
Melebihkan kata kesungguhan yang tidak tau kapan nyata
mengurangkan rasa menyemai arunika tertutup awan
Sangat lama menunggu
waktu yang keterlaluan mengganggu
Setengah hati masih meragu di sela deras hujan langkah menghilang
dingin berjalan tiada tempat berteduh membuai syair rindu
Beberapa prajurit menarik anak panah mengarahkan ke angsa yang terus menuju putri Arska. Dia tidak perduli dengan ucapan panglima yang memberi perintah untuk membunuhnya. Putri turun dari tubuh Gangga berlari menuju angsa itu. Para prajurit menurunkan busur membatalkan pelepasan lalu membungkuk memberi hormat kepada sang putri.
__ADS_1
“Wahai panglima, ini adalah angsa kesayangan ku. Peliharaan kedua setelah Gangga, ijinkan dia dengan bebas keluar masuk istana.”
Mengetahui angsa itu adalah hewan peliharaan putri, panglima pun menuruti perkataannya. Untuk meyakinkan ucapan sang putri mengangkat angsa putih berjalan bersama Gangga ke halaman belakang istana. Rasa kesal dan kebencian mengingat raja menggendong sosok jin perempuan begitu lama sehingga sang putri mencampakkan angsa itu ke tanah.
Brug..
(Bunyi suara jatuhnya tubuh seekor angsa jelmaan Raja Permadi)
Putri hanya terdiam meninggalkannya, raja tidak bisa menangkap tubuh mungil itu dari belakang atau membungkus dengan sayap besarnya. Setelah putri menyelamatkan dirinya hari ini sudah mewakili segara perasaan putri Arska. Raja terpaksa berlari menuju sang putri memanjangkan leher tepat di hadapannya. Putri menghentikan langkah berjongkok menatap Raja.
“Pergilah, hari ini aku sedang selera makan santapan angsa panggang” ucap putri meninggalkan Raja Permadi.
Putri yang lembut berubah dingin setelah perkara yang raja sesali. Raja memutuskan untuk meninggalkan kerajaan Jati Jajar. Sosok panglima memperhatikan dari jarak jauh, ada keganjilan yang membuat dia penasaran memperhatikan angsa putih peliharaan putri Arska. Melihat seekor angsa dengan mudah terbang melewati tembok raksasa dengan duri tajam penghalang di atasnya.
__ADS_1
“Aku merasa begitu mengenal angsa itu juga keanehan seekor angsa dapat melewati tembok raksasa jati jajar” gumam panglima.
Panglima berniat mengikuti angsa jelmaan tapi terhalang oleh panggilan Raja.
...----------------...
Utusan ibu suri mengantarkan surat ke seluruh penjuru kerajaan, perintahnya kepada utusan untuk segera menyampaikan surat undangan calon putri mahkota secepat kilat. Ibu suri sangat sibuk mengatur para dayang membuat dekorasi istana sebagus mungkin. Makanan yang lezat dan bunga yang indah. Penyusunan rencana dalam tiga hari, istana itu lebih terlihat tampak megah.
Tira-tirai gorden yang berkibar tertiup angin. Balutan nuansa merah, guci-guci raksasa tersusun rapi, harum semerbak bunga di tanam dan tatanan yang begitu menarik perhatian. Besok adalah hari dimana para para calon putri mahkota untuk mencari Ratu Yaksa di mulai. Keputusan sepihak dari ibu suri, raja yang telah menolak keinginan sang nenek nyatanya di abaikan. Di ruangan kebesaran, kasim Jou menyampaikan ke raja bahwa persiapan ibu suri akan pertemuan di hari esok akan di laksanakan. Mendengar hal itu, raja langsung menuju ruangan ibu suri. Nenek yang sangat egois itu tersenyum menyambut kedatangan Raja Permadi.
“Selamat atas kebahagiaan Raja Yaksa! sebuah istana tidak akan kokoh pondasi nya tanpa pendamping raja” seru ibu suri bertepuk tangan.
Raja menggenggam tangan ibu suri, matanya yang semakin tajam bercampur amarah menunjukkan penolakan kehendak yang tidak dia setujui.
__ADS_1