Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Ulah ibu Suri


__ADS_3

Untuk membantu sang tabib, dayang yang utusan ibu suri itu menarik tangan sang tabib lalu memberikan kode agar dia berhenti mencari pil hitam beracun.


“Biar nanti aku yang mencarinya” bisiknya.


Tarikan sang dayang sambil menekan titik urat nadi dengan tenaga dalam membuat sang tabib perlahan jatuh tidak sadarkan diri. Cara ini di tempuh agar dia terbebas dari penyamaran.


Kasim pendamping sang raja yang terkejut melihat sang tabib jatuh pingsan, bergerak memerintahkan para pengawal untuk mengangkatnya.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Cepat cari tabib lain!” bentak Raja mengernyitkan dahi.


Sang dayang istana ikut menyibukkan diri sembari mencari keberadaan dimana jatuhnya pil hitam. Hati mulai gelap, setelah sang ratu di periksa oleh tabib lainnya dan di tinggalkan oleh sang Raja menuju aula, diam-diam sang dayang baru itu meminta ijin memasuki kemar ratu untuk menyalakan lilin aroma terapi dan mengantarkan makanan. Langkahnya di hentikan oleh dayang pendamping Ratu. Kali ini dia mengarahkan pedang ke lehernya. Hal itu membuat kakinya bergerak mundur dan berlutut.


“Maafkan atas kelancangan ku!" ucapnya meletakkan nampan yang berisi makanan dan lilin.

__ADS_1


“Sepertinya kau belum mengetahui apa tugas mu atau kau hanya berpura-pura bodoh agar bisa memasuki kamar ratu!” seru dayang pendamping Ratu.


“Aku tidak berniat buruk dan ingin mencelakai Ratu, aku hanya ingin mengantarkan ini”


Sang dayang menyodorkan ke arah dayang pendamping.


“Pergilah!” bentaknya memasukkan kembali pedang.


“Arska dimana kau?” Raja Permadi setiap hari menuju hutan untuk mencari sang putri.


Bahkan jejaknya saja tidak dia temukan disana, di temani oleh Gangga terkadang dia tidak pulang ke istana sampai kembali terbit sang fajar. Keresahan yang timbul oleh penasehat istana, dia meminta sang kasim pendamping Raja untuk membujuk sang Raja agar kembali memerintahkan kerajaan dan bertanggung jawab wilayah Yaksa yang sudah mengalami krisis moneter.


Di balik semua kesusahan para rakyat, ada pembayaran upeti dan pajak yang harus di berikan oleh rakyat kepada ibu suri. Tanpa sepengetahuan raja Permadi, ibu suri menyimpan dan mengumpulkan harta sebanyak mungkin dari hasil pajak dan upeti rakyat untuk kesenangannya dan menyuap para perdana menteri kerajaan untuk patuh kepadanya. Sang kasim keluar dari istana mencari Raja yang kabarnya dia ketahui sedang berada di hutan. Dengan rasa cemas dia menunggangi kuda. Tapi ada mata-mata ibu suri yang mengikutinya membuat dia berhenti dan berputar arah membuang jejak agar tidak di buntuti.

__ADS_1


Kuda sang kasim berserat bekal dia tinggalkan di pinggir jalan di perbatasan lembah sungai jin. Dia mengendap-ngendap berjalan membungkuk bersembunyi di antara semak-semak. Tiga jin yang penunggang kuda hitam yang mengikuti sang kasim berhenti melihat kuda sang kasim yang berada di pinggir jalan.


“Kemana perginya dia?”


Mereka memperhatikan di sekeliling berpencar mencari sang kasim.


“Gawat! Jika mereka menemukan ku pasti aku akan di bunuh!” gumamnya meneruskan langkah menuju ke dalam hutan.


Suara-suara aneh yang timbul, gelak suara tawa dan lengkingan terdengar di telinga sang kasim. Dia sangat ketakutan berjalan, kakinya gemetar dengan memegang pematik.


“Raja! Seolah hutan ini adalah rumah mu. Kenapa engkau betah sekali berkunjung kesini..” batin sang kasim ragu memberanikan diri menyusuri hutan.


Kaki sang kasim tersandung sesuatu, saat dia meraba benda yang menghalangi jalannya, Terlihat gerakan sosok teramat besar dengan sorot mata oranye menyala di tengah kegelapan malam.

__ADS_1


__ADS_2