selalu berperang itu kembali damai, sampai timbul hasrat kembali memanas saat segala perkataan pangeran Tranggala masuk ke dalam pikirannya.
"Raja, ijinkan aku memberi sinyal perang kembali menuju kerajaan Yaksa. Terlebih lagi jika cenayang Han di temukan, maka kerajaan Yaksa pasti akan mengincar nya" kata pangeran Tranggala menyeringai.
Semua itu semata hanya ingin membuat dia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Jika raja berperang dan meninggalkan istana, maka pangeran Tranggala akan langsung menyerbu istana dan membunuh siapapun yang berada di dalamnya.
Setelah mendapatkan gencatan senjata kembali yang di layangkan oleh kerajaan Jati jajar. Mantan Raja Yaksa yang sudah menjadi sebutan ayah Raja Yaksa kedua itu mengepalkan tangan dan bersiap menuju istana. Dia mendengar segala kabar buruk mengenai Raja Permadi dan kekacauan yang timbul di akibatkan ibu suri. Sang istri yang melihat raut amarah dan emosi yang tertahan tersebut buru-buru menarik tangannya dan meminta dia untuk berhenti.
__ADS_1
"Kau mau kemana? kenapa ekspresi mu begitu menakutkan?"
"Semua yang di mulai harus di akhiri, ibu benar-benar keterlaluan" ucapnya memakai jubah dan berjalan menuju kuda jin.
"Tunggu, engkau harus ingat walau bagaimanapun dia adalah ibu kandung mu. Duhai sosok jin yang paling lembut hatinya"
Mendengar ucapan itu, ayah Raja Permadi menjadi melemah. Dia tidak ingin meninggalkan sang istri sendirian. Namun Peperangan kembali menyeruak secara terbuka dan besar-besaran setelah musuh Berhasil menghancurkan benteng kerajaan Yaksa. Dia Permadi memberi tanda sentuhan pada dahi sang istri dan menunggangi kuda menuju kerajaan. Ayah Raja Permadi secepat kilat menuju kerajaan.
Penuntutan hak atas penyelamatan raja Yaksa yang pernah mereka lakukan di hutan tempo lalu dan segala pertolongan yang mereka tuntut untuk mendapatkan balasan.
"Kalian, kenapa di saat Susana genting seperti ini seolah ingin memanfaatkan kesempatan!"
"Kami ingin di berikan kolam darah segar untuk membayar Segalanya!" bentak Kepala suku Taraya melotot.
__ADS_1
"Sebelumnya, Kalian bantulah kami untuk berperang. Jika kami mengalami kemenangan maka kau boleh bebas meminta sebanyak apapun pasukan kerajaan agar menjadi milik mu" kata ayah Raja Permadi untuk memperlama waktu memberikan yang mereka mau.
*Semua ini perihal wa**ktu peperangan setelah sang Fajar kembali terbit dan putaran waktu di alam jin begitu cepat berjalan*.
Ayah Raja Permadi memasuki istana. Dia duduk di salah satu ruangan raja dan menekan kepalanya berulangkali. Belum lama sekali dia meninggalkan kerajaan dan memindahkan kepada sang anak. Namun nasib buruk yang menimpa sang anak membuatnya tidak bisa melepaskan seutuhnya tanggung jawab mengemban kerajaan.
"Panglima, dimana ibu suri?"
"Maaf yang mulia, beliau sedang melakukan acara mandi air madu di kolam susu"
"Apa? jadi-" dia menggantungkan perkataan.
Bahkan setelah semuanya. Ibu ku seolah berpikir baik-baik saja? batinnya menyeruak.
__ADS_1