
Tiada hal yang lebih indah di dunia ini
selain di cintai sangat tulus oleh sosok yang menjadi pelipur lara
...💙💙💙...
Maharani tersandung batu menjatuhkan dua pisau lipat pemberian raja. Dia meraih kedua pisau itu lalu membukanya. Ingatan samar mengingatkan pada hal yang terhapus. Seolah kekuatan di dalam tubuhnya bertambah ketika sosok jadi-jadian itu menyerang, Maharani mengayunkan dua pisau lipat sekaligus lalu menusuk lehernya. Suara aungan keras terdengar di telinga Raja Permadi. Sosok bersayap itu terbang menggunakan insting jin mencari letak keberadaan Maharani.
Setelah sosok jadi-jadian berhasil di serang, amarahnya semakin menjadi. Kaki Maharani di cakar olehnya membuat suara jeritan kesakitan. "Arghh.."
Raja Permadi menarik sosok jadi-jadian itu, membanting hingga jatuh ke jurang. Dia membawa Maharani terbang menuju atas bukit. Kekhawatiran di masa lalu kini terulang, Maharani melepaskan lingkaran tangan di leher raja.
"Aku baik-baik saja" menahan perih berjalan tertatih pergi.
Raja menarik tubuh mungil wanita itu, membisikkan kalimat membuat matanya melotot. "Aku tidak akan melepaskan mu!"
__ADS_1
Raja mengobati lukanya, sebelum darah itu menghitam. Penawar jin di gunakan dengan menyayat tangannya sendiri lalu meneteskan ke luka Maharani.
"Ssthhh..." suara menahan sakit.
Maharani mencengkeram sayap bagian sisi kiri raja.
Sepasang sayap raksasa itu membungkus tubuhnya.
Raja menutup luka di telapak tangannya dengan bajunya. Tampak setengah perut membentuk lekukan tubuh sehingga tangan Maharani refleks menutup mata. "Mesum!" ucapnya keluar dari balik sayap raksasa.
Lontaran Kalimat itu terpaksa raja ucapkan agar Maharani yang sangat sulit dia dapat tidak menjauhinya.
Maharani membuka jaket pink miliknya lalu melingkarkan ke pinggang raja menutup bagian tubuh yang terlihat itu. Ketika dia mengikat simpul, tangan segera dia lepaskan. Pandangan membuang berlari ke arah Padang rumput di perbukitan. "Maharani tunggu.."
Sampai kini tidak ada rasa cinta di hati Maharani untuk sang raja. Meski demikian, raja tetap berusaha meyakinkan dirinya adalah reinkarnasi di masa lalu. Keyakinan itu di tepis oleh Maharani, keberadaan Astro yang belum bisa dia gantikan dengan nama yang berbeda. "Raja, siapapun engkau. Jangan paksa aku untuk mempunyai rasa yang lebih" katanya cemberut.
__ADS_1
"Sudah jangan cemberut. Seiring berjalannya waktu engkau akan menerima ku dan sadar bahwa walaupun ada seribu nama sekali pun yang mencintaimu. Semua hanyalah satu tubuh dan hati yang tidak berbeda."
Raja menggendong Maharani menuruni bukit. Dia tidak menggunakan sayap raksasa mengingat ucapan Kasim Jou. "Maharani, hanya engkau yang bisa melihat sayap ini dan hanya engkau pula yang boleh memotong jika membenci ku.
Setelah perjalanan mereka menjauh terdengar dari arah hutan suara aungan serigala. Raja masih menggendong Maharani, dia tidak mempedulikan orang-orang berlalu lalang memperhatikan mereka.
Melewati kedai mie dengan asap yang mengepul tanpa sadar perut raja Permadi terdengar nyanyian suara cacing dari dalam.
"Raja, turunkan aku" ucap Maharani.
Dia menuruti permintaannya, Maharani menarik tangan raja memasuki kedai dan mengambil tempat duduk berdua.
Memesan dua mangkuk mie ayam yang mengepul asap. Tersedia dua garpu dan dua pasang sumpit. Raja melotot tidak menyentuh makanan di hadapannya. Dia mendorong mangkuk miliknya lalu menghela nafas.
"Apakah engkau tidak suka?"
__ADS_1