Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Kesaksian ku


__ADS_3

Teduh kan lagi tubuhku yang hampir terkena derasnya air hujan kemarin..


Ijinkan ku menatap mu begitu lama sampai kau melupakan segala gundah


Gaun mu yang berbalut indah, ingin ku ganti dengan gaun ratu di singgasana


Bila masanya tiba aku akan membawamu bersama ku selama nya


Sedikit lagi halus kelopak bunga semerbak aku rasakan


Semua akan menjadi nyata dengan kepastian,


cinta biru yang ku miliki hanya seutuhnya kau tempati


Disini kita bersama walau secepat pula terpisah dari mu


Sampai ku kembali jangan lupakan segala bentuk bujuk rayu dan perjuangan tulus ku

__ADS_1


...-Pangeran Permadi-...


Diam-diam tekanan nada jantung yang memompa yang di rasakan oleh putri tidak stabil, begitu cepat membius pingsan kerasnya hati putri Arska. Pangeran dari kerajaan Yaksa hampir gelap mata jika tidak di halangi oleh Gangga. Sedikit prasangka putri masih berpikir bahwa pangeran hanyalah melakukan tipu daya, tepat di detik berlalu dia sedang berperang dengan jiwanya sendiri saat di dekat pangeran Permadi.


Setelah beberapa saat kemudian, tetesan pada kulit yang mengering dari sumber luka putri Arska. Tampaknya butir cahaya itu telah benar-benar menyembuhkan luka. Putri membuka sempurna kedua bola mata dan sepenuhnya menatap pangeran Permadi. Semakin dekat pergerakan tubuh pangeran mendekati putri. Tangan jin yang kuat itu menyentuh tepian dagu putri. Sentuhan lembut perlahan di rasakan membuat dia tidak berkutik, pangeran menghampiri ranum merah jambu hampir mengenai tepat pada sasaran.


Sedikit lagi kedua peraduan akan bertemu jika tiba-tiba tidak di halangi oleh paru Gangga yang langsung mendarat di bibir pangeran Permadi. Paru raksasa yang keras dan gagah. Pangeran begitu terkejut, dia merasa telah ternodai karena mendapat sentuhan kecupan pertama dengan seekor hewan raksasa dari bangsa jin.


"Aarrghh!" jeritan yang menghentakkan keduanya.


"Ahh, maafkan lah aku wahai tuan putri" Merah pipi pangeran menepis rasa malu.


Pangeran menekan bagian luka pada sayapnya yang seketika sakit kembali, lalu dia berjaga jarak dari Gangga dan putri. Dia tidak ingin mendapatkan serangan aneh dari Gangga lagi. Dia meringis menahan rasa sakit yang beruntun menyerang. Gelagat pangeran yang berjalan mondar-mandir seakan dia kehilangan kendali untuk melawan situasi yang canggung. Putri Arska tersenyum tipis dan menyodorkan jabatan tangan ke arah pangeran.


"Terimakasih lagi kau telah membantuku"


Bagai gayung bersambut, pangeran dengan cepat membalas tangan mungil tersebut. Sangat lama dia menggenggam tangan putri, dia masih menahan tangan kanannya walau Putri melakukan perlawanan agar di lepaskan.

__ADS_1


"Tolong, lepaskan tanganku" ucap Putri yang tidak di hiraukan.


"Apakah ada yang di di dalam?" teriak salah satu pengawal istana memasuki gua.


"Putri!" jerit Ratu dari kejauhan. Suara samar dari Ratu jati jajar yang membuat pangeran melepaskan pegangan tangan.


Pangeran dengan cepat melepaskan kalungnya dan memasangkan di leher putri. Sebuah kalung berisi Butir cahaya penyelamatan terakhir yang di berikan untuk putri Arska.


"Pangeran, kau yang lebih membutuhkan ini. Ambillah milik mu" ucap Putri menarik tangannya.


"Tidak putri ku, ini sudah milik mu."


Dan sekarang kau sudah mulai mau menarik ku dengan paksa? gumam pangeran menyembunyikan perasaan bahagia.


Dia bersembunyi di salah satu batu besar sebelum tertangkap basah oleh pengawal. Gangga dan putri keluar dari persembunyian di sambut oleh sorak para pasukan jati jajar yang telah menemukan putri mahkota.


...-To be continued-...

__ADS_1


__ADS_2