Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Raga ku menuju mu


__ADS_3

Ribuan hewan bersayap membawa Gangga terbang, pemandangan yang langka ini di saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Panglima perang berkali-kali mengusap kedua mata tanpa berkedip. Sesudah memastikan sang putri telah selamat, raja kembali ke istana Yaksa. Dia tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Para tabib sudah berlalu lalang seolah menguras keringat bercucuran karena kelelahan. Sampai pada akhirnya raja Permadi berhasil melewati masa kritisnya. Sayapnya masih begitu lemah, sekujur tubuh terluka.


“Raja, sebaiknya engkau beristirahat sampai benar-benar pulih” ucap kepala kasim.


“Panggilkan pengawal ku dan tinggalkan ruangan ini” perintah sang raja.


“Baik yang mulia.”


Badai salju yang berkepanjangan sudah membungkus dunia jin, pepohonan, tumbuh-tumbuhan dan perumahan rakyat sudah rata dengan salju. Begitu pula kerajaan lainnya, pangeran Tranggala memutuskan tetap berada di istana Jati Jajar sampai benar-benar meluangkan waktu untuk bersama dirinya.


“Pangeran itu tidak tau malu sekali” ucap sang putri meneguk secangkir obat-obatan herbal.

__ADS_1


Dia sangat cepat pulih ketika mengalami sakit, seolah di dalam organ tubuhnya mempunyai sel-sel dan urat penyembuh. Hanya saja penglihatan lain sang putri yang membuat dia tetap mengalami rasa sakit kepala. Beberapa menit berlalu, sang putri menekan kepala lalu menyenderkan diri di tepi kasur.


“Putri, mari aku bantu meluruskan kaki mu” ucap dayang pita hijau.


“Tidak usah, aku akan bersiap-siap menemui pangeran Tranggala” ucapnya meraih jubah merah miliknya.


Pertemuan putri Arska dan pangeran Tranggala tampak menjadi bahan perbincangan para dayang yang mengamati mereka dari kejauhan.


“Lihatlah putri kita, apakah dia akan menerima hati penerus telaga hitam?” ucap salah satu dayang penggiring di dekat kolam teratai.


“Siapa yang menyangka jika suatu hari tepat di hari ini mereka bertemu? Bukankah ini suatu tanda tanya besar?”

__ADS_1


“Hei,apa yang kalian bicarakan? Cepat persiapkan teh dan cemilan untuk putri dan pangeran!” perintah kepala dayang.


...----------------...


“Pangeran, tidak ada lagi yang menahan mu disini, bukankah kemarin engkau sudah berkemas untuk kembali ke telaga hitam? Jangan mempermainkan raja dan ratu Jati jajar atas sikap mu yang kekanak-kanakan” ucap sang putri.


Di luar sana mereka berdiri sambil memandang kolam, tidak ada pemandangan yang indah atau bunga-bunga teratai yang bermekaran bersama kupu-kupu dan serangga lain yang hinggap di atasnya. Cuaca yang terlalu dingin membuat putri mengusap lengannya perlahan. Dia sudah tidak tahan lagi menghadapi pangeran Tranggala. Saat berbalik akan meninggalkan tempat itu, tangan sang putri di tarik oleh sang pangeran. Putri segera menepis nya sambil melotot menahan kepala tangan yang bersiap memukul wajahnya.


“Lancang sekali kau! Jangan pernah perlihatkan wajah mu lagi di hadapan ku!” bentak sang putri.


“Putri Arska, kenapa negkau begitu membenci ku? Sifat pemarah mu itu mirip sekali dengan Gangga. Aku tidak akan pernah menyerah menjadi raja di hati mu. Engkau tidak pantas dengan hewan bersayap yang berada di kerajaan Yaksa” kata pangeran Tranggala.

__ADS_1


“Tutup mulut besar mu, raja Permadi adalah jin bersayap. Setidaknya dia tidak memiliki niat busuk dan rencana lain di belakang ku untuk menghancurkan Jati jajar” ucap sang putri.


“Putri, tenangkan diri mu. Para dayang sudah menyiapkan teh hangat untuk kita. Mari kita duduk untuk menyelesaikan masalah ini.”


__ADS_2