Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Shofar dan tabu di angkasa


__ADS_3

...Waktu di lapisan mesin penjelajah lapisan ketiga dunia semakin menghitung mundur tragedi lengkingan Shofar musuh yang di sengaja menderu di udara....


Diary Putri Arska


Aku dan sosok di kerajaan lain.


Matahari yang indah tidak bersinar terik seperti biasanya. Angin terasa kedap bahkan kaki yang berpijak tidak lagi terasa teriring sempurna.


Hati semakin membeku, luntur tidak merasakan secercah kehangatan tegukan pelabuhan yang pernah terlaksana.


Jarum jam di dunia jin ini hanya menoleh maju, aku tidak ingin berbalik melihat bunga Allysum biru lagi. Semua sajak yang beriring sedu sedan pun hanya bagai mimpi penuh kepalsuan.


...đź‘‘...


“Kenapa putri Arska berubah?” gumam sang raja mengetuk ujung gelasnya.


Di malam yang larut dia tidak lagi melihat kamar permadani dari balik tembok istana ketika menjelma wujud seekor angsa putih. Ruangan indah yang biasanya dia ganggu itu kini kosong tidak bermaya. Raja yang keterlaluan mendambakan sosok putri dingin itu masih penasaran akan berjuta pikiran yang mengganggunya.


“Yang Mulia! Yang Mulia gawat! Ibu Raja sedang sakit parah dan kini keadaannya semakin memburuk. Para tabib handal yang di utus dari negeri Timur sudah berbondong-bondong bergantian memasuki ruangannya” ucap kasim menunduk.


“Apa! Kenapa hal yang sangat denting seperti ini baru engkau kabarkan pada ku?”


“Maafkan hamba Yang Mulia” sang kasim ketakutan membungkuk kemudian bersujud di depannya.

__ADS_1


Raja langsung pergi berlalu mempercepat langkah di sertai seretan sayap raksasa di pundak hingga tanpa sadar telah menjatuhkan keramik dan guci-guci yang terletak di sudut istana. Para dayang seperti biasa mengikuti berjarak dua meter darinya. Sesekali dayang istana memberanikan diri mengambil langkah sedikit lebih dekat. Dayang tertua itu sudah sangat mengenal tingkah pola dan sifat raja Permadi. Hari ini ini dia berdiri tepat di belakang sang raja yang sedang memeluk sang ibunda.


“Ibu, bangun dan bertahanlah. Aku akan mencarikan obat paling mujarab. Hari ini aku akan pergi ke pura muara hijau. Tunggulah aku.”


Saat sang raja beranjak, tangannya di tahan oleh sang ibunda. Dia menggelengkan kepala sembari air mata sudah tergenang bak hujan deras di malam yang berbintang. Lingkar mata cekung, wajah pucat, tubuh menggigil menatap sayu sang anak seolah untuk yang terakhir kali.


“Permadi pergi kau dari sini!” bentak sang ayah menarik paksa sayap sebelah kanan sang raja sangat kuat.


Melihat pertikaian kedua ayah dan anak, nafas wanita yang sudah sekarat itu terasa semakin sesak sampai dia melotot membuka lebar rahang seperti mencari celah oksigen yang sudah tidak lagi terhirup.


“Ibu Suri!” teriak para dayang istana menangis melihatnya.


Raja Permadi berbalik mengusap kaki sang ibunda sedangkan sang ayahanda memeluk erat sang istri dengan tangisan sejadi-jadinya. Hujan, petir dan halilintar menjadi saksi kepergian jin yang sudah berusia dua ribu tahun itu. Tidak ada lagi cahaya kebahagiaan dunia jin berduka dalam kepedihan kehilangan sosok jin yang sangat memperhatikan para rakyatnya.


...----------------...


Suara ketukan pintu membangunkan sang putri Arska. Tampak matanya masih sembab susah membuka sempurna melihat kedatangan sang dayang. Sudah beberapa hari ini dia enggan menanyakan kemana perginya si dayang pita hijau. Setelah kepergian hewan raksasa kesayangannya itu, dunia seakan kelabu tanpa kebahagiaan yang menghampiri.


“Tuan Putri, hamba ingin mengabarkan kabar kematian ibunda raja Yaksa” ucap dayang pendamping utama istana.


Dia membungkuk menunggu jawaban darinya. Secara perlahan dia mendekati sang dayang, langkah rapuh memberikan sebuah simbol tanda kerajaan Yaksa ke tangannya.


“Berikan ini kepada raja Yaksa dan sampaikan salam duka ku kepadanya” kata sang putri lalu berbalik arah menuju kamar permadani kembali.

__ADS_1


“Perintah di laksanakan wahai putri” jawab sang dayang berpamitan.


Bekas sayap-sayap Gangga masih berterbangan di udara. Aroma darah yang sudah di sapu oleh hujan masih tercium anyir. Tanah merah, aliran hujan deras menggenangi beberapa wilayah jin di bagian Timur dan Utara. Hewan raksasa yang sudah hidup selama ratusan ribu tahun itu mati secara mengenaskan. Belum ada yang mengetahui bahwa arwah Gangga masih bergentayangan di lapisan alam lain untuk menunggu reinkarnasi kembali.


Dayang utama di antar oleh Panglima perang memasuki istana Yaksa. Basah kuyup dia ketakutan menghadap raja Permadi sambil berlutut. Gemetar tangannya menyodorkan sebuah benda tersebut. Sorot netra sang raja hanya melirik tanpa menerima pemberian dayang itu.


“Celakalah kau wahai dayang utama Jati Jajar. Jika sang raja tidak menerimanya maka akan menjadi petaka kematian mu hari ini” ucap kasim Jou.


“Yang Mulia! Yang Mulia tolong ampuni aku!” serunya ketakutan bersujud memelas.


“Putri Arska memberikan benda ini untuk yang Mulia. Mohon terimalah yang Mulia yang agung. Sang putri juga memberikan pesan turut berduka sedalam-dalamnya untuk yang Mulia” ucapnya lagi.


Mendengar kata nama sang putri, hati sang raja pun luluh. Dia meraih benda itu lalu menggantinya dengan benda serupa yang ada di tangan sang dayang. Kedua utusan sang putri mengikuti proses upacara pemakaman. Mereka berjalan bersama iringan para punggawa, menteri, prajurit serta rakyat Yaksa ke taman pemakaman kerajaan jin. Bunga mawar putih raksasa kesukaan sang ibunda di sematkan di atas tanah merah basah bercampur air hujan yang tak kunjung reda.


“Selamat jalan permaisuri, Hiksss. Yang Mulia Permaisuri!” teriak para rakyat Yaksa dan lainnya.


Sayap raksasa raja Permadi membentang menyelimuti makam sang ibunda. Dia masih tidak rela melepaskan sampai isak tangisnya tidak terkendali. Dari arah belakang sang ayahanda menepuk pundaknya. Beliau melayangkan bisikan pelan di telinga.


“Wahai engkau pemimpin kerajaan besar yang makmur. Usap air matamu, sembunyikan kesedihan mu di depan para rakyat atau sekarang juga aku akan menghunus pedang di atas makam ini.”


Kalimat yang sadis itu terlontar berupaya menguatkan sang raja. Sayap raksasa itu pun tak lagi membentang sedikit demi sedikit dia melepaskan rangkulan batu nisan besar sang ibunda. Kaki berusaha tegak, hari ini dia menoleh ke seluruh rakyat berwajah sedu sedan ketakutan tidak berani membalas tatapannya.


Selesai menjalani proses pengantaran peristirahatan terakhir sang permaisuri. Sayap raksasa terlihat masih begitupun jubah kebesarannya. Di alun-alun kerajaan dia terus menerus melihat kilatan halilintar sampai membakar hutan di bagian perbukitan lembah sungai jin.

__ADS_1


“Ibunda, aku masih tidak percaya engkau begitu cepat meninggalkan ku” gumam sang Raja.


__ADS_2