Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Pita biru tanda kembali


__ADS_3

Tetes embun pagi sejuk di tengah harum dingin menembus menepuk pelan wajah jin bersayap yang sedang mengatur nafas kehidupan. Dia telah bangun dari sekarat yang hampir membunuhnya. Sudah tiga puluh hari dia baru membuka mata dan menatap orang-orang yang masih setia di depannya. Hanya ada Badar dan dua penjaga di depan pintu ruangan bambu. Badar masih terlihat tertidur pulas sedang pangeran yang berusaha mengeluarkan satu kata teramat sulit. Seketika Badar terbangun mendengar keras suara tiupan shofar melengking di telinga.


“Arggh..” jeritnya terbangun melihat pangeran permadi yang sudah memandang dengan sorot mata layu.


“Pangeran, kau sudah sadar?”


Badar melingkarkan tangan ke leher pangeran dan memeluk kepalanya. Tubuh pangeran masih tertanam di dalam lumpur membuat pangeran masih sulit menahan kepala karena tubuh Badar yang terlalu menempel erat. Kemudian Badar berlari mencari ibu Suri menuju barak tenda darurat dan menarik paksa dia agar cepat berlari. Badar terlalu bersemangat melihat pangeran yang sudah sembuh sampai lupa bahwa yang di sampingnya adalah ibu suri kerajaan Yaksa.


”Ibu Suri, maafkan aku yang sudah lancang pada mu”


Badar bersujud di tepis oleh senyum kecut ibu Suri menuju pintu.

__ADS_1


...----------------...


Pangeran sudah di pindahkan ke barak peristirahatan, disana dia menyelipkan pita biru ke dalam saku baju Badar dan berbisik pelan.


“Berikan ini pada ternak putri Arska”


mendengar ucapan pangeran sontak kasim bermata merah itu langsung melotot penuh tanda tanya.


Penyampaian kata dari Badar lantas membuat Pangeran Permadi tertawa sambil menahan perutnya. Drama menyambut semangat dia untuk dekat dengan Gangga agar membalas perbuatan sang paman.


“Ahahah.. sudahlah cukup sampaikan saja benda ini ke putri ku.”

__ADS_1


“Baiklah pangeran”


Badar secara sembunyi-sembunyi pergi meninggalkan barak persembunyian. Pengawal ibu suri yang melihat dia keluar langsung membuntuti dan membawa pedang samurai di pinggang. Ini adalah strategi yang pernah dia dengar dari ibu suri, bahwa pangeran pasti akan terus menuju putri Arska walau sekalipun dia di bunuh berkali-kali. Ibu suri yang mendengar kabar kepergian badar dari salah satu dayang kepercayaannya membuat dia semakin marah.


Pranggg. Suara cerek batu terlempar ke arah luar tenda, ibu suri membanting hidangan pagi dan mengepal kedua tangan.


“Anak itu, kenapa tidak sadar juga siapa yang menyelamatkannya dari kematian!” pekik ibu Suri mengusap kepala.


“Ibu suri tolong kendalikan amarah mu, wajah mu baru saja di terapi oleh tabib istana” sang dayang memberikan membantu dia duduk kembali dengan perlahan.


Setelah ibu suri sudah menenangkan pikirannya, dia menyusun kembali rencana untuk pulang bersama pangeran menuju istana. Walau bagaimana pun ibu Suri menaruh dendam kepada Ratu Layana. Kejadian puluhan tahun silam, tepat saat pemilihan putri mahkota. Ibu suri berniat menjodohkan raja Yaksa kepada muda kepada ratu pilihannya yang di ganti dengan ratu Layana. Jauh dari garis goresan di masa lalu, putri Arska sangat mirip dengan Ratu Layana. Hal itu membuat ibu suri seakan mengulang kisah lama dan menaruh rasa khawatir terulang kembali di waktu kini.

__ADS_1


Sudah sangat lama aku memendam ini, apakah anak dan cucuku tidak menyadari siapa sosok putri jajar? Ratu Layana dan putri Arska seperti berenkarnasi berusaha ingin melenyapkan ku, gumam ibu suri dalam lamunan.


__ADS_2