Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Ujung waktu


__ADS_3

Peperangan kembali terhenti dan kedua kubu melayangkan gencatan jeda akan serangan fajar dari kedua belah pihak. Pertarungan seri namun nampak menewaskan korban dengan hujan darah jin yang berwarna hitam. Tangan Arska yang mengenai percikan tombak api Huson langsung di masukkan oleh para tabib ke dalam wadah yang berisi air dari tujuh mata air. Dia menggigit kain yang di sediakan oleh nanjam untuk menahan rasa perih luka bakar.


“Seharusnya seorang putri tidak mempunyai banyak luka di tubuh yang dapat mengurangi kecantikannya” setelah mengatakan kalimat lontaran spontan, nanjam langsung menutup kedua mulut nya rapat-rapat dan menunduk takut.


“Sudahlah aku seorang putri pejuang, aku tidak bisa duduk manis di kamar sepanjang hari” jawab putri berbicara kembali memasukkan kain ke mulutnya.


“Setelah ini wahai engkau putri ku, secepatnya beristirahat dan jangan membuat aku semakin khawatir” Nanjam membantu putri menuju kasur.


Aku ingin melihat keadaan sosok jin bersayap yang menyelamatkan ku, gumam putri.


Dia memegang peluit yang melingkar di leher jenjangnya. Dari balik kaca jendela, putri melihat Gangga terbang mengitari luar istana. Dia dan tubuh besarnya sangat sulit menemukan dahan yang kuat untuk tempat bertengger. Jarak pandang menuju gangga menghilang membuat arska bergerak mendekati jendela.


...----------------...


Sekarang pangeran sedang bermimpi indah, dia sedang berjalan-jalan di padang rumput yang luas dan tersenyum melihat sosok putri yang sedang dia kagumi. Denyut nadi hampir sudah tidak terasa bersama pompa jantung melemah. Racun di tubuh sudah menyebar, hanya takdir yang dapat menjawab kehidupannya hari esok.


Badar berulang kali membenturkan kepala di dekat pangeran yang tampak sudah meregang nyawa. Sampai pelipis dan dahi penuh luka akibat gesekan ke tanah. Dia sedang meratapi nasib buruk yang putra mahkota.


“Pangeran sadarlah, pangeran!”

__ADS_1


Kasim jin merah itu lalu menepuk dadanya sampai berbunyi begitu keras.


Dia melepaskan topi kasim ke atas tanah dan melayangkan sumpah akan ikut mati bersama pangeran karena gagal mendampingi dan menjaganya.


“Wahai langit , jika tuan ku mati hari ini maka aku akan ikut bersamanya”


Sedangkan ibu suri sudah lemas tidak berdaya terduduk menatap kosong merenungi pupus segala perjuangannya untuk menikahkan pangeran dengan putri Helena.


......................


Di suatu malam terletak di atas perbukitan dekat lembah sungai terdapat dua jin yang sedang merencanakan niat terselubung lain. Disana tepat berdiri jin penuh ambisi menguasai kerjaan Yaksa. Orang yang paling pangeran permadi kasihi telah berhianat menikam dari belakang. Futon yang memerintahkan Huson untuk membunuh pangeran.


“Sesuai perintah mu, dia sudah lenyap semalam di bawah terik matahari” jawab Huson yang masih memegang pedang dan tombak raksasa.


“Ahahah, bahkan darah pangeran permadi masih terlihat menyala pada senjata andalan mu! Bagus!” Futon melemparkan sebuah serbuk tembaga jin ke arah Huson.


Dia langsung meraih dan melahap serbuk dengan sekali kunyahan. Dia menginginkan serbuk tembaga dari peti kerajaan istana untuk menambah kekuatannya. Futon mendapatkan secara cuma dari Ratu yang tidak mengetahui niat jahat sang kakak. Setelah menemui Futon, kini dia menemui raja untuk menyampaikan kabar telah membunuh pangeran permadi. Setelah mendengar perkataan Huson, raja memukul meja dan mengepal tangan menahan amarah bersama mata yang memerah.


“Anak itu tidak akan mati sia-sia jika tidak mengejar putri jin jati jajar!” ucap Raja mengendus nafas dan melirik pintu yang terbuka.

__ADS_1


Ada panglima perang yang berlari dengan tergesa-gesa, dia menyatukan tangan dan memberi hormat.


“Ampun kan saya yang mulia Raja, ibu suri tidak ada di kamar kebesaran.”


“Ceroboh sekali, cepat cari ibu suri sekarang!” Raja mengeraskan suara penuh kobaran lalu berdiri menuju kamar ibu suri.


...----------------...


Surat cinta yang mengudara


Bersama Gangga hari ini aku mengarungi arah kimia cinta yang kau beri di atas tanah merah bebatuan. Di kehidupan ini aku menuju mu untuk menyatakan perdamaian yang sedang berusaha aku layangkan.


Gamang ku masih ada bersama anai-anai waktu yang selalu berubah. Jujur aku tak suka menunggu, apalagi menerima serpihan lembaran angin sepoi menyejukkan sesaat.


Gelap sepi masih aku rasakan .


_Putri Arska_


...💙💙💙...

__ADS_1


__ADS_2