
Hanya ada mereka bertiga di tengah kolam keabadian, ujung sayap raja di taburi oleh serbuk bercahaya yang di tuangkan oleh kepala pura muara hijau. Sampai kini, mura yang tersembunyi di balik ribuan masehi itu tetap terjaga di dalam lapisan kolam keabadian.
“Sungguh, berikan saja pada ku obat serbuk cahaya itu untuk putri Arska” ucap raja Permadi.
“Raja, kau adalah penguasa jin bersayap penjaga negeri dan para hewan bersayap. Jika sayap mu tidak segera di obati maka luka itu akan menyebar dan membuat busuk sayap raksasa mu. Bagaimana bisa engkau mengatakan menyelamatkan putri Arska?” ucap kepala cenayang pura.
Raja mengangguk dan membungkuk, dengan sangat hormat dia menunggu segala keputusan kedua cenayang yang memiliki peran penting itu. Cenayang Han membuka bungkusan dan meletakkan sebuah biji untuk sang raja.
“Raja, kau boleh meminta memilih salah satu pilihan dari khasiat biji ghaib itu. Permata jika kau jadikan sebuah obat maka hanya bisa di jadikan sekali saja dan kedua jika engkau jadikan bibit tumbuhan maka dia akan berbuah biji lebih banyak dan menjadi obat lebih banyak. Selain untuk pengobatan, biji tersebut juga bisa menjadi sumber tambahan kekuatan jika di konsumsi secara rutin. Pilihlah dengan sangat bijak” ucap cenayang Han.
__ADS_1
Salah satu sumber kekuatan cenayang Karang yang di berikan melalui cenayang Han untuk mengetahui apakah raja Yaksa memiliki bibit kejahatan seperti ibu suri Yaksa jika memilih pilihan bibit tumbuh biji lebih banyak. Han dan kepala pura menunggu jawaban raja Permadi yang mengamati biji ajaib itu.
“Aku memilih untuk memberikan pada cinta biru ku, putri Jati jajar sekaligus ratu Yaksa di hati ku” ucap raja Permadi.
Mendengar jawaban sang raja, kepala pura dan cenayang Han membuka pintu ghaib untuk memberi jalan raja Yaksa langsung menembus istana Jati jajar. Hanya hitungan detik berlapis kilauan cahaya terik, sang raja berada di depan gerbang istana Jati jajar yang langsung di sambut oleh pengawal pendamping putri.
“Aku tau kau pasti datang, seperti perkataan panglima yang selalu mempercayai mu” ucap sang pengawal.
Setelah meminta ijin kepada ratu dan raja Jati jajar, raja Permadi pun memasuki ruangan kebesaran sang putri. Dia memasukan biji bercahaya hijau ke dalam mulutnya. Sedetik, dua detik sang putri terbangun dengan wajah kemerahan. Tangannya membalas genggaman raja Permadi, sangat erat sampai dia memeluk sang raja. Melihat hal itu, raja secara refleks ingin memukul raja Permadi. Tapi ratu menarik tangannya dan mengajaknya meninggalkan ruangan kebesaran.
__ADS_1
Di Aula istana
Raja membungkuk memberi hormat meminta ijin untuk meninggalkan istana. Raja Jati jajar enggan menoleh atau membalas tatapannya. Hanya ratu yang berdiri dan mempersilahkan raja Permadi untuk kembali.
“Terimakasih wahai raja Yaksa, kami akan mengingat kebaikan mu” ucap sang ratu.
“Yang mulia ratu, hal ini adalah suatu kehormatan bagi hamba untuk mempererat tali perdamaian kedua negeri” balas raja Permadi.
Panglima dan pengawal pendamping putri mengantar melewati alun-alun istana. Raja memberikan dua lencana simbol tanda pengenal Yaksa kepada keduanya.
__ADS_1
“Kalian aku bebas kan untuk keluar masuk Yaksa agar melihat perkembangan segala gerak gerik para pemberontak yang ingin kembali membuat pertikaian kedua kerajaan ini” pinta sang raja.
“Baik raja, kami akan bergerak secara sembunyi-sembunyi.”