
“Jin bersayap itu selalu saja menganggu rencana ku!” gumam pangeran Tranggala.
Dia sedang memperhatikan raja Permadi mengepakkan sayap di dekat jendela kamar putri Arska. Tangannya sudah tidak bisa di tahan lagi untuk melakukan sesuatu kepada raja tersebut. Dia mengambil panah beracun miliknya, pandangan mata tajam siap membidik korban dengan ujung busur tajam mematikan. Busur itu terlepas mengenai sayap hewan raksasa, tawa pangeran Tranggala begitu kuat menyaksikan sosok tersebut terjatuh dari ketinggian istana.
Keramaian para pasukan menyeret hewan di tengah halaman istana. Seluruh obor di nyalakan guna penerangan halaman istana agar memperlihatkan sosok tersebut. Paneran Tranggala terkejut melihat seekor Gangga sedang sekarat dengan busur yang masih tertancap di sayap sebelah kiri.
“Aku semula mengira dia adalah raja Yaksa, tapi ternyata hewan kesayangan tuan putri. Jika putri mengetahui siapa yang sudah memanah Gangga maka aku akan di benci olehnya” gumam pangeran Tranggala.
“Penjaga, cepat cari pelakunya!” ucap sang putri berjalan mendekati Gangga.
Hewan pemarah itu tampak liar tidka bisa di kendalikan, seolah dirinya sedang terancam. Mata merah Gangga, paru, cakar besar mencengkram dan kibasan sayap raksasa. Tidak ada yang berani mendekatinya kecuali sang putri.
“Gangga, tenanglah aku akan mencabut busur di sayap mu” ucap sang putri.
Pangeran Tranggal menarik tangan sang putri, dia berdiri tetap di depannya bergerak menghalangi untuk mendekati Gangga.
“Putri, berhati-hatilah. Hewan ini di luar batas kendali” ucap pangeran Tranggala.
Putri menghempaskan tangan pangeran Tranggala, dia tetap berjalan mendekati Gangga. Tanpa mereka menyadari akan kehadiran sosok raja Permadi yang sedang menjelma menjadi seekor angsa di dekat bunga alyssum biru.
“Pangeran Tranggala, kau berani menyakiti hewan bersayap maka aku tidak akan tinggal diam” gumam raja.
Setelah mencabut busur beracun, putri melihat Gangga semakin melemah dan tampak tidak bergerak lagi. “Apa yang terjadi padanya?” ucap sang putri.
Hari itu tiba-tiba salju turun di wilayah jin. Gangga di jaga dan di rawat oleh tabib pengurus hewan. Ketika sang tabib akan menyampaikan mengenai penyakit yang di derita tangga, langkah di hentikan oleh salah satu utusan pangeran Tranggala untuk menariknya menuju bilik secara rahasia.
__ADS_1
“Tabib, kau harus merahasiakan mengenai panah beracun itu atau hidup mu tidak akan selamat” ucap pangeran Tranggala.
Sang tabib pun berlutut meminta ampunan. Dia mengangguk lalu bersujud di depan pangeran untuk mengampuni nyawanya. Sejak hari itu, kesehatan Gangga semakin menurun, bahkan hewan itu seolah kehilangan penglihatan tidak mengenali siapa yang berada di depannya. Hanya indera penciumannya saja yang mengenai aroma tubuh putri Arska. Senja yang berselimut salju, sang putri habiskan untuk tidur di dekat sayapnya.
“Wahai sahabatku, aku akan mencarikan obat yang terbaik untuk mu” ucap sang putri.
Dia di awasi sepenuhnya oleh raja dan ratu Jati Jajar, sampai pada beberapa menit berlalu dia meminta dayang berpita hijau untuk memasuki kamar dan membaca surat yang dia letakkan di dalam vas bunga.
Kepada Dayang pita hijau
Aku memerintahkan mu menerbangkan seekor merpati ke lembah sungai jin, ikatlah salah satu kakinya dengan pita milikku. Dengan begitu para penjaga dan pengawal tidak akan mencurigai apapun gerakan yang sedang aku lakukan. Aku mempercayaimu.
Setelah selesai membaca, tangan sang dayang begitu gemetar. Seumur hidupnya baru kali ini menerima misi besar yang mempertaruhkan nyawanya sebagai dayang baru penjaga putri mahkota. DI dalam benak dia hanya mengingat sebuah kalimat penting akan rasa kepercayaan sang putri padanya.
