Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Hadang


__ADS_3


Malam berlalu, sayap itu berterbangan di atas langit dengan serpihan cahaya yang terkena kekuatan. Mimpi putri Arska malam ini akan penglihatan sayap Kokoh besar terhempas mengenai kabur hitam. Siapakah gerangan yang selalu mengganggu bahkan dalam mimpi tetap mengabarkan rasanya?


Setelah mengalami mimpi itu, putri mengalami demam tinggi hingga sekujur tubuhnya tidak bisa bergerak. Karunia sepasang mata dan aura magis yang begitu kuat membuat sang putri sangat sulit menjalani hari.


"Putri, bertahanlah aku akan memanggil kepala dayang istana" ucap dayang yang baru saja di angkat jadi pendamping sang putri.


"Pita hijau, berikan kalung tali hitam itu kepada Gangga" ucap sang putri.


"Putri, nama namaku bukan pita hijau. Tapi jika engkau menyukai panggilan itu maka aku akan mendengar dengan senang hati. Sekarang yang paling penting adalah memanggil tabib dan melaporkan kepada kepala dayang" ucap sang dayang pendamping panik.


"Tidak, cepat berikan terlebih dahulu kepada hewan kesayangan ku" perintah putri lagi.

__ADS_1


Sang dayang pendampingnya pun meraih kalung hitam yang berisi mainan cincin giok itu menuju halaman belakang istana. Dia sedikit takut menghadapi hewan raksasa itu. Dengan semua tekad dan nyali yang dia kumpulkan maka tibalah dia di depan kandang raksasa tersebut. Dayang itu menepuk jidatnya sendiri, mengepal tangannya erat lalu menghela nafas panjang.


"Aku harus berani!" gumamnya.


Gangga mencium aroma lain yang mendekati, dia pun langsung membuka mata lalu bergerak berdiri menatap tajam sang dayang.


Srekk. Suara cakar bersama posisi tubuh yang berpindah.


Kaki sang dayang berjalan mundur, lutut nya lemas sampai dia ingin berteriak sekuatnya.


Gangga adalah hewan cerdas dan mempunyai insting yang tajam. Dia membuka kandangnya sendiri lalu terbang mengepak sayap menuju kerajaan Yaksa. Dia paham betul apa yang sedang di kehendaki oleh sang putri. Hewan yang sudah mengalami tiga kali reinkarnasi itu telah bersama dengan sang putri walau berganti lapisan belahan dunia.


Di kala malam yang tanpa berbintang, bahkan rembulan enggan menampakkan diri. Mata Gangga yang menyala berhasil menembus gelapnya malam sampai melewati tembok raksasa Yaksa yang penuh dengan tumbuhan berduri.

__ADS_1


"Hewan apa itu?" ucap penjaga gerbang istana.


"Cepat panah!" teriak panglima perang mengarahkan anak panah mengikuti arah hewan raksasa itu.


Kepakan sayap menghasilkan hembusan angin yang kuat. Busur anak panah prajurit berjatuhan ke atas tanah. Gangga berhenti di depan jendela raja Permadi. Raja jin bersayap itu langsung terbangun begitu mendengar suara aneh di sekitar ruangannya.


"Gangga?" ucapnya.


Sebuah kalung yang berada di parunya di raih oleh raja Permadi. Raja ikut keluar memberi sinyal kepada para prajurit dan pasukannya untuk menjatuhkan senjata. Gangga yang gelisah karena merasa terancam berbalik arah meninggalkan kerajaan di susul oleh sang raja.


...----------------...


Tabib memeriksa sang putri, dia melakukan pengobatan akupuntur dengan jarum selama satu jam. Setelah demam sang putri reda semua jin yang berada di dalam ruangan kebesaran meninggalkan nya.Tabib istana itu di bawa oleh raja dan ratu Jati jajar untuk berbincang-bincang di aula istana.

__ADS_1


"Penyakit tuan putri sedari kecil tidak bisa di sembuhkan begitu saja. Beberapa waktu dia akan selalu mengalami demam hebat. Hanya keajaiban dan keberuntungan yang selalu berpihak sehingga dia bisa melewati masa kritisnya" ucap sang tabib.


__ADS_2