Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap

Cinta Biru: Runtuh Hati Jin Bersayap
Sayap hangat


__ADS_3

Rasanya dia terlalu menggebu, apakah perasaan ini hanya sementara? Salju yang berkepanjangan di bulan lalu menjadi bukti rasa dingin akan cinta yang terasa di hati sang putri meski sang raja setengah mati memberikan kehangatan di sela sayap raksasanya.


Tidak ada celah sedikitpun untuk menyentuh atau menyakiti sang putri. Raja benar-benar berusaha sebisa mungkin untuk menjaga dan melindungi. Tampaknya sayap raksasa yang kokoh dan kuat saat membentang di udara itu hanya untuk putri Arska seorang. Dia menjadikan cinta biru semakin hidup mengalahkan peradaban di lembah sungai jin. Balada kemesraan di kolam teratai itu belum selesai juga, hingga matahari tergelincir menampakkan sinar bercak senja kemerah-merahan menyadarkan sang putri bahwa dia harus kembali ke istana Jati jajar.


“Raja, lepaskan aku. Aku harus kembali ke istana” ucap sang putri.


“Aku akan mengantar mu” kata sang raja.


Dia tetap membungkus tubuh sang putri, jari lentik wanita itu menarik salah satu bulu sayap raja.


“Raja, aku akan menyerang mu lebih dari ini jika kau menahan ku lebih lama lagi!” seru sang putri.

__ADS_1


“Ya, lepaskan saja semua bulu yang ada di sayap ku ini” ucap sang raja.


“Raja, besok aku akan menunggu mu di lembah sungai jin.”


Sang putri mendongakkan kepala menatap wajah raja jin penggoda itu. Jarak mereka berdiri sangat dekat, raja berfostur tubuh tinggi membuat dia kesusahan untuk meraih pundak raja. Raja Yaksa itu mengangkatnya, dia terbang membawa sang putri di atas air.Di bawah rintik hujan gerimis, cahaya matahari di balik awan menghasilkan panorama indah bermacam-macam warna pelangi menambah pemandangan romantis kedua jin itu.


“Aku mencintai mu” bisik Raja Permadi.


“Yang mulia ibu suri, langit menggambarkan keindahan, hamba merasa tidak kan terjadi kutukan di antara keduanya. Tapi, hamba tidak menjamin leluhur yang meninggal di medan perang akan menghukum mereka” ucap kepala dayang pendampingnya.


Dia menaiki pinggiran jendela, tanpa memikirkan resiko jika terjatuh dari ketinggian istana. Dayang pendamping menahan lalu memanggil para dayang lain untuk menghentikan. Di antara sela pepohonan, sang pengawal pendamping sudah bersiap membidik musuhnya, korban yang dia tuju adalah kepala ibu suri. Dia melepaskan busur tepat di mahkota ibu suri menancap di lukisan wajahnya. Ibu suri yang dari tadi menggeliat dan tidak bisa terkendali kini terpaku setelah mendapat serangan.

__ADS_1


“Cepat lindungi ibu suri, ada penyusup!” teriak penjaga depan ruangan kebesaran.


Iring-iringan para sang putri sudah siap untuk pergi keluar dari gerbang istana. Putri melingak-linguk menunggu pengawalnya. Dia hadir secara tiba-tiba dari balik kereta kuda, wajahnya berkeringat terlihat alas kaki berlumpur menambah kesan curiga terhadapnya.


“Pengawal, apa yang telah engkau lakukan?” tanya sang putri.


“Hamba terlalu bersemangat untuk berburu rusa di bukit belakang, maafkan atas kecerobohan hamba putri” ucapnya menunduk.


Mereka keluar dari istana di kawal secara langsung oleh raja Permadi sampai menuju perbatasan wilayah. Setelah itu sang raja mengerahkan para hewan bersayap untuk menjaga sang putri melalui udara di kala dia sedang tidak berada di sekitar Jati jajar. Seluruh prajurit dan pengikut sang putri terkesima dengan kesetiaan sang raja kepada putri Arska, perlahan perasaan dendam di hati mereka luntur menyaksikan segala pengorbanan sang raja jin bersayap itu. Tapi tidak dengan pengawal pendamping putri masih mengincar para jin yang sudah menghancurkan dan berniat membunuh rakyat serta penguasa Jati jajar.


🌿ig@arsyalfaza

__ADS_1


__ADS_2