“Hidup atau mati, kini nyawa ku di tangan sang putri” gumam dayang pita hijau.
“Dengan begini, saat jin algojo melihat merpati itu menuju lembah sungai jin maka dia akan berbalik arah dan mengabaikannya. Aku paham tujuan ayah, tidak sedikitpun mengijinkan apapun itu menuju kerajaan Yaksa” ucap sang putri.
Raja Permadi menerima pita sang putri melalui kawanan hewan bersayap yang melintas melalui lembah sungai. Sekutu hewan bersayap yang telah di perintahkan dan menuruti sang raja terbang melintas menuju ufuk barat saat langit menjadi gelap. Malam yang berganti, hujan semakin lebat. Tiada yang mendengar tangisan sang putri sekalipun raja Jati Jajar mengetahui kabar Gangga yang sedang sekarat.
“Jika dia akan ratu Jati jajar kelak, maka hatinya harus keras dan tahan menahan rasa sakit akan kepergiaan sesuatu yang sangat dia sayangi” ucap sang raja.
Raja mengamati sang putri dari kejauhan bersama para kasim dan dayang di belakangnya. Kemudian dia berbalik meninggalkan putri yang masih menemani Gangga di luar halaman istana. Tiada siapapun yang berani mendekatinya, sekalipun pengawal pendamping tersetia. Salju yang terbawa angin, putri tampak menggigil dengan posisi memeluk paru gangga.
“Gangga, jangan tinggalkan aku” bisiknya pelan.
__ADS_1
Saat sang putri hampir tidak sadarkan diri, terdengar suara langkah kaki dengan seretan sayap raksasa yang menghampirinya. Sosok raja Yaksa membuka sebuah botol ramuan yang pernah dia dapatkan dari cenayang Han ketika mengalami reinkarnasi dahulu. Ramuan yang seharusnya dia pakai untuk kesempatan hidup lebih lama bersama sang putri itu dia berikan kepada Gangga.
“Pergi dan menghembuskan nafas lebih dahulu atau ramuan ini seharusnya untuk memperpanjang usia diantara kita. Aku hanya menginginkan engkau tetap bahagia dan kesakitan” gumam sang raja.
Sesudah memberikan ramuan kepada Gangga, perlahan tubuh hewan raksasa itu menghangat. Raja mengangkat sang putri menuju kamar permadani dari jendela istana.
“Argghh!” teriak dayang pita hijau. Dia sangat terkejut melihat jin yang memliki sayap begitu besar dengan tatapan tajam melihatnya.
Tok-tok (Suara ketukan pintu).
“Dayang apakah ada masalah?” tanya salah satu pengawal penjaga.
“Tidak apa-apa aku hanya terkejut dengan seekor kecoa di sudut dinding” jawabnya.
Raja perlahan meletakkan sang putri di atas kasur, dia mengusap keningnya dengan lembut lalu melemparkan pandangan kembali ke sang dayang. Begitu takutnya sang dayang hingga dia berlari meninggalkan kamar sang putri.
“Putri, aku akan pergi. Jaga diri mu baik-baik” ucap sang raja melihat wajah wanita yang begitu dia cinta.
Raja merindukan bola mata besar dengan pipi kemerah-merahan milik putri Arska. Dia menyelimuti sang putri lalu mengepakkan sayap menjelma menjadi wujud seekor angsa putih untuk melewati benteng istana Jati jajar.
Senang atau sedih aku bersama mu
Hal itu sering kali di ucapkan oleh sepasang kekasih di alam dunia dalam reinkarnasi panjang Maharani dan Astro. Tapi meskipun mereka berusaha memperbaiki takdir di alam jin, perjuangan mereka tidak pernah usai.
...----------------...
__ADS_1
...🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿...
#NB: Balada author yang slow respon, di tengah kesibukan real life yang begitu banyak menguras waktu. Semoga para pembaca tetap sehat dimana pun berada dan tetap dalam lindungan-Nya. Tiada hari yang tidak luput dari cobaan dan tiada perpisahan yang menyakitkan selalin kematian. Semoga kita tetap menjalin silaturahmi dengan baiks elama hayat masih di kandung bada. Terimakasih atas dukungannya.