
Pintu rahasia terbuka, langit-langit bangunan istana begitu megah berukir hiasan tengkorak berlapis emas dan cahaya lilin raksasa yang bertengger di atasnya. Di dalam sana, terdapat sebuah meja berlapis emas dengan lemari yang terbauat dari perak. Ada hal yang menarik mata ketika melihat sebuah patung tengkorak mengeluarkan semburan api kecil dari dalam rahangnya.
“Putri, patung ini mirip dengan patung yang terdapat di setiap dinding istana” ucap sang pengawal.
Putri menghalangi gerakan tangan sang pengawal yang akan menyentuh kepala tengkorak.
“Jangan di sentuh!” ucap putri dengan keras.
“Maafkan hamba putri” sang pengawal menunduk lalu menjauh dari benda itu.
__ADS_1
“Benda ini adalah penggerak istana. Jika kita menyentuh bagian atasnya, kemungkinan ada rahasia ruangan lain atau sesuatu yang tidak di inginkan terjadi” kata putri sambil mengamatinya.
Secara perlahan, putri Arska mengangkat benda itu dari bagian bawah. Dia melihat dari baliknya terdapat tanda cap kerajaan telaga hitam. Putri enggan menyita harta atau membawa beberapa hal yang berharga di dalam istana. Di benaknya kini adalah segera membawa cap kerajaan itu sebagai perwakilan inti dari seluruh isi istana. Kondisi tubuh putri Arska yang masih lemah karena pertempuran kemarin. Ketika mereka keluar dari istana beberapa burung gagak menyerang mereka secara brutal.
Tubuh putri tidak bisa mengeluarkan tenaga dalam lagi, kakinya pun sangat sulit untuk berdiri. Pengawal pendamping yang melawan serangan hewan tersebut dengan sekuat tenaga. Lengan dan lehernya terkena gigitan sehingga dia terhempas ke atas tanah. Ketika seekor burung gagak raksasa mengincar bagian mata sang putri, dari langit muncul raja Permadi yang mengibas sayap raksasa miliknya dengan sangat kuat hingga semua burung gagak itu pergi. Dia adalah jin bersayap raksasa yang paling di takuti oleh seluruh hewan bersayap. Kehadiran raja Yaksa membuat kawanan hewan bersayap lain pergi sejauh mungkin dari hadapannya.
“Hormat hamba teruntuk raja Yaksa, terimakasih telah menyelamatkan kami” ucap pengawal pendamping putri.
Di waktu senja mereka menuju istana Jati jajar. Patung tengkorak di berada di dalam kantong yang di letakkan di bagian pinggang pengawal. Di udara, raja yang terlalu di mabuk cinta itu seakan memanfaatkan situasi melabuhkan tanda sayang di bagian kening sang putri begitu lama.
__ADS_1
“Andai saja engkau bangun, maka aku tidak akan melepaskan mu” ucap sang raja.
...----------------...
Raja Jati jajar mendapatkan informasi dari pengawal pendampinya bahwa penyerangan telaga hitam ke Yaksa di picu akan amarah sang raja telaga hitam karena kematian pangeran Tranggala.
“Aku masih tidak mengerti mengapa putri ikut berperang membela Yaksa?” gumam raja Jati jajar.
“Raja, pikirkan lagi hati putri tunggal kita. Dia sudah melalui banyak penderitaan dan tetap hidup sebagai permata di hidup kita yang singkat ini” ucap sang ratu.
__ADS_1
“Ratu ku, sudah berabad lamanya dua kerajaan ini tidak pernah damai, seluruh leluhur Jati jajar sudah bersumpah untuk melakukan balas dendam dan harapan penderitaan pada Yaksa” kata raja.
Raja dan ratu memandang langit bersama, tidak ada bintang di langit jin pada malam itu. Kegelapan malam yang menelan bayangan sudut dinding istana. Dari kejauhan mereka memperhatikan sebuha benda putih yang semakin dekat dengan istana. Manik mata tidak dapat melihat secara jelas, penglihatan samar-samar meskipun keduanya menamatkan agar mengetahui benda tersebut.