
“Tidak, aku belum siap!”
“Wahai putri, seolah aku akan berniat jahat dan merampas benda yang paling berharga. Hanya sedikit sentuhan di ranum merah muda ini” ucap Raja Permadi.
“Tidak, jangan paksa aku!”
“Baiklah, masih banyak hari untuk meyakinkan hati mu” kata sang raja tersenyum.
...----------------...
Pangeran Tranggala di rawat oleh tabib istana. Sekarang dia sudah sadar menatap ruangan sekitar. “Dimana aku?” gumamnya.
Di belakang dinding tempat tidurnya ada simbol kerajaan Jati Jajar. Dia jadi teringat terakhir kali bersama sang ratu. Tabib mendekatinya menarik tangan kanan untuk memeriksa denyut nadi. Dia mengeluarkan jarum untuk melakukan teknik akupuntur lalu meminta san pangeran meminum resep yang dia buat.
“Apakah kini aku benar-benar berada di dalam istana Jati Jajar?” tanyanya kepada sang tabib.
“Benar pangeran.”
__ADS_1
Para dayang-dayang istana memasuki ruangan bersama ratu Jati Jajar. Ratu yang berpenampilan anggun itu memberikan tepukan di pundak sang pangeran.
“Aku berharap engkau tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi” ucapnya sembari duduk di kursi.
“Terimakasih yang mulia Ratu” jawab pangeran membungkuk.
“Tabib, bagaimana keadaan pangeran Tranggala?” tanya sang Ratu.
“Yang mulia, pangeran sudah membaik dan bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Dingin di tubuhnya juga sudah menghilang bersama aliran darahnya kembali lancar” jawab tabib.
“Baiklah kalau begitu engkau boleh pergi.”
Para dayang membantu pangeran untuk berdiri, mereka memakaikan jubah baru dari sang Ratu untuk pangeran.
“Musim dingin telah tiba, pangeran jangan lupa sampaikan salam ku kepada raja Telaga Hitam.”
Mendengar ucapan ratu seolah memberi sinyal agar dia segera kembali pulang. Pangeran berlutut meminta maaf sekali lagi dan berterimakasih kepada sang ratu.
__ADS_1
“Wahai ratu yang mulia, hamba tanpa henti meminta maaf berterimakasih atas pengampunan dan kebaikan yang engkau berikan”
“Sudahlah, pasukan mu sudah terlantar di luar karena menunggu mu.”
Pangeran pergi bersama pasukannya, saat dia keluar dari benteng istana. Dia menoleh mencari-cari putri Arska yang tidak tampak.
“Putri, aku pastikan akan kembali lagi dan meminta hati mu” gumam pangeran meneruskan perjalanan.
Rombongan pasukan Telaga hitam melewati perbatasan kerajaan dan sungai sungai lembah hitam. Sepasang kekasih yang sedang bersama di tepi sungai jin menyadari suara telapak kaki kuda semakin mendekat.
“Gawat, ada yang datang! Gangga, ayo ikut kami!” perintah Raja Permadi.
Raja menggendong tubuh putri Arska menuju perbukitan dia menoleh dari balik batu raksasa. Terlihat pangeran Tranggala bersama gerombolannya berhenti di tepi sungai. Di bawah hujan yang deras dia turun dari kudanya lalu menekuk lutut.
“Putri Arska! Putri maafkanlah aku!” teriak pangeran Tranggala menghadap ke sungai.
Disini terakhir kali dia berperang melawan sang putri. Ketamakannya telah membutakan dirinya untuk memaksa mendapatkan apa yang dia mau. Melihat tingkah pangeran, Raja ingin menghampirinya. Tangan jin bersayap itu terkepal kuat bergerak melepaskan dekapan sang putri. Tapi putri Arska menghentikannya dengan melingkarkan tangan di pinggang raja dari arah depan. Hati jin bersayap itu seketika melemah, siapa lagi yang bisa meruntuhkan dan menjadi titik kelemahannya jika bukan putri Jati Jajar? Raja membalas dekapan sang putri lalu mendaratkan rasa hangat di dahi. Putri melotot bergerak melepaskan di tahan oleh sang Raja.
__ADS_1
...----------------...
Terimakasih sudah singgah di lapak author, jangan lupa tetap tekan favorit❤️, rate bintang lima⭐⭐⭐⭐⭐, vote, like sebanyak-banyaknya👍, komentar halu atau positif, setangkai bunga mawar🌹 dan secangkir kopi hangat☕. Salam santun semua~