
Raja memperhatikan tapak kaki yang terdapat darah membuat kecurigaan. Dia meminta sesosok dayang untuk mengambil sepatu milik ibu suri. Dari kejauhan pengawal menghadap dengan nafas tersengal-sengal.
“Memberi hormat kepada raja, hamba sudah meminta pasukan untuk mencari di sekitar istana tapi tidak menemukan panglima dan kasim” ucapnya.
Raja menunduk mengikuti jejak kaki bekas darah. Selangkah demi langkah ke arah ke perpustakaan kerajaan terhenti di sebuah bilik dekat sela lemari buku. Ada sebuah gagang pintu berbentuk kepala burung hantu. Raja berusaha membuka sampai terbuka ada sebuah lubang besar lorong-lorong panjang menuju suatu tempat. Suatu ruangan gelap penuh debu, raja meminta pengawal menyalakan obor sebagai penerangan. Ruangan besar terdiri dari beberapa lorong sempit, tiap gang ada kerangka tengkorak.
“Raja, kami menemukan sel-sel tahanan” ucap salah satu prajurit.
Raja berjalan memeriksa setiap sel lalu masuk ke sebuah sel tahanan jin. Ada tiga orang jin disana. Dua dari mereka berlutut memberi hormat, terlihat wajah yang begitu mengenaskan. Sang raja mengernyitkan wajah meminta mereka berdiri.
“Dari mana asal wilayah kalian?” tanya Raja Permadi.
Raja memikirkan jika mereka berasal dari kerajaan lain disebut suatu hal yang begitu langka memberi hormat dengan begitu baik beserta pandangan rasa takut.
__ADS_1
“Hamba adalah prajurit yang berasal dari kerajaan Yaksa” ucapnya.
“Lantas apa kesalahan mu sehingga masuk ke dalam sel penjara ini?” tanya raja kembali.
Ibu suri hadir berlari sambil mengangkat gaunnya menuju raja Permadi. “Raja, apa yang engkau lakukan dengan sepatuku?” tanya dia melotot bertolak pinggang. Raja hanya terdiam menatapnya.
Sesosok panglima pendamping datang membisikkan sesuatu kepada raja:”Raja, telah di temukan panglima dan kasim di salah satu sel bagian barat.
Sementara raja Permadi masih di dalam sel melihat tubuh panglima terluka parah dan tubuh kasim Jo terlihat bekas cambukan.
“Katakan siapa yang melakukan hal ini pada kalian?” tanya raja.
“Hamba mohon ampun yang Mulia, hukum lah hamba” ucap kasim Jou. Dia takut memberitahu siapa pelakunya karena mengingat wajah ibu suri dan kelakuan yang bisa melakukan apa saja.
__ADS_1
“Cepat katakan, jangan buat raja begitu lama mengunggu!” ucap pengawal.
“i..i.. ibu suri” terbata ucapan sang kasim berlutut.
“Kenapa nenek begitu kejam? Apakah dia benar-benar sudah tidak mempunyai hati?” gumam Raja.
“Pengawal, cepat bawa mereka keluar dan panggil tabib untuk mengobati luka mereka” perintah raja Permadi.
“Hamba akan segera melaksanakannya wahai raja, tapi bagaimana dengan nasib para tahanan lainnya?” tanya pengawal.
“Bawa juga mereka keluar dan tempatkan di depan halaman kerajaan. Biarkan borgol itu tetap di tangan mereka” kata sang Raja meninggalkan sel bawah tanah.
Penjara kedua yang mirip dengan penjara bawah tanah tempat putri di culik oleh ibu suri. Raja mengingat kejadian yang hampir merenggut nyawa sang putri. Hujan, badai dan panas telah mereka lewati. Tapi belum semua hari yang lelah ini akan berakhir. Bekas pelukan putri Arska menahan dingin masih terasa di tubuh Raja Permadi.
__ADS_1