Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Bermilyar sayang


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, kondisi putri semakin membaik. Lingkar mata yang semula cekung menguning kini kembali seperti semula bersama pipinya yang kemerah-merahan. Tuan putri kini duduk di tepi kasur. Dia menerima beberapa gulungan berpita biru. Susunan kertas di dalamnya masih rapi, ada sebuah daun raksasa berwarna kecoklatan mengering membuat tulisan di dalamnnya tidak bisa terbaca dengan jelas. Dia tidak mengetahui ada sebuah surat yang telah di baca oleh ratu Jati jajar.


Putri memeriksa lembar demi lembar daun kering itu. Tapi ketika dia menghiting jumlah pita tidak sama dengan jumlah lembaran surat daun kering, dia merasa curiga dan melirik ke arah dayang pendampingnya.


“Katakan, apa yang sudah engkau sembunyikan dari ku?” tanya putri Arska.


Dayang pendampng yang baru melayaninya selama beberapa bulan itu akhirnya mengakui kesalahan. Dia tidak dapat berbohong ketika membalas tatapan mata sang putri. Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas ubin sambil terisak tangis. Dia menampar wajahnya sendiri, membenturkan kepala lalu meminta maaf kepada sang putri.


“Maafkan aku wahai tuan putri mahkota” ucapnya tanpa henti.

__ADS_1


“Pengawal, seret dia ke penjara bawah tanah!” perintah putri memalingkan wajah.


Para dayang lain menyaksikan hal tersebut dengan saling melempar pandangan. Slaah satunya melaporkan kejadian itu kepada dayang utama istana.


“Dahulu tuan putri ku tidak bersifat seperti itu, semakin hari dia semakin dingin dan menjadi tidak berperasaan” gumam dayang istana.


Kepala dayang istana melihat dua dayang memegang dua wadah dan kain. Bekas darah pendamping dayang putri sudah di bersihkan oleh mereka. Biasanya putri Arska tidak meninggalkan ada setetes darah pun yang terluka pada anggota kerajaan ataupun rakyatnya.


Kini dia menjadi uring-uringan dan suka menyendiri. Setelah masa pengurungan di menara langit, sang putri suka menyendiri. Dia memikirkan raja jin bersayap sudah meluluhkan hatinya. Para dayang petugas dari dapur datang ke kamar kebesaran sang putri membawa makanan yang belum di sentuh sejak tadi pagi. Ratu mendengar laporan dari kepala dayang istana tentang sang putri yang belum makan sehingga dia langsung menemui sang putri yang tampak murung menatap jendela.

__ADS_1


“Ananda, kenapa engkau tidak makan sebutir nasi pun? Apakah engkau mau ibunda bersedih dan sakit?” tanya sang ratu.


“Maafkan ananda wahai ibunda. Sudikah ananda memilih sendiri dayang yang ananda suka?” ucap sang putri merangkul sang ratu.


Rasa kasih sayang bertumpah ruah iu tidak ingin menyakiti hati sang putri membuat snag ratu menuruti keinginan anaknya. Sang ratu mengangguk memerintahkan kepala dayang istana membawa beberapa dayang untuk sang putri pilih.


“Akan tetapi, ibunda ingin engkau tetap menjaga kondisi tubuh agar makan-makanan teratur. Apakah kamu mau berjanji menepatinya” tanya sang ratu.


“Baiklah ibu, semuanya akan ananda turuti” jawab putri.

__ADS_1


Ada sepuluh pilihan dayang yang di berikan oleh sang ratu. Ada lima dayang lansia, tiga dayang berusia empat puluh tahun dan dua dayang muda seusianya. Putri menunjuk dua dayang yang seusia dengannya. Kepala dayang istana memerintahkan dayang yang lainnya kembali melakukan tugasnya kembali. Kini, kedua dayang muda yang menjadi pilihan sang putri akan di pilih satunya untuk menjadi pendamping. Putri melihat keduanya, salah satu dayang yang berani menatapnya dan melemparkan senyuman.


“Hormat hamba kepada putri mahkota Jati Jajar” ucapnya.


__ADS_2