
Cerita akan segera terhenti, segala syair dan kemelut luapan rasa bagai suara rintik air hujan.
Alam dunia dan alam jin masih bersimpangan. Lapisan terbuka saat jarum jam berada di angka dua belas. Pada pertengahan hari dan pertengahan malam pula. Gerhana bulan terus menerus terjadi akibat lempengan sihir berusaha merusak bumi. Tidur yang terlelap hanya membuat nafas semakin berhembus lemah. Antara panas dan dingin, laju pergerakan pusara kolam Ghaib akan mengabarkan segala sebab akibat dari kepakan jin bersayap.
...Seikhlas itu aku saat ini.....
Aku berdiri menguatkan diri, memijak di atas kaki yang terasa sedang di terbangkan serpihan api membakar tubuh. Ditempat sepi sendiri melihat langit biru dari kejauhan. Hari lelah masih bisa aku lewati dan penghianatan semalam tetap aku jadikan cambuk hidup agar lebih kuat dan kokoh. Dimana ada rasa percaya, jika bubuk hitam selalu di semai di kalbu.
Merelakan serpihan dedaunan terbang perihal waktu dan perlahan akan mengering hilang melebur tidak terlihat. Tapi bekas pecahan kaca ini masih menusuk di jantung lebih dalam dan menghabiskan setelah aliran darahku yang tumpah. Tusukan yang di layangkan terus berusaha melumpuhkan dan membunuh diriku secara perlahan.
__ADS_1
...----------------...
Di balik balutan sayap besar raksasa yang kembali membungkus tubuh putri Arska. Dia menggerakkan perlahan salah satu sayap Raja dan menatap sinar aneh yang berada di sudut matanya. Sinar merah yang akan melukai tubuhnya dengan berjuta kesakitan dan tangisan. Putri mencoba menepis segala lembaran mata Ghaib yang dia lihat saat ini. Karena sungguh mustahil hal itu terjadi dengan segala tingkah laku dan kelembutan Raja terhadapnya.
Serangan Ghaib dari suku Taraya sudah menghilang. Air penawar bintang yang sudah di berikan oleh putri perlahan menyembuhkannya. Mata tajam putri Arska masih memandang Raja, dia sedang menerka lembaran gambaran hal buruk yang akan terjadi.
"Akan kah kau menghianati ku?" bisik putri melepas genggaman tangan Raja Permadi.
"Putri, bagaimana dengan luka mu?"
__ADS_1
...----------------...
Hari dan musim berganti. Ada yang mengatakan bahwa detak jantung masih tetap berdetak kencang pada tempatnya. Namun semua berubah saat putri merasakan hawa dingin di kutub Utara mendekati alam jin dan membekukan jiwa-jiwa yang masih terbangun.
Pagi di hari bersalju, pertemuan Raja Permadi dan putri Helena sedang di gelar meriah di alun-alun istana. Berbagai macam hidangan dan para tamu berdatangan seolah di kerajaan Yaksa sedang menggelar acara pesta pernikahan. Semua adalah susunan acara yang di gelar oleh ibu suri. Setelah terbangun dari ketidak sadaran diri membuat nya semakin berambisi untuk menundukkan sang Raja.
Dia duduk di tengah kursi dan merapikan gaun panjang bersulam emas. Para dayang yang sibuk mendampingi terhenti saat putri Helena meraih salah satu kipas raksasa yang berada di salah satu dayang jin. Kemudian dia menuju Raja Permadi dan bergeliat merayu sambil meraih pergelangan tangannya.
"Wahai Raja yang baik, sudi kah hari ini engkau mengipasi tubuhku? aku adalah tamu yang paling istimewa di kerajaan mu" ucap Putri Helena tersenyum manis.
__ADS_1
"Hanya sekali saja maka aku tidak akan menuruti segala keinginan mu lagi"
Mendengar sambutan hangat dari Raja kedua Yaksa, langsung saja putri Helena menggerakkan tubuh mendekatinya